Dalam, suasana seperti sekarang, pesan sahabat Umar bin khottob layak direnungkan kembali, Kata beliau,"Haasibu anfusakum qobla antuhaasabuu"(Hitung‑hitunglah dirimu sebelum dihitung oleh Yang Maha Menghitung). Jika selama ini kita sibuk menghitung orang lain, maka kita ubah kebiasaan itu. Kita sibuk menghitung perjalanan hidup diri sendiri. Dengan demikian akan mengetahui seperti apa "potret" diri ini. Jangan‑jangan hebat, baik dan sempuma yang kita tampakkan mendapat protes dari hatinya sendiri yang secara jujur mengatakan dirinya tidak sehebat, sebaik dan sesempuma yang ditampakkan. Sebab selama ini kita lebih banyak memakai topeng ketimbang menampakkan wajah aslinya.
> Ada baiknya kita mengaca pada diri sendiri.
> Misalnya, bertanya apakah kita layak mengaku sebagai
> warga negara yang baik. Yaitu, warga negara yang
> mengatakan, "Apa yang saya berikan kepada bangsa.
> Bukan bertanya apa yang negara berikan kepada
> saya,". Apakah kita layak disebut sebagai kepala
> keluarga yang baik. Yaitu, kepala keluarga yang jadi
> panutan istri dan anaknya. Bukan sosok manusia yang
> hanya bisa membentak, memerintah, dan melarang.
> Tanpa banyak bicara anggota keluarganya mengakui
> bahwa dia memang layak jadi panutan.
>
>
>
> Hal lain yang perlu bercermin adalah, apakah kita
> sudah menjadi hamba yang baik. Yaitu, hamba rajin
> dalam ibadah kepada Tuhan. Ibadah yang bersifat
> dinamis, tidak statis. Maksudnya, ibadah itu tidak
> berhenti pada ibadah itu sendiri. lbadah dinamis
> berarti ada bekasnya dalam hidup orang itu.
> Misalnya, seseorang yang shalat, tidak cukup hanya
> dengan shalat itu sendiri, Dari shalat yang
> dikerjakan ada 'buahnya' dalam amal keseharian.
> Shalat menggambarkan perjalanan hidup ini. Ada
> takbir dengan posisi tegak, rukuk, lalu sujud. Ini
> gambaran hidup kita. Setiap manusia, mengalami usia
> tegak seperti posisi takbir. Tetapi, ini juga tidak
> lama, setelah itu usia kita akan rukuk. Dari rukuk
> berubah menjadi sujud usia kita. Perjalanan usia
> yang terakhir adalah salam, Yaitu mengucapkan salam
> kepada dunia yang kita singgahi ini. Dengan
> pemahaman seperti ini, maka ibadah kita akan
> dinamis. Tidak statis, ibadah yang statis, hanya
> berhenti pada ibadah itu sendiri, tidak ada bekas
> dalam hidupnya.
> Apakah ibadah yang kita kerjakan sudah membawa
> bekas? Yang bisa menjawab diri sendiri.
>
>
> Seiring dengan bertambahnya umur, maka perlu ada
> semangat baru. Yaitu, semangat hijrah yang maknanya
> bisa berupa fisik juga bisa berupa jiwa. Hijrah
> fisik artinya, kita pindah dari satu tempat (posisi)
> yang dimurkai Allah menuju posisi yang diridhoi
> Allah. Hijrah jiwa, artinya pindah dari kondisi yang
> tidak baik menjadi baik. Dari jiwa labil menjadi
> jiwa yang matang. Dari malas menjadi rajin. Dari
> enggan memberi pengorbanan menjadi rela berkorban,
> dan sebagainya. Dengan hijrah seperti itu, maka jiwa
> ini akan semakin dewasa dan matang. Jika hal ini
> diperluas, maka jiwa hijrah akan megubah pola hidup
> seseorang dari yang biasa ngureg ke dalam menjadi
> jiwa yang berwawasan jauh ke depan. Pikirannya
> matang, dan selalu ingin maju membangun masa depan
> yang lebik baik. Maka, ada baiknya kita jujur pada
> diri sendiri. Apakah selama ini termasuk orang
> statis, bahkan mundur ke belakang, atau sebagai
> orang maju, dinamis, dan mau membangun masa depan ke
> arah yang lebih baik. Ini semua terpulang
> kepada diri kita.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar