(Persembahan Untuk Para Sahabat)
Sahabat adalah dorongan ketika engkau hampir berhenti, petunjuk jalan ketika engkau tersesat, membiaskan senyuman sabar ketika engkau berduka, memapahmu saat engkau hampir tergelincir dan mengalungkan butir-butir mutiara doa pada dadamu...Ikhwan and akhwat...moga hati kita dipertautkan karena-Nya
Terimakasih Telah Menjadi Sahabat Dalam Hidup kami

rss

Jumat, 08 Februari 2008

MENYIKAPI BENCANA

kecuali orang-orang yang sabar
(terhadap bencana), dan mengerjakan
amal-amal saleh; mereka itu beroleh
ampunan dan pahala yang besar.
QS. Huud (11) : 11

Bagaimanakah kita harus menyikapi bencana yang sedang menerpa. Apakah kita anggap sebagai cobaan dan ujian saja, sehingga kita tidak terbeban oleh penderitaan berkepanjangan? Atau, kita anggap itu sebagai gejala alam biasa yang memang bisa menerpa siapa pun di muka Bumi? Ataukah kita perlu introspeksi diri: jangan-jangan ini peringatan keras, atau bahkan azab?!

Semua bergantung kepada kita. Kepekaan kita dalam merasakan masalah. Dan juga, kemampuan melihat sisi positif hadirnya masalah tersebut. Sebab di setiap peristiwa selalu ada hikmah dan pelajaran. Bagi orang-orang yang ingin maju.

QS. Al Baqoroh (2) : 269
Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang mendalam) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran.

Bagi orang-orang yang menggunakan akalnya dan opened mind, mereka bakal bisa mengambil hikmah dari berbagai peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Nah, hikmah itu bakal menjadi pelajaran yang berharga untuk menghadapi masalah di masa depannya. Serta membangun kedekataan dengan Allah Sang Penguasa Kehidupan.

Demikian pula, dalam bencana selalu ada hikmah. Ada pelajaran. Hanya orang-orang yang lalai saja yang tidak bisa mengambil pelajaran dari peristiwa-peristiwa dahsyat semacam itu.

Begitulah seharusnya kita menyikapi setiap bencana yang menimpa kita. Menimpa sahabat-sahabat kita. Atau mungkin sanak famili kita. Hikmah yang terkandung di dalam bencana itu selalu memuat beberapa pelajaran agar kita berintrospeksi, dan kemudian termotivasi untuk melangkah ke arah yang lebih baik dan produktif.

Memang kita selalu bertanya-tanya, kenapa ya kita terkena bencana dan musibah seperti ini. Dan selalu jawabnya tidak pernah tuntas. Padahal sebenarnya kita bisa berkaca kepada bencana-bencana yang telah terjadi, termasuk pada jaman para nabi. Bahwa bencana selalu memiliki pelajaran multidimensi. Tiga dimensi diantaranya adalah ujian, cobaan, dan azab.

Bagi orang-orang yang positive thingking, mereka akan selalu berpendapat bahwa semua ini adalah ujian dan cobaan. Ujian terhadap keimanan kita. Dan cobaan bagi kesabaran kita di dalam menerima musibah. Karena semua itu datangnya dari Allah. Tak ada yang kebetulan di alam semesta ini.

QS. Al Baqoroh (2) : 156
(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji uun" (sesungguhnya semua berasal dari Allah dan bakal kembali kepadaNya).

Allah mengecam orang-orang yang tidak melibatkan Allah dalam setiap peristiwa. Memang, perbuatan kitalah yang menjadi pemicu terjadinya suatu peristiwa yang menimpa kita. Akan tetapi, yang menetapkan semua itu terjadi adalah Allah. Baik atau buruk, manfaat atau mudharat, semuanya Allah yang mengatur sesuai dengan kadar perbuatan kita masing-masing.

QS. An Nisaa' (4) : 78
Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: "Ini adalah dari sisi Allah", dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: "Ini dari sisi kamu (Muhammad)". Katakanlah: "Semuanya (datang) dari sisi Allah". Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun?

