(Persembahan Untuk Para Sahabat)
Sahabat adalah dorongan ketika engkau hampir berhenti, petunjuk jalan ketika engkau tersesat, membiaskan senyuman sabar ketika engkau berduka, memapahmu saat engkau hampir tergelincir dan mengalungkan butir-butir mutiara doa pada dadamu...Ikhwan and akhwat...moga hati kita dipertautkan karena-Nya
Terimakasih Telah Menjadi Sahabat Dalam Hidup kami

rss

Rabu, 20 Februari 2008

Kumohon Kelembutan-Mu Yaa Allah

Kumohon kelembutan-Mu Yaa Allah Kemarin Pagi sekitar jam 08.30, aku melihat peristiwa yang memilukan hati. Aku merasakan betul apa yang sedang dialami oleh seorang Bapak penjual kue-kue basah. Dia yang sejak pagi berangkat dari rumah dengan niat berusaha menafkahi keluarga harus mengalami insiden yang mungkin berat baginya. Dengan sepeda jengki tuanya, diikatkannya dua lapis tenong (tempat kue) persegi empat di bagian belakang sepedanya. Diisinya tenong itu dengan bermacam kue basah seperti lumpia, risoles, lapis, lumpur dan sejenisnya. Dijajakannya kue-kue itu di sepanjang jalan yang dilalui, keluar masuk di berbagai perkantoran dengan mengharap keuntungan yang bisa dibawa pulang untuk keluarga tercinta di mana dia sebagai tulang punggungnya.
Ah... tetapi entah kenapa, pagi ini dia harus mengalami suatu kecelakaan. Mungkin karena keteledorannya atau mungkin juga karena keangkuhan para pemakai jalan yang semena-mena. Ketika dia menyeberang dari arah Timur ke Barat dengan menuntun sepedanya di jalan Basuki Rahmat, ada satu kendaraan yang melanggarnya sehinga sepedanya terguling, velg rodanya bengkok dan tenong tempat kue terbuka menyebarkan isinya tak tentu arah. Hari masih pagi, pelanggan pun mungkin masih menanti, tapi apa daya diri jika memang telah terjadi. Dari jauh terlihat wajah cemasnya, terdengar degup jantungnya dan tergambar ruwet pikirnya. Semoga Engkau mudahkan baginya Yaa Allah. Itulah cermin kehidupan. Pada segala sesuatu semestinya aku
bisa bercermin. Kejadian itu juga merupakan cermin yang memantulkan bayangang diri, tentang diriku yang masih jauh dari syukur, jauh dari sabar dan jauh dari ridho. Dalam skala dunia, sungguh masih sangat beruntung diriku yang tidak harus mengayuh pedal sepeda dalam bekerja, yang tidak usah berharap-harap cemas berapa jumlah uang yang bisa kubawa pulang dan yang tidak usah seharian berada di jalanan yang panas, berdebu dan penuh asap. Tetapi dalam skala akhirat mungkin dia jauh lebih mulia dari diriku. Bisa jadi keyakinannya tentang Allah telah menancap demikian kuat dalam hatinya hingga tak pernah diresahkannya tentang rejekinya, tak pernah diturutinya lelahnya badan dalam bekerja sebagai penggugur dosa dan tak pernah dikeluhkannya berbagai kesulitan yang dihadapinya. Sungguh banyak di sana, para tulang punggung keluarga terutama kaum laki-laki yang menghadapi situasi sulit dalam pekerjaannya telah kehilangan kelembutan kepada keluarga. Kondisi pekerjaan yang penuh tekanan, kelelahan fisik dalam menuntaskan pekerjaan dan beratnya tanggung jawab yang dipikul dalam pekerjaan, sering menjadi alasan pembenar hilangnya kelembutan bagi keluarga, sering menjadikan mereka menuntut lebih dari keluarga dan lebih mudah dalam mengumbar amarah. Papa ini capek pulang kerja !!! Papa ini kerja buat kalian !!! dan sebagainya. Kalau memang tidak mau capek karena bekerja untuk menafkahi keluarga, kenapa harus berkeluarga ? Kenapa anak di rumah menjadi sasaran kemarahan dan kenapa pula istri di rumah jadi sasaran cercaan ? Karenanya Yaa Allah anugerahkanlah kelembutanMu kepada kami semua, kepada para Ayah yang bertanggung jawab menafkahi keluarga, kepada para Ibu yang jihadnya mengurus keluarga, kepada para Guru yang mendidik muridnya, kepada para BOS yang memperkerjakan karyawannya, kepada para Pimpinan yang menggembalakan anak buahnya, agar situasi sesulit apa pun yang harus kami hadapi tetap dapat kami sikapi dengan kelembutan hati, agar kami selalu sabar, syukur dan ridho. Aamiin. (Firliana Putri)

0 komentar:

 
Terimakasih Atas kunjungan Anda, Semoga Semuanya Dapat Memberikan Manfaat Bagi Kita Semua