(Persembahan Untuk Para Sahabat)
Sahabat adalah dorongan ketika engkau hampir berhenti, petunjuk jalan ketika engkau tersesat, membiaskan senyuman sabar ketika engkau berduka, memapahmu saat engkau hampir tergelincir dan mengalungkan butir-butir mutiara doa pada dadamu...Ikhwan and akhwat...moga hati kita dipertautkan karena-Nya
Terimakasih Telah Menjadi Sahabat Dalam Hidup kami

rss

Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Mei 2008

Awas BBM Melambung Tinggi....

Kebijakan pemerintah yang satu ini dengan berbagai pertimbangan, tentu saja membuat lebih dari separo rakyat indonesia menjadi gerah. Hal ini disebabkan karna BBM telah diumpamakan oleh masyarakat sebagai kebutuhan pokok. Sehingga tidak dapat disangkal lagi jika kebutuhan akan BBM ini dinaikan, tentu saja akan menuai protes yang beragam. Cobalah kita berpikir sepintas. Apa jadinya jika biaya transportasi menjadi melambung? Tentu saja segala macam kebutuhan manusia yang hanya mampu diangkut dengan BBM akan ikut melambung tinggi. Dan tentu saja rakyat lagi yang harus menderita.

Bagaimana jika keputusan pemerintah tersebut tebang pilih? Hem... Kayaknya masuk akal juga jika keputusan tersebut tebang pilih. Akan tetapi bagi segelintir orang, keputusan menaikan BBM hanya untuk mereka yang mengendarai mobil saja, akan menyebabkan kecemburuan sosial antara si miskin dan si kaya. Akan tetapi, keputusan pemerintah jika memang tebang pilih, akan lebih mendapatkan simpati warga dari pada menaikan BBM sepenuhnya. Pertanyaan terakhir yang tak perlu dijawab. Sebenarnya pemerintah bekerja untuk siapa? Rakyat ataukah konglomerat?

Page Rank Yang Menurun

Putus asa? Oh tidak, tak ada kata putus asa dalam kamus kehidupanku. Meskipun nanti akhirnya blog ini bener-bener hilang, kami tak pernah kecewa. Karena kami telah mempersiapkan gantinya, dengan management serta ilmu dan pengalaman yang telah ada, bukan tidak mungkin pengganti dari blog ini akan jauh lebih hebat. Kita lihat saja nanti kedepanya. Karena blog ini sekarang rawan sakit. Hari ini aja page rank dari google menurun. Bukanya naik tapi justru menurun. Dan ancaman spam dari blogger turut melengkapi kiprah perjalanan blog jatra. Mungkin solusinya adalah pembelian domain dari pihak google. Hal tersebut tentu saja akan sedikit banyak membantu menaikan trafik dari blog itu sendiri.

wah kalau difikir fikir, secara pribadi, mungkin kami ingin disiapkan menjadi seorang penulis. Hal ini disebabkan kami banyak mengkritisi blog kami sendiri. Wah jadi ngaco aja nih tulisanya. Udah ah capek nulis.

Selasa, 06 Mei 2008

KOMUNITAS

Sebenernya kita disini ingin terlacak oleh mesin pencari dengan kata kunci KOMUNITAS atau nggak sih? Cobalah kita tawarkan diri kita ke google dengan kata kunci KOMUNITAS. Karena kata kunci KOMUNITAS tersebut adalah salah satu kata kunci yang sangat kita butuhkan. Kenapa sampai segitunya? Hal ini disebabkan karena blog kita beroprasi sebagai salah satu KOMUNITAS blogger hollic. Sehingga jika kita tidak mengikut sertakan kata kunci KOMUNITAS tentu akan terasa aneh saja ditelingga kita.

oleh sebab itulah tentu saja kata kunci KOMUNITAS ini menjadi kata kunci yang tidak boleh kita lupakan. Yak... Inilah saatnya kita reformasi KOMUNITAS JATRA demi kemajuan bersama. Jangan pernah takut untuk tetap melangkah maju. Jika memang dalam konsep kita ada yang salah, jangan pernah takut untuk suatu perubahan menuju kearah yang lebih baik.

Gadis Bugil Indonesia

Eit-eit-eit jangan pada protes dulu. Tak ada yang menyimpang kok dengan judul yang satu ini. Bukan berararti komunitas jatra telah menjadi sesat. Tapi fenomena inilah yang tengah menggejala dimasyarakat dewasa ini. Kecanggihan teknologi yang ada dimanfaatkan sebesar-besarnya oleh masyarakat guna memperoleh informasi yang berbau porno grafi sebebas-bebasnya. Menurut penelitian yang ada, dari sekitar 25juta pengguna internet di indonesia, lebih dari 19jutanya adalah penikmat pornograrfi.

terlepas betul atau salah masalah tersebut. Kami hanya cenderung ingin mengajak anda semua untuk sedikit menengok tentang masalah yang terasa pelik tersebut. Dengan sedikit ikut meneriakkan selogan "JANGAN BUGIL DIDEPAN KAMERA"

Antara Judul Yang Tak Terbaca

Banyak dari para blogger holic yang merasa kecewa dengan hasil yang telah dicapai oleh blog mereka. Pasalnya, kerja keras yang telah mereka bangun selama ini ternyata menjadi sia-sia belaka. Pasalnya, mereka telah mengklaim bahwa diri mereka telah bersusah payah membangun sebuah komoditas yang dilengkapi dengan berbagai trick dan tips yang mereka anggap paling jitu untuk mendongkrak populeritas sebuah blog. Akan tetapi mereka keliru. Yang mereka dapatkan hanyalah kegagalan dan kegagalan semata. Jika yang ada adalah kegagalan semata, bolehkah kita mengambil kesimpulan bahwa trick dan tips yang mereka gunakan selama ini salah? Oh... Kalo masalah itu, nanti dulu, jangan mengambil kesimpulan sekenaknya.

Seperti halya blog ini. Setelah diteliti, ternyata temenku yang satu ini banyak menggunakan tips dan trick seo yang dia peroleh dari para ahli dibidangnya. Seperti halnya kang Rohman. Akan tetapi setelah diteliti dengan seksama dan lebih lanjut, ternyata, akar masalah yang selama ini menghambat dari kinerja blog ini adalah "judul blog yang terlalu panjang" sehingga hal ini menyebabkan judul posting tidak mampu terbaca oleh mesin pencari, sehingga, dengan trick dan tips apapun, entah itu menggunakan meta tag ataupun tips seo yang lainya, maka akan sama saja hasilnya. Karena yang terindex oleh google hanyalah judul blog saja, dan tidak pernah menyentuh kepada judul posting, apalagi isi posting. Maaf jika salah.

Kamis, 24 April 2008

NDESO

oleh : Ika S. Creech *

Deso (baca ndeso) itulah sebutan untuk orang yang norak, kampungan, udik, shock culture, countrified dan sejenisnya. Ketika mengalami atau merasakan sesuatu yang baru dan sangat mengagumkan, maka ia merasa takjub dan sangat senang, sehingga ingin terus menikmati dan tidak ingin lepas, kalau perlu yang lebih dari itu. Kemudian ia menganggap hanya dia atau hanya segelintir orang yang baru merasakan dan mengalaminya. Maka ia mulai atraktif, memamerkan dan sekaligus mengajak orang lain untuk turut merasakan dan menikmatinya, dengan harapan orang yang diajak juga sama terkagum-kagum sama seperti dia.

Lebih dari itu ia berharap agar orang lain juga mendukung terhadap langkah-langkah untuk menikmatinya terus-menerus. Hal ini biasa, seperti saya juga sering mengalami hal demikian, tetapi kita terus berupaya untuk terus belajar dari sejarah, pengalaman orang lain, serta belajar bagaimana caranya tidak jadi orang norak, kampungan alias deso.

Semua kampus di Jepang penuh dengan sepeda, tak terkecuali dekan atau bahkan Rektorpun ada yang naik sepeda datang ke kampus. Sementara si Pemilik perusahaan Honda tinggal di sebuah apartemen yang sederhana. Ketika beberapa pengusaha ingin memberi pinjaman kepada pemerintah Indonesia mereka menjemput pejabat Indonesia di Narita. Dari Tokyo naik kendaraan umum, sementara yang akan dijemput, pejabat Indonesia naik mobil dinas Kedutaan yaitu mercy.

Ketika saya di Australia berkesempatan melihat sebuah acara seremoni dari jarak yang sangat dekat, dihadiri oleh pejabat setingkat menteri, saya tertarik mengamati pada mobil yang mereka pakai merk Holden baru yang paling murah untuk ukuran Australia . Yang menarik, para pengawalnya tidak terlihat karena tidak berbeda penampilannya dengan tamu-tamu, kalau tidak jeli mengamati kita tidak tahu mana pengawalnya.

Di Sidney saya berkenalan dengan seorang pelayan restoran Thailand . Dia seorang warga negara Malaysia keturunan Cina, sudah selesai S3, sekarang lagi mengikuti program Post Doc. Dia anak serorang pengusaha yang kaya raya. Tidak mau menggunakan fasilitas orang tuanya malah jadi pelayan. Dia juga sebenarnya dapat beasiswa dari perguruan tingginya.

Satu bulan saya di Jepang tidak melihat orang pakai HP Communicator, mungkin kelemahan saya mengamati. Dan setelah saya baca koran ternyata konsumen terbesar HP communicator adalah Indonesia . Sempat berkenalan juga dengan seorang yang berada di stasiun kereta di Jepang, ternyata dia anak seorang pejabat tinggi negara, juga naik kereta. Yang tak kalah serunya saya juga jadi pengamat berbagai jenis sepatu yang dipakai masyarakat Jepang ternyata tak bermerek, wah ini yang deso siapa yaa?

Sulit membedakan tingkat ekonomi seseorang baik di Jepang atau di Australia , baik dari penampilannya, bajunya, kendaraannya, atau rumahnya. Kita baru bisa menebak kekayaan seseorang kalau sudah tahu pekerjaan dan jabatannya di perusahaan. Jangan-jangan kalau orang Jepang diajak ke Pondok Indah bisa pingsan melihat rumah segitu gede dan mewahnya. Rata-rata rumah di sana memiliki tinggi plafon yang bisa dijambak dengan tangan hanya dengan melompat. Sehingga duduknyapun banyak yang lesehan.

Sampai akhir hayatnya Rasulullah tidak membuat istana Negara dan Benteng Pertahanan (khandaq hanyalah strategi sesaat, untuk perang Ahzab saja), padahal Rasulullah sudah sangat mengenal kemewahan istana raja-raja negara sekelilingnya, karena beliau punya pengalaman berdagang. Ternyata beliau tidak menjadi silau terus ikut-ikutan latah ingin seperti orang-orang. Lalu dimana aktivitas kenegaraan dilakukan? Mengingat beliau sebagai kepala negara. Jawabannya ya di masjid.

Beliau punya banyak jalan yang legal untuk bisa membangun istana. Di Mekkah nikah dengan janda kaya, di Madinah jadi kepala negara, punya hak prerogatif dalam mengatur harta rampasan perang dan ada jatah dari Allah untuk dipergunakan sekehendak beliau, belum hadiah dari raja-raja. Tetapi mengapa beliau sering kelaparan, ganjal perut dengan batu, puasa sunnah niatnya siang hari, shalat sambil duduk menahan perih perut dan seterusnya?

Ketika Indonesia sedang terpuruk, hutang lagi numpuk, rakyat banyak yang mulai ngamuk, negara sedang kere, banyak yang antri beras, minyak tanah, minyak goreng dll. Maka harga diri kita tidak bisa diangkat dengan medali emas turnamen olah raga, sewa pemain asing, banyak seremonial yang gonta-ganti baju seragam, baju dinas, merek mobil, proyek mercusuar, dll, dsb, dst.

Bangsa ini akan naik harga dirinya kalo utang sudah lunas, kelaparan tidak ada lagi, tidak ada pengamen dan pengemis, tidak ada lagi WTS (Wanita Tidak Sholat, di Malaysia "Wanita Tak Senonoh") , angka kriminal rendah, korupsi berkurang, punya posisi tawar terhadap kekuatan global. Maka orang Deso (alias norak) tidak mampu mengatasi krisis karena tidak bisa menjadikan krisis sebagai paradigma dalam menyusun APBD dan APBN. Nah, karena yang menyusun orang-orang norak maka asumsi dan paradigma yang dipakai adalah negara normal atau bahkan mengikut negara maju.

Bayangkan ada daerah yang menganggarkan sepak bola 17 milyar sementara anggaran kesra-nya 100 juta, wiiieh!

Akhirnya penyakit norak ini menjadi wabah yang sangat mengerikan dari atas sampai bawah :

* Orang bisa antri raskin sambil pegang HP
* Pelajar bisa nunggak SPP sambil merokok
* Orang tua lupa siapkan SPP, karena terpakai untuk beli tv dan kulkas
* Orang bule mabuk krn kelebihan uang, orang kampung mabuk beli minuman patungan
* Pengemis bisa pake walkman sambil goyang kepala
* Para pengungsi bisa berjoged dalam tendanya
* Orang beli gelar akademis di ruko-ruko tanpa kuliah
* Ijazah S3 luar negeri bisa di beli sebuah rumah petakan gang sempit di Cibubur
* Kelihatannya orang sibuk ternyata masih sering keluar masuk McDonald
* Kelihatannya orang penting, ternyata sangat tahu detail dunia persepakbolaan.
* Kelihatan seperti aktivis tapi habis waktu untuk mencetin HP
* 62 tahun merdeka, lomba-lombanya masih makan kerupuk saja
* Agar rakyat tidak kelaparan maka para pejabatnya dansa dansi di acara tembang kenangan.
* Agar kampanye menang harus berani sewa bokong-bokong bahenol ngebor
* Agar masyarakat cerdas maka sajikan lagu goyang dombret dan wakuncar
* Agar bisa disebut terbuka maka harus bisa buka-bukaan
* Agar kelihatan inklusif maka hrs bisa menggandeng siapa saja, kalo perlu jin Tomang jg digandeng.

Yang lebih mengerikan lagi adalah supaya kita tidak terlihat kere, maka harus bisa tampil keren. Makin kiamatlah kalo si kere tidak tahu dirinya kere.

* Penulis adalah Putra Indonesia Asli, kini bertempat tinggal di Paris , Perancis dan bekerja sebagai Pembawa Acara di salah satu stasiun di Perancis.


wassalam & cheers,
koda rayyan

"When the earth was young, the air was sweet and the mountains kissed the sky, man and nature lived side by side"

Selasa, 22 April 2008

Logika Biomolekuler

Logika 'pengulangan' ini sebenarnya bisa dijelaskan dengan pemahaman biomolekuler. Bahwa setiap makhluk hidup, termasuk manusia, memiliki untaian genetika, yang membawa seluruh sifat sifatnya.

Sebagaimana kita ketahui bahwa di dalam sel manusia ada bagian yang disebut chromosome. Bentuknya bisa diumpamakan sebagai pilinan pita atau untaian rantai, yang berjumlah 23 pasang. Laki laki maupun perempuan.

Chromosome ini berperanan penting untuk menentukan sifat sifat bayi hasil perkawinan antara seorang laki-laki dan perempuan. Setiap bayi membawa separo chromosome bapaknya (23 untai) dan separo dari ibunya (23 untai). Sehingga di dalam setiap bayi tetap terdapat 23 pasang (46 untai) chromosome lagi, perpaduan dari bapak dan ibunya.

Nah, di dalam chromosome itulah terdapat mata rantai pembawa sifat yang disebut gen. Setiap mata rantai membawa satu sifat. Misalnya, bayi itu memiliki hidung yang mancung, mata bulat, rambut hitam, kulit kuning langsat, dan seterusnya. Masing-masing sifat itu diwakili oleh 1 gen.

Sehingga, jika kita bisa mengambil sifat-sifat dominan yang kita sukai dari rangkaian genetika seseorang dan membuang yang lemah maka kita bisa menciptakan bayi dengan kualitas dan karakteristik yang istimewa, sesuai dengan kemauan kita. Ilmu yang mempelajari tentang hal tersebut disebut sebagai Ilmu Rekayasa Genetika atau Biomolekuler.

Ilmu ini, kini berkembang sangat pesat. Salah satu keberhasilan-nya adalah menciptakan cloning ('bayi' hasil mengcopy' bapaknya atau ibunya) pada hewan domba. Dan konon, kabarnya, sudah mulai diujicobakan pada manusia. Meskipun, sampai kini belum ada laporan yang bisa dipertanggungjawabkan tentang keberhasilan cloning pada manusia.

Sebenarnya, dalam konteks ini, saya hanya ingin mengatakan bahwa tubuh makhluk hidup termasuk manusia bisa 'dicetak ulang', karena di dalamnya selalu ada gen pembawa sifatnya. Seluruh sifat makhluk hidup itu bisa direplika, berdasarkan genetika yang dirumuskan secara biokimiawi oleh genome-genome.

Di dalam tubuh manusia, misalnya, terdapat sekitar 4-5 miliar genome dalam bentuk komposisi biokimiawi. Setiap komposisi itu berpengaruh dan bertanggungjawab terhadap salah satu sifat yang kita miliki.

Logika yang Ketiga. Dalam logika ini Allah mengatakan bahwa Dialah yang menciptakan langit dan Bumi. Kalau menciptakan Langit dan Bumi yang demikian dahsyat saja Dia bisa, apalagi untuk menciptakan manusia.
QS. Al Ahqaaf : 33
"Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan langit dan Bumi, dan Dia yang tidak merasa payah karena menciptakannya, kuasa menghidupkan orang-orang mati? Ya, sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu."

QS. Al Israa (17) : 99
"Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan langit dan Bumi itu kuasa pula menciptakan yang serupa dengan mereka, dan telah menetapkan waktu yang tertentu bagi mereka yang tidak ada keraguan padanya ? Dan orang zalim itu (memang) tidak menghendaki kecuali kekafiran."

Seperti kita tahu, bahwa planet Bumi yang kita tempati ini adalah benda langit yang sangat kecil dibandingkan dengan besarnya alam semesta. Perbandingannya adalah bagaikan debu di padang pasir 'semesta'. Maka, manusia yang hidup di atas Bumi itu pun adalah makhluk yang sangat kecil di 'hadapan' alam semesta ini.

Karena itu, Allah memberikan perbandingan tersebut untuk menyadarkan kita akan kekuasaan Allah. Kalau menciptakan alam semesta yang demikian besar dan dahsyat saja Allah bisa, tentu sangatlah mudah bagiNya untuk menciptakan manusia. Apalagi cuma membangkitkan saja dari dalam kuburnya. Tidak ada kesulitan sedikit pun bagi Allah.

Sebagaimana difirmankan Allah, jin juga seperti manusia. Dia dikenai kewajiban untuk beribadah. Karena itu, juga bakal dimintai pertanggungjawaban atas segala perbuatannya, pada Hari Kiamat.

QS. Adz Dzariyat (51) : 56
"Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah (menyembah) kepadaKu."

Maka, di kalangan mereka ada juga jin yang baik, jahat atau pun kafir. Bagi yang kafir, sama saja, mereka juga tidak percaya bahwa mereka akan dibangkitkan sesudah matinya.

QS. Jin (72) : 7
"Dan sesungguhnya mereka (jin) menyangka sebagaimana persangkaan kamu (orang-orang kafir Makkah) bahwa Allah sekali-kali tidak akan membangkitkan seorang pun"

Pada hari kiamat itu, segala yang hidup, temasuk jin dan manusia akan mengalami kematian. Kecuali para malaikat. Sebagaimana manusia, jin memang bisa mengalami kematian dalam hidupnya. Hanya saja, karena badannya yang terbuat dari gelombang panas (api), maka dia memiliki relativitas waktu yang ukurannya lebih panjang dibandingkan manusia.

Secara umum, dikatakan bahwa usia jin adalah sepuluh kali lipat usia manusia. Jadi kalau jin menyebutkan dirinya berusia 70 tahun, misalnya, sebenarnya dalam dunia manusia itu berarti dia sudah berumur 700 tahun.

Namun demikian, dari golongan jin itu ada yang tidak mati hingga saat berbangkit. Dia adalah Iblis. Dia telah diberi kesempatan oleh Allah untuk hidup terus sampai hari kiamat, sesuai permintaannya sendiri, dengan maksud untuk menyesatkan manusia dari pertunjuk Allah.
QS. Al Hijr (15) : 37 - 38
"Allah berfirman: (Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan"

Karena itu, Neraka akan dihuni secara bersama-sama oleh manusia dan jin yang kafir dan banyak dosanya. Allah mengistilah-kannya sebagai kayu bakar api Neraka.

QS. Jin (72) : 15
"Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api Neraka Jahannam." (Firliana Putri)

TERNYATA TIDAK ADA WANITA CANTIK

Ketika saya mengurus SINK kendaraan yang sedang habis waktu, saya memarkir kendaraan di depan kantor samsat. Kebetulan waktu itu sedang ramai sekali. Sehingga kendaraan yang parkir pun berjubel sampai keluar batas areal parkir.

Ketika sudah selesai mengurus administrasi, kami menuju kendaraan yang kami parkir. Sambil menunggu membayar parkir, saya memperhatikan sebuah dialog pendek antara tukang parkir dengan seorang wanita muda yang barusan mengambil sepeda motornya.

Rupaya sedang terjadi kesalahfahaman tentang besarnya uang parkir. Saya lihat wanita muda itu cemberut sambil membayar ke tukang parkir. Sementara si tukang parkir yang masih muda, mukanya bersungut-sungut sambil ngedumel tiada habisnya. Setelah wanita muda itu pergi, si tukang parkir melampiaskan rasa kecewanya sambil berteriak cukup keras. "...wah, wah, wah,.. sekarang ini tidak ada lagi wanita cantik, semua cemberut, semua makan hati…,yaakh, maklumlah baru satu hari harga BBM naik..."

Saya baru teringat, memang kejadian itu adalah satu hari setelah diumumkannya kenaikkan harga BBM. Begitu mendengar ungkapan dengan nada kesal dari tukang parkir tersebut, saya secara bersamaan tersenyum geli. Dan tukang parkir pun spontan tersenyum juga sambil berkata "... wah, ternyata masih ada wanita yang cantik, meskipun harga BBM naik…”

Senyum memang kunci dari ekspresi seseorang. Senyum adalah `wakil' suasana hati seseorang. Apalagi kalau senyum itu wajar, tidak dibuat-buat. Sungguh akan mencerminkan kebahagiaan hati.

Allah dalam ‘merencanakan’ sebuah ekspresi senyuman, sungguh luar biasa. Senyuman seseorang dapat membias ke seluruh wajah. Sehingga jika seseorang sedang tersenyum, maka semua anggota wajahnya ikut senyum dan ikut gembira. Sebaliknya mulut yang cemberut juga akan membias ke seluruh raut wajah seseorang.

Jika seseorang sedang cemberut, maka seluruh bagian wajahnya juga ikut cemberut. Mengapa bisa demikian? Karena sumber perubahan wajah seseorang adalah hati.

Begitu hatinya senang, bibir tersenyum. Coba perhatikan. Semua wajah menjadi ikut tersenyum, riang dan gembira. Orang yang melihatpun ikut jadi senang dan gembira.

Demikian pula sebaliknya, jika hati cemberut, merasa tidak senang, maka akan mempengaruhi bentuk bibir. Jika bibir sudah menunjukkan ekspresi tidak bagus, maka seluruh anggauta wajahpun ikut cemberut. Ah, luar biasa memang. Jaringan otot yang dibentangkan oleh Allah Swt di seluruh wajah seseorang begitu halus, dan begitu pekanya.

Kalau pembaca ingin membuktikan betapa sebuah senyuman bisa mempengaruhi seluruh wajah, dan bisa mempengaruhi siapa saja yang melihatnya, buatlah sebuah percobaan sederhana sbb:
Gambarlah sebuah bulatan, sebagai perumpaan muka seseorang.
Buatlah dua mata, hidung, dan dua telinga pada `muka` tersebut.
Pertama, buatlah sebuah garis mendatar, sebagai wakil dari mulut.
Maka kesan yang akan kita tangkap dari wajah tersebut adalah sebuah wajah yang serius. Mata, hidung, dahi, pipi, bahkan telinganya, seolah-olah juga ikut serius.
Kedua, hapuslah mulut tersebut, buatlah sebuah garis melengkung ke bawah di bekas mulut tadi, sebagai wakil dari mulut yang sedang senyum.
Maka kesan yang akan kita tangkap dari wajah tersebut adalah sebuah wajah yang riang dan gembira. Mata, hidung, dahi, pipi, bahkan telinga dari wajah tersebut, seolah-olah juga ikut riang gembira. Aneh bukan? Padahal matanya tetap, tidak diganti, hidung juga tetap, telinga juga tetap.
Ketiga, hapuslah kembali mulut tadi, buatlah sebagai penggantinya sebuah garis melengkung ke atas sebagai wakil dari mulut yang sedang cemberut.
Maka kesan yang akan kita tangkap dari wajah tersebut adalah sebuah wajah yang cemberut, sedih, dan putus asa. Anehnya mata, hidung, dahi, pipi, maupun telinga dari wajah tersebut juga seolah-olah ikut cemberut, dan sedih...

Manakah, yang harus kita pilih? Sama-sama menggerakkan bibir, kearah mana sudut bibir kita harus kita gerakkan? Ke bawah, yang akan menyebabkan semua orang menjadi senang, ataukah ke atas yang akan membuat semua yang melihatnya ikut menjadi susah.

Jika anda seorang wanita, kata tukang parkir tadi anda akan menjadi semakin cantik jika anda tersenyum. Sebaliknya, tentu saja akan menjadi jelek, kalau kita terus saja cemberut. Seperti wanita di tempat parkir yang cemberut, sehingga tukang parkirpun kesal dibuatnya.

Aisyah ra, pernah bercerita. Aku lama sekali tidak pernah melihat rasulullah saw tertawa terbahak-bahak sampai terlihat urat lehernya. Jika beliau tertawa, hanyalah senyum (HR. Bukhari)

BERTEMU PENGEMIS ANEH

Kalau ada seorang pengemis minta uang, itu adalah biasa.
Kalau ada seorang peminta-minta, la mengharapkan makanan dari kita, itupun biasa...
Tetapi kalau ada seorang pengemis, la bertanya kepada kita tentang jam..?

Suatu saat, saya pergi jalan-jalan ke pusat pertokoan untuk sekedar lihat-lihat keramaian. Tidak terasa hari sudah mulai petang. Dan terdengarlah adzan maghrib dari masjid Agung yang tidak jauh dari tempat saya berada.

Seperti orang-orang lain yang berada di pertokoan itu, saya langsung bergegas menuju masjid yang jaraknya memang tidak terlalu jauh. Saya langsung menuju ke tempat wudlu untuk bersuci, di tengah keramaian orang-orang yang juga berwudlu.

Karena masjid itu berada di pusat keramaian kota , maka tak ayal lagi yang melakukan shalat maghrib setiap harinya sangatlah banyak. Termasuk hari itu.
Selain jamaah tetap dari masjid Agung, jamaah yang shalat maghrib juga berasal dari pengunjung pertokoan / masyarakat umum. Apalagi, hari itu adalah hari Sabtu alias malam minggu. Jama'ah shalat pun lebih banyak dibanding hari lainnya.

Setelah berwudlu, saya bergegas menuju shaf yang masih kosong, untuk mengikuti jama'ah shalat maghrib. Shalat berjamaah sudah dimulai.

Saya berdzikir secukupnya. Dan kemudian melakukan shalat sunah. Saya pun bergegas keluar dari masjid kembali ke tempat pertokoan untuk belanja atau sekedar melihat-lihat barang. Siapa tahu ada yang cocok untuk dibeli.

Pada saat saya berjalan menuju ke kompleks pertokoan itu, dimana jarak tempat saya berada kurang lebih sekitar lima puluh meter dari pintu masjid, tiba-tiba saya di kejutkan oleh seorang peminta-minta. Ia laki-laki yang sudah tua, menengadahkan tangan kanannya untuk minta uang.

Dengan perasaan biasa tanpa berfikir apa-apa, saya ambilkan uang dari saku baju. Ketika saya hendak berlalu untuk meneruskan perjalanan ke kompleks pertokoan, tiba-tiba orang tua itu menanyakan sesuatu yang menurut pendengaran Saya sangat aneh!

Katanya: "...jam pinten toh, sak meniko...? (pukul berapakah sekarang ?) Betapa anehnya, seorang peminta-minta bertanya tentang jam. Tanpa ambil peduli dengan keanehan tersebut, saya menyingsingkan lengan baju panjang saya, untuk melihat jam.

Ah, betapa terkejutnya saya. Ternyata jam yang saya kenakan di tangan kiri sudah tidak ada lagi. Sampai saya singsingkan lengan baju saya pada batas siku saya, aduh,.. jam tangan saya telah hilang!!
" Dimana... ? kemana... ? diambil siapa... ? kapan hilangnya... ? Serentetan pertanyaan pada diri sendiri membuat hati saya bertambah bingung, mau menangis rasanya. Jam yang barusan saya. Tiba-tiba saya seperti diingatkan sesuatu. Mungkinkah ketinggalan di masjid? Tapi dimana? Oooh, iya, saya ingat! Tadi ketika saya mengambil air wudlu, jam tangan saya, saya letakkan di atas kran pancuran air wudlu. Dan lupa tidak memakainya kembali.

Maka dengan tergopoh-gopoh, berjalan dengan setengah berlari saya menuju ketempat kamar mandi masjid, tempat dimana saya tadi melakukan wudhu'.

Setelah sampai di tempat tersebut, saya menjadi tercengang sendiri. MasyaAllah,...jam tangan saya, ternyata masih berada di tempatnya, tidak berubah sedikitpun. Saya menjadi termangu....

Betapa lamanya saya tinggalkan jam tersebut. Sejak melakukan wudlu, kemudian shalat berjama'ah, melakukan dzikir, shalat sunah, dan keluar dari masjid mencari alas kaki yang memakan waktu cukup lama karena begitu banyaknya jama'ah yang sedang shalat, lantas berjalan ke arah pertokoan yang akhirnya bertemu dengan bapak tua peminta-minta yang bertanya tentang waktu kepada saya...(subhaanallah...)

Mata saya berkaca-kaca, dan tanpa saya kehendaki, saya menitikkan air mata. Betapa anehnya kejadian ini. Saya langsung menuju ke tempat orang tua tadi, untuk mengucapkan terima kasih yang tiada terhingga kepadanya. Ternyata, dia sudah tidak ada lagi di tempatnya. Mungkinkah ia sudah pergi...?

Masya Allaah..., saya tidak jadi kehilangan jam kesayangan saya..!? Apakah ini hanya berkat uang seratus rupiah yang saya berikan kepada pak tua peminta-peminta? Ah, sungguh, saya tidak berani menyimpulkannya! Saya pun bergegas pulang. Dan masih tak habis pikir dengan kejadian itu.

Kini, setelah saya tulis ulang kejadian sekian tahun yang lalu itu, saya menjadi teringat akan sabda rasulullah saw, bahwa memberi sadaqah itu bisa menolak bala, dan akan mendatangkan kekayaan hati..

Minggu, 20 April 2008

CALON CALON PENGHUNI SURGA

Siapakah calon-calon penghuni Surga? Allah menginformasikan nya kepada kita. Sebagian di antara mereka digambarkan dalam ayat ayat berikut ini.

QS. Al Ahqaf (46) :15
“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandung dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila ia telah dewasa, dan umumya sampai empat puluh tahun ia berdoa : Ya, Tuhanku tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhoi, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”

QS. Al Ahqaf (46) : 16
"Mereka itulah orang-orang yang diterima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan, dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni penghuni Surga, sebagai janji yang benar yang telah Kami janjikan kepada mereka"

Mengikuti ayat tersebut, kita memperoleh kesimpulan tentang siapakah orang yang bakal masuk Surga.
1. Orang yang berbuat baik kepada ibu bapaknya
2. Orang yang pandai bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang diterimanya.
3. Orang yang beramal saleh dengan mengharap ridho Allah.
4. Orang yang bertaubat atas segala kesalahan yang pernah dia lakukan.
5. Orang yang berserah diri hanya kepada Allah saja.

ldealnya, kita bisa mengerjakan kelima hal tersebut dalam kehidupan kita. Maka Insya Allah kita akan menjadi salah satu dari penduduk Surga. Itulah janji Allah. Orang yang demikian, kata Allah, akan diterima amalannya dan dimaafkan segala kesalahannya. Bagaimanakah penjelasannya? Marilah kita bahas lebih jauh.

1. Berbuat Baik kepada Ibu Bapak.

Kenapa orang yang berbuat baik kepada ibu bapaknya menjadi calon penghuni Surga? Sebab, orang tua adalah wakil Allah di muka Bumi, berkaitan dengan penciptaan manusia. Kalau tidak ada orang tua kita, maka kita pun tidak akan pernah ada di muka Bumi ini.

Karena itu, kita bisa merasakan betapa besar dan sentralnya peranan orang tua dalam kehidupan kita. lbu kitalah yang bersusah payah mengandung, memelihara dan mendidik sampai kita dewasa. Dan bapak kita berusaha mati-matian untuk menafkahi keluarga. Mempertahankan hidup kita sampai dewasa. Sampai bisa dilepas untuk bisa hidup mandiri. Maka, kata Allah di dalam ayat tersebut, anak yang bisa membalas budi kepada orang tuanya dan mendoakan mereka termasuk perhatian kepada anak cucunya akan memperoleh penghargaan yang tinggi dari Allah.

Orang yang seperti ini, telah 'membantu' Allah untuk menciptakan generasi-generasi yang berkualitas di muka Bumi bagi masa depannya. Maka, ia berhak memperoleh kebahagiaan Surga.

2. Orang Yang Pandai Bersyukur.

Orang yang pandai bersyukur menunjukkan bahwa ia adalah orang yang bijak. Sedangkan orang yang bijak menunjukkan bahwa dia orang yang memiliki pemahaman yang mendalam. Dan, orang yang memiliki pemahaman yang mendalam menunjukkan bahwa ia telah makan asam garam kehidupan.

Dalam konteks agama, ia bukan hanya orang yang bisa berteori di dalam beragama, melainkan telah menjalani agama ini dengan sepenuh hatinya. la telah 'bertemu' Allah dalam setiap aktivitas kehidupannya.

Bagaimana seseorang bisa bersyukur, kalau ia tidak pernah 'bertemu Allah'. Kepada siapakah ia bersyukur jika ia tidak paham bahwa Allah lah Tuhan semesta alam. Bahwa Allah lah yang telah memberinya kenikmatan itu. Baik berupa kesehatan, harta, kedudukan, ilmu pengetahuan, dan berbagai macam kenikmatan lainnya.

Orang yang bisa bersyukur adalah orang yang telah melewati masa-masa kritis dalam keimanannya, dalam ketakwaannya. la telah ditempa kehidupan yang memberikan kesimpulan bahwa hidup ini temyata milik Allah. Bukan miliknya. Karena itu, ia mensyukuri segala nikmat yang diperolehnya, sebab ia tahu persis bahwa semua itu semata-mata pemberianNya ... ! Maka, orang yang demikian ini sangat pantas tinggal di Surga.

3. Beramal Saleh, Mengharap Ridha Allah.

Kenapa pulakah orang yang beramal saleh pantas masuk Surga? Orang yang beramal saleh adalah orang-orang yang sepanjang hidupnya ingin bermanfaat sebesar-besarnya. Baik buat dirinya sendiri, buat keluarganya, buat sahabat-sahabatnya, buat masyarakatnya, buat bangsa dan akhirnya buat syiar agamanya.

Orang yang bisa beramal saleh adalah orang yang paham tentang misi kehidupan dan misi beragamanya. ia telah menemukan pemahaman yang menyeluruh (holistik) atas kehidupannya. Dan, setelah paham semua itu, ia lantas melakukan amalan yang bermanfaat sepanjang hidupnya. Di mana pun dia berada.

Maka, orang yang demikian adalah orang-orang yang telah melewati tahapan iman dan takwa. Sebab Iman adalah Keyakinan. Dan Takwa adalah kemampuan mengendalikan diri saat melakukan amalan. Kedua duanya telah dijalankannya secara praktis saat ia melakukan amalan yang saleh.

Maka, pantaslah seorang yang banyak amalan salehnya akan memasuki Surga. Karena sebenarnya, itu adalah gambaran praktis dari seorang yang telah tinggi keimanan dan takwanya. Apalagi amalan salehnya itu bukan karena pamer atau pamrih, melainkan karena ingin mencari ridha Allah.

4. Orang yang Bertaubat.
Siapakah orang yang tidak pernah berbuat salah? Siapa pulakah manusia yang tidak pernah berdosa? Tidak ada, kecuali hamba hambaNya yang dijaga agar tetap makshum oleh Allah, sebagaimana Rasulullah saw.

Karena itu, Allah telah menetapkan Dirinya sebagai Dzat Yang Maha Pengampun dan Penerima Taubat. Jika Allah menghukum manusia karena kesalahannya, maka manusia seluruh muka Bumi ini tidak ada yang tersisa satu pun dari azabNya. Tetapi Allah Maha Pengampun dan Maha Pemaaf.

Maka, sebenarnya, orang-orang yang bisa masuk Surga itu lebih dikarenakan sifat Pengampun dan PemaafNya saja. Jika tidak, maka sungguh tidak ada yang pantas masuk ke dalam Surga Allah itu, disebabkan oleh begitu banyak dosa yang telah diperbuatnya.

Karena itu, Allah mengatakan di dalam ayat tersebut bahwa orang-orang yang pantas masuk Surga itu adalah orang-orang yang selalu bertaubat kepadaNya.

Bertaubat adalah memohon ampunan dan belas kasih permaafan dari Allah atas segala dosa dan kesalahan yang telah di perbuatnya. Dan dia berjanji kepada dirinya sendiri dan kepada Allah untuk tidak mengulangi kesalahan itu lagi.

Kalau kita sepenuh hati memohon ampunanNya dan bertaubat, Insya Allah Dia akan memaafkan dosa-dosa kita, sebesar apa pun dosa yang telah kita lakukan. Tidak ada dosa di alam semesta ini yang besamya melebihi besamya Kasih Sayang Allah. Demikian pula, tidak ada dosa di dunia ini yang besarnya mengalahkan sifat Pengampun dan Pemaafnya Allah.

Maka, datanglah kepadaNya dengan berendah diri dan penuh penyesalan, Insya Allah Dia akan mengampuni dosa-dosa yang pernah kita lakukan, seluruhnya. Dan Ia akan memasukkan kita ke dalam golongan hamba-hambaNya di dalam Surga.

5. Berserah Diri Hanya kepada Allah Saja.
Puncak dari seluruh perjalanan keagamaan kita ini sebenarnya adalah berserah diri kepada Allah. Seluruh tahapan-tahapan kualitas yang pernah kita jalani dalam beragama, muaranya adalah berserah diri kepada Allah saja. Hal ini dikemukan Allah di dalam berbagai ayatNya.

QS. An Nisaa : 125
“Dan siapakah yang lebih baik agamanya di antara kalian, selain orang orang yang berserah diri hanya kepada Allah, dan dia selalu berbuat kebajikan…”

Berserah diri adalah tingkatan tertinggi di dalam beragama Islam. Sehingga secara retorika, Allah bertanya kepada kita : siapakah yang lebih baik agamanya di antara manusia, kecuali orang-orang yang berserah diri kepada Allah? Jawaban atas pertanyaan itu telah diberikan sendiri olehNya, bahwa yang terbaik adalah berserah diri

Di ayatNya yang lain, secara tegas Allah menempatkan 'berserah diri' itu di atas keimanan dan ketakwaan.

QS. Ali Imran (3) : 102
"Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kalian dengan takwa yang sebenar-benarnya, dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan berserah diri (Islam)."

Keimanan adalah langkah awal, dimana seseorang 'dianjurkan' untuk memperoleh keyakinan bahwa apa yang akan dia jalani di dalam beragama ini adalah benar dan bermanfaat.

Setelah ia peroleh keyakinan itu, maka ia mesti menjalankan dalam kehidupan yang sesungguhnya. Sebab beragama ini memang bukan sekadar pengetahuan dan keyakinan saja, melainkan untuk dijalani. Diamalkan. Itulah Takwa : sebuah upaya terus-menerus untuk tetap istidomah di dalam menjalani agama. Ini tidak mudah. Karena itu Allah mengatakan di ayat tersebut bertakwalah kalian dengan 'sebenar benarnya'. Dengan upaya yang sangat keras dan sungguh-sungguh.

Dan puncaknya, adalah berserah diri kepada Allah semata. Orang yang sudah makan asam garam kehidupan dalam proses peribadatan yang sangat panjang.

Ketika seseorang sudah mencapai tingkatan 'berserah diri kepada Allah', maka bisa dikatakan dia sudah menemukan hakikat kehidupan. Bahwa segala yang ada ini tenyata bukan miliknya.

Harta yang dia punyai pun sebenarnya bukan miliknya. Karena ternyata, dia tidak pernah bisa menolak kehadiran maupun lenyapnya harta itu ketika sudah waktunya.

Demikian pula istri atau suami, dan keluarga yang dicintainya. Semuanya juga bukan miliknya. Karena suatu ketika, mereka satu per satu akan meninggalkannya.

Kekuasaan, juga tidak pernah ada yang kekal abadi. Kekuasaan yang dia peroleh hari ini, suatu ketika harus dilepasnya pula. Dia dibatasi oleh umur dan kondisi di sekelilingnya.

Bahkan dirinya dan hidupnya. Ternyata, juga bukan miliknya. Dia tidak pernah bisa menghindari sakit, lelah, sedih, gembira dan berbagai masalah yang menghampiri kehidupannya. Bahkan akhirnya, dia tidak pernah bisa melawan proses ketuaan. Suatu ketika dia harus merelakan kehidupannya, meninggalkan dunia yang fana, untuk kembali kepada Sang Pemilik Kehidupan.

Maka, ujung dari seluruh perjalanan kehidupannya itu, ia menyimpulkan untuk berserah, diri kepada Allah saja. la mengakui, bahwa dirinya bukan apa-apa. Allah lah yang memiliki dan berkuasa atas segala-galanya di alam semesta.

la letakkan seluruh rasa possessive nya, rasa kepemilikannya terhadap dunia. Dia menata hatinya untuk kembali kepada Allah. Berserah diri sepenuh-penuhnya, sebagaimana yang selalu ia ikrarkan dalam setiap shalatnya : "sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku kuserahkan hanya untuk Allah semata . . . "

Kalau sudah demikian adanya, maka sesungguhnya ia telah memperoleh Surga dunia. Dan setelah hari kiamat nanti, Allah akan memasukkan orang itu ke dalam Surga yang sesungguhnya. Bukan hanya 'wilayah Surga' yang penuh dengan taman-taman indah, mata air mata air yang jernih, buah-buahan yang sedap rasanya, serta berbagai kenikmatan kebendaan. Karena sejak di dunia ia telah terlanjur memperoleh kesimpulan bahwa semua kenikmatan benda itu adalah 'semu belaka'!

'Kenikmatan Yang Sejati' telah dia peroleh lewat dzikir-dzikirnya yang panjang kepada Allah. Telah dia rasakan saat-saat shalat malam dalam keheningan semesta. Dan telah dia 'genggam' dalam seluruh tarikan nafas maupun denyut jantungnya yang selalu membisikkan kalimat-kalimat tauhid : Allah ... Allah ... Allah ...(Dahlia Putri)

Sabtu, 19 April 2008

DAN PENGADILAN PUN DIGELAR

Rekaman atas seluruh perbuatan manusia, hanyalah sebagai alat bukti terhadap proses pengadilan di Akhirat. Setelah kedua hal tersebut ketajaman indera & struktur alam dibuka oleh Allah, maka diputarlah segala rekaman atas seluruh perbuatan kita selama di dunia.

QS. Az Zumar : 69
“Dan terang benderanglah Bumi dengan cahaya Tuhannya, dan diberikanlah buku (perhitungan perbuatan) dan didatangkanlah para nabi dan saksi-saksi, dan diberi keputusan di antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dirugikan.”

Bagaikan sedang menonton bioskop, maka layar pertunjukan pun 'dinyalakan' oleh Allah. Di manakah layar pertunjukkan itu dibentangkan? Di seluruh penjuru Bumi, meliputi angkasa, daratan dan lautan. Pendek kata, ruang 3 dimensi ini menjadi 'arena petunjukan' untuk menggelar seluruh rekaman alam sernesta. Kita seperti melihat kembali kejadian yang sesungguhnya digelar di depan kita.

Seluruh indera kita termasuk 'mata hati' bisa mengobservasi kejadian-kejadian yang pernah kita lakukan sepanjang hidup. Semua orang menyaksikan, termasuk para nabi. Hal ini persis seperti peristiwa yang dialami kakak dan kawan saya, yang telah saya ceritakan di depan.

Setiap orang akan mempertanggungjawabkan perbuatannya. Tidak ada yang terlewatkan. Mereka datang sendiri-sendiri kepada Allah, diadili dengan disaksikan manusia seluruhnya.

QS. Huud : 103
“…hari kiamat itu adalah suatu hari yang semua manusia dikumpulkan untuk (menghadapinya) dan hari itu adalah suatu yang disaksikan (oleh segala makhluk).”

QS. Maryam (19) : 95
"Dan tiap tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari Kiamat dengan sendiri sendiri."

QS. Al Oiyaamah : 13 -15
"Pada hari itu diberitahukan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya"
"Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri"
"Meskipun dia mengemukakan alasan alasannya”

Di ayat al Qiyaamah tersebut digambarkan oleh Allah, betapa kita menjadi saksi atas perbuatan kita sendiri. Kita seperti sedang menonton bioskop, dimana pemainnya adalah kita sendiri. Dan kemudian, kita boleh melakukan pembelaan atas apa yang kita lakukan itu dengan segala argumentasi yang kita sampaikan kepada majelis pengadilan. Kata Allah, tidak akan ada yang dirugikan sedikitpun. Allah memberikan jaminan atas adilnya proses tersebut. Tidak seperti di dunia, dimana proses 'pengadilan' justru menjadi ajang terjadinya ketidakadilan.

QS. At Anbiyaa' (21) : 47
"Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkannya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan."

Bahkan sebetulnya, tidak perlu Allah yang menghitung segala perbuatan kita. Cukup kita sendiri. Sebab, memang sudah sangat jelas. Seluruhnya terekam. Tidak ada kecuali.

QS. Al Israa : 13 - 15
“Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari Kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka”
“Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab (penghitung) terhadapmu.”
"Barang siapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri, dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain dan Kami tidak akan Meng'azab sebelum Kami mengutus seorang rasul."

QS. An Nuur (24) : 24
"Pada hari (ketika) lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan."

Memang dengan melihat rekaman video tersebut, seluruh anggota badan kita telah bersaksi dengan sendirinya Bagaimana tidak, Iha wong kita bisa menyaksikan mulut kita saat berbicara bohong, atau kita melihat tangan kita yang melakukan pencurian, atau kaki kita yang berjalan menuju tempat-tempat yang tidak semestinya. Semua anggota badan kita memberikan 'kesaksian' secara langsung, Iewat Perbuatannya.

Proses pengadilan itu berjalan secara paralel. Setiap diri kita langsung bisa melihat rekaman tersebut dalam waktu yang bersamaan. Layar pertunjukkan itu, dalam waktu yang sama bisa langsung diakses oleh miliaran manusia. Seperti yang kini telah ditunjukkan oleh teknologi komputer, dengan multitasking nya. Layar komputer bisa dibagi-bagi dalam format windows, sehingga tidak perlu melakukan antrean.

QS. Al Baqarah (2) : 202
"Mereka itulah orang-orang yang mendapat bagian dari apa yang mereka usahakan, dan Allah sangat cepat perhitunganNya."

QS. Ali Imraan (3) : 199
“... sesungguhnya Allah amat cepat perhitunganNya”

QS. An Nuur (24) : 39
“Dan orang-orang yang kafir, amal mereka adalah laksana fatamorgana di lanah yang datar…”

Orang-orang yang berdosa dibalasi yang setimpal dengan dosanya. Dan orang yang beriman serta banyak amal kebajikannya juga memperoleh balasannya. Banyak orang yang kecele pada waktu itu. Mereka menganggap bahwa mereka telah banyak berbuat kebajikan, tetapi ternyata tidak dinilai oleh Allah.

Amal perbuatannya seperti fatarnorgana. Seperti ada, tetapi ketika didekati ternyata tidak ada. Amalan mereka hapus begitu saja, karena dilakukannya tidak lillaahi ta'ala bukan karena Allah.

QS. Al Kahfi (18) : 103 - 106
"Katakanlah : apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang orang yang paling merugi perbuatannya ?"
“yaitu orang-orang, yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya”
“Mereka itu orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi mereka pada hari Kiamat.”
"Demikianlah balasan mereka itu Neraka jahannam disebabkan kekafiran mereka dan disebabkan mereka menjadikan ayat-ayatKu dan rasul-rasulKu sebagai olok-olok"

QS. Al Furqaan (25) : 70
"Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shaleh, maka kejahatan mereka diganti oleh Allah dengan kebajikan, dan adalah Allah Maha pengampun lagi Maha Penyayang." (Dahlia Putri)

Jumat, 18 April 2008

REKAMAN ITU DIPUTAR KEMBALI

Bagaimanakah rekaman alam semesta itu diputar kembali? Ada dua faktor yang berperanan ketika rekaman itu diputar kembali.Yang pertama, Allah memperkuat kemampuan Indera kita. Dan yang kedua, Allah merubah struktur alam sehingga rekaman tersebut bisa terbaca oleh manusia.

1. Indera Kita Dipertajam
.
Rekaman seluruh perbuatan kita ditempatkan di struktur alam semesta oleh Allah. Karena itu, pada saat pemutaran kembali tidak diperlukan peralatan tertentu untuk memainkannya. Yang diperlukan adalah meningkatkan kemampuan manusia untuk melihat rekaman tersebut. Baik berupa pendengaran, penglihatan, maupun ingatan.

Dan ternyata, pada saat kita dibangkitkan nanti Allah telah memperkuat kemampuan kita itu, sebagaimana diterangkan di beberapa ayat al Quran.
QS. Al Furqan (25) : 22
"Pada hari mereka melihat malaikat, di hari itu tidak ada kabar gembira bagi orang-orang yang berdosa dan mereka berkata : hijraan mahjuura"

Ayat di atas menjelaskan bahwa kita kelak bisa melihat malaikat. Padahal sekarang kita tidak bisa melihatnya Karena malaikat adalah makhluk dimensi 9 di langit yang ke tujuh. Sedangkan manusia adalah makhluk berdimensi 3 di langit yang pertama.

Penglihatan manusia selama di dunia ini sangatlah terbatas. Dari segi frekuensi, penglihatan kita dibatasi oleh Allah pada frekuensi 10 pangkat 14 Hertz. Di atas itu tidak tertangkap oleh penglihatan kita. Demikian pula frekuensi di bawah itu.

Dan, intensitas cahaya serta ukuran benda pun dibatasi oleh Allah. Jika intensitas cahayanya terlalu lemah, mata kita juga tidak bisa melihatnya. Misalnya di kegelapan malam. Begitu pula jika benda itu terlalu kecil, mata kita tidak bisa malihatnya. Misalnya, Atom dan molekul. Sebaliknya kalau terlalu besar, juga tidak bisa terlihat secara utuh. Pun, jika bendanya terlalu jauh atau terlalu dekat. Pendek kata, mata kita memiliki keterbatasan yang sangat besar.

