(Persembahan Untuk Para Sahabat)
Sahabat adalah dorongan ketika engkau hampir berhenti, petunjuk jalan ketika engkau tersesat, membiaskan senyuman sabar ketika engkau berduka, memapahmu saat engkau hampir tergelincir dan mengalungkan butir-butir mutiara doa pada dadamu...Ikhwan and akhwat...moga hati kita dipertautkan karena-Nya
Terimakasih Telah Menjadi Sahabat Dalam Hidup kami

rss

Kamis, 20 Desember 2007

Neraka Sebagai Konsekuensi Negatif

Berbicara Surga tentu menjadi tidak lengkap kalau tidak bebicara tentang Neraka. Neraka disediakan Allah untuk orang-orang yang berbuat dosa. Siapakah orang-orang yang berbuat dosa itu?

Mereka adalah orang-orang yang ‘tidak paham’ atau ‘tidak mau memahami’ atau ‘tidak sempat memahami’ bahwa hidup ini sesungguhnya bukan sebuah proses yang kebetulan ada. Bahwa drama kehidupan ini ada yang membuat secara sengaja, Dialah Sang Pencipta, Allah Azza wajalla.

Banyak orang di sekeliling kita tidak paham tentang hal ini. Atau ada juga yang tidak sempat memahami karena, disibukkan oleh urusan 'remeh-remeh' dalam kehidupannya. Bahkan banyak pula yang 'sombong' dan ‘merasa pintar’, sehingga tidak mau memahami hal tersebut. Sungguh sangat disayangkan.

Orang yang seperti ini, ibarat orang yang membeli mobil tetapi tidak tahu untuk apa mobil itu dia beli. Dikiranya sekadar untuk pajangan atau gengsi-gengsian saja. Atau, ibarat orang yang tahu tujuan beli mobil, tetapi mereka tidak mau belajar bagaimana cara-cara mengoperasikan dan merawat mobil tersebut. Tentu saja, akibatnya akan sangat fatal.

Bagi orang yang tidak tahu tujuan beli mobil, tentu apa yang dia miliki itu menjadi tidak bermakna dan tidak bermanfaat sebagaimana mestinya. Dia memang memiliki, tetapi tidak bisa mengambil manfaat sama sekali. Untuk apa dia punya mobil. Lebih baik nggak usah saja!

Sama, untuk apa seseorang menjalani kehidupan ini jika ia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Hidupnya tidak bermakna dan tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Sia-sia belaka.

Atau, bisa juga, seperti orang yang beli mobil tetapi tidak tahu cara mengoperasikan dan merawatnya. Sama saja, tidak berguna. Atau bahkan lebih buruk lagi, karena kalau pun dia memaksa memakainya, mobil tersebut akan mengalami kerusakan. Baik karena salah operasi maupun karena salah perawatan.

Begitulah, orang yang tidak paham agama. Mereka akan mengalami berbagai macam problem dalam hidupnya, karena tidak tahu bagaimana seharusnya menjalani kehidupan. Hal-hal yang dikiranya benar ternyata salah. Perbuatan-perbuatan yang dikiranya bermanfaat tenyata bermasalah. Orang yang demikian bakal menemui Neraka, kalau tidak di dunia, ya di Akhirat nanti.

Maka, Neraka sebenarnya adalah sebuah konsekuensi negatif dari apa yang dilakukan oleh seorang manusia. Ia jangan diartikan sebagai 'ganjaran jelek' atau apalagi sebuah 'balas dendam' yang disebabkan oleh 'kemarahan' Allah, karena tidak patuhnya seseorang kepada Allah.

Kehidupan ini adalah sebuah permainan. Allah menciptakan permainan ini dengan segala macam regulasinya. Mirip, dengan katakanlah permainan sepak bola.