Begitulah salah satu sikap yang diajarkan Allah kepada kita dalam menghadapi bencana. Sikap positif yang mengarah kepada ketauhidan yang kokoh. Berserah diri kepada Allah, setelah melewati proses. Bukan pasrah diri, tanpa berusaha.

Yang ke dua, dalam menghadapi bencana itu Allah mengajari kita untuk bersabar. Allah sedang menguji kesabaran kita. Demikian pentingnya kesabaran ini, sampai-sampai Allah mengatakan belum akan masuk surga seseorang, sampai ia bisa membuktikan kesabarannya.

QS. Ali Imran (3) : 142
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar.

Kesabaran itu bukan hanya di mulut. Melainkan dibuktikan dengan perbuatan. Dan bukan hanya orang-orang awam saja yang diuji, para nabi dan rasul pun diuji. Sejak jaman dahulu sampai nanti nnenjelang kiamat, Allah senantiasa menguji kesabaran kita dengan berbagai cobaan, musibah, dan bencana...

QS. Al Baqoroh (2) : 214
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Kapankah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.

Demikian hebatnya cobaan dan ujian itu sampai-sampai para rasul dan orang-orang beriman berdoa dengan penuh harap kepada Allah untuk menolongnya. Dan kemudian, pertolongan itu selalu datang pada saat-saat yang kritis. Ketika kita sudah hampir-hampir tidak kuat menahan cobaan itu.

Point pentingnya adalah: di saat kita dicoba, kita mesti ingat kepada Allah dan hanya meminta pertolongan kepadaNya. Jangan kepada yang lain-lain. Apalagi malah menggugat. Allah selalu memberikan pelajaran dalam setiap kejadian. Selalu ada kemudahan di balik kesulitan. Selalu ada rahmat di balik bencana. Ya, orang-orang yang bisa mengambil pelajaran bakal memperoleh rahmat dan perrtolongan dari Allah sesudah bencana itu.

Orang-oramg yang tidak pernah ditimpa kesulitan hatinya bakal semakin keras. Dan kemudian angkuh serta sombong. Bencana di planet Bumi ini tersebar di mana-mana. Sebagaimana kita bahas di depan, Bumi adalah planet yang rawan bencana. Apalagi ditambah perbuatan manusia yang merusak lingkungan hidup dengan kadar semakin parah.

QS. Al Maaidah (5) : 71
Dan mereka mengira bahwa tidak akan terjadi suatu bencana pun, maka mereka menjadi buta dan pekak, kemudian Allah menerima taubat mereka, kemudian kebanyakan dari mereka buta dan tuli (lagi). Dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.

Begitulah manusia. Selalu berubah-ubah antara baik dan buruk, antara sabar dan amarah, antara taubat dan maksiat, antara merusak dan membangun kembali. Jangan sampai kita kebablasan ke jalan yang salah. Allah selalu mendampingi orang-orang yang berorientasi pada kebaikan. Dan menjalani hidup dalam kesabaran.

QS. Al Ankabuut (29) : 2
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?

Selain cobaan dan ujian, bencana bisa bermakna azab dan siksa dari Allah. lni terjadi bagi mereka yang jelas-jelas menentang dan berbuat kejahatan. Hidupnya jauh dari Allah. Berbuat kerusakan dan kezaliman.

Misalnya yang terjadi pada kisah-kisah para rasul yang dizalimi oleh kaumnya. Dalam kisah-kisah itu memang selalu ada dua titik ekstrim yang digambarkan. Di satu sisi, kaum tersebut biasanya sudah keterlaluan, sehingga Allah mengutus rasulNya. Di sisi lain, Rasul bertugas menyampaikan amanat dari Allah, dan butuh perlindungan serta keamanan bagi tersampainya risalah itu.

Karena itu, ketika kaumnya semakin brutal, Allah lantas mengazab mereka dengan cara menghancurkannya. lni diperlukan untuk memberikan kepastian dan penegasan tersampaikannya risalah tersebut dalam masa kenabian sang Rasul. Tidak bisa tidak, risalah itu mesti terselesaikan dalam kurun waktu usia pembawanya. Sekaligus sebagai penegasan bahwa orang-orang yang menghalangi risalah, bakal mengalami kehancuran. Jika tidak bisa dengan nasehat, ya dengan bencana alam.

Kondisinya berbeda dengan kita dewasa ini. Di zaman kita, risalah kenabian Rasul Muhammad saw sudah selesai. Sudah tersampaikan. Sudah terkomunikasikan dengan sempurna.

Tidak sebagaimana zaman Rasul-Rasul sebelumnya yang menggunakan pendekatan mukjizat dan bencana, nabi Muhammad sukses nnenjalankan syiarnya dengan pendekatan akhlak dan strategi sosial politik yang manusiawi dan wajar. Dengan perjuangan mati-matian dan berdarah-darah.

Seakan-akan Allah -lewat perngorbanan beliau- memberikan petunjuk kepada kita, beginilah cara syiar yang harus dijalankan oleh umatnya dalam mengajak manusia membentuk tatanan dunia yang rahmatan lii alamin.

Manusia harus lebih menonjolkan usaha dan akalnya dalam kehidupan modern ini, yang disempurnakan dengan akhlak yang baik. Jika tidak, maka planet Bumi bakal mengalami kehancuran oleh perbuatan kita sendiri. Azablah yang bakal datang kepada kita.

Sebab, sebenarnya petunjuk sudah jelas. Bahwa siapa saja berbuat kebaikan, maka manfaatnya bakal kembali kepadanya. Sedangkan siapa saja berbuat kejahatan, maka bencananya juga akan kembali kepada dirinya sendiri. Bisa dibalas langsung sekarang, nanti sekian tahun lagi, atau pun dalam kehidupan akhirat. Semakin lama datangnya balasan itu, semakin besar dan berlipat ganda pula balasannya...

QS. Al Mukmin (40) : 40
Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan barangsiapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezki di dalamnya tanpa perhitungan.

Maka, bencana-bencana yang terjadi dewasa ini tidak bisa kita pastikan berdimensi tunggal sebagai azab, atau cobaan atau ujian. Selalu ada berbagai dimensi dan pelajaran yang terkandung di dalamnya. Ya ada cobaannya, ada ujiannya, dan ada azabnya. Itu bergantung kepada siapa penerimanya. Dan bagaimana menyikapinya.

Ini seiring dengan berbagai ayat yang diinformasikan Allah di dalam Al Qur’an. Bahwa orang-orang beriman pun suatu ketika dikenai bencana dan musibah. Tapi sifatnya adalah ujian dan cobaan. Allah ingin melihat bukti keimanan dan kesabaran kita. Jika kita bisa menyikapi dengan benar, dan mengembalikan semuanya kepada Allah, maka Allah akan memberikan pertolongan dan rahmat sesudah bencana tersebut. ‘Sesungguhnya pertolongan Allah sangat dekat’, begitu firmanNya. Maka luluslah ia dalam ujian dan cobaan itu.

Sebaliknya bagi orang-orang yang bergelimang dalam kejahatan dan kemaksiatan, bencana itu adalah siksa alias azab. Jika mereka sudah berlebihan mereka bakal dimusnahkan. Jika masih bisa diperbaiki, mereka bakal diberi kesempatan untuk bertaubat. Jika mereka jahat, tetapi lolos dari bencana, maka Allah sedang menyiapkan bencana yang lebih dahsyat untuknya...

QS. Maryam (19) : 84
maka janganlah kamu tergesa-gesa memintakan siksa terhadap mereka, karena sesungguhnya Kami hanya menghitung datangnya (hari siksaan) untuk mereka dengan perhitungan yang teliti.(FIRLIANA PUTRI)

0 komentar:

 
Terimakasih Atas kunjungan Anda, Semoga Semuanya Dapat Memberikan Manfaat Bagi Kita Semua