Namun, pada saat kebangkitan nanti, kemampuan penglihatan dan pendengaran kita ditingkatkan oleh Allah. Hal-hal yang selama ini tidak bisa kita lihat dan kita dengar tiba-tiba menjadi bisa terlihat dan terdengar. Tentu saja, itu mengagetkan orang-orang yang dibangkitkan waktu itu. Mereka tidak menduga bisa menjadi seperti itu.
QS. Maryam (19) : 38
“Alangkah terangnya pendengaran mereka dan alangkah tajamnya penglihatan mereka pada hari mereka datang kepada Kami. Tetapi orang orang yang zalim pada hari ini berada dalam kesesatan yang nyata.” (Dahlia Putri)

Kamis, 17 April 2008

Seberapa jauh kita kenal Allah ?

Q.S. 7:143.
Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman".

Pada ayat tersebut di atas Nabi Musa diperingatkan Allah - Kamu sekali-kali tidak sanggup melihatKu.

Karena Nabi Musa dengan ke-aku-annya, dengan kehendaknya sendiri meminta melihat Allah, maka sekali-kali tidak akan pernah dan tidak akan sanggup melihat Allah, kecuali bila Allah sendiri yang berkehendak. Melihat Allah dengan Allah, bukan dengan diri kita sendiri, bukan dengan ego kita sendiri, apalagi dengan ketamakan, kesombongan, kedengkian, kezhaliman, kefasikan, kemunafikan dan kekufuran kita.

Hakikat penciptaan semesta ini adalah CINTA. Dalam Hadits Qudsi, Allah berfirman : "AKU adalah perbendaharaan tersembunyi dan AKU sangat cinta untuk dikenal".

Q.S. 51:56.
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepadaKu.

Allah sangat mencintai hamba yang mencintaiNya, mengenalNya, yang beribadah kepadaNya. Bagaimana bisa mencintaiNya jika tidak mengenalNya. Bagaimana bisa mengenalNya jika tidak pernah beribadah sesuai aturanNya.

Apakah ibadah hanya untuk menghindari neraka dan menggapai surga ? Bagaimana jika surga dan neraka tidak diciptakanNya. Apakah Allah tidak layak disembah ? Allah sedemikan adanya, tidak akan berkurang atau bertambah oleh ibadah yang kita lakukan atau yang kita tinggalkan.

Q.S. 15:99.
dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan.

Ibadah yang kita lakukan seharusnya dengan motivasi karena Allah mencintai orang yang beribadah kepadaNya (memenuhi hak Allah) dan harus kita lakukan sampai kita memperoleh keyakinan akan Allah (haqqul yaqin). Dengan yakin berarti kita mengenal Allah. Dengan mengenal Allah berarti kita bisa mencintaiNya. Puncak pengenalan kita adalah ketika kita haqqul yaqin dan bisa ridho kalau Allah adalah tuhan dan kita adalah hamba. Sebagai konsekuensinya kita pun akan ridho melaksanakan apapun perintah Allah sesuai yang disyariatkan, bukan sebagai beban tapi sebagai kebutuhan.

Kontrak hidup kita terbatas, mulai lahir sampai detik kematian kita, PR kita adalah mengenalNya dan mencintaiNya. Bukankah kita pernah bersaksi di alam arwah bahwa Allah adalah tuhan kita. Kehidupan kita di dunia harus merupakan pengejawantahan dari persaksian kita. Bagaimana rasanya perasaan kita bila saat menghadapNya kembali, PR kita belum selesai atau bahkan belum kita kerjakan sama sekali ? Tersiksa bukan ? Rasa tersiksa itulah yang hakikatnya lebih berat dari siksaan itu sendiri (azab kubur). Semakin banyak PR yang tidak terselesaikan semakin besar pula rasa bersalah kita yang akan menjelma semakin berat rasa tersiksa kita dan akhirnya semakin tidak siap kita untuk menatap wajah Allah. Bukankah puncak kenikmatan surga adalah menatap wajah Allah.

Tetapi karena Allah juga sangat mencintai kita, maka Allah pun menghendaki agar kita siap menatapNya yaitu dengan menciptakan makhluk yang namanya Neraka untuk membersihkan limbah-limbah diri kita yang menghalangi kita menatapNya. CintaNya mendahului marahNya.

Masihkah kita enggan menghadapNya ? Masihkah kita menghadapNya dengan takut ? Bukankah Allah lebih layak untuk dicintai daripada ditakuti ?

I LOVE YOU ALLAH !!!

Wallahu'alam....

Rekaman Memori Otak

Kita semua mengetahui bahwa otak kita bisa merekam perbuatan kita. Ia bekerja sebagai ingatan. Setiap kita melakukan aktivitas, maka otak kita akan merekamnya. Perbuatan yang kita lakukan itu akan menimbulkan kesan lewat panca indera, dan kemudian diteruskan ke otak, dan lantas disimpan sebagai memori.

Misalkan, kita berbuat menyakiti seseorang. Tentu, orang tersebut akan memberikan reaksi. Reaksi itulah yang kita tangkap lewat panca indera. Baik lewat pendengaran, lewat penglihatan, maupun lewat indera yang lainnya.

Reakksi itu akan kita tangkap sebagai gelombang yang menggetarkan sensor di panca indera kita, lantas diteruskan sebagai pulsa-pulsa listrik lewat jaringan saraf menuju otak. Di otak, reaksi tersebut akan disimpan sebagai tegangan listrik tertentu, yang disebut memori.

Kerja otak sangatlah kompleks, dimana manusia belum sepenuhnya memahami. Akan tetapi secara umum, kita tahu bahwa ternyata mekanismenya dalam bentuk pulsa-pulsa listrik.

Kita jadi teringat pada mekanisme kerja sebuah komputer. Akan tetapi kecanggihan otak kita berjuta-juta kali lipat dibandingkan kemampuan komputer, yang tercanggih sekali pun.

Maka, setiap kali kita berbuat, sebenarnya kita sama saja dengan menginput data ke dalam memori otak kita. Hanya saja, rekaman yang dibuat oleh memori otak tersebut adalah data sekunder.

Kenapa saya sebut data sekunder? Sebab yang direkam dalam memori tersebut adalah 'reaksi' dari sekitar kita terhadap apa yang kita lakukan. Bukan 'perbuatan' itu sendiri. Dan, memori itu bersifat tidak langsung, karena sinyal-sinyal yang masuk tersebut harus melewati panca indera terlebih dahulu. Padahal panca indera kita memiliki distorsi (penyimpangan) yang besar terhadap kenyataan. Sebagai contoh, kalau kita melihat sebuah gunung berwarna biru, sebenarnya gunung itu tidaklah berwarna biru. la berwarna hijau, karena memiliki banyak pepohonan. Begitu juga ketika kita melihat rel kereta api, semakin jauh kelihatan semakin menyempit dan pada suatu titik akhirnya bersatu. Padahal keadaan yang sebenarnya tidaklah demikian. Demikian pula, ketika kita melihat bintang di langit terkesan berukuran sangat kecil dan berkedip-kedip. Padahal sesungguhnya bintang adalah benda langit yang sangat besar dan tidak berkedip. Kita mendengar suara klakson mobil yang sedang berjalan, seakan akan berubah dari pelan menjadi keras. Padahal, sesungguhnya suara tersebut sama kerasnya. Dan lain sebagainya. Dan lain sebagainya.

Pada prinsipnya, segala pemahaman yang melewati panca indera kita adalah sebuah 'kebohongan' alias penyimpangan dari kenyataan yang sesungguhnya. Tetapi itu tetap kita perlukan untuk kelangsungan hidup kita. Karena itu, rekaman yang terjadi di memori kita juga sifatnya terdistorsi. Akan tetapi itu telah membantu kita untuk mengingat masa lampau. Naum demikian, rekaman ini bersifat jangka pendek, ketika kita hidup di dunia, maupun sampai di Akhirat nanti.

Secara struktur, memori otak kita dibagi menjadi tiga bagian, yaitu memori yang sedang berlangsung (Working Memory), memori jangka panjang (Long Term memory), dan memori yang berkait dengan ketrampilan (Skill Memory).

Working memory adalah memori yang berkait dengan apa yang sedang terjadi dan dialami seseorang. Biasanya terkait langsung dengan penglihatan, pendengaran dan perasaan. Bagian ini terletak di permukaan otak sebelah depan yang disebut sebagai Pre Front Cortex.

Long Term Memory berfungsi untuk mengingat hal-hal yang berkait dengan pengalaman sesesorang dalam memahami kenyataan hidup. Bagian ini terletak di Otak sebelah dalam.

Sedangkan Skill memory terdapat di Otak bagian belakang yang disebut Cerebelum. Fungsinya terkait dengan ketrampilan seseorang. Karena itu, ia berhubungan dengan organ-organ motorik, seperti kaki dan tangan. (Dahlia Putri)

Rabu, 16 April 2008

RASUL MUHAMMAD MENANGIS SEMALAMAN, MENERIMA WAHYU ILMU PENGETAHUAN

Tidak Pernah Rasulullah, saw menangis sehebat itu. Bahkan ketika kehilangan orang-orang yang sangat dicintainya. Ataupun ketika beliau mengalami tekanan-tekanan yang sangat berat dari kaum kafir yang menentangnya. Tangisan Rasulullah yang berlangsung semalaman itu terjadi sesaat setelah beliau menerima wahyu dari Allah, Sang Maha Berilmu, Ali lmran 190 - 191:

“Sesungguhnya di dalam Penciptaan langit dan bumi dan di dalam pergantian siang dan malam hari terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi (orang yang disebut) ulil albab. Yaitu orang-orang yang selalu ingat kepada Allah dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring dan ia selalu berpikir tentang penciptaan langit dan bumi. Kemudian dia rnengatakan : ya Tuhanku tidak ada yang sia-sia segala yang Kau ciptakan ini. Maha Suci Engkau, maka hindarkanlah kami dari siksa api neraka.”

Bagaimanakah kejadian itu berlangsung? Diceritakan, suatu ketika Bilal seperti biasa mengumandangkan adzan Subuh. Biasanya, sebelum adzan Subuh itu selesai, Rasulullah sudah berada di dalam masjid untuk kemudian memimpin shalat berjamaah bersama para sahabat. Namun, tidak seperti biasa, Rasulullah Muhammad belum juga hadir meskipun Bilal sudah menyelesaikan kalimat terakhir adzannya. Ditunggu beberapa saat oleh Bilal dan para sahabat, Rasulullah tidak juga muncul di masjid. Akhirnya, karena khawatir terjadi sesuatu, maka Bilal pun memutuskan menjemput nabi, Yang 'rumahnya' bersebelahan dengan masjid tersebut.

Pintu bilik rumah nabi diketuk-ketuk oleh Bilal sambil mengucapkan salam. Tidak langsung ada jawaban dari dalam bilik. Namun, sejurus kemudian, nabi muncul sambil menjawab salam. Dan kemudian mempersilakan Bilal masuk.

Apakah Yang dilihat oleh Bilal? la melihat nabi dalam keadaan yang sangat mengharukan. Air mata berlinangan di pipi beliau. Matanya sembab, menunjukkan betapa beliau telah menangis cukup lama, semalam.

Karena khawatir melihat kondisi nabi, maka Bilal pun bertanya kepada beliau. Ada apakah gerangan, sehingga Rasulullah menangis seperti itu. Apakah nabi sakit. Ataukah nabi ditegur oleh Allah? Ataukah ada kejadian hebat lainnya? Maka, Rasulullah menjawab, bahwa beliau semalam telah menerima wahyu dari Allah. Lantas beliau membacakan QS. Ali Imran : 190 - 191, tersebut di atas.

Saya membayangkan ekspresi Bilal pada saat itu. Barangkali, dia tidak bisa mengerti dan tidak habis pikir, kenapa Rasulullah bisa menangis sehebat itu ketika menerima wahyu tersebut. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Apalagi, kalau kita baca Firman Allah itu tidak bernada menegur, atau memerintah untuk menjalankan kewajiban tertentu, misalnya.

Ayat tersebut, lebih menonjolkan kesan ilmu pengetahuan dan sikap seorang ilmuwan dalam memahami fenomena alam semesta ketimbang sebuah perintah untuk beribadah. Tetapi kenapa hati sang nabi sampai bergetar demikian rupa, sehingga tak mampu membendung air matanya?

Marilah kita coba mencermati :

Di awal ayat itu, Allah mengatakan bahwa sesungguhnya di dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian siang dan malam hari, terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang yang disebut ulil albab. Yaitu, lanjutnya orang-orang yang selalu berpikir, baik dalam keadaan duduk, berdiri, bahkan berbaring pun masih selalu teringat kepada Allah dan segala ciptaanNya. Sampai ia mendapatkan suatu kesimpulan akhir, bahwa segala ciptaan Allah di alam semesta ini tidak ada yang sia sia...



Ada beberapa kata kunci Yang bisa menuntun penafsiran kita dan kemudian memahami kenapa Rasulullah sampai menangis seperti itu, yaitu:



1. Penciptaan langit dan bumi

2. Pergantian siang dan malam hari

3 Tanda-tanda kebesaran Allah

4. Selalu berpikir tentang Allah

5. Tidak ada yang sia-sia

6. Maha Suci Allah

7. Hindarkan dari Api Neraka.





1. Penciptaan Langit Dan Bumi.



Apakah kehebatan penciptaan langit dan bumi ini sehingga Rasulullah menangisinya? Kenapa Allah memancing kita untuk mengamati dan memahami penciptaan langit dan bumi? Dan pernahkah kita terpancing untuk melakukannya? Kalau tidak, sungguh sayang sekali...



Sebenarnya Allah sedang memberikan jalan Yang luas dan lebar kepada hambaNya Yang ingin memahami dan berkenalan dengan Allah Sang Maha Pencipta. Bukankah Allah mengatakan, kalau kita ingin mengenali Allah, maka kenalilah ciptaanNya. Dan, ciptaan Allah yang bernama Langit dan Bumi ini ternyata sangatlah dahsyat, sehingga bisa menghantarkan kita untuk 'bertemu' dan menghayati Kebesaran Allah.



Bagaimana cara kita memahami proses penciptaan langit dan bumi itu. Bisakah hanya berdasarkan informasi-informasi dari Al Quran saja? Agaknya tidak bisa. Setidak-tidaknya kurang memuaskan. Mau tidak mau, kita harus melakukan pengamatan-pengamatan yang lebih mendalam tentang fakta yang tersebar di alam semesta ini. Harus bersifat empirik.



Namun, tidak semua kita memiliki kemampuan untuk melakukan penelitian ilmiah. Maka kita boleh membaca data-data dan analisis ilmu pengetahuan Astronomi yang sudah dilakukan oleh para ilmuwan agar bisa memahaminya. Semua data itu bisa diuji dan dibuktikan, meskipun pada gilirannya nanti tetap ada bagian-bagian yang harus disempurnakan secara ilmiah oleh generasi berikutnya. Tidak apa apa. Tidak menjadi masalah.



Akan tetapi, sebelum membahas tentang penciptaan langit dan bumi, terlebih dahulu saya ingin mengajak pembaca untuk memahami posisi kita di alam semesta yang sangat luas ini.



Seperti kita ketahui, lebih dari 5 miliar manusia hidup di sebuah planet yang bernama Bumi. Bentuknya hampir bulat. Agak pipih di bagian atas yang disebut sebagai Kutub Utara dan juga bagian bawah yang disebut Kutub Selatan. Bumi yang kita tumpangi bersama ini berputar kencang pada dirinya sendiri, dengan kecepatan sekitar 1.669 km per jam, di Equatornya. Namun kita tidak merasakannya, karena kita ikut berputar dalam sebuah kendaraan 'Bumi' yang sangat besar. Kita, bagaikan sedang berada di dalam sebuah pesawat angkasa luar yang berpusing.



Selain itu, Bumi juga mengitari matahari pada jarak sekitar 150 juta km, dengan kecepatan lebih dari 107.000 km per jam. Artinya, kendaraan angkasa luar kita yang bernama 'Bumi' ini sedang melaju, melesat mengembara di angkasa mengitari matahari.



Apa Yang menggerakkan bumi kita ini sehingga terus-menerus bergerak berputar pada dirinya sendiri, sekaligus mengitari matahari? Ternyata, ada sebuah gaya tarik yang sangat dahsyat yang terjadi antara matahari dan bumi, serta benda-benda langit lainnya. Mereka seperti terikat oleh sebuah tali yang tidak tampak, yang diputar-putar melingkar terpusat pada matahari. Pusatnya matahari, di sekelilingnya ada 9 planet, yaitu : Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, dan Pluto. Semuanya mengelilingi Matahari, sebagaimana Bumi.

QS. Luqman (31) : 10

“Dia telah menciptakan langit tanpa tiang sebagaimana kalian lihat, dan dia meletakkan gunung-gunung di bumi supaya bumi tidak Meng-guncangkan kamu dan memperkembangbiakkan padanya segala macam jenis binatang. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik.”



Di planet Merkurius, yang paling dekat dengan Matahari tidak terdapat kehidupan, karena permukaan planetnya demikian panasnya. Bagaikan membara. Sedangkan di Pluto, yang terjauh dari Bumi, juga tidak terdapat kehidupan karena seluruh permukaan planetnya membeku, tertutup oleh es. Namun demikian, di planet-planet selain Bumi juga belum diketemukan kehidupan secara pasti. Apalagi manusia. Hanya di Bumi inilah makhluk yang bernama manusia ini bisa melangsungkan kehidupannya dengan baik. Tidak terlalu jauh dan tidak terlalu dekat dengan Matahari sebagai sumber energi kehidupan.



Kelompok 9 planet yang berpusatkan Matahari itu dinamakan Tatasurya. Ternyata, tatasurya kita ini bukanlah satu satunya tatasurya di alam. semesta. Ada miliaran, bahkan triliunan tatasurya yang terserak di jagad semesta.



Kalau kita ingin mengetahui lebih lanjut, cobalah keluar rumah malam hari. Di tempat yang terbuka dan sedikit gelap arahkan pandangan ke langit. Kalau langit sedang cerah, kita akan bisa melihat bintang-bintang bertaburan di angkasa raya.



Pernahkah kita bayangkan bahwa bintang-bintang itu sebenarnya adalah matahari, seperti matahari yang kita miliki di tatasurya kita. Karena begitu jauhnya jarak Matahari, itu dengan Bumi kita, maka ia kelihatan sangat kecil dan berkedip-kedip. Tapi, sesungguhnya bintang itu adalah matahari. Bahkan banyak yang ukurannya jauh lebih besar dari matahari kita.



Matahari Yang kita miliki ini, diameternya sekitar 200 kali bumi. Isinya adalah gas Hidrogen yang sedang bereaksi secara termonuklir menjadi gas Helium. Sedangkan bintang-bintang itu ada yang besarnya berpuluh kali atau beratus kali dibandingkan dengan besarnya matahari kita. Yang paling besar diketemukan oleh ilmuwan Astronomi adalah bintang Mu-cepe, yaitu sekitar 1.500 kali matahari, alias ratusan ribu kali besarnya bumi yang kita diami!



Begitu besar ukurannya. Tetapi kelihatan demikian kecilnya. Ya, semua itu karena jarak bintang-bintang itu sangat jauh dari bumi. Berapakah jarak bintang yang paling dekat dengan bumi? Informasi Astronomi mengatakan, jaraknya sekitar 8 tahun cahaya. Apakah artinya? Artinya, cahaya saja membutuhkan waktu tempuh 8 tahun untuk menuju bintang yang paling dekat itu. Jadi berapa kilometer ? Tinggal hitung saja.



Kecepatan cahaya adalah 300.000 km per detik. Jadi kalau cahaya membutuhkan waktu 8 tahun untuk sampai ke bintang itu, berarti jaraknya adalah 8 th x 365 hari x 24 jam x 60 menit x 60 detik x 300.000 km = 75.686.400.000.000 km atau sekitar 75 triliun kilometer. Sungguh jarak yang tidak pernah terbayangkan dalam kehidupan kita!



Bisakah kita pergi ke sana? Di atas kertas, mungkin saja. Tetapi, memakan waktu berapa lama? Marilah kita hitung. Semuanya bergantung pesawat yang kita gunakan. Andaikan saja kita naik pesawat, ulang alik seperti Challenger atau Columbia Ya berkecepatan 20 ribu km per jam. Berapa lama kita akan sampai di bintang tersebut?



Sehari, sebulan, setahun, sepuluh tahun, seratus tahun. Kita mati di tengah jalan, ternyata kita belum sampai di bintang yang paling dekat itu. Setelah 428 tahun kemudian, barulah kita sampai di sana. Kita membutuhkan 5 - 6 generasi untuk sampai di sana. Subbanallaah...



Padahal, tadi saya katakan, jumlah bintang di alam semesta ini triliunan. Setiap 100 miliar bintang membentuk gugusan yang disebut galaksi. Gugusan bintang yang kita tempati ini bernama galaksi Bimasakti. Di sebelah Bimasakti ada galaksi Andromeda, dan seterusnya, ada miliaran galaksi di jagad semesta ini. Dan, yang lebih dahsyat lagi, setiap 100 miliar galaksi membentuk gugusan galaksi yang disebut Superkluster. Dan seterusnya, jagad semesta ini belum diketahui batasnya.