Bagi yang berhasil mencetak goal ia mendapat nilai positif, sedangkan bagi yang tidak berhasil mencetak goal atau bahkan kebobolan, ya dapat nilai negatif. Yang satunya menang, yang lainnya kalah. Dan untuk menjaga berlangsungnya permainan. itu, maka ada aturan-aturan tentang tendangan bebas, off side, dan berbagai pelanggaran.

QS Al An’aam (6) : 32
"Dan.tiadalah kehidupan dunia ini kecuali main-main dan sendau gurau belaka. Dan sungguh kampung Akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?"

QS, An Nisa' (4) : 13
“(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa ta'at kepada Allah dan Rasul Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam Surga yang mengalir di dalamnya sungai sungai, sedang mereka kekal di dalamnya dan itulah kemenangan yang besar.”

Kita semua adalah pemain. Kalau kita menang kita dapat Surga dan kalau kalah dapat Neraka. Supaya kita berpotensi menang, tentu kita harus memahami terlebih dahulu aturan permainan ini. Setelah itu barulah kita berusaha mati-matian untuk bisa mencetak goal atau setidak-tidaknya tidak kebobolan, tanpa harus melakukan pelanggaran yang bisa mengurangi nilai kita.

Siapakah lawan kita. Ternyata adalah setan dan 'konco-konconya'. Setan itu bisa berbentuk manusia tetapi bisa juga berbentuk jin. Yang jelas, setan adalah sebuah peran antagonis dalam drama kehidupan kita. la adalah lawan yang harus kita kalahkan, sebab dia juga sudah dipasang sebagai lawan yang akan membuat goal ke gawang dan mengalahkan kita.

QS Al Hijr (15) : 39
Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbualan maksiat) di muka Bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.”

QS. An Naas (114) : 6
"Dari (golongan) jin dan manusia"

Apakah tugas setan? Tugas utamanya aadalah menjauhkan manusia dari Allah. Dengan jauh dari Allah itu manusia akan kehilangan ‘arah dan tempo permainannya’ sehingga 'permainan' manusia melawan setan akan menjadi kacau. Lantas, pasti manusia tidak bisa membuat gol, bahkan akan sering kebobolan.

Ditilik dari kemampuan aslinya, sebenarnya manusia di bawah kemampuan setan. Kenapa demikian? Karena setan memiliki banyak kelebihan dibandingkan manusia. Ia diciptakan lebih awal dibandingkan manusia. Maka, ibaratnya ia adalah 'pemain senior' yang sudah berpengalaman dan memiliki skill yang lebih baik.

Mereka juga memiliki fisik yang lebih 'hebat' dibandingkan manusia, sebab mereka bisa melihat kita, sedangkan kita tidak bisa melihat mereka. Ditambah lagi, semangat yang 'pantang menyerah', karena mereka memang sudah tidak punya pilihan lain, kecuali 'bertugas' menjerumuskan manusia. Itulah yang dipilih lblis ketika memulai perseterunnya dengan Adam.
QS. Al A'raaf (7) : 27
“…sesungguhnya ia dan pengikut pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.”

Jadi, ini merupakan pertandingan yang tidak seimbang. Seperti dua tim yang berhadapan : satunya ditutup matanya, dan yang lainnya dengan mata terbuka. Kita pasti kalah!

Bagaimana caranya supaya tidak kalah? Cari bantuan! Kepada siapa? Kepada yang Maha Perkasa dan Maha Mengetahui. Apakah kita memang tidak mampu mengalahkan setan? Tidak akan mampu. Karena itu Allah mengajarkan kepada kita untuk minta bantuan kepadaNya.
"A'udzu billaahi minasy syaithaahir rajiim."
“Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.”

Kalimat ini diajarkan oleh Allah kepada kita karena ternyata manusia memang tidak pemah menang melawan setan. Kita akan menang, hanya jika berlindung kepada Allah. Dekat dengan Allah. Dan hal ini memang telah diucapkan iblis sejak awal mula.

