(Persembahan Untuk Para Sahabat)
Sahabat adalah dorongan ketika engkau hampir berhenti, petunjuk jalan ketika engkau tersesat, membiaskan senyuman sabar ketika engkau berduka, memapahmu saat engkau hampir tergelincir dan mengalungkan butir-butir mutiara doa pada dadamu...Ikhwan and akhwat...moga hati kita dipertautkan karena-Nya
Terimakasih Telah Menjadi Sahabat Dalam Hidup kami

rss

Rabu, 31 Oktober 2007

MENGATASI SYAHWAT DENGAN SYAHWAT



Bagaimanakah cara mengatasi dorongan syahwat yang menggebu? Dalam sejarah kemanusiaan kita melihat banyak orang mengatasinya dengan banyak cara pula.

Ada yang berusaha mematikan syahwatnya dengan cara tidak kawin, dan lantas menyibukkan dirinya dengan ritual-ritual peribadatan yang keras, supaya ia bisa melupakan dorongan syahwat itu.

Sebaliknya, ada yang justru mengumbar syahwat dengan kawin banyak -poligami ataupun poliandri- secara legal. Atau dalam bentuk selingkuh dan berzina secara sembunyi-sembunyi.

Pada dasarnya syahwat atau libido adalah butuh penyaluran. Jika tidak, maka ia akan mengganggu secara fisik maupun psikis. Namun, disalurkan pun jika tidak benar, juga bakal menimbulkan masalah. Bahkan bisa lebih besar!

Dalam bahasa laki-laki, syahwat adalah salah satu dari 3-Ta - Harta, Tahta, Wanita. Semuanya memang adalah godaan, sekaligus ujian. Harta adalah cobaan dan ujian. Tahta alias kekuasaan juga cobaan dan ujian. Demikian pula wanita juga cobaan dan ujian.

Sebenarnya inti permasalahannya itu bukan pada harta, tahta atau wanita, melainkan pada syahwat terhadap harta, syahwat terhadap tahta dan syahwat terhadap wanita.

Jika syahwat terhadap harta tidak disalurkan dengan benar pun, akan muncul masalah. Seseorang bisa menjadi jahat karenanya. Mencuri, merampok, korupsi dan semacamnya adalah bentuk syahwat terhadap harta.

Jika kita mengumbar syahwat terhadap harta, maka kita akan diperbudak olehnya. Semakin lama semakin menggiurkan, sekaligus membutakan mata hati kita. Tujuan hidup kita, tiba-tiba membelok kepada mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya.

Padahal, tadinya hanya sekadar untuk mencukupi kebutuhan hidup sekeluarga. Akan tetapi, setelah semua itu terpenuhi, tiba-tiba saja kita ingin mengumpulkan lebih banyak, dan lebih banyak lagi. Ingin menikmati lebih besar, dan lebih besar lagi. Ingin bersenang-senang sepuas-puasnya.

Sampai pada titik ini, kita mulai dihinggapi keserakahan syahwat kita terhadap harta. Kita boleh saja mengatakan, bahwa mengumpulkan harta itu sah-sah saja. Bahkan baik, karena kita bisa beramal lebih banyak dari biasanya.
Akan tetapi, ternyata itu hanya omongan mulut kita saja. Alasan sesungguhnya ada di dasar hati yang paling dalam, yaitu: ingin memuaskan syahwat kita terhadap harta. Semakin banyak semakin nikmat rasanya. Kalau ini yang terjadi, maka kita sudah berada di bibir ‘jurang masalah’. Tinggal menunggu jatuh saja.

Tidak ada bedanya dengan Tahta alias kekuasaan. Ini juga berpotensi menggiring seseorang kepada syahwat yang tidak terkendali. Penguasa-penguasa negara super power misalnya, adalah orang-orang yang mengumbar syahwat kekuasaan.

Semula kekuasaan itu digunakan untuk melindungi masyarakat. Akan tetapi, pada orang-orang yang mengumbar syahwatnya, kekuasaan itu menjadi alat pemuas keserakahannya. Tidak cukup hanya memerintah negerinya sendiri, mereka lantas menjajah negara lain tanpa perasaan bersalah. Ada yang dengan cara brutal, ataupun dengan cara-cara yang dilegalkan.

Inti persoalannya bukanlah legal atau tidak legal, melainkan niat yang tersembunyi di dalam hatinya. Mencari harta dengan berbisnis itu legal. Tetapi kalau dia melakukannya dengan semata-mata demi memuaskan syahwatnya terhadap harta, maka itu menjadi serakah namanya. Dan bakal menuai masalah.

Demikian pula kekuasaan. Menjadi pemerintah, anggota DPR, MPR, ataupun PBB adalah legal dan halal. Akan tetapi jika cara itu digunakan untuk memuaskan syahwat kekuasaan, maka hasilnya pun adalah masalah.

Maka, ketika berbicara tentang syahwat seks masalahnya tidak jauh berbeda dengan harta dan kekuasaan. Kuncinya bukan pada legal atau tidaknya. Melainkan pada niat yang ada di dalamnya.

Beristri itu adalah cara legal dan halal untuk menyalurkan hasrat seksual kita. Akan tetapi, hati-hati menjadi serakah. Sebagaimana harta dan kekuasaan, syahwat seks ini berpotensi menjebak kita untuk berasyik-masyuk di dalamnya, berburu kenikmatan, sehingga menjadi lupa diri.
Kuncinya, adalah pada niat yang ada di balik perbuatan itu. Jika beristri diniatkan untuk membangun keluarga sakinah, mawaddah, warahmah serta untuk menyalurkan libido secara benar dan tidak berlebihan, seperti kita bahas di depan, maka ini menjadi benar dan baik-baik saja.

Akan tetapi jika kemudian kita berburu kenikmatan untuk memuaskan syahwat sesksual kita dengan cara mengumpulkan istri sebanyak-banyaknya, maka kita lantas menjadi serakah.

Ini tidak ada bedanya dengan harta dan kekuasaan yang kita kumpulkan sebanyak-banyaknya itu. Niatan kita sudah berbelok. Menjadi berburu kepuasan syahwat.

Yang namanya kepuasan tidak akan pernah kita dapatkan. Yang bakal muncul adalah mencari kepuasan yang lebih tinggi lagi. Kalau niatnya poligami adalah untuk memuaskan syahwat, maka dijamin itu hanya akan terjadi beberapa saat saja. Tak lama kemudian, pasti akan terbayang-bayang: bagaimana ya nikmatnya punya istri lebih banyak lagi ?

Ini tak ada bedanya dengan sudah punya mobil, lantas pingin punya mobil lebih banyak lagi. Sudah menjadi gubernur pingin jadi presiden, dan penguasa dunia. Syahwat manusia tak pernah ada habisnya. Tak akan pernah terpuaskan.

Karena itu adalah keliru kalau kita mencoba mengatasi desakan syahwat kita dengan cara mengumbar syahwat agar tercapai kepuasan yang kita inginkan. Dan karenanya pula, tidak akan pernah anda temui di dalam Al-Qur’an ayat yang membolehkan poligami karena alasan syahwat..!

0 komentar:

 
Terimakasih Atas kunjungan Anda, Semoga Semuanya Dapat Memberikan Manfaat Bagi Kita Semua