(Persembahan Untuk Para Sahabat)
Sahabat adalah dorongan ketika engkau hampir berhenti, petunjuk jalan ketika engkau tersesat, membiaskan senyuman sabar ketika engkau berduka, memapahmu saat engkau hampir tergelincir dan mengalungkan butir-butir mutiara doa pada dadamu...Ikhwan and akhwat...moga hati kita dipertautkan karena-Nya
Terimakasih Telah Menjadi Sahabat Dalam Hidup kami

rss

Kamis, 21 Februari 2008

Alam dan Kita

Oleh : KH Didin Hafidhuddin
http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=253644&kat_id=49
Dalam pemberitaan di harian ini tanggal 17 Juni 2006 lalu, terungkap sebuah penelitian yang sangat fenomenal dan sangat mencengangkan di akhir abad 20. Penelitian yang dilakukan oleh Masaru Emoto, seorang ilmuwan asal Universitas Yokohama Jepang, mengungkapkan bahwa air memiliki perasaan yang mirip dengan perasaan yang dimiliki manusia. Air ternyata bisa bereaksi terhadap segala bentuk ucapan, kata-kata, bahkan terhadap gambar sekalipun. Jika ucapan tersebut berisikan puji-pujian, maka air akan membentuk molekul kristal yang sangat indah, yang dapat memberikan energi positif kepada manusia. Barangkali inilah salah satu rahasia mengapa Rasulullah SAW kerap memberikan air minum yang telah beliau bacakan doa untuk menyembuhkan orang yang sakit.

Demikian pula sebaliknya, jika yang muncul adalah ucapan yang buruk, yang bersumber dari perilaku yang buruk pula, maka air tersebut akan membentuk molekul kristal yang semrawut dan tidak beraturan. Bisa dibayangkan bagaimana "perasaan" air ketika melihat manusia membuang sampah dan melakukan pencemaran terhadapnya. Boleh jadi, banjir bandang yang melanda beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan beberapa hari yang lalu adalah salah satu bentuk "ekspresi" kemarahan air terhadap manusia.

Memang akhir-akhir ini bangsa Indonesia tengah menghadapi berbagai macam musibah yang datang silih berganti seakan tidak ada habisnya. Berawal dari gempa besar dan badai tsunami yang meluluhlantakkan Aceh dan Nias, yang memakan korban meninggal ratusan ribu orang, serta mengakibatkan hancurnya berbagai macam sarana dan prasarana seperti jalan, pasar, rumah, dan sebagainya. Kemudian muncul masalah sampah yang menggunung sebagaimana yang terjadi di kota Bandung, yang berpotensi menimbulkan berbagai macam penyakit yang mengancam kehidupan warga itu sendiri. Begitu pula halnya dengan musibah gempa yang terjadi di Yogyakarta dan beberapa daerah di Jawa Tengah tanggal 27 Mei lalu. Jumlah korban akibat bencana tersebut berjumlah lebih dari 5.000 orang. Belum lagi diperparah dengan hancurnya ribuan rumah, gedung, dan sekolah, sehingga mengakibatkan kerugian miliaran rupiah. Musibah gempa ini terjadi di luar perkiraan, karena sebelumnya, segala bentuk persiapan penanggulangan bencana telah diarahkan untuk menghadapi ancaman meletusnya Gunung Merapi, yang hingga saat ini tetap mengeluarkan semburan awan panas, yang suhunya konon mencapai 400 derajat Celcius.

Kini, muncul pula semburan gas yang disertai lumpur panas yang berasal dari PT Lapindo Brantas, Sidoarjo, Jawa Timur. Akibatnya, ribuan penduduk terpaksa mengungsi karena rumah mereka terendam lumpur. Pabrik-pabrik banyak yang tidak beroperasi, sehingga menyebabkan ribuan buruh tidak bisa bekerja. Bisa dibayangkan berapa kerugian yang diderita masyarakat Sidoarjo. Jalan-jalan dan jembatan-jembatan banyak yang rusak dan tidak berfungsi. Areal persawahan banyak yang tidak bisa dipanen.

Apa yang sesungguhnya terjadi?

Sebagai orang yang beriman, tentu saja dibutuhkan adanya introspeksi dan muhasabah terhadap berbagai musibah yang terjadi. Kalau kita telaah, maka musibah itu sesungguhnya merupakan sesuatu yang pasti terjadi dan akan menimpa kepada setiap manusia sebagai sebuah bentuk ujian-Nya. Allah SWT berfirman : "Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta." (QS Al-Ankaabut: 1-3).

Kita diperintahkan untuk senantiasa bersabar dan mengembalikan semua persoalan kepada Allah SWT. Harus disadari bahwa musibah-musibah yang terjadi bukanlah disebabkan oleh kezaliman Allah kepada hamba-hamba-Nya --karena tidak mungkin Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang akan berperilaku zalim seperti itu-- melainkan akibat dari perilaku zalim yang ditunjukkan oleh manusia itu sendiri. Segala bentuk kemaksiatan dan penyimpangan yang dilakukan manusia itulah yang mengundang turunnya berbagai macam malapetaka yang ada (QS Hud : 101). Kerusakan-kerusakan yang terjadi di muka bumi ini merupakan akibat dari perbuatan manusia yang menzalimi alam ini (QS Ar Ruum : 41). Tidak mungkin alam ini akan bereaksi negatif kalau tidak "diprovokasi" oleh perilaku buruk manusia.
Inilah yang sesungguhnya menentukan "sikap" alam. Para sahabat radhiyallaahu 'anhum pernah merasa bingung ketika membayangkan bagaimana bumi bergoncang saat mencoba memahami QS Al-Zalzalah: 1. Mereka bingung karena tidak pernah merasakan gempa bumi. Pada saat itu alam berpadu dengan manusia-manusia saleh, yang senantiasa bertaqarrub kepada Allah. Sehingga, sepanjang pengetahuan penulis, tidak ada catatan dalam sejarah yang menunjukkan telah terjadi bencana alam yang dahsyat selama kurun waktu para sahabat, tabi'in dan tabi'i at-tabi'in. Sebaliknya, ketika kaum Nabi Nuh AS menunjukkan kekufuran dan penentangan terhadap aturan Allah, maka Allah SWT timpakan kepada mereka banjir bandang yang menghancurkan kehidupan mereka untuk selama-lamanya (QS Hud: 40-45).

Langkah perbaikan
Kembali ke jalan Allah adalah solusi yang terbaik. Untuk itu, paling tidak ada dua hal yang dapat dilakukan. Pertama, melaksanakan taubatan nasuuha, yaitu bersungguh-sungguh memohon ampun kepada Allah SWT, disertai dengan komitmen untuk tidak mengulangi lagi perbuatan buruk yang pernah dilakukan. Kita memohon kepada Allah untuk mengampuni dosa-dosa yang telah kita lakukan, baik secara individu, maupun secara kolektif. Hal ini sejalan dengan firman-Nya dalam QS At-Tahrim: 8 dan QS Ali Imran: 135. Kedua, para pemimpin bangsa ini, baik yang berada di eksekutif, legislatif, dan yudikatif serta para tokoh masyarakat harus senantiasa berpihak pada kebenaran yang bersumber dari ajaran Allah SWT. Janganlah kita mempermainkan kebenaran dengan dalih apa pun. Sebagai contoh, para pemimpin harus mendukung diundangkannya RUU APP (Anti Pornografi dan Pornoaksi). Mereka tidak perlu takut dianggap melanggar HAM dan kebebasan, karena RUU tersebut adalah benteng yuridis untuk menyelamatkan bangsa dari kebobrokan dan kehancuran moral dan akhlak. Begitu pula dengan dukungan terhadap perda-perda yang dianggap "berbau syariat", padahal berusaha untuk memerangi berbagai bentuk kemaksiatan seperti perjudian dan pelacuran. Mendukung kebenaran secara optimal mutlak dilakukan. Jika tidak, maka penulis khawatir akan muncul musibah-musibah yang lain, yang akan menimpa tidak hanya kepada orang-orang zalim saja, tetapi juga akan terkena pada orang-orang yang tidak melakukannya, namun mendiamkannya (QS Al-Anfaal: 24-25). Na'uudzubillahi min dzaalika. Wallahu'alam bi ash shawab.

0 komentar:

 
Terimakasih Atas kunjungan Anda, Semoga Semuanya Dapat Memberikan Manfaat Bagi Kita Semua