(Persembahan Untuk Para Sahabat)
Sahabat adalah dorongan ketika engkau hampir berhenti, petunjuk jalan ketika engkau tersesat, membiaskan senyuman sabar ketika engkau berduka, memapahmu saat engkau hampir tergelincir dan mengalungkan butir-butir mutiara doa pada dadamu...Ikhwan and akhwat...moga hati kita dipertautkan karena-Nya
Terimakasih Telah Menjadi Sahabat Dalam Hidup kami

rss

Jumat, 28 September 2007

Cahaya Pembunuh Satelit


Siapa tak butuh cahaya? Pastilah tak ada, karena hidup memang perlu cahaya. Cahaya adalah salah satu penopang kehidupan. Tapi dasar manusia, sekelompok ilmuwan Amerika pernah memanfaatkannya sebagai 'mesin pembunuh'.



Rancang bangun satelit Laser

Siapa sih yang tak kenal cahaya dalam kehidupan ini? Ketika seorang anak mulai duduk di bangku sekolah dasar, kepadanya telah diperkenalkan satu persatu komponen alam penopang kehidupan yang paling mendasar. Diantaranya adalah cahaya matahari.

Makhluk hidup memang memerlukan cahaya untuk kelangsungan dan aktivitas hidupnya. Cahaya matahari memungkinkan bentuk dan struktur tulang kita kuat. Sementara, cahaya dari lampu penerangan memungkinkan kita melakukan berbagai aktivitas ketika matahari 'bersembunyi'. Pendek kata, cahaya adalah unsur yang amat vital. Menurut batasan fisika, cahaya adalah salah satu bentuk energi yang dipancarkan elektron dari atom atau molekul.

Namun, disisi lain cahaya ternyata bak silat dalam seni beladiri dari peradaban kuno. Halus mirip tarian, tapi jika gerakannya difokuskan dengan benar, ia tak ubahnya seperti senjata pembunuh. Begitu pula dengan yang namanya cahaya. Fenomena alam yang satu ini ternyata bisa dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan destruktif. Hal itu pernah diupayakan sekelompok ilmuwan AS di sebuah fasilitas rahasia milik Dephankam AS di White Sands, New Mexico.

Kekuatan yang pernah dicobakan begitu menakutkan alias letal banget. Pasalnya, dengan sekali sentak, seberkas cahaya mampu meluluh-lantakan dinding roket Titan 1 yang beratnya berton-ton itu dari jarak sekitar 15 meter! Para pembaca yang budiman mungkin pernah dengar sebuah piranti canggih yang namanya LASER. Nah, senjata pemusnah yang dikembangkan pada masa Pemerintahan Ronald Reagan dan tak pernah terdengar kelanjutannya itu, diungkap menggunakan teknologi ini. Di balik kehalusannya, cahaya ternyata memang destruktif.

LASER


Light amplification by stimulated emission of radiation (LASER) atau berkas cahaya yang dikuatkan dengan cara pemampatan emisi radiasi dari sebuah unsur kimia, adalah sebuah teknik eksploitasi cahaya yang masih tergolong baru. Pengujiannya baru pertama kali dilakukan pada tahun 1976. Para ilmuwan menggunakan laboratorium milik pemerintah AS yang begitu tertutup, yakni di Los Alamos. Meski masih dalam tingkat efisiensi yang rendah, pemanfaatan cahaya dengan panjang gelombang 10 mikron ini telah membuktikan teori pelontaran energi dari cahaya yang sebelumnya sering timbul lalu tenggelam.

Basis dari pencarian ini sebenarnya adalah ide untuk memfokuskan energi dari cahaya yang dipancarkan elektron-elektron bebas. Ide ini muncul ketika para ilmuwan tengah melakukan percobaan tentang atom atau molekul dari unsur berupa gas, cairan, serta padatan yang masing-masing ditempatkan terpisah dalam sebuah ruang kedap udara.

Ketika itu terlintas begitu saja ide liar tersebut, yakni, "Apa sih yang akan terjadi jika energi-energi itu difokuskan, dimampatkan, lalu diarahkan pada target tertentu?"

Merealisasikannya memang tak mudah, karena 'bermain' dengan elektron berarti memerlukan peralatan khusus presisi tinggi yang perancangannya tak bisa main-main. Masih dari fasilitas yang sama di Los Alamos, eksperimen yang kurang begitu sempurna itu kemudian dilanjutkan dengan pengujian yang lain pada 1981. Ketika itu, dalam hitungan 100 mikro-detik, berhasil terlontar pulsa energi cahaya (laser) sebesar 6 kilowatt. Sebuah permulaan yang meransang munculnya ide-ide lain yang lebih jauh.

Rangkaian eksperimen di Los Alamos, AS, ini, dalam sejarahnya terbilang sebagai puncak dari pencarian kecil yang dilakukan segelintir ilmuwan fisika yang memang tengah berusaha untuk menguak kekuatan terpendam dari cahaya. Meski telah dijaga ketat, kegiatan mereka akhirnya tersiar juga. Para ilmuwan dari berbagai negara pun berusaha ikut menelitinya.