QS. Al Hijr (15) : 40
"kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka"

Kita dipengaruhi oleh Iblis dan para setan agar mengikuti ritme permainan mereka. Kalau sudah demikian maka kita pasti kalah. Apakah wujud kekalahan itu? Allah mengingatkan di berbagai ayatnya.

QS. Ar Rum (30) : 41 - akan berbuat kerusakan
"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada Mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

QS. An Naml (27) : 4 - memandang indah kesesatan
“Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman, kepada negeri Akhirat, Kami jadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka, maka mereka bergelimang (dalam kesesatan).”

QS. Ali Imran (3) : 117 - menganiaya diri sendiri
“Perumpamaan harta yang mereka nafkahkan di dalam kehidupan dunia ini, adalah seperti perumpamaan angin yang mengandung hawa yang sangat dingin, yang menimpa tanaman kaum yang menganiaya diri sendiri, lalu angin itu merusaknya. Allah tidak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.

QS. Al A’raaf (7) : 51 - Ditipu oleh dunia
“Yaitu orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan sendau gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka. Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.”

QS. Furqaan (25) : 18 - dibuat lupa terhadap Allah
"Mereka (yang disembah itu) menjawab: "Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagi kami mengambil selain Engkau (untuk jadi) pelindung, akan tetapi Engkau telah memberi mereka dan bapak-bapak mereka kenikmatan hidup, sampai mereka lupa mengingati (Engkau); dan mereka adalah kaum yang binasa."

Kalau sudah demikian, maka rusaklah tempo permainan manusia. Mereka kehilangan motivasi hidupnya. Mereka lupa misi utamanya. Mestinya manusia bertugas untuk mengelola Bumi ini supaya tercipta kehidupan yang berbahagia, sejahtera, adil dan penuh manfaat.

Kenyataannya, manusia mau saja dijerumuskan oleh setan untuk membuat berbagai kerusakan dan ketidak adilan di muka Bumi. Mereka menciptakan problem dalam kehidupan mereka sendiri. Dan semua itu bakal membawa konsekuensi bagi masa depannya. 'Konsekuensi negatif dalam bentuk 'Neraka' ketika berada dalam kehidupan Akhirat nanti.

Brings words and photos together (easily) with
PhotoMail - it's free and works with Yahoo! Mail.
Neraka Sebagai Konsekuensi Negatif

Berbicara Surga tentu menjadi tidak lengkap kalau tidak bebicara tentang Neraka. Neraka disediakan Allah untuk orang-orang yang berbuat dosa. Siapakah orang-orang yang berbuat dosa itu?

Mereka adalah orang-orang yang ‘tidak paham’ atau ‘tidak mau memahami’ atau ‘tidak sempat memahami’ bahwa hidup ini sesungguhnya bukan sebuah proses yang kebetulan ada. Bahwa drama kehidupan ini ada yang membuat secara sengaja, Dialah Sang Pencipta, Allah Azza wajalla.

Banyak orang di sekeliling kita tidak paham tentang hal ini. Atau ada juga yang tidak sempat memahami karena, disibukkan oleh urusan 'remeh-remeh' dalam kehidupannya. Bahkan banyak pula yang 'sombong' dan ‘merasa pintar’, sehingga tidak mau memahami hal tersebut. Sungguh sangat disayangkan.

Orang yang seperti ini, ibarat orang yang membeli mobil tetapi tidak tahu untuk apa mobil itu dia beli. Dikiranya sekadar untuk pajangan atau gengsi-gengsian saja. Atau, ibarat orang yang tahu tujuan beli mobil, tetapi mereka tidak mau belajar bagaimana cara-cara mengoperasikan dan merawat mobil tersebut. Tentu saja, akibatnya akan sangat fatal.

Bagi orang yang tidak tahu tujuan beli mobil, tentu apa yang dia miliki itu menjadi tidak bermakna dan tidak bermanfaat sebagaimana mestinya. Dia memang memiliki, tetapi tidak bisa mengambil manfaat sama sekali. Untuk apa dia punya mobil. Lebih baik nggak usah saja!

Sama, untuk apa seseorang menjalani kehidupan ini jika ia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Hidupnya tidak bermakna dan tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Sia-sia belaka.

Atau, bisa juga, seperti orang yang beli mobil tetapi tidak tahu cara mengoperasikan dan merawatnya. Sama saja, tidak berguna. Atau bahkan lebih buruk lagi, karena kalau pun dia memaksa memakainya, mobil tersebut akan mengalami kerusakan. Baik karena salah operasi maupun karena salah perawatan.

Begitulah, orang yang tidak paham agama. Mereka akan mengalami berbagai macam problem dalam hidupnya, karena tidak tahu bagaimana seharusnya menjalani kehidupan. Hal-hal yang dikiranya benar ternyata salah. Perbuatan-perbuatan yang dikiranya bermanfaat tenyata bermasalah. Orang yang demikian bakal menemui Neraka, kalau tidak di dunia, ya di Akhirat nanti.

Maka, Neraka sebenarnya adalah sebuah konsekuensi negatif dari apa yang dilakukan oleh seorang manusia. Ia jangan diartikan sebagai 'ganjaran jelek' atau apalagi sebuah 'balas dendam' yang disebabkan oleh 'kemarahan' Allah, karena tidak patuhnya seseorang kepada Allah.

Kehidupan ini adalah sebuah permainan. Allah menciptakan permainan ini dengan segala macam regulasinya. Mirip, dengan katakanlah permainan sepak bola.

Bagi yang berhasil mencetak goal ia mendapat nilai positif, sedangkan bagi yang tidak berhasil mencetak goal atau bahkan kebobolan, ya dapat nilai negatif. Yang satunya menang, yang lainnya kalah. Dan untuk menjaga berlangsungnya permainan. itu, maka ada aturan-aturan tentang tendangan bebas, off side, dan berbagai pelanggaran.

QS Al An’aam (6) : 32
"Dan.tiadalah kehidupan dunia ini kecuali main-main dan sendau gurau belaka. Dan sungguh kampung Akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?"

QS, An Nisa' (4) : 13
“(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa ta'at kepada Allah dan Rasul Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam Surga yang mengalir di dalamnya sungai sungai, sedang mereka kekal di dalamnya dan itulah kemenangan yang besar.”

Kita semua adalah pemain. Kalau kita menang kita dapat Surga dan kalau kalah dapat Neraka. Supaya kita berpotensi menang, tentu kita harus memahami terlebih dahulu aturan permainan ini. Setelah itu barulah kita berusaha mati-matian untuk bisa mencetak goal atau setidak-tidaknya tidak kebobolan, tanpa harus melakukan pelanggaran yang bisa mengurangi nilai kita.

Siapakah lawan kita. Ternyata adalah setan dan 'konco-konconya'. Setan itu bisa berbentuk manusia tetapi bisa juga berbentuk jin. Yang jelas, setan adalah sebuah peran antagonis dalam drama kehidupan kita. la adalah lawan yang harus kita kalahkan, sebab dia juga sudah dipasang sebagai lawan yang akan membuat goal ke gawang dan mengalahkan kita.

QS Al Hijr (15) : 39
Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbualan maksiat) di muka Bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.”

QS. An Naas (114) : 6
"Dari (golongan) jin dan manusia"

Apakah tugas setan? Tugas utamanya aadalah menjauhkan manusia dari Allah. Dengan jauh dari Allah itu manusia akan kehilangan ‘arah dan tempo permainannya’ sehingga 'permainan' manusia melawan setan akan menjadi kacau. Lantas, pasti manusia tidak bisa membuat gol, bahkan akan sering kebobolan.

Ditilik dari kemampuan aslinya, sebenarnya manusia di bawah kemampuan setan. Kenapa demikian? Karena setan memiliki banyak kelebihan dibandingkan manusia. Ia diciptakan lebih awal dibandingkan manusia. Maka, ibaratnya ia adalah 'pemain senior' yang sudah berpengalaman dan memiliki skill yang lebih baik.

Mereka juga memiliki fisik yang lebih 'hebat' dibandingkan manusia, sebab mereka bisa melihat kita, sedangkan kita tidak bisa melihat mereka. Ditambah lagi, semangat yang 'pantang menyerah', karena mereka memang sudah tidak punya pilihan lain, kecuali 'bertugas' menjerumuskan manusia. Itulah yang dipilih lblis ketika memulai perseterunnya dengan Adam.
QS. Al A'raaf (7) : 27
“…sesungguhnya ia dan pengikut pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.”

Jadi, ini merupakan pertandingan yang tidak seimbang. Seperti dua tim yang berhadapan : satunya ditutup matanya, dan yang lainnya dengan mata terbuka. Kita pasti kalah!

Bagaimana caranya supaya tidak kalah? Cari bantuan! Kepada siapa? Kepada yang Maha Perkasa dan Maha Mengetahui. Apakah kita memang tidak mampu mengalahkan setan? Tidak akan mampu. Karena itu Allah mengajarkan kepada kita untuk minta bantuan kepadaNya.
"A'udzu billaahi minasy syaithaahir rajiim."
“Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.”

Kalimat ini diajarkan oleh Allah kepada kita karena ternyata manusia memang tidak pemah menang melawan setan. Kita akan menang, hanya jika berlindung kepada Allah. Dekat dengan Allah. Dan hal ini memang telah diucapkan iblis sejak awal mula.

QS. Al Hijr (15) : 40
"kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka"

Kita dipengaruhi oleh Iblis dan para setan agar mengikuti ritme permainan mereka. Kalau sudah demikian maka kita pasti kalah. Apakah wujud kekalahan itu? Allah mengingatkan di berbagai ayatnya.

QS. Ar Rum (30) : 41 - akan berbuat kerusakan
"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada Mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

QS. An Naml (27) : 4 - memandang indah kesesatan
“Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman, kepada negeri Akhirat, Kami jadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka, maka mereka bergelimang (dalam kesesatan).”

QS. Ali Imran (3) : 117 - menganiaya diri sendiri
“Perumpamaan harta yang mereka nafkahkan di dalam kehidupan dunia ini, adalah seperti perumpamaan angin yang mengandung hawa yang sangat dingin, yang menimpa tanaman kaum yang menganiaya diri sendiri, lalu angin itu merusaknya. Allah tidak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.

QS. Al A’raaf (7) : 51 - Ditipu oleh dunia
“Yaitu orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan sendau gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka. Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.”

QS. Furqaan (25) : 18 - dibuat lupa terhadap Allah
"Mereka (yang disembah itu) menjawab: "Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagi kami mengambil selain Engkau (untuk jadi) pelindung, akan tetapi Engkau telah memberi mereka dan bapak-bapak mereka kenikmatan hidup, sampai mereka lupa mengingati (Engkau); dan mereka adalah kaum yang binasa."

Kalau sudah demikian, maka rusaklah tempo permainan manusia. Mereka kehilangan motivasi hidupnya. Mereka lupa misi utamanya. Mestinya manusia bertugas untuk mengelola Bumi ini supaya tercipta kehidupan yang berbahagia, sejahtera, adil dan penuh manfaat.

Kenyataannya, manusia mau saja dijerumuskan oleh setan untuk membuat berbagai kerusakan dan ketidak adilan di muka Bumi. Mereka menciptakan problem dalam kehidupan mereka sendiri. Dan semua itu bakal membawa konsekuensi bagi masa depannya. 'Konsekuensi negatif dalam bentuk 'Neraka' ketika berada dalam kehidupan Akhirat nanti.(Dahlia Putri)

0 komentar:

 
Terimakasih Atas kunjungan Anda, Semoga Semuanya Dapat Memberikan Manfaat Bagi Kita Semua