(Persembahan Untuk Para Sahabat)
Sahabat adalah dorongan ketika engkau hampir berhenti, petunjuk jalan ketika engkau tersesat, membiaskan senyuman sabar ketika engkau berduka, memapahmu saat engkau hampir tergelincir dan mengalungkan butir-butir mutiara doa pada dadamu...Ikhwan and akhwat...moga hati kita dipertautkan karena-Nya
Terimakasih Telah Menjadi Sahabat Dalam Hidup kami

rss

Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Maret 2008

fyi gals & guys, 1000 BURUNG KERTAS

Sewaktu Boy dan Girl baru pacaran,
Boy melipat 1000 burung kertas buat Girl,
menggantungkannya di dalam kamar Girl.
Boy mengatakan 1000 burung kertas itu menandakan 1000 ketulusan hatinya.
Waktu itu... Girl dan Boy setiap detik selalu merasakan betapa indahnya
cinta mereka berdua...

Tetapi pada suatu saat, Girl mulai menjauhi Boy.
Girl memutuskan untuk menikah dan pergi ke Perancis...Ke Paris ...
Tempat yang dia impikan di dalam mimpinya berkali2 itu...
Sewaktu Girl mau memutuskan Boy, Girl bilang sama Boy, kita harus
melihat dunia ini dengan pandangan yang dewasa. Menikah bagi cewek
adalah kehidupan kedua kalinya. Aku harus bisa memegang kesempatan ini
dengan baik. Kamu terlalu miskin, sungguh aku tidak berani membayangkan
bagaimana kehidupan kita setelah menikah...!!

Setelah Girl pergi ke Perancis, Boy bekerja keras...
dia pernah menjual koran...
menjadi karyawan sementara...bisnis kecil...
setiap pekerjaan kerjakan dengan sangat baik dan tekun.
Sudah lewat beberapa tahun...
Karena pertolongan teman dan kerja kerasnya, akhirnya dia mempunyai
sebuah perusahaan.
Dia sudah kaya, tetapi hatinya masih tertuju pada Girl, dia masih tidak
dapat melupakannya.

Pada suatu hari... waktu hujan, Boy dari mobilnya melihat sepasang orang
tua berjalan sangat pelan di depan.
Dia mengenali mereka, mereka adalah orang-tua Girl.....
Dia ingin mereka lihat kalau sekarang dia tidak hanya mempunyai mobil
pribadi,
tetapi juga mempunyai villa dan perusahaan sendiri, ingin mereka tahu
kalau dia bukan seorang yang miskin lagi, dia sekarang adalah seorang
Boss.

Boy mengendarai mobilnya sangat pelan sambil mengikuti sepasang
orang-tua tersebut.
Hujan terus turun tanpa henti, biarpun kedua orang-tua itu memakai
payung,tetapi badan mereka tetap basah karena hujan.
Sewaktu mereka sampai tempat tujuan, Boy tercegang oleh apa yang ada didepan matanya,
itu adalah tempat pemakaman.
Dia melihat di atas papan nisan Girl tersenyum sangat manis terhadapnya..
Di samping makamnya yang kecil, tergantung burung2 kertas yang dibuatkan Boy.
Dalam hujan, burung2 kertas itu terlihat begitu hidup, Orang-tua Girl
memberitahu Boy, Girl tidak pergi ke Paris, Girl terserang kanker, Girl
pergi ke surga. Girl ingin Boy menjadi orang, mempunyai keluarga yang
harmonis, maka dengan terpaksa berbuat demikian terhadap Boy dulu. Girl
bilang dia sangat mengerti Boy, dia percaya kalau Boy pasti akan berhasil.
Girl mengatakan... kalau pada suatu hari Boy akan datang ke makamnya dan
berharap dia membawakan beberapa burung kertas buatnya lagi.
Boy langsung berlutut, berlutut di depan makam Girl, menangis dengan
begitu sedihnya. Hujan pada hari itu terasa tidak akan berhenti,
membasahi sekujur tubuh Boy.
Boy teringat senyum manis Girl yang begitu manis dan polos, Mengingat
semua itu, hatinya mulai meneteskan darah...

Sewaktu orang-tua itu keluar dari pemakaman, mereka melihat kalau Boy
sudah membukakan pintu mobil untuk mereka.
Lagu sedih terdengar dari dalam mobil tersebut.

"Hatiku tidak pernah menyesal,
semuanya hanya untukmu 1000 burung kertas,
1000 ketulusan hatiku,
beterbangan di dalam angin
menginginkan bintang yang lebat besebaran di langit...melewati sungai perak,
apakah aku bisa bertemu denganmu?
Tidak takut berapapun jauhnya,
hanya ingin sekarang langsung berlari ke sampingmu.
Masa lalu seperti asap...
hilang dan tak kan kembali.
menambah kerinduan di hatiku....
Bagaimanapun dicari,
jodoh kehidupan ini pasti tidak akan berubah..."
(lirik langsung di-translate dari bahasa Mandarin)(Bambang Adhi)

Sabtu, 02 Februari 2008

PUISI KARYAWAN STRESS

Akulah karyawan paling rajin di dunia,
Berani berkorban nggak nonton Piala Dunia,
Meski hati merana tapi tetap berdedikasi ,
Meski hari sabtu gini aku tetap berdasi ,

Akulah karyawan paling pantes dapet promosi,
Selalu paling depan ngisi daftar absensi ,
Di antara rekan akulah yang paling rajin ,
Temen yang nggak masuk pun aku absenin

Jam 8 kurang udah masuk kantor ,
Tidak lupa membeli koran,
Di koran banyak berita koruptor ,
Kenapa gua nggak kebagian ?

Sekarang hidup bener-bener nggak aman ,
Pake handphone di mobil digedor kapak merah ,
Itulah kenapa aku nggak beli mobil dan handphone ,

Tahun pertama ngantor masih tinggal di kost,
Tahun ketujuh ngantor udah pindah tempat kost,
Tahun pertama pergi-pulang nebeng tukang pos,
Di saat krismon pergi-pulang nebeng boss,

Akulah karyawan yang paling setia,
Sedari peletakan batu pertama kantor, aku jadi
kulinya, Sampai kantor
punya jaringan komputer, aku jadi net-admin-nya,
Sampai kantor diledakin ,
aku jadi otaknya...!!Ha..ha..ha..
==================================================================================
Zdalim@nationalgmts.com

Jumat, 05 Oktober 2007

beberapa lagu



minority_gRe

I wanna be the minority
I don’t need your authority
down with the moral majority
’cause I wanna be the minority

I pledge
allegiance
to the underworld
one nation under dog there of which I stand alone
a face in the crowd
unsung against the mold
without a doubt singled out the only way I know

’cause I wanna be the minority
I don’t need your authority
down with the moral majority
’cause I wanna be the minority

stepped out of line
like a sheep runs from the herd
marching out of time
to my own beat now
the only way I know

one light
one mind
flashing in the dark
blinded by the silence of a 1,000 broken hearts
for crying out loud
she screamed unto me
a free for all fuck them all
you are your own sight

’cause I wanna be the minority
I don’t need your authority
down with the moral majority
’cause I wanna be the minority
hey

one light
one mind
flashing in the dark
blinded by the silence of a 1,000 broken hearts
for crying out loud
she screamed unto me
a free for all fuck them all
you are your own sight

’cause I wanna be the minority
I don’t need your authority
down with the moral majority
’cause I wanna be the minority
(I wanna be) the Minority
(I wanna be) the Minority
(I wanna be) the Minority
(I wanna be) the Minority

geovisit(); ”setstats” 1

Juli 14th, 2007 Ditulis oleh Putri | LiriK2 LagU | | Tidak ada Komentar
Church On Sunday_gReen day

ooh
today is the first day of the rest of our lives
tomorrow is to late to pretend everything’s all right now
I’m not getting any younger as long as you don’t get any older
I’m not going to state that yesterday never was

bloodshot deadbeat and lack of sleep
making your mascara bleed
tears down your face
leaving traces of my mistakes

when I say
if I promise go to church on Sunday
will you go with me on Friday night
if you live with me I’ll die for you and this compromise

I hereby solemnly swear to tell the whole truth
and nothing but the truth is what I’ll ever hear form you now
trust is a dirty word that comes from such a liar
but respect is something I will earn if you have faith

bloodshot deadbeat and lack of sleep
making your mascara bleed
tears down your face
leaving traces of my mistakes

when I say
if I promise go to church on Sunday
will you go with me on Friday night
if you live with me I’ll die for you and this compromise
if I promise go to church on Sunday
will you go with me on Friday night
if you live with me I’ll die for you and this compromise
(lets go)
ooh ooh ooh

oooohh
if I promise go to church on Sunday
will you go with me on Friday night
if you live with me I’ll die for you and this compromise
if I promise go to church on Sunday
will you go with me on Friday night
if you live with me I’ll die for you and this compromise
and this compromise
it’s a compromise

geovisit(); ”setstats” 1

Juli 14th, 2007 Ditulis oleh Putri | LiriK2 LagU | | Tidak ada Komentar
Blood, Sex And Booze_gReen day

(heads down heads down heads down)
(ow)
(you understand me)
(aw shit)

Waiting in a room
All dressed up and bound and gagged up to a chair
It’s so unfair
I won’t dare to move
For the pain she puts me through is what I need
So make it bleed

I’m in distress
Oh mistress I confess so do it one more time
These handcuffs are to tight
Well you know I will obey
So please don’t make me beg
For blood sex and booze you give me

Say I’m disturbed
It’s what I deserve
Another lesson to be learned
From a girl called kill
My head is in the gutter
Thank you sir strink up anoher madaolin
Of discipline
Throw me to the dogs
Let them eat my flesh down to the wood
It feels so good

I’m in distress
Oh mistress I confess so do it one more time
These handcuffs are to tight
Well you know I will obey
So please don’t make me beg
For blood sex and booze you give me

Say I’m disturbed
It’s what I deserve
Another lesson to be learned
From a girl called kill (wooh)

Oh oh

I’m in distress
Oh mistress I confess so do it one more time
These handcuffs are to tight
Well you know I will obey
So please don’t make me beg
For blood sex and booze you give me

Oh oh
Oh oh
I’ll show you a real time


geovisit(); ”setstats” 1

Juli 14th, 2007 Ditulis oleh Putri | LiriK2 LagU | | Tidak ada Komentar
warNing_gReen day

this is a public service announcement this is only a test
emergency evacuation protest
may impair your ability to operate machinery
can’t quite just what it means to me
keep out of reach of children
don’t you talk to strangers
get your philosophy from a bumper sticker

warning live without warning
say warning live without warning
without alright

better homes and safety-sealed communities
did you remember to pay the utility
caution police line you better not cross
is the cop or am I the one that’s really dangerous
sanitation expiration date question everything
or shut up and be a victim of authority

warning live without warning
say warning live without warning
say warning live without warning
say warning live without warning
without alright

better homes and safety-sealed communities
did you remember to pay the utility
caution police line you better not cross
is the cop or am I the one that’s really dangerous
sanitation expiration date question everything
or shut up and be a victim of authority

warning live without warning
say warning live without warning
say warning live without warning
say warning live without warning
this is a public service announcement this is only a test

geovisit(); ”setstats” 1

Juli 14th, 2007 Ditulis oleh Putri | LiriK2 LagU | | Tidak ada Komentar
Bersama Bintang_Drive

senja kini berganti malam
menutup hari yg lelah
dimanakah engkau berada
aku tak tahu dimana

pernah kita lalui semua
jerit, tangis, canda, tawa
kini hanya untaian kata
hanya itulah yg aku punya

reff:
tidurlah selamat malam
lupakan sajalah aku
mimpilah dalam tidurmu
bersama bintang

sesungguhnya aku tak bisa
jalani waktu tanpamu
perpisahan bukanlah duka
meski harus menyisakan luka

repeat reff

Juni 19th, 2007 Ditulis oleh Putri | LiriK2 LagU | | Tidak ada Komentar
Selalu dekat_Radja

janganlah kau menganggapku tlah hilang
dan kau hapus diriku dalam hidupmu
ku sadari ku slalu meninggalkanmu
namun itu hanyalah untukmu

*
walau pun ku tahu
sedikit waktuku yg ku beri untukmu
namun aku takkan pernah
lupakan dirimu, lupakan cintamu

reff:
walau kini ku jauh tapi ku selalu dekatmu
takkan pernah ada rasa
tuk berpaling dari dirimu

janganlah kau menganggapku tlah hilang
dan kau hapus diriku dalam hidupmu
ku sadari ku slalu meninggalkanmu
namun itu hanyalah untukmu

repeat *
repeat reff

Juni 19th, 2007 Ditulis oleh Putri | LiriK2 LagU | | Tidak ada Komentar
Ada cinta_Irwansyah dan Acha

ucapkanlah kasih satu kata yg ku nantikan
sebab ku tak mampu membaca matamu
mendengar bisikmu

nyanyikanlah kasih senandung kata hatimu
sebab ku tak sanggup mengartikan getar ini
sebab ku meragu pada dirimu

reff:
mengapa berat ungkapkan cinta
padahal ia ada
dalam rinai hujan
dalam terang bulan
juga dalam sedu sedan

mengapa sulit mengaku cinta
padahal ia terasa
dalam rindu dendam
hening malam
cinta terasa ada

nyanyikanlah kasih senandung kata hatimu
sebab ku tak sanggup mengartikan getar ini
sebab ku meragu pada dirimu

repeat reff

Juni 19th, 2007 Ditulis oleh Putri | LiriK2 LagU | | Tidak ada Komentar
MengenaNgmu_Kerispatih

Takkan pernah habis air mataku
Bila ku ingat tentang dirimu
Mungkin hanya kau yang tahu
Mengapa sampai saat ini ku masih sendiri

Adakah disana kau rindu padaku
Meski kita kini ada di dunia berbeda
Bila masih mungkin waktu berputar
Kan kutunggu dirimu �

Reff:
Biarlah ku simpan sampai nanti aku kan ada di sana
Tenanglah diriku dalam kedamaian
Ingatlah cintaku kau tak terlihat lagi
Namun cintamu abadi �

Juni 19th, 2007 Ditulis oleh Putri | LiriK2 LagU | | Tidak ada Komentar
Tentang aKu, kaU dan dia (usai sUdah)_KangeN baNd

selayaknya engkau tahu
betapa ku mencintaimu
kau tenangkanku dari mimpi burukku

selayaknya kau mengerti
betapa engkau ku kagumi
kau telah tinggal di dalam palung hati

betapa hancur hatiku
melihat engkau bersamanya
namun ku mencoba tuk tegar menghadapinya

jangan kau menangis lagi
tak sanggup aku melihatnya
sekarang kau pilih diriku atau dirinya

reff:
kau tuliskan cerita tentang engkau dan dia
yg membuat hatiku semakin terluka
sudah usai sudah cerita engkau dan aku
ku anggap sebagai bingkisan kalbu

ku tulis cerita tentang aku dan dia
sehingga membuatmu terluka
sudah usai sudah, jangan menangis lagi
kurasa sampailah di sini

repeat reff

Juni 19th, 2007 Ditulis oleh Putri | LiriK2 LagU | | Tidak ada Komentar
Kembang Perawan_Gita Gutawa

Ketika surya menampakkan cahayanya
Ku gapai hari terangku
Menanti sebuah cerita
Yang pasti akan terjadi di diriku

Kini ku mulai mengerti artinya cinta
Walau senda tawa
Namun hatiku mulai merasa
Bila dekat lelaki aku pun malu�

Akulah kembang perawan
ingin mulai merasa
Perasaan yang pasti
milik semua insan

Aku mulai jatuh cinta
Papa biarlah aku
menikmati semua anugerah
di hidupku

Senin, 01 Oktober 2007

Hikmah Hari ini


Ku Ingat Engkau saat alam begitu gelap gulita
dan Wajah Zaman berlumuran debu hitam
Ku sebut nama-Mu dengan lantang disaat fajar menjelang
Dan fajarpun merekah seraya menebar senyuman indah

Betapa pun ku lukiskan keagungan_Mu dengan deretan huruf,
Kekudusan-Mu tetap meliputi semua arwah
Engkau Tetap Yang Maha Agung
Sedang semua makna akan lebur mencair
di tengah keagungan_Mu, Waha Rabb_Ku...

Dr. Aidh Al-Qarni_La Tahzan
http://azzah.blogdrive.com/

Hikmah Hari ini


Engkau adalah kekuatan spiritual
Yang mampu mengguncang setiap dada yang penuh dengan iman
Dengan kalimat takbirmu, ..... membahana dalam jiwa
Namun engkau sendiri dimurkai oleh wargamu sendiriiiiiiiii.
Engkau dikhianati oleh bangsamu sendiriiiiiiiii
Engaku dijadikan tameng oleh sesamamu sendiriiiiiii
Engkau dijadikan boneka oleh pemeluk mu sendiriiiiii
Yang ..... dapat ..... mereka dalilkan menurut versinya sendiriiiiiiii

Hukummu telah dicabik-cabik oleh orang yang mengaku mengayomimu
Syariatmu juga telah ditendang kesana kemari
Bagaikan bola yang bergulir nggak tentu arah
Semua mengaku ummatmu
Tingkatkan ukhwah,
Tingkatkan silaturrahmi,
Tingkatkan persaudaraan sesama muslim
Teeetapiiiiii, .......
Yang ada saling tuding,
Yang ada saling tuduh,
Yang ada saling merendahkan,
Yang ada saling menjatuhkan,
Yang ada saling memaki,
Yang ada adalah sayalah, ...... yang benar

Kaaaapaaaaaan ????????
Ukhwah bisa terwujud
Silaturrahmi bisa tercipta
Persaudaraan bisa tumbuh

Islam, ....... oh muslim, ..... oh muslimat
Bangkitlah kamu dari tidurmu yang panjang
Guncanglah dadamu yang telah beku agar hatimu dapat mencair
Gugahlah imanmu yang katanya sudah begitu tebal sehingga sulit untuk mekar
Sadarlah wahai saudaraku, .....
Bukalah matamu lebar-lebar, .....
Bahaya, ..... bahaya, ..... bahaya, .....
Ada disekitar kamu, aku dan kita, .... Wassalam. (Irwan Munir)

Kiasan Inggris


If I could only love you forever, I would love you with all my heart, if I could take the stars in the sky, I would fly above and take them for you.
If the river were dry, I am able to fill it with my tears.
I may not be romantic, I may not be able to give diamond and gold, I just want you to know what’s in my heart, I will always love you…
If I could only love to someone, I’m sure my world would be more beautiful.
You came into my world and give your love to me
Oh my love, for the first time in my live my eyes are wide open.
Love is like as a rudder of the living ark
She is very beautiful like a monkey
The more I love you, The more you hate me
You’ll never know till you have tried.
Experience is the best teacher.
Never put off till tomorrow what you can do today.
Practice makes perfect.
Just break my heart
The poetic use of fifty sails for fifty ships
You are a tulip seen today
Your face is like as a rose.
Call at to my bamboo-hovel
By your hand I awakened
Just keep my heart in your eyes
The Sun is like a brass of plate
Bali is the Island of gods
The Sun is like a candle
I smile at the moon
Love likes the fire, it can’t be made a fool, and it would burn your own.

Kumpulan Puisi




Kamu di setiap sore hari
Membawa pelataran jala dan jaring
dengan mengendarai perahu layer
serta membawa sedikit bekal untuk dinikmati

Sungguh kamu pelaut sore
tak gentar melawan badai ombak
Pekerjaanmu sunggguh besar
demi makan istri anak

Kamu mulai menyeberang di waktu malam
Menyusuri laut ditemani bintang
Usahamu hanya dapat mendapat ikan
yang dapat ditukar dengan banyak uang

Jamu juga baik untuk kesehatan
mampu memberikan gizi pada bangsa
Demi mencerdaskan anak-anak Indonesia
negeri cinta damai yang kita cinta

Fatma Fauziah





Di kala mentari pagi
Kau dating dengan senyum
Di kala surup matahari
kau pancarkan kesejukan

Selama ini….
Kau ajarkan arti sahabat
Kau ajarkan arti teman
Kau beriakan jalan aku yang terbaik

Namun,…
itu hanya sementara
Kini kau pergi jauh
Entah kapan kita berjumpa
Ingat baik-baik aku sobat

Selamat berjuang
Selamat jalan…

Risdian






Hari menjelang malam,
lorong anjing bersobatan
Aku sendiri tanpa teman
Kemanakah mereka?
Kemana aku harus pergi?

Malam semakin dingin
Kuraih selembar selimut kecil
yang selalu setia menemaniku
kemanapun aku melangkah

Membungkusku dalam kehangatan
Menjauh dari dinginnya malam

Suwarningsih





Oh, Ayah
Oh, Ibu
didiklah aku
jangan biarkan aku menjadi orang bodoh
Ayah, Ibu ampunilah dosaku
Aku akan patuh padamu
untuk mendoakanmu

Dengan tulus ikhlas
karena Tuhanmu
Tobirin





Kita hidup di sini tidak sendiri
Kita hidup membutuhkan bantuan orang lain
Hidup adalah perjuangan
Berjuang merangkai langkah dan silsilah
Bejuang demi waktu dan masa depan
Berjuang mencapai puncak kebahagiaan
Derai darah dan keringat bercucuran
membasahi jiwa dan raga

Berkorban demi cita-cita akhir
dan cahaya kebahagiaan….

Siti Mutafahimmah



Cahaya suci yang menerangi kegelapan
menjadikan sudut ruang terang dan tenang
Kekosongan membisik aku berpantun
Saat senyuman hilang dari bayanganku
dan membunuh bagai banjir banding

Oh, Tuhan
Andai kau buat diriku sempurna
mungkin mereka takkan meninggalkan aku
Ketidaksempurnaan yang merajaiku
Menderita dalam nestapa kesendirian
Dalam rindu sendu yang mengharu kalbu
Kini terbang meninggalkan sesal
Oh, indah bila mereka ada
Demikian rasa,…
Mengalir, menimpa, mendesak
menghembus memenuhi sukma
melawan hampa dalam kekosongan


Nila





Malam makin hilang
Fajar milai menyingsir
hanya terdengar suara burung berkicau
dan ayam berkokok

Suasana dalm kelas sunyi senyap
hanya tetesan air mata yang jatuh
ke lantai….
Tak ada suara gemuruh seperti dulu
Tak ada canda tawa lagi
yang selalu hiasi hari-hari
Ingin rasanya kuputar kembali, tapi…
Itu hanya harapan yang takkan terwujud

Izrotul Azizah





Malam kan berganti fajar
Kebersamaan malam kan menghilang
Jarak kan terbentang
Kisah kita pun menjadi kenangan
Kini ….
Kami coba wujudkan impian
tuk jadi kenyataan
Izinkan lepas gandengkan tangan

Tuk ucapkan….
Selamat tinggal teman
Kenang kami
Selalu….

Eva Hanik.H





Sunyinya malam ini,sesunyi hatiku saat ini
Andai ada kedamaian di dunia ini
mungkin akan terasa indah dan bahagia
dalam dunia ini

Dengar….
Dengarlah….!
Dengarlah suara hatiku ini
Yang saat ini terasa pilu
Kelam…
Begitu kelam hidupku…
begitu seram nasibku, di dunia ini
Mungkin sudah suratan hidupku
Sudah suratan nasibku
Tanpa cinta dan sahabat sejati
Terus langkah apa lagi yang harus aku tempuh
Dalam menyusuri hidup yang begitu kelam dan seram

Kadang aku bertanya pada diriku sendiri
untuk apa lahir di dunia menanggung derita
Sekarang, hariku kian sepi
Tak ada yang menemani di saat aku begini

Robbi….
Padamulah aku mengadu

Farida N.S




Berwaktu-waktu….
sujudku perih, sedih
menyusun cinta yang tak pernah terbaca
Aksara demi aksara….
Sebab, mungkin ibu lupa mengingatkanku
dalam merangkai silsilah
abjad demi abjad,
lalu kata….

Maafkan diam yang merah, padam
Membawa perih luka di ketiak duka
Merahku jadi hitam
maaf luka yang mengajariku durhaka

Lya Akmalia





Aku sombong bilang aku paling hebat
dan tak akan bisa ada yang menyaingiku
Aku memang seperti si buta yang baru melihat
yang sombong karna baru memperolah pangkat

Tetapi ternyata aku….
Kini luruh dan rapuh karena kesombonganku
Dan kini ternyata aku….
terpelosok ke dalam jurang kesombongan itu
Oh, mengapa baru kini kusesali
kesombongan dan keangkuhan itu
Oh,apakah yang membuatku begini
Ku tak mengerti dan tak pernah tahu


SriYanti






Seperti rinduku jalan berkaca-kaca
Juga kabarmu yang bertubi-tubi telah membuat
Pohon dalam diri pucat pasi, lantar
Bagaimana bulan?
Akan tersenyum kalau langit penuh api
Apalagi balautara
telah jadi hitam dan desaunya tak sampai ke laut lepas

Maka dengan keberanian kupecahkan
segala kabar yang kukirim berkali-kali itu
jadi serpihan seperti
pecahan kaca di lantai ini, dan kita kemudian
menginjaknya hingga berdarah

Jangan seperti ini yang kemudian terus kita lalui
Sampai ke laut lepas matahari yang retak,
lahir dari pecahan kaca
Seperti rinduku
Seperti jalan-jalan yang tampak pecah

Sweety Rumayati




Suasana yang hampa ini
Tak ada yang bisa kukerjakan
kecuali hanya bisa melamun dan
memikirkan dirimu

Namun kadang aku jadi bingung
Memikirkan diriku sendiri
yang selalu memikirkan dirimu
dan kamu pun tak menyadari

Lantas kutulis puisi ini
agar kau dapat mengerti
perasaanku ini
yang sedang kualami
Rosyid


Ya Allah ya Tuhan kami
Tuhan Yang Maha Esa
dan lagi Maha Penyayang
ampunilah dosa-dosa kami
Ya Allah ya Tuhan kami
Jauhkanlah kami dari siksa api neraka
dan jauhkanlah kami dari godaan setan
Ya Allah tolonglah hambamu

Ya Allah ya Tuhan kami
Hanya engkaulah Tuhan yang kami sembah
Ya Allah tunjukkanlah kami jalan yang terbaik
dan jadikanlah kami umat yang beriman dan bertakwa

Ya Allah ya Tuhan kami
Hanya engkaulah Tuhan satu-satu-Nya di bumi ini
dan hanya engkaulah Tuhan yang dimintai pertolongan
dan tidak ada Tuhan selain Allah

Amrudin





Atas nama hidup,
Yang dibenci bukanlah yang kau takuti dan dihindari
dan yang dicintai adalah yang kau hasratkan
Banyak ketakutan yang tak nyata
Lalu mengapa harus bersedih karena sesuatu yang tiada berguna
M.Chusen.M



Pagiku hilang sudah melayang
Hari mudaku sudah pergi jauh
Bini petang datang menghantui
Umur usiaku sudah lanjut

Aku malas di pagi hari,
sifat malas di masa muda
Kini hidup menusuk hati,
miskin ilmu miskin harta

Tidak ada gunanya kusesalkan
Menyesal tua tiada artinya
hanya duka sukma yang kudapatkan
Aris.S


Pandangilah bintang di atas sana
Yang berkilau dan bercahaya
dengan diiringi angin malam

Oh….
Jiwaku begitu sepi
Tiada mau menemani
Mungkin terlalu berat membagi dukaku
Hidup….
Hidup ini penuh angan-angan gemerlapan
Mungkin, tidak akan jadi kenyataan hidup
Hidup ini seperti dikutuk Tuhan
Hidup yang penuh duka dan tawa

Oh…. Angin
Malam begitu sejuk
Udara begitu segar
dan tada yang sempurna selain ciptaan-Nya

Saiful.R






Rembulan bersinar terang
Kau pancarkan sinarmu
Tengah malam yang sunyi
Kau terangi isi alam semesta
dengan cahayamu yang terang benerang

Kau jadikan yang gelap menjadi yang terang
Kau jadikan suasana cerah
Rembulan….
Sungguh kau sangat dibutuhkan
Kalau bukan sinarmu
malam akan menjadi sunyi
malam menjadi sepi

Sholeh



Terbuka di mata ini
Disambut cerahnya sinar matahari pagi
Tergugahnya kesegaran jiwa ini
karena datang terlahir cinta suci
ingin kumelamun sendiri
di saat….
Suasana sepi begini
menahan rindu
menusuk hati yang tak mungkin kau sadari
Lantas kutulis puisi sahabat kasih
agar gelora tidak tersisik
ayat-ayat cinta…

Dengarkanlah bisikan hati
Semoga engkau mau mengerti
Cinta kasih hadir
karena merasa simpati
atau karena tanpa simpati

Irfan Haryono



Dinginnya malam kembali menggigitku
Kutermenung dalam dekap bayangmu
semakin terasa saat sunyi mencekam
esok perpisahan kan jadi nyata

Fajar pagi kembali menyapa
Hatiku dan hatimu erat bersatu
Hampa hidup yang kurasa ini
semua atas kepergianmu
Berulang kali namamu kuagungkan
Berharap hadirmu walau hanya sekedar bayangan
Hanya untuk menghapus rasa rindu di dada
yang kurasa hanyalah kehampaan, kekosongan tanpa dirimu

Engkau adalah penuntun hatiku
Engkaulah yang memberi kedamaian dalam hatiku
Getaran hatiku terasa dalam hatiku
tercurah bersama derai air mata

Aris




Setiap kali asaku tak jadi nyata
Mimpiku terbang bersama awan
kumekarkan bunga yang masih kuncup
Kunyalakan sinar ikhlas yang masih redup
saat harapan tinggal bayangan

Dan cita-cita tinggal cerita
Duka kubawa pergi berlari
Masa depan panjang menantang
Masa depan dunia dan keabadian
Haruskah kutakut dan berkecil hati
sedangkan sulitnya masa mampu kulewati
kucoba mengutai butiran bahagia
kujadikan kalung penghias kehidupan
kucintai kehidupan hari ini

Meski sedikit bahagia menepi
Rasa syukur membawaku ke laut yang serba cukup
Rasa cukup menerbangkan aku ke laut damai
Rasa damai membawaku ke bukit kebahagiaan
tak akan aku biarkan putus asa menyapa hidupku

Anif Afifudin




Terasa indah
Bila kita sedang jatuh cinta
dan tercipta rasa
untuk dapat memiliki

Namun semua itu
dapat terwujud dengan cinta
yang bergulir dengan indah
Tetaplah menjadi bintang
yang sinarnya terangi bumi
dan menjadi saksi cinta kita

Namun semua ini harus berakhir
Mungkin inilah jalan yang terbaik
dan kita meski relakan kenyataan ini

A.Zubaidi



Ingatlah ketika kau bersamaku
Bercanda dan merindu
Kau berarti di hatiku
semoga kau jadi milikku

Tapi kau mengkhianati
Tinggalkan aku sendiri
dan seakan waktu berhenti
mengingat rasa sedih ini

Tapi ku tak pernah
menyatakan cinta
yang kupendam
dalam derita
Aku yang tak bisa
lupakan dirimu
Yang kini hadir di hatiku
Tapi kau bagaikan paku
menusuk pahit di hatiku

Ervan Fahlefi




Ayah, Ibu didiklah aku
Sekolahkan aku di SMA etrfavirit ini
Jangan biarkan aku bodoh seperti kerbau
Ayah, Ibu tolong carikanlah ilmu untuk aku
Supaya aku di akhirat aku tidak menyesal

Ayah, Ibu mencari uang sedikit demi sedikit
untuk membiayai aku.
Kepanasan, banting tulang, kehausan, dan lapar
Karena pikirkan diriku
supaya aku jadi anak yang baik
patuh kepada orang tua

Terima kasih Ayah, Ibu
Jasa-jasamu yang luhur itu
tidakkah kulupakan sepanjang jalan
Aku akan mengikuti apa yang diperintahkannya
Mengingat pesan-pesannya

Siti Mutoharoh



Bulan cerah di suatu malam
untuk merenungkan dalam berbagai macam
Bagaimana dalam belajar
Baik waktu saja

Kuasailah waktu saja
ibarat belajar ilmu
Gunakan waktu saja
untuk belajar sehari semalam
Meskipun waktu sedikit
manfaatkan dengan belajar
Belajarlah dalam waktu saja
untuk meraih kepandaian

A.Ngadim





Pandangilah langit karena kuasa Tuhan
Pandangilah laut karena kebesaran Tuhan
Pandangialah gunung karena anugerah Tuhan
Pandangilah cermin sebagai kutukan Tuhan

Lilik




Suasana sesunyi sepi
menahan rindu
menusuk hati….
Mungkin ku tak menyadari
Lantas kutulis puisi kasih
Untukmu sang kekasih
Yang kini pergi jauh
meninggalkan pedih

Semua rindu kulimpahkan
hanya untukmu
Hingga saat ini
menyita waktu dan pikiranku
Amroel Hakim


Lihatlah senyum anak jalanan itu
Ketika kita mengulurkan seratus rupiah padanya
begitu senang dan bahagia
seakan tiada lagi duka

Ketulusan hati kita
Keikhlasan niat kita
tuk menolong sesama
adalah seberkas harapan bagi kita

Amrul






Malam bulan purnama
Nampak indah dipandang mata
Angin malam mengusik jiwa
Mengusik rasa gundah berselimut duka
Kalau kupandang rembulan
Kuteringat wajah kusuma yang menwan
Teringat wajah ibu tersayang
Malam semakin larut
Rasa dingin senantiasa terparut
Wajah ibu yang buat aku larut
dalam larutan yang melarut

Setelah satu minggu tak bertemu
Rindu rasa hatiku
Rindu akan belaian tanganmu
Rindu dengan manjanya senyummu
Akankah ada rasa yang sama
Sama dalam setitik rasa
dalam renungan bulan purnama


Davit Gufron













Betapa banyak menangis
karena melihat tangan yang bengis
Betapa banyak hati tertampar
karena tajam ucapan terlontar

Betapa banyak kawan menjauh
enggan menatap wajah nan angkuh
Sungguh tak terkira banyaknya dosa
seakan aku berada di samudera dosa bertepi
Ulurkan tali kasihmu, ya Robb
agar aku dapat menepi ke pantai ampunan-Mu
mukaku hitam pekat penuh lumpur kemunafikan

Berikan air hidayah-Mu Robbi
untuk membasuh muka yang hina ini
langkahku lelah dan wajahku sayu
karena aku selalu menjauh darimu

Aku takut….
Sunggah kutakut pedihnya azabmu
aku rindu….
Sungguh kurindu indahnya surgamu
Seiring belaian angin malam
kudatang penuh kepasrahan
Kuketuk pintu ampunan dengan penuh harap
Membawa sejuta pengakuan dan doa
Ya…Tuhan
Bukalah pintu ampunan-Mu
berikanlah pintu petunjuk-Mu
agar aku tetap berada di jalan yang lurus
agar saya dapat menapaki sayapmu dengan tulus

Edi Susanto



Ketika sejuta embun
Tak cukup menghapuskan dahaga kami
Tak cukup menghilangkan rasa gundah hati kami
Seribu lautan tak kunjung menghampiri.


Engkau dating laksana malam bertabur bintang
Engkau dating laksana cakrawala di kala petang.

Ya Rosul …

Segala puji atas kepemimpinanmu

Ya Rosul …

Segala puji atas kesetia kawananmu

Ya Rosul …

Alif




KUPU - KUPU Wahai kupu –kupu… Alangkah indahnya dirimu Dengan bebas kau terbang melayang di angkasa sana Wahai kupu –kupu … Engkau menabur sejuta pesona
Bagi umat manusia Wahai kupu –kupu … Engkau elok dan menawan bagai hewan kayangan Bunga pun mekar saat kau di dekatnya Hati ku pun riang Melihat mu terbang Di angkasa raya Mengagungkan Sang Pencipta

Uangku diterima oleh bapakku


Perbatasan kota pati. Letak desa yang masih strategis dan tidak jauh dari keramaian kota. Ada juga anggapan orang bahwa Tanjang adalah sebuah kota. Dinamakan Tanjang karena orang dahulu jika berjalan nunjang-nunjang disaat musim penghujan. Di sepanjang jalan tidak ada batu maupun kerikil,seperti sawah yang akan ditanami padi, gembur dan lembek, sedalam lutut. Bilamana hujan mengguyur tiada henti akan menampung air, bak samudera Hindia. Konon cerita orang terdahulu, lebih baik rumah yang terkena banjir dari pada tidak bisa makan.
Suasana itu membuat masyarakat tergugah untuk mewujudkan desa yang nyaman, jalan yang beraspal, kaki dapat dilangkahkan dengan ringan, tangan dengan mudah untuk memegang, serta membentuk keluarga terdidik. Lambat laun keadaan itu berubah ibarat meniti dua bambu sebagai jembatan dari tepi ke tepian sungai. Otak diasah untuk belajar dan bekerja keras tanpa lelah dan malu. Sebagai orang tua menginginkan anak-anaknya pandai, sehingga dapat mengurangi beban orang tua kelak. Oleh karena itu mereka disekolahkan sampai tingkat tinggi walau dengan menjual bambu, ternak dan panen. Sindiran dan ocehan silih berganti dengan meragukan kemampuan ekonomi. Olok mengolok mudah terlontar dari mereka. Saat inilah orang merindukan akhlak yang baik, mau merasakan susah senangnya tetangga, toleransi dan balas budi.
Mata pencaharian masyarakat beraneka ragam dari bertani, berdagang, swasta, dan pegawai pemerintah. Sekitar 16 % penduduknya bekerja di instansi pemerintah dan mayoritas bercocok tanam. Masih termasuk desa tertinggal namun kesadaran untuk mencerdaskan anak-anak sangat diutamakan. Suasana hati terasa mantap dan percaya diri dengan keberadaan ilmu yang semakin tinggi. Berbeda dengan desa lain, walau perekonomian tinggi namun pendidikan kurang diutamakan.
Diantara sekian banyak rumah yang cukup baik, diantara sekian banyak orang kaya dan orang miskin, dan ditengah kesibukan dan kemegahan rumah-rumah desa, hiduplah suatu keluarga kakek Kartono dan nenek Suwarni.
Kakek Kartono dan nenek Suwarni hidup bersama, satu anak dan dua cucunya mendiami rumah yang cukup sederhana. Anaknya dibangku SMA, sedangkan kedua cucunya dibangku TK dan kelas empat. Sawah satu petak menjadi handalan mereka, selain itu mereka juga memelihara ternak.
Pagi-pagi buta Nur sudah berada di dapur, memask nasi dan membuat lauk. Kadang pula neneknya yang membuat, jika tidak bekerja pada orang lain. Berat beban yang dipikul pada anak seusianya. Bagaikan kewajiban sholat yang tiada pernah ditinggalkan. Terlihat pintu kamar sebelah masih tertutup rapat. Setengah jam kemudian diikuti Ji’ah yang sedang menyapu lantai, membersihkan kaca. Suara tangis mulai terdengar manja. Suasana dingin menambah malas bangun Tio, yang berusia lima tahun.
Usai sarapan mereka berangkat kesekolah. Wajah Nur nampak berseri-seri hingga kedua bibir bergerak terlihat lesung pipit di pipi. Suasana riang hatinya saat bertemu teman-teman sekolah.
“Hai Ayik! Tumben pagi-pagi sudah sampai sini. Ingat betul hari ini ada PR.”
“Ah kamu Nur, tahu saja aku jika ada PR. Aku lupa mengerjakan.” sambil mengeluarkan buku.
“Sulit atau lupa Yik?” dengan memberi pilihan. Nampak wajah merah padam tersenyum.
“Ya Nur, aku tidak bisa ngerjakan, habis soalnya sulit!”
Tampak dari luar kelas ada suara memanggil Nur. “Nur…..Nur….!”Nur berusaha mencari arah suara memnggil dan terlihat sosok yang telah dikenalnya di kelas. Diantara duduk dikerumunan teman-teman. Nur menyapa
“Hai…!” Ada apa Yik…?”
“Aku tidak bisa mengerjakan nomer lima, sepertinya sulit, kamu bisa Nur?”
“Itu dia! Aku juga tidak bisa, sepertinya belum diajarkan ya oleh pak Marno!”
Bel masuk telah berdering. Anak-anak bergegas menempatkan diri didepan kelas masing-masing untuk diperiksa kuku dan rambut. Untunglah yang sudah bersih sehingga bisa masuk.
PR matematika dicocokkan silang. Satu persatu anak-anak ditunjuk untuk mengerjakan di papan tulis. Sebelum dikerjakan Nur menanyakan soal yang sulit.
“Tanya pak! Soal nomer lima, ini caranya bagaimana, saya tidak bisa Pak!”
“Ya Pak! Nomer lima.” dukung teman-teman yang ternyata kesulitan juga.
“Kalian ingat, rumus phytagoras? Ini adalah pengembangan phytagoras! Dalam mengerjakan soal memang diharapkan kejelian dan kecermatan yang cair.” tegas pak Marno. “Baiklah nanti kalian akan saya bantu mengerjakan, mungkin kalian ada yang sudah mencobanya?” pancing pak Marno.Tanpa rasa takut Nur menanyakan kembali. “Pak! Nanti kalau caranya salah?”
“Bagus Nak, kamu bisa mengikuti yang Bapak maksud! Inilah anak pemberani dan kritis. Jangan takut salah, matematika memiliki banyak cara baik yang praktis maupun cara panjang.” semangati Nur.
Nur seorang pemberani. Pelajaran yang belum dipahami berusaha ditanyakan, untuk apa sekolah kalau tidak paham. Baik bertanya kepada teman, kakak kelas, bapak atau ibu guru dan tak segan kepada kakek atau nenek terutama bahasa Jawa. Pelajaran yang diulang-ulang sudah hafal di luar kepala. Tanpa beban jika mengerjakan ujian. Apalagi pelajaran bahasa Indonesia belajar berbicara, menulis dan berekspresi. Waktu luang di rumah tidak disia-siakan. Biasanya diisi dengan membaca buku-buku pelajaran yang disenangi. Pelajaran Agama, IPA, dan buku cerita. Sayangnya, di perpustakaan boleh dipinjam mulai kelas lima. Nur memiliki tipe tidak suka menganggur. Bila banyak menganggur akan terasa capek.
Tak banyak tidur. Usai pulang sekolah segera mengambil air wudlu .untuk mengerjakan sholat Dzuhur. Kewajiban lima waktu berusaha ia lengkapi. Nyaman dan tenang sesudah menunaikan.
Di ruang tengah terlihat meja dapur terdapat penutup makan, berarti nenek sudah masak. Di sebelah barat meja dapur terdapat kursi kuno panjang dan besar, sehingga cukup untuk empat atau lima orang. Kakek duduk bersila sedang menikmati makan siang bersama nenek.
“Nur! Sini makan dulu!” panggil nenek selesai Nur salat.”
“Ya Nek, sebentar lagi!” sambil menggantungkan mukena di tembok.Nur segera menuju meja makan mengambil piring dan sendok lalu nasi dan lauk.
“Nenek, Kakek kok pulang cepat?” setelah makan satu sendok.
“Alhamdulillah, rumputnya tinggal sedikit Nur. Nur, besok ibumu nelpon pagi-pagi?” beri tahu kakek.
“Asyik… ibu pasti mau kirim. Tadi siapa yang ke sini Kek?”
“Pak Parno. Besok dengan Kakek ke sana ya.”
“Berarti dua kali ini ya Kek ibu kirim. Bapak kok tidak pernah kirim ya Nek?” Tanya Nur tiba-tiba.
“Nur, bapakmu khan di Palembang sama kakakmu, hasil kebun untuk makan berdua. Beda ibumu di Malaysia, di sana nilai uang tinggi. Kalau ditukar dengan mata uang Indonesia jadi banyak.”
“Ooo…begitu ya Nek, baru tahu aku. Nek aku dulu lahir di mana?”
“Nur dulu lahir di Palembang, kakakmu Listiyanto juga lahir di sana. Ingat tidak kamu dulu jatuh, masuk sumur. Ingat tidak Nur saat di kebun?” tanya Kakek.
“Haah…aku masuk sumur Kek! Kapan itu Kek, kok aku tidak tahu? Nur mempertajam ingatanya namun tak terbersit kejadian itu, kemudian Kakek mulai bercerita. “walaupun kamu masih kecil Nur suka membantu ibu, bapakmu dan sekarang kepada Nenek dan Kakekmu. Bagus Nur! Tanamkan sikap membantu sampai kamu dewasa dan kepada siapa saja. Sikap membantu membutuhkan keikhlasan hati karena Allah Taala. Tidak semua anak mau membantu. Ia cenderung untuk kepentingan pribadi. Sedangkan kita tidak bisa hidup sendiri.” puji Nenek. “Waktu itu bapak, ibumu pagi-pagi benar sudah berada di kebun, memanen sawi kemudian diikat kecil-kecil. Setiap bangun tidur Nur menyusul ke kebun tanpa disuruh ibumu. Kamu mengangkati sawi walau hanya satu ikat saja, sampai selesai. Setelah itu kamu main dekat dengan sumur gua. Sawi telah diangkut truk, kemudian bapakmu akan menyirami tanaman sawi dan selang air telah disiapkan. Ditariklah selang yang merambat dekat sumur gua, kamu terseret masuk sumur gua. Dari jauh terdengar seperti orang tercebur BYURRRR… “
“Tahunya kalau aku tercebur bagaimana Kek?” ingin tahu cerita selanjutnya.
“Saat itu bertanya-tanya suara apa itu?” spontan ibu ingat kamu duduk di sekitar sumur yang tidak jauh dari posisi bapak. Ibu memberi tahu bahwa Nur yang tercebur. Bapak, ibumu lari menuju sumur gua. Untung saja sumur gua itu airnya sedikit karena musim kemarau. Kamu diambil bapakmu dari atas badanmu, rambutmu kotor. Ibumu panik, segera kamu dibawa pulang, dimandikan dan melarang kamu main di sekitar sumur gua.”
Nur terhanyut cerita kakek, pikirannya menerawang jauh di kebun. Peristiwa yang tiada disangka itu dialaminya pada usia 3 tahun. Ibu Tiyan seorang wanita yang cekatan baik dalam bekerja maupun dalam bertindak. Selama darah segar masih mengalir pada tubuh, kasih sayang seorang yang merantau di negeri orang demi menutupi kebutuhan keluarga. Rela meninggalkan anak, sedangkan bapak Jarman di rumah.
Selintas Nur teringat mbak Jiah setelah melihat hari semakin sore. Saat itu pula kakek memberi tahu, kalau Jiah ada les tambahan. Jadi pulangnya agak sore, karena menjelang mid semester. Sedangkan Tio belajar di TPQ. Selang kemudian Nur menyusul Tio ke TPQ, mengikuti pembagian waktu. Sebagai seorang anak, Nur memerlukan pendidikan Agama, agar kelak menjadi orang yang berbakti kepada orang tua, mentaati guru, cinta rosulnya, dan bertaqwa kepada Allah. Oleh karena itu Nur tidak pernah absen ke TPQ, kecuali sakit. Berkat ketekunan dan kesungguhan Nur, wajar saja jilidnya cepat naik.
Setiap ada waktu luang, tidak terbuang sia-sia. Nur mudah bergaul dengan orang dewasa, untuk memperoleh jawaban yang ditanyakannya. Bersahabat dengan adik-adik, bermain ke tetangga sebelah. Ramah dan baik merupakan tabiat orang sekitarnya. Berbeda di tempat kelahiran bapaknya Blambangan, galak, mudah marah, dan menakutkan. Pernah suatu ketika Nur menyapa orang dewasa, namun hanya diam tak dipedulikan. Seketika itu Nur jadi takut untuk menyapa lagi. Pada waktu kelas 3 Nur diajak bapak Jarman ke Blambangan. Sebenarnya desa Blambangan merupakan daerah pegunungan. Suasananya tetap sejuk walau sore hari. Udara terasa segar pada pori-pori kulit. Menambah hati tenang. Banyak pohon rindang disepanjang jalan. Di sebelah barat terdapat ribuan pohon hijau yang beraneka ragam menjulang tinggi. Sayangnya, Nur belum pernah melihat nenek dan kakek, hanya melihat dari foto. Di rumah ditempati bulek sekeluarga. Suasana yang seperti ini yang membuat Nur tidak tahan. Seandainya bapak atau buleknya menyuruh Nur tinggal di Blambangan, Nur tidak akan mau dan tetap memilih di Tanjang. Rasa kekeluargaan minim, tidak menghargai anak kecil, kurang berempati serta jauh dari pendidikan.
Selama di rumah bulek, Sinia berusaha menenangkan dan membuat hati senang Nur, mengajak Nur menikmati pemandangan desa Blambangan.
Sejak berumur 3 tahun Nur dibesarkan di Tanjang bersama nenek dan kakek. Nenek Warni berusia 50-an dan kakek Kartono berusia 60-an seorang pekerja keras. Apapun pekerjaan yang bisa dikerjakan maka dikerjakanya. Sebagai tukang becak, kusir, mengail ikan, peternak dan bercocok tanam. Bercocok tanam adalah pekerjaan yang ditekuni. Semua itu dilakukan demi menghidupi anak dan kedua cucunya. Biaya sekolah Nur dan Tio digantungkan oleh bapak dan ibunya. Nenek dan kakek tidak berharap penuh.
“Nur, ibumu besok nelpon pagi-pagi!” kata kakek.
“Ya Kek, jam berapa?”
“Jam 07.00, besok sama kakek ya!”
“Wah aku khan sekolah Kek! Kakek saja yang menerimanya, salam buat ibu ya Kek! Nur sehat-sehat saja.” pesan Nur.
Akhirnya kakek sendiri yang menerima telpon. Ibu Tiyan telah mengirimi uang sebesar Rp.500.000,00. Pada hari Senin uang itu diambil dari bank. Hati Nur sangat gembira karena akan dibelikan rok dan SPP akan dibayar lebih awal.
Sesampainya di rumah ternyata ada tamu yang menunggu kakek. Tak lain adalah pak Parno yang dititipi telepon, memberitahukan bahwa pak Jarman akan menelpon sekitar jam 14.00. Sejam kemudian kakek menerima telpon di rumah pak Parno.
“Halo, ini Jarman!”
“Ya Pak, maaf Pak, begini saya saat ini sangat butuh uang. Kalau ada sekitar Rp.500.000,00“
“Buat apa Man?” tanya Kakek dengan tercengang.
“Keperluan penting Pak, sangat mendesak.”
“Baru saja, Bapak mengambil kiriman Tiyan untuk sekolah Nur.” Berhenti sejenak dengan bingung menentukan akan memberikan atau tidak.
“Ya sudah, nanti akan saya kirim lewat Narjo.”
“Baiklah, terima kasih ya Pak.”
Tidak ada pilihan lain. Uang yang baru diambil berpindahtangan ke menantunya, bapak Jarman, ibarat air mengalir di sungai. Hati kakek sedih akan uang yang sangat dibutuhkan namun tidak mengetahui secara pasti. Sepanjang perjalanan kakek menduga akan kekecewaan Nur.
“Kek, bapak tadi memberi kabar apa?” tanya Nur ingin segera tahu.
Kakek mencari tempat duduk yang terdekat. Di sebelah barat dekat pintu sejak tadi menunggu kakek pulang, kemudian Nur duduk di depan kakek. Secara pelan-pelan kakek Kartono berkata: “Begini lho Nur, bapakmu menelpon karena butuh uang sekitar lima ratus ribu rupiah, sedangkan ibumu sudah kirim sejumlah itu. Jadi uang kiriman ibumu sementara saya berikan. Kata bapakmu ada keperluan penting yang sangat mendesak.”
“Keperluan penting apa Kek?” kecewa dengan bapak.
“Kata bapakmu, keperluan yang sangat mendesak, entah keperluan apa. Ya sudah, nanti Kakek yang akan membayar SPPmu. Nur tidak usah beli rok dulu ya. Itu mungkin bukan rizkimu, Nur harus belajar lapang dada dan mau menerima.” Sambil melepas rasa lelah seharian mondar-mandir. Wajah kakek merah merona diterpa terik matahari siang. Keringat mengalir membasahi kening, leher kakek. Walau begitu kakek tetap berkhusnudzon dan berlapang dada.
“Mengapa tidak diberikan setengahnya saja?” sambung nenek.
“Sempat juga aku berpikir akan memberikan setengahnya, namun ketika memberi tahu bahwa Tiyan kirim untuk Nur namun Jarman tak perduli.”
Pasrah kepada Allah terhadap segala sesuatu yang telah menimpa. Kakek Kartono memiliki sikap yang tidak mudah mengeluh. Semestinya orang tualah yang menjadi tumpuan hidup anak-anaknya, karena sudah menjadi kewajiban. Kakek kartono telah menganggap Nur, Tio seperti anak sendiri, yang harus dirawat, dididik, dibesarkan, dan dibiayai seluruh penghidupannya. Sejak pertama dititipkan sampai dengan kelas 4, Nur hanya menerima dua kali kiriman. Selebihnya dibiayai oleh kakek Kartono. Hidup bersama kakek dan nenek menjadikan Nur tidak manja, patuh dan dapat menghormati siapa saja. Sikap inilah yang menambah kasih sayang kakek dan neneknya. Cinta kasih mereka tak luntur meski terhimpit perekonomian.
Ujian kenaikan kelas semakin dekat. Anak-anak sibuk mempersiapkan diri menghadapi ujian yang menentukan naik tidaknya ke kelas lima. Waktu yang tersisa harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Administrasi lunas sebelum ujian. Untunglah pak Parno mengabari tepat waktu. Ibu Tiyan sore itu akan menelpon. Pucuk dicinta ulampun tiba,sore harinya Nur dan kakek menerima telpon.
“Halo ini Tiyan. Bagaimana kabarmu?” sambung kakek
“Alhamdulillah baik-baik saja Pak. Saya kirim Rp.500.000,00 Pak, besok Senin bisa dicek. Nur ikut tidak Pak?”
“Ikut mau bicara?” sambil meyodorkan gagang telpon.
“Assalammualaikum Bu?”
“Waalaikum salam, Nur keadaanmu bagaimana sekarang?”
“Alhamdulillah Nur sehat, ibu sehat khan?” sambung Nur
“Ya ibu sehat-sehat saja.”
“Bu, kiriman kemarin jadinya diberikan bapak semua, sedangkan untuk membayar SPP Nur tidak ada. Kakek yang membayari aku.” Adu Nur kepada Ibu Tiyan.
“Katanya untuk apa Nur?”
“Keperluan penting.”
“Nur, ibu mau bicara dengan kakekmu!”
“Bapak, keperluan penting apa Pak?”
“Suamimu bilang, keperluan penting dan sangat mendesak, butuhnya Rp. 500.000,00 uang yang baru aku ambil sorenya aku berikan Narjo. Bapak tidak tahu pasti uang itu dipakai untuk apa oleh suamimu.”
“Lho, Lis sudah saya kirimin sama dengan Nur, Pak!”
“Berarti suamimu tahu kalau kamu kirim sama Nur!” tebak Kakek.
“Ya tahu, Pak. Oh ya Pak, nanti saya kirim Rp.500.000,00 besok Kamis dicek ya Pak!”
“Ya, besok tak cek.” Diberikanya telpon kepada Nur.
“Terimakasih ya Bu, hati-hati ya, Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Kakek Kartono dan Nur dapat menyimpulkan bahwa Pak Jarman mengetahui kiriman Nur. Makanya meminta uang dalam jumlah yang sama dan dalam dalam waktu yang sama. Rasa kesal dan kecewa tak terbendung lagi di hati Nur. Seorang bapak yang serakah, tak peduli milik anaknya sendiri dimakan pula.
Waktu yang ditunggu telah tiba, hari kamis kakek Kartono telah mengecek namun belum ada. Kakek segera memberi tahu ibu Tiyan, kemudian disarankan hari Senin dicek kembali. Saran anaknya diikuti, tetapi hari itu juga kiriman belum datang, padahal ujian semesteran sudah dekat. Datanglah surat dari Palembang yang isinya meminta bantuan secepatnya. Begitu juga Lis mendesak agar segera diberikan. Berarti akan diminta lagi. Selesai membaca surat kakek menarik nafas panjang, menahan kepedihan dan emosi, sedangkan hasil panen gagal. Kakek memberi tahu keadaan yang sebenarnya kepada Nur. Tak ada yang dapat diperbuat Nur, kecuali mengandalkan uluran kakek nenak. Bingung terhadap sikap bapak selama ini yang tidak mengerti keperluan Nur, tidak memiliki perasaan. Begitu juga kak Lis, kemungkinan Nur tidak boleh sekolah. Seorang bapak yang selalu membebani mertuanya dan tidak bertanggungjawab kepada anaknya. Air mata tak dapat terbendung lagi, bercucuran membasahi pipi yang montok dan mungil.
“Kek, mengapa bapak meminta lagi uang kiriman Nur, padahal khan buat bayar sekolahku.”
“Nur, kakek juga tak mengerti sikap bapakmu dan kakakmu Lis sambil membelai rambut Nur yang sejak tadi berdiri di samping kakek Kartono. “Kakek jadi penasaran, uang itu digunakan untuk apa ya Nur kira-kira?” apa untuk makan, atau untuk melunasi hutang, atau mungkin membeli sesuatu?” Nur tidak menjawab, Nur terus mencurahkan isi hatinya. “Nur khan belum membayar SPP sekolah, TPQ, dan buku Kek!” hati Nur gelisah tak menentu. “InsyaAllah ada Nur, nanti kakek akan mengusahakan. Tidak usah dipikirkan lagi, mungkin ini bukan rizqi Nur. Didoakan saja semoga uang itu digunakan dengan sebaik-baiknya.
Uang yang diambil dari bank kemudian dipindah tangankan lagi kepengantar bus Palembang untuk diberikan bapak Jarman, bak pengantar surat.
Bapak Jarman adalah sosok laki-laki yang kurang cekatan dalam bekerja, mudah ditipu, pernah ditawari bekerja di luar Indonesia, setelah membayar ditinggal kabur. Lebih tragis lagi adalah sudah membayar, kemudian berangkat, baru nyampai Batam ditinggal kabur. Memang nasib akan datang kepada siapa saja, tak peduli keadaan. Saat ini biaya sekolah, dan makan Nur ditangguhkan kepada ibu Tiyan. Oleh karena itu bapak Jarman tak pernah kirim. Selang dua minggu ibu Tiyan nelpon menanyakan kakek, setelah menerima surat dari pak Jarman. Isi surat memberitahukan bahwa kiriman Nur terpaksa diminta karena kelakuan Lis untuk membeli sepeda motor. Lis akan pergi dari rumah dan tidak akan kembali, biula bapak Jarman tidak memenuhi. Listiyanto, anak yang nekad. Apapun dilakuakan, untuk memperoleh keinginannya, tidak peduli berakibat baik atau buruk bagi dirinya. Putus sekokah juga dilakukan waktu SMP kelas 2 hanya karena tidak diberi uang. “Astagfirullahal adzim, mengapa Lis berbuat senekad itu!” Kamu tega menyakiti kedua orang tuamu dan adikmu sendiri.” Kepiluan kakek kepada Tiyan.
“Tiyan, sabar saja ya, jangan dipikirkan biaya sekolah Nur, insya Allah Bapak masih bisa membiayai sekolah Nur.” hibur bapak.
Ibu Tiyan meminta maaf kepada Nur dan kakek Kartono atas perbuatan Lis, dan berterima kasih atas pengorbanan materi dan moril yang diberikan kepada Nur.
“Bu, kalau mau kirim nanti jangan bilang sama bapak atau kak Lis ya biar tidak diminta lagi, kasihan kakek dan nenek harus membiayaiku terus!” pinta Nur kepada ibunya.
“Nur belajar yang rajin, jangan menambah susah kakek dan nenek ya, bantu mereka ya Nur.”
“Oh ya Bu, Alhamdulillah Nur mendapat rangking dua dan mendapat hadiah uang dan alat tulis dari bapak guru.”
“Ibu bangga sama kamu Nur, pertahankan prestasimu biar tidak sia-sia ibu menyekolahkanmu. Jangan seperti kakakmu ya, susah dinasehati.
“Insya Allah Bu. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Hidup manusia bagaikan langit, terkadang mendung, namun bisa nampak cerah. Sikap keras kepala, mudah putus asa, ingin menang sendiri, dan tidak taat kepada orang tua ibarat langit mendung. Berarti segala sesuatu yang seharusnya ditaati tidak dipenuhi, sehingga mengakibatkan keburukan, kejahatan dan keserakahan, yang tidak terkendali. Sedangkan langit cerah sama halnya pendidikan misalnya sikap lapang dada, ikhlas, tidak mudah mengeluh, berikhtiar dan pasrah kepada Allah akan menjadikan pribadi yang takwa, tak kenal lelah untuk berbuat kebajikan. Ini semua bagian dari pendidikan.
Beruntunglah Nur dididik dan dibesarkan di tempat kelahiran ibu Tiyan sejak usia 3 tahun. Bagaimana nasib Nur jika masih dalam perantauan, mungkinkah sama dengan kakak Listiyanto? Bisa saja. Di dunia ini tidak ada sesuatu yang tidak mungkin. Pengaruh lingkungan, pergaulan mudah mempengaruhi gaya hidup seseorang. Oleh karena itu, kakek mengambil tindakan segera mengirim surat kepada Listiyanto yang terlontar nasihat bermakna agar pulang ke Tanjang. Apa hendak dikata Listiyanto bersikukuh bersama bapak Jarman di Palembang.
Kehidupan manusia tidak lepas dari rintangan dan kebahagiaan. Hal ini membutuhkan perjuangan atau pengorbanan baik harta jiwa. Perasaan tenaga maupun pikiran. Harapan ibu Tiyan dan bapak Jarman kepada Nur, adalah agar Nur memperoleh pendidikan yang lebih baik. Kedekatan, pengertian seorang ibu lebih dibutuhkan anak. Bila ditimpa kesedihan ingin diperhatikan dan bila mendapat kesenangan ingin membagi kesenangannya dalam bentuk apapun. Walaupun keberadaan ibu Tiyan jauh namun berusaha memberikan perhatian kepada Nur. Beberapa hari yang lalu, ibu Tiyan menelpon akan mengirim hadiah buat Nur. Tanpa sepengetahuan Nur, kakek Kartono mengambil paketan di kantor pos. Saat anggota keluarga berkumpul, nenek memberikan hadiah kepada Nur. Nur terkejut, sebentar kemudian tersenyum hingga kelihatan gigi graham dan penasaran ingin cepat membuka. Kotak berisi dua setel pakaian yang berbeda warna, baju seragam sekolah, sepatu dan secarik kertas. Kejutan tidak hanya diberikan pada Nur, namun juga pada nenek dan kakek mendapatkan baju, sarung dan busana muslim.

Setitik izin


Setahun sudah perjalanan hidup baru telah berlalu. Hanya angin malam yang kian terasa kecongkaannya seakan mengiris sembilu. Engkau telah pergi dalam perjalanan hidup ini. Andai semua dapat kembali seperti sedia kala. Mungkin tak akan ada rasa dalam jiwa. Tapi apalah daya kita hanyalah manusia.
Hari ini adalah kehampaan hatiku yang kian gundah tanpa tempat bersimpuh dalam diri. Tak ada kawan dalam diam. Tak ada tempat bernaungan. Semua hanya kemunafikan.
Andai aku tahu dan semua orang pun tahu, perasaan rinduku yang telah membuncah dalam kalbu, takkan terlupa hingga waktupun berlalu. Kutatap langit biru yang kian menghilang digantikan semburat cakrawala sebelah barat. Sinar jingga yang kian merona, menampakkan kecantikannya, menyambut sang surya demi sebuah rasa kecintaannya pada manusia. Yang telah berjuang dijalannya, hingga terkatupnya mata dalam bayang-bayang kerinduan syorga. Semilir angin yang menerpa wajah dan mengacak-acak tatanan rambutku, bagai semburan nafas sang malaikat yang bergemuruh seakan-akan menyeru kepadaku untuk segera bangkit. Rumput yang ku pandang kini bergoyang-goyang terlihat indah seakan mengikuti lirik alunan sebuah lagu yang didendangkan alam, dan ternyata mampu mengembalikan kesadaranku pada masa-masa silam.
Pelembang, 25 Agustus 2004
Dy… kamu tau nggak kalo aku baru pusing hari ini. Seorang lelaki tua yang biasa mengajariku tentang makna kehidupan kini hanya termangu di kursi tuanya. Kursi yang seharusnya telah rapuh dimakan usia, dengan berbagai hiasan-hiasan ukiran dari Jepara ternyata tetap setia menemaninya mengarungi hari tua. Aku tak tahu apa yang sedang ada dalam benaknya. Dia hanya termangu memandangiku dengan sorot matanya yang tajam bak sorot mata srigala yang ingin menerka mangsanya. Dan tak secuil katapun yang terlepas dari dalam tenggorokannya. Aku jadi serba salah.
Dy … aku tahu kalo aku salah, tapi apakah dengan mendiamkannya juga akan terselesaikan masalah itu? Ah… kutinggalkan dia dalam kepekatan pikirannya yang tak terkira. Aku sedih…
Palembang, 26 Agustus 2004
Kuputuskan hari ini tuk pulang kekampung halamanku. Satu bulan lebih awal dari rencanaku semula. Dengan tetap meningggalkan kesalahan yang belum terselesaikan. Aku berharap sesampainya disana aku dapat melupakan segalanya. Antara cinta dan dusta. Bagaimana mungkin aku dapat menggapainya, aku adalah orang yang hina. Kamu tahu itukan Dy… kamu lah yang selama ini tahu tentang aku. Tapi sayang kau hanyalah seonggok kertas yang terbuang karena kesia-siaan. Tapi kau tetap bermanfaat bagiku, kaulah sahabatku, curahan hatiku yang telah hilang.
Kudus, 28 Agustus 2004
Sore ini aku telah sampai di perbatasan kota, dimana kenangan dulu masa-masa aku menuntut ilmu. Memori yang tak pernah akan terlupa dalam setiap langkah perjalanan panjangku. Aku tak sabar lagi untuk segera menginjakkan kakiku ditanah bersejarah yang telah membesarkanku. Oh ya Dy kamu masih inggatkan ini hari apa? Ini adalah hari bersejarah Dy. Hari dimana aku mulai merasakan kehidupan dunia ini. Tentu kamu nggak akan lupa tentang masalah yang satu inikan Dy? Kemaren disaat masih dalam perjalanan pulang ada pengalaman yang sangat aneh. Kamu ingin tahu Dy? Tapi aku sendiri nggak begitu faham apa maksut dari perkataannya. Dia hanya Tanya “Untuk apa to hidup di dunia ini mas?” aku hanya menjawabnya dengan pandangan tajam, dalam batinku berbisik “ini adalah pertanyaan konyol yang pernah singgah dalam hidupku.” Melihat raut mukaku yang aneh tersebut diapun melanjutkan perkataannya. “Tuhan itu benar-benar ada nggak sih mas?” Akupun sempat terkejut dibuatnya. Di ketuk-ketukannya jari telunjuknya yang tengah ke kepalanya, mungkin dia sedang menunggu jawaban dariku. Tapi aku tetap tak menjawabnya. Dibukanya lagi mulut lebarnya, mungkin dia ingin melanjutkan perkataannya. Dan ternyata tebakanku benar. “Bagaimana mungkin kita bisa percaya pada hal-hal yang tak tampak? Huh…” dia menghempaskan nafasnya dalam-dalam. “Maaf mas saya turun disini duluan.” Tak ku gubris perkataannya lebih lanjut karena aku juga masih dalam benang-benang keruwetan masalah yang seolah tak dapat dibereskan dengan benar.
Pati, 29 Agustus 2004
Pagi yang dingin ini aku telah menginjakkan kakiku di tempat bersejarah. Untuk berkumpul kembali dengan seluruh anggota keluargaku. Ternyata tak ada yang berubah sedikit pun setelah kepergianku selama sepuluh tahun. Perasaan rindu pada ayah-ibu dan adik-adikku segera menyergah dalam dadaku. Aku rindu pada mereka. Sesampainya dirumah kutemukan rona muka ceria pada mereka. Sayang aku tak dapat membawakan bermacam-macam hal untuk mereka. Hari ini juga banyak dari handai taulanku yang dating unhtuk menemuiku.
Pati, 24 Oktober 2004
Hari ini aku pergi ke kota semarang dengan tujuan untuk berbelanja keperluan lebaran yang sebentar lagi. Disana aku terjerembab dalam kemacetan jalan raya, karena aksi sebuah partai yang aku sendiri tak jelas pasti. Dalam kegundahan hatiku, tanpa sengaja mataku terbentur keras kesebuah wajah yang menurutku tak asing lagi. Kucoba memutar kembali VCD yang ada dalam otakku.tapi ternyata nyaris tak tertemukan. Kukorek sisi file-file yang ada sangkutannya dengannya. Kuobrak-abrik semuanya tapi tetap juga tak kutemukan. Kucoba mengulangi pencarianku dari masa kanak-kanak hingga sampai sekarang. Seketika itu terbersitlah dalam otakku masa 15 tahun silam. Masa dimana aku masih menuntut ilmu dibangku kuliahan. Saat aku masih berada disemester 1. ternyata dia adalah teman sekelasku waktu itu. Tak pernah kusangka waktu 15 tahun adalah waktu yang cukup untuk merubah segalanya.
Pati, 30 Oktober 2004
Dy… ternyata dari hari kehari sebuah wajah yang lembut, santun dan enak dipandang itu tak pernah bisa lepas dari dalam benakku. Kenapa ini terjadi ya robby, sedangkan aku pulang kesini adalah untuk menghindari sebuah cinta dari anak tetangga sebelah rumah pamanku. Selama aku masih dalam perantauan. Aku hanya ingin sebuah cintamu Ya Allah, bukan cinta dari manusia yang penuh kehampaan.
Pati, 15 November 2004
Dy… hari ini kedua orang tuaku mengajak bicara sama aku. Mereka mempermasalahkan usiaku yang semakin hari semakin tua. Mereka ingin aku segera punya pendamping hidup. Seorang perempuan yang tentunya pengertian denganku. Aku tahu usiaku kini mulai senja. Kini usiaku telah menginjak kepala tiga dy… dan selama ini belum pernah menemukan pasangan yang memang cocok dalam diriku. Aku coba menjelaskan kepada keduanya dengan sangat hati-hati kalao aku tidak ingin segera menikah. Aku tidak berani untuk mengatakan yang sebenarnya. Tapi semakin hari aku sendiri tak mampu untuk menghindari rasa hati yang kian dalam kurasakan akhir-akhir ini. Mungkin inlah yang dinamakan dengan fitrah manusia. Yang mana manusia tak dapat menghindari dari semuanya. Tapi akua akan tetap berusaha untuk melawan fitrah tersebut.
Pati, 28 November 2004
Semalam aku tak bisa tidur dy… aku masih terngiang dengan perkataan seorang kiai dalam majelis ta’lim yang sempat kuhadiri di desa tetangga. Beliau mengatakan bahwa “Orang yang berkeinginan untuk membujang tidak akan pernah diakui oleh nabi sebagai umatnya.” Sampai pagi ini mataku masih sembab oleh air mata yang menganak sungai. Hingga tarikan nafasku tuk kesekiankali aku telah berbuat kesalahan. Padahal dalam setiap langkah dan niatku adalah ingin mendapatkan cinta dari Illahi. Aku sadar dy… ternyata ketika sebuah niat tanpa diikuti dengan hokum syariat itu adalah perbuatan yang sia-sia bahkan berdosa meski niat kita baik.
Pati 19 Desember 2004
Aku mulai lupa hari apa ini. Sudah beberapa hari ini aku mengurung diriku didalam kamar. Tanpa harus tahu apa yang tengah terjadi diluar sana. Entah desingan mesiu di Palestina ataupun di Irak, Afgan, aku sudah tak dapat mendengarnya lagi. Telinga ini rasanya telah tersumbat dengan kecongkaanku sendiri. Aku hanya ingin kembali ke palembang tuk menemui setengah dari agamaku. Tuk mencari pengakuan dari nabi bahwa aku juga seorang hambanya.
Pati, 20 desember 2004
Telah ku utarakan semua niatanku pada orang tuaku dan Alhamdulillah mereka semua setuju. Hari ini aku serta ditemani kedua adikku membereskan barang-barang apa saja yang akan aku bawa besok.
Pati, 21 Desember 2004
Ini adalah hari keberangkatanku untuk menggapai sebuah kesempurnaan dalam hidupku. Aku sangat bersyukur ternyata orang yang selama ini membimbingku ketika masih disana, mau menerimaku dengan lapang dada dan memaafkan segala kesalahan yang selama ini telah kuperbuat.
Sehabis ashar ini aku telah sampai diterminal Pati, tiket telah kubeli kemarin. “Bismillahirrohmanirrohim” kuseret langkahku tuk menuju pada bangku yang tertera pada karcis yang kupegang. Kebetulan aku berada di bangku paling depan dekat dengan pintu masuk. Buspun melaju dengan kencang, sekencang perasaan rinduku yang telah membuncah dalam dada. Dalam laju kencangnya bus, akupun sudah terbuai dalam mimpi dan angan-anganku.
Semarang 22 Desember 2004
Aku tak tahu kenapa aku berada disini. Trus… kemana mobil yang kemarin mengantarkanku tuk menggapai ridlo illahi? Perasaanku semakin menerawang jauh tanpa kusadari mata kakiku terbentur oleh selembar Koran yang diterbangkan oleh angin. Kupungut dan kubaca, mataku terbelalak ketika kudapati sebuah berita.
News 22 Desember 2004


DUET MAUT
Dua buah mobil bus yang mengangkut lebih dari 70 penumpang kemaren sore harus mengalami nasib naas karena berbenturan satu sama lain. Dalam peristiwa tersebut sebagian penumpang tewas seketika didalam bus yang meledak dekat pompa bensin dan menewaskan sedikitnya 50 orang. Dan melukai 15 orang dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Empat orang dinyatakan selamat dan satu orang dinyatakan hilang. Sampai saat berita ini dikeluarkan, polisi masih mencari-cri seorang korban yang dinyatakan hilang tersebut….
Tetesan air langit dengan serta merta membuyarkan lamunanku digundukan tanah tempat peristirahatanmu yang terakhir. Tak terasa buliran air kecil meluncur dari kedua bola mataku. Engkau gugur dalam kesyahidan. Tapi kenapa aku masih bersedih disini. Resah rintik hujan yang tak henti, menemani sunyinya malam ini, sejak dirimu jauh dari pelukan. Selamat jalan kekasih kejarlah cita-citamu jangan kau ragu tuk melangkah. Demi masa depan dan segala kemungkinan. Ridlo Illahi semoga mengiringi setiap langkah panjangmu menuju syorgaNya.

Cinta Tuhan


Semilir angin bulan ini seakan menambah rasa perih hati yang kian mendalam. Akan cinta dusta dan nista. “Entar dulu jangan pergi ngapain sih?” suara-suara di sekitarku seakan berat untuk kujawab. Aku tak tahu harus kemana membuang diri dan rasa hati. Akankah kutinggalkan diriku di dunia yang fana ini, atau…akankah kusalahkan cinta? Bagai diri yang menjelma kesekian rasa. Oh dunia engkau sungguh fana kurasa. Mata yang telah menggelayut resah kian mendesah karena dosa-dosa yang tak terkira. Hitam kian merana menyelimuti diri kesekian kali. Rasa hilang kian tenggelam menekuri jiwa dalam kalbu. Kuayunkan kedua kaki mungilku mengikuti rasa hati walau arah tak menentu kemana kaki harus melangkah. Diam membisu tanpa bayangMU disisiku. Langkahku baru berhenti ketika mata kakiku terbelalak, menjerit ketakutan karena terbentur batu nisan. Kusandarkan jiwa diantara rerumputan dan semak-semak ilalang yang kian menjulang menutupi belantara tanah gersang. Kutengadahkan muka menatap langit jingga yang kian merona menampilkan keelokan rupa dan cahyanya. Kutekuri baris demi baris, huruf demi huruf, kurangkai menjadi kata dan kueja dengan makna. “Abdillah Arsy” desisku laksana ular berbisa menampilkan gigi-gigi seringgainya. Senyum sinis pun tersembul dari balik bibirku. “Hidup hanyalah materi dan akan kembali lagi menjadi materi.” “Agama hanyalah canduu!!!” pekikku sekuat tenaga, menembus semak-semak yang bergoyang-goyang seakan mengikuti alunan musik yang sedang didendangkan. Itulah yang selama ini aku ketahui. Tapi…. Setiap kali jiwaku mengembara kearah sana selalu saja seakan ada yang hilang dalam jiwa dan kalbuku. Kepercayaanku kepada Tuhan telah hilang laksana makanan yang dihidangkan kepada orang-orang kelaparan, terkoyak tercabik tak tentu arah. Terenggut jiwa, teriris hati laksana tinta merah yang kehilanggan warnanya. “Benarkah Tuhan itu ada?” itulah pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul dalam hati dan pikiranku. “Bagaimana mungkin orang dapat mempercayai sesuatu yang tak tampak dan tak terasa?” “Dasar orang-orang tolol!!!” “ dalam buku-buku teori Karl Marx agama adalah candu.” “Tapi…, mengapa banyak orang yang mengagung-agungkannya?” Tepukan sebuah tangan ke pundakku seketika melontarkan semua bayang dan angan-angan dalam diri yang kemudian berserakan tercecer berhamburan tak tentu arah. “Kenapa engkau risau anak muda?” kupalingkan mukaku seketika untuk mengetahui siapa gerangan yang sedang berbicara denganku. Tak kusangka disana, tepat dibelakangku, kudapati kesejukan rona muka dan jiwa yang terpancar seakan meneguhkan kewibawaan pada dirinya. “Aku tak tahu pak tua, apakah yang sedang kurasakan ini sebuah cinta ataukah nista?!” aku diam beberapa saat, kemudian kulanjutkan lagi perkataanku. “Hidup tak menentu terjerembab oleh ganasnya waktu.” tak terasa buliran bening telah mengalir di kedua pipiku. Baru kali ini kukeluarkan air mataku untuk hal yang aku sendiri tak tahu pasti. “Aku telah bosan hidup di dunia ini pak tua… segala kenikmatan hura-hura dunia telah kurengkuh, tapi…tak ada yang dapat membahagiakan hati dan jiwaku.” “Kalau boleh tahu, apa masalah yang selalu menghantuimu sebenarnya anak muda?” Kulihat tangannya mempersilahkan diriku untuk menjawab pertanyaannya. “Inti dari semua masalah yang sedang kuhadapi cuma ada satu pak tua.” Kegelisahan merambah ke dalam tubuhku untuk kesekian kali antara menceritrakan masalah ataukah memendamnya dalam-dalam hingga maut yang akan mencegatku? “Apa itu anak muda?” senyumnya yang khas seketika menentramkan jiwaku yang sedang galau dan risau dirundung berbagai masalah. “Apakah anda percaya pada Tuhan?, benarkah Tuhan itu ada?” kuutarakan juga akhirnya perasaan yang begitu mengganjal akhir-akhir ini. “Anak muda sesuatu yang tidak tampak bukanlah berarti tidak ada, cobalah kamu lihat itu.” diacungkan jari telunjuknya tepat kearah batu nisan yang dimaksud. Kuputar tubuh ringkihku guna mengikuti arah jari telunjuknya. Aku semakin bingung apa gerangan tujuan pak tua menyuruhku untuk melihat batu nisan itu, kupikir tak ada yang istimewa pada batu itu. “Lihatlah baik-baik, amati dan resapi!” lagi-lagi suara orang itu membuyarkan lamunanku. “Apa yang istimewa pak tua?” kuberanikan diri untuk bertanya kepadanya. “Apakah batu nisan itu berasal dari sebuah materi yang terbentuk begitu saja karena kejadian alam tanpa ada orang yang membuatnya?” tanya pak tua itu kepadaku yang seolah menohok jantungku. Apakah kamu tahu dan melihat siapa pembuatnya?, kalau kamu anak muda, tak melihat siapa gerangan pembuatnya dapatkah kamu percaya bahwa batu nisan itu ada yang membuatnya?, bukankah sipembuat tidak tampak olehmu?” Aku berfikir sejenak dan membenarkan perkataannya. “Tapi pak tua…” perkataanku terdengar mengantung dan dengan cepat disanggahnya. “Ketahuilah anak muda, semua yang ada di dunia ini butuh akan pencipta, Dialah Allah yang wajib adanya, tidak beranak dan diperanakkan. lihatlah dari hal yang remeh-remeh ini semua butuh yang namanya pencipta, apalagi yang besar-besar sudah barang tentu juga butuh seorang pencipta yang sungguh maha hebat." Masih kudengarkan dengan seksama perkataan orang yang ada di sampingku dari tadi. "Nisan, meja, kursi takkan muncul dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakannya.” “Aku inggin bertanya kepadamu sekali lagi anak muda, apakah kamu percaya bahwa di dunia ini ada yang namanya frequensi radio?” kulihat matanya tajam menatapku, seolah olah dengan sangat menantikan sebuah jawaban dariku. Frequensi radio adalah sesuatu yang pernah kupelajari saat masih kuliah dulu, dan aku sangat percaya akan hal itu “Saya sangat perpercaya akan adanya keberadaan frequensi itu pak tua.” “Bagaimana kamu dapat percaya?, bukankah semuanya itu kamu sendiri tidak dapat melihatnya, merasakannya dan membaunya?” “Saya dapat percaya semua itu dengan adanya radio pak tua, dengan kita membunyikan radio tersebut maka dapat diyakini bahwa frequensi itu memang benar-benar ada.” “Bukankah semua itu sama dengan dunia ini, tanpa bisa kita merasakannya ataupun melihatnya kita akan tetap yakin bahwa Tuhan itu ada dengan sendirinya dan kita dapat tahu dengan melihat adanya dunia ini.” Sambil mengacungkan tangannya menunjuk pada sesuatu yang ada disekitarnya. “Kesempatanmu masih banyak anak muda pergunakanlah waktumu untuk hal-hal kebajikan, kamu masih beruntung jika dibandingkan dengan orang yang terbujur kaku didalam kuburan yang bernisan itu.”sambil mengacungkan jari telunjuknya kearah makam tersebut. Akupun dengan serta-merta mengarahkan pandanganku kenisan tersebut, dan ketika kubalikkan pandanaganku kembali keposisi semula, pak tua yang dari tadi menuntunku untuk mengetahui keberadaan Tuhan mendadak hilang bagai ditelan bumi.Kutatap langit jingga sebelah barat, telah merangkak semakin gelap. “Kini aku tahu…Tuhan… Engkau pasti ada!!!” kuayun langkahku dengan cepat menyusuri belantara ilalang yang kian meninggi. “Tunggu aku Tuhan!!!” teriakku sekuat tenaga memecah kesunyian saat itu. tanpa kusadari kakiku telah terperosok kedalam jurang yang sangat curam. Tak ada yang sanggup aku perbuat saat ini. Tapi mendadak tubuhku sangat ringan bagaikan sebuah kapas yang terbang di angkasa. “Aku ingin jumpa denganmu Tuhan, beri aku kesempatan.” Bisikku lirih. Sebuah benturan keras telah merenggut kesadaranku. Dan ketika mataku mulai dapat kubuka perlahan-lahan, kudapati tubuhku terbaring diatas ranting pohon yang menjulang dari dasar jurang. "Terimakasih Tuhan, Engkau mau memberikan kepadaku sebuah kesempatan." Tapi… ketika aku inggin berusaha bangkit mendadak terdengar suara-suara aneh dari batang pohon yang sedang kupijak. Ternyata batang kecil yang menyangga berat badanku sudah mulai tak kuat lagi. Tiba-tiba….

Antara Dusta


Hujan yang mengguyur tanah gersang ini seakan memberikan aura khusus pada jiwa yang rapuh. Bau wangi khasa tanah ikut menyemarakkan suasana yang tenggah berlangsung. Suara tasbih para binatang yang sedang asik mahsuk membenamkan rasa diri yang kian tak pasti. Dentuman keras yang bertalu-talu disekitarku seolah tak mampu membanggunkan kesadaran jiwaku. “Apakah aku sudah mati?” tak ada yang mampu menjawab semua pertanyaanku. Aku kini sendiri dalam kegelapan yang kian tak terkira. Kesalahan yang pernah ku perbaut dimasa lampau tak mampu kuhapuskan hanya dengan meringkuk dalam kegelapan yang nyata. “Aku rindu akan dunia Tuhan” ratapku disuatu malam yang sepi hanya ditemani angin malam yang kian mendesau menebarkan aura dinginnya. “Aku tahu aku orang yang berlumur dosa, tapi apakah itu yang menyebabkanku tak diterima lagi di masyarakat?” tanyaku seolah menyakinkan pada diriku sendiri. Kuayun langkah menyusuri gelap malam yang kian mengurita. Tak tahu kemana tujuannya, aku hanya mengikuti kemana rasa berada. Jeritan suara perutku tak dapat diajak untuk kompromi damai lagi. Genap tiga hari perut ini tak terisi sejak kebebasanku dari bui yang selama ini membuat aku semakin tak bebas hari demi hari. “Sana pergi, kau pikir gampang apa cari duit, hah…lihatlah tubuhmu masih kelihatan kekar dan gagah?!” bentakan keras tepat mengarah ketelinggaku, begitu tajam bahkan sanggup meluluh lantakkan jabal ukhud sekalipun. “Sana cari pekerjaan!” “Pak tolong berikan sesuap makanan pada orang yang sudah lemah ini pak.” Gelayutku seakan menggemis padanya. Aku tahu akan hal itu semua. Dulu aku tak perlu melakukan ini semua, apa yang aku butuhkan akan segera tersediakan. Denggan ditemani beberapa Gundik-gundikku yang kupesan pada seorang teman dari seberang lautan. Dulu tanggan yang sering kupakai untuk membunuh sekarang bergejolak menampilkan kebringgasanya. Tuhan bantulah hambamu untuk dapat kembali lagi kepadamu, jangan biarkan aku untuk mengulang kesalahan yang sama untuk yang kesekian kali. “Heh…anak muda!, kamu pikir dengan merengek seperti bayi begini aku akan memberimu makanan?” sergahnya. Aku malu untuk menghadapmu Tuhan jika aku tak sanggup untuk mengontrol akan segala tindakanku. Kucoba untuk berdiri walau tertatih dan berat kurasakan. Kucoba meredam amarah yang membuncah sampai kedadaku saat ini. Kutinggalkan dia yang masih mencaciku tak tentu arah hingga aku benar-benar tak sanggup mendenggarkannya. Ketika rasa lelah telah menjalar keseluruh relung dadaku disaat itulah dapat kutemukan rasa diri yang sebenarnya antara dusta dan nista. Bunyi deritan khas pintu denggan serta-merta membangunkan ku dari tempat yang baru saja aku ketahui. Sebuah bilik bambu yang aku sendiri tidak tahu dimana aku berada. Sepasang langkah kecil terdenggar terseok-seok menghampiriku, dan serta-merta mengejutkanku. Seorang nenek tua renta, ternyata yang menolongku dari ketidak berdayaanku. “Nek…uhuk…uhuk…dimana a…aku ini nek?” tanya ku menghibau. Aku jadi heran ketika tak kudapatkan sebuah jawaban darinya. Terdengar deritan khas pintu untuk yang kedua kali, disana telah berdiri seorang kakek-kakek dan seorang bapak yang tidak terlalu tua kurasa, juga seorang gadis dengan jilbabnya yang terlihat anggun nampak olehku. “Terima kasih atas bantuan yang anda berikan kepadaku, aku tak dapat membalasnya semoga Alloh yang akan membalasnya.” Kulihat sebuah senyum tipis mengembung dari balik bibir mereka semuanya. Lima bulan yang lalu ketika aku tak dapat berbuat apa-apa hanya menjadi beban dari orang-orang disekitarku, kini aku sudah sembuh dan dapat berjalan dengan leluasa. Tak dapat kulupakan pertolongan yang pernah diberikan kepadaku. Juga bimbingan hidup yang sejati dengan islam yang murni. Suatu jalan yang lurus yang selama ini aku cari-cari keberadannya. Suatu ajaran yang mengajarkan kepada umat manusia untuk dapat hidup dengan bingkai islam dan dengan peraturan islam. Antara makna hakiki kehidupan yang tengah kujalani bersama istri laksana bidadari yang rela hidup bersama seorang mantan preman, untuk mencoba mencari makna hidup yang sejati.

Senin, 24 September 2007

keep good ide

a room without books is like a body without a soul

Jumat, 21 September 2007

asta la victoria simpre

kekuatan adalah sebuah jalan yang aman untuk memunculkan sebuah kebenaran. sesungguhnya suatu keindahan jka suatu saat kekuatan dapat berjalan beriringan dengan kebenaran.
 
Terimakasih Atas kunjungan Anda, Semoga Semuanya Dapat Memberikan Manfaat Bagi Kita Semua