Ihwal kekuatan terpendam fenomena alam ini sendiri sebenarnya telah disadari sejak zaman Isaac Newton, putra Inggris dari abad 17 yang berhasil menemukan prinsip gravitasi. Dalam teori emisinya, Newton pernah mengatakan, bahwa cahaya adalah partikel yang sangat kecil dan ringan yang dipancarkan oleh sumbernya ke segala arah dengan kecepatan yang sangat besar. Seabad kemudian, James dan Clerk Maxwell menegaskan, bahwa dilihat dari sifat-sifat perambatannya, cahaya tak lain adalah gelombang elektromagnetik. Diantara ilmuwan lain yang pernah mengamatinya, adalah eksperimen Max Plank (1858-1947) yang menjurus ke arah pemanfaatan laser.

Menurut Plank, dengan teori dan percobaan radiasi pada benda hitam bisa disimpulkan bahwa cahaya terdiri dari paket-paket energi yang disebut kwanta atau foton. Bukankah foton-foton ini bisa dimanfaatkan untuk tujuan tertentu?

Akhirnya diketahui juga, bahwa berlandaskan prinsip kesetimbangan energi (termik), foton-foton itu bisa terlontar jika atom atau molekul dari sebuah atau kombinasi unsur yang memang potensial dihujani dengan radiasi yang dipancarkan dari sebuah alat yang selanjutnya dinamakan sebagai osilator laser. Kiriman 'paket-paket energi ini' kian hari kian terfokus karena pada koridor lintasannya ditempatkan sejumlah cermin dan lensa.

Perang Bintang

Pemanfaatan laser sendiri kian terasa menakjubkan setelah sejumlah ilmuwan berhasil menciptakan peralatan atau fasilitas yang memanfaatkan teknologi ini untuk kepentingan medis. Dengan peralatan yang cukup rumit, lintasan sinarnya bisa disalurkan pada selang kecil terbukti bermanfaat untuk membedah sejumlah organ tubuh manusia tanpa perlu melakukan pembedahan luar.

Akan tetapi, dasar negara kaya yang pada masa itu (tahun 80-an) tengah gencar-gencarnya bertikai dengan Uni Soviet, pernah terlintas dalam pikiran orang-orang Amerika itu untuk memanfaatkannya pula sebagai senjata. Sejumlah penelitian atas biaya Dephankam pun digelar. Lewat proyek Directed Energy Weapon yang merupakan bagian dari program Perang Bintang-nya Ronald Reagan, teknologi yang satu ini kemudian dinilai amat potensial untuk digunakan sebagai pembunuh rudal balistik dan satelit mata-mata yang kala itu memang begitu menghantui negeri Paman Sam ini.

Melalui serangkaian uji fisibilitas, diketahui ada dua desain yang memungkinkan untuk segera dibangun. Pertama, adalah laser penjebol rudal/satelit dengan generator yang ditempatkan di Bumi (lintasan sinarnya selanjutnya dipantulkan cermin-cermin raksasa di ruang angkasa, dan kedua, adalah laser penjebol rudal/satelit yang seluruh sistemnya di tempatkan di ruang angkasa (mirip satelit).

Apapun itu, seperti diungkap David Hobbs dalam An Illustrated Guide to Space Warfare (1986), keganasan dari senjata cahaya ini terletak pada kombinasi unsur kimia yang digunakan. Karena, sesungguhnya memang dari unsur-unsur inilah kehebatan reaksi atom-atomnya ditentukan. Menurut sejumlah pengujian dengan sandi ALPHA dan MIRACL (Mid Infra Red Chemical Laser) yang dilakukan di fasilitas White Sands, New Mexico, kombinasi letal yang kerap dipilih adalah hydrogen-flourine atau deuterium-flourine.

Kombinasi pertama mampu mengeluarkan berkas laser dengan kekuatan awal hingga dua megawatt, sedang yang kedua 2,2 megawatt. Kekuatan sebesar ini masih bisa diperkuat lagi hingga sepuluh kali lipat hanya dengan menambahkan beberapa modul generator. Ini berarti untuk membangun senjata pemusnah rudal/satelit yang minimal memerlukan kekuatan 25 megawatt telah bisa direalisasikan jika memang diperlukan.

Dari kedua kombinasi tersebut, deuterium-flourine dari proyek bersandi MIRACL itulah yang kemudian cenderung lebih disukai Dephankam AS. Sebagai eksperimen pertama, pada 6 September 1985, laser dengan kombinasi unsur ini kemudian dicobakan untuk membobol selongsong roket Titan 1 yang seolah-olah dianggap sebagai tubuh rudal balistik dan satelit mata-mata. Apa yang diharapkan ternyata benar-benar terjadi. Hanya dengan sekali sentak saja, dari jarak 15 meter, berkas laser yang dilontarkan dari menara fasilitas yang diberi nama High Energy Laser System Test Facility, terbukti sanggup menjebol hancur selongsong roket raksasa yang kira-kira memiliki diameter 2,5 meter tersebut.

Namun, kelanjutan dari proyek eksploitasi energi cahaya ini sendiri tak pernah diketahui kelanjutannya. Konon, setelah Uni Soviet ambruk, proyeknya tak pernah diteruskan.

sumber: Portal PENS-ITS

0 komentar:

 
Terimakasih Atas kunjungan Anda, Semoga Semuanya Dapat Memberikan Manfaat Bagi Kita Semua