Berapakah jarak gugusan bintang bintang itu? Bermacam macam. Ada yang berjarak 100 tahun cahaya. Artinya cahaya saja membutuhkan waktu 100 tahun. Ada yang 1000 tahun cahaya. Ada juga yang 1 juta tahun cahaya. Dan yang paling jauh, diketemukan oleh ilmuwan Jepang, berjarak 10 miliar tahun cahaya.



Ya, cahaya saja membutuhkan waktu 10 miliar tahun. Apalagi kita. Usia kita tidak ada artinya apa-apa dibandingkan kebesaran alam semesta ini.



Bahkan planet bumi yang kita tinggali bersama miliaran manusia ini juga tidak ada apa-apanya. Bumi bagaikan sebuah debu di hamparan Jagad ‘Padang Pasir’ Semesta. Di atas bumi yang bagaikan debu itulah miliaran manusia hidup dengan segala aktifitas dan kesombongannya! Masya Allah, sungguh begitu kecil kita, dan luar biasa dahsyat Sang Maha Perkasa...



Lantas bagaimana kita membayangkan Keperkasaan Allah yang menciptakan hamparan jagad semesta itu? Disinilah Allah memperkenalkan Dirinya lewat ciptaanNya yang benama Langit dan Bumi. Dan kita dipancingNya untuk memahami itu lewat firmanNya di QS. Ali Imran 190 191.



Ada lagi yang sangat unik ketika kita mengamati bintang bintang di angkasa. Sebagaimana telah saya sampaikan di muka, bahwa bintang-bintang yang bertaburan itu jaraknya sangat beragam, mulai dari matahari yang jaraknya 8 menit cahaya, bintang yang berjarak 8 tahun cahaya, sampai yang berjarak 10 miliar tahun cahaya.



Pernahkah Anda bayangkan, bahwa matahari yang kita lihat setiap pagi itu adalah matahari 8 menit yang lalu? Bukan matahari yang sekarang! Kenapa demikian? Ya, karena sinar matahari memerlukan waktu 8 menit untuk mencapai bumi, yang berjarak 150 juta km dari matahari. Berarti, matahari yang kita lihat pada saat itu adalah matahari 8 menit yang lalu! Aneh bukan?



Begitu juga ketika kita melihat kepada bintang yang berjarak 8 tahun cahaya. Bintang yang sedang kita amati itu bukanlah bintang saat ini, melainkan bintang pada saat 8 tahun yang lalu. Karena, sinar yang sampai di mata kita itu adalah sinar yang sudah melakukan perjalanan sejauh 8 tahun cahaya. Bukankah sinar butuh waktu untuk menempuh jarak?



Tidak berbeda dengan bintang-bintang yang berjarak lebih jauh lagi. Kalau kita sedang mengamati bintang berjarak 100 juta tahun cahaya, maka sebenarnya bintang yang sedang kita amati itu adalah kondisi 100 juta tahun yang lalu!



Jadi, kalau malam-malam kita sedang mengamati langit, sebenarnya kita bukan melihat langit yang sekarang saja. Tetapi pada saat yang bersamaan sedang melihat langit sekarang, langit 1000 tahun yang lalu, langit 1 juta tahun yang lalu, dan bahkan langit 10 Miliar tahun yang lalu ... ! Masya Allah, kita jadi merasa aneh dengan alam kita sendiri.



Lebih jauh, kalau kita ingin memahami kedahsyatan ciptaan Allah di alam semesta, marilah kita baca ayat berikut ini.



QS. Al Anbiyaa 30,

“Apakah orang-orang kafir itu tidak tahu bahwa langit dan bumi itu dulunya padu, lalu Kami pisahkan keduanya dengan kekuatan, dan Kami jadikan dari air setiap yang hidup, apakah mereka tidak percaya?”



Ayat di atas memberikan gambaran kepada kita bahwa alam semesta yang luar biasa besarnya itu dulunya satu, alias berimpit. Dikatakan bahwa langit yang berupa ruang angkasa dan bumi itu pernah tidak terpisahkan. Lantas, pada suatu ketika Allah memisahkan keduanya dengan kekuatan yang sangat dahsyat. Sehingga jadilah alam semesta seperti yang kita lihat sekarang.



Tetapi, sekali lagi, pemahaman yang baik baru bisa kita peroleh kalau kita melakukan pengamatan terhadap alam semesta dalam kegiatan empiris atau ilmu pengetahuan. Baik secara langsung maupun lewat informasi Astronomi.



Bagaimana mungkin kita bisa memahami bahwa langit dan bumi itu dulunya padu, kalau kita tidak mempelajari ilmu Astronomi. Firman Allah ini ternyata memang bisa kita pahami setelah kita membaca teori Big Bang alias teori ‘Ledakan Besar’.



Dalam teori tentang penciptaan alam semesta itu dikatakan bahwa langit dan bumi itu memang dulunya padu. Bagaimana kesimpulan itu diperoleh? Ternyata, dalam pengamatan teleskop Hubble, diketahui bahwa berbagai benda langit seperti planet, matahari, dan bintang-bintang semuanya sedang bergerak menjauh.



Kita melihat ke atas, benda-benda langit menjauh. Melihat ke ‘bawah’ di balik bumi benda-benda langit tersebut juga menjauh. Melihat ke kiri kanan, muka belakang, semua benda langit sedang menjauh. Apakah artinya?



Artinya, karena benda-benda langit itu kini sedang bergerak saling menjauhi ke segala arah, maka mestinya dulu, benda benda itu saling dekat. Lebih dulu lagi, benda-benda itu semakin dekat. Dan pada suatu ketika, miliaran tahun yang lalu, semua benda langit tersebut berkumpul di suatu titik yang sama, alias padu dan berimpit. Persis seperti yang dikatakan Al Quran.

Nah, dari hipotesa itulah, disusun sebuah teori yang disebut teori ‘Big Bang’. Teori itu mengatakan bahwa seluruh material dan energi alam semesta ini dulunya termampatkan ke dalam suatu ‘Titik’ di pusat alam semesta. Demikian Pula ruang dan waktu, semuanya dikompres ke dalam sebuah ‘Titik’ yang menjadi cikal bakal alam semesta, yang disebut sebagai Sop Kosmos.



Sop Kosmos itu, sangat tidak stabil karena mengandung energi, material, ruang, dan waktu yang demikian besarnya, sehingga akhimya meledak dengan kekuatan yang sangat dahsyat. Ledakan itu telah melontarkan material, energi, ruang dan waktu ke segala penjuru alam semesta hingga kini. Usianya sudah mencapai sekitar 12 miliar tahun.



Dalam kurun waktu sekitar 12 miliar tahun itulah tercipta benda benda langit secara berangsur-angsur. Mulai dari gugusan bintang bintang, matahari, planet-planet, dan bulan. Termasuk Bumi yang kita huni ini. Dipekirakan usia Bumi kita sekitar 5 miliar tahun.



Dan kemudian, di bumi yang semakin mendingin itu diciptakanlah kehidupan lewat sebuah proses evolusi kehidupan dari makhluk yang berderajat rendah satu sel sampai yang berderajat tinggi seperti manusia. Kehidupan pertama, oleh Allah dimulai dari perairan dari jenis ikan-ikanan, yang kemudian beralih ke daratan lewat proses kehidupan ampibi dan jenis hewan reptilia.



QS. Al Anbiyaa : 30

“…dan Kami jadikan dari air (permulaan) semua makhluk bidup …”



Sedangkan kehidupan manusia modern diperkirakan baru sekitar 50 ribu tahun yang lalu, berdasarkan fosil Cro Magnon yang ditemukan di daerah Timur Tengah. Fosil-fosil manusia modem inilah yang diperkirakan sejaman dengan kehidupan Nabi Adam As.



Kalau hipotesa ini memang benar, maka berarti usia kehidupan manusia ini dibandingakn dengan usia alam semesta sangatlah sebentar. Usia alam semesta sudah sekitar 12 miliar tahun, sedangkan usia peradaban manusia baru sekitar 50 ribu tahun.



Nah, jadi kembali kepada kata kunci yang pertama dalam QS. Ali Imran 190-191, kita kini memahami betapa dahsyat informasi yang terkandung dalam kalimat: “...inna fii khalqis samaawaati wal ardli...”



Rasulullah saw bisa memahami makna kalimat tersebut tanpa harus belajar ilmu Astronomi. Kenapa bisa demikian? Ada dua hal yang menjadi penyebabnya. yang pertama, setiap kali Allah menurunkan wahyu kepada nabi Muhammad, Allah langsung memasukkan makna wahyu itu ke dalam kalbu beliau. Wahyu tidak turun ke nabi melalui otak beliau, melainkan langsung ke dalam hati. Jadi, seperti ada sebuah tayangan video yang diputar di hadapan beliau, sehingga beliau langsung bisa memahami seluruh makna wahyu itu. yang kedua, harus diingat bahwa wahyu tersebut turun kepada Rasulullah pada periode Madinah. Artinya, Rasulullah sudah mengalami perjalanan Isra' Mi'raj. Jadi beliau telah mengalami sendiri perjalanan mengarungi jagad semesta. Maka, ketika menerima wahyu tersebut beliau bagaikan sedang 'bernostalgia' melakukan perjalanan Isra' Mi'raj. Sungguh tergambar secara nyata makna dari firman Allah tentang penciptaan langit dan bumi.



Maka tidak heranlah kita, Rasulullah tak mampu membendung air matanya ketika menerima wahyu tersebut. Gemetar seluruh jiwa raganya mengingat Kebesaran Allah di alam semesta. Dirinya menjadi begitu kecil dan tak berarti di hadapan Allah, Dzat Sang Maha Perkasa...





2. Pergantian Siang Dan Malam Hari



Kini kita mulai bisa memahami kenapa Rasulullah menangis ketika diingatkan Allah tentang penciptaan Langit dan Bumi. Lantas, bagaimanakah dengan “pergantian siang dan malam hari”? Saya jadi teringat firman Allah di dalam ayat berikut ini.

QS. Al Qashas (28) : 71-72.

“Katakan: terangkan kepadaku jika Allah Menjadikan untukmu malam terus sampai hari kiamat, siapa Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kami tidak mendengar?”



“’Katakan.’ terangkan kepadaku jika Allah merjadikan untukmu siang terus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”



Bisakah kita menjawab pertanyaan Allah ini? Atau, setidak tidaknya inginkah kita memberikan jawaban atas pertanyaan: “apa jadinya kalau bumi ini mengalami siang terus atau malam terus sampai hari kiamat ?” Saya kira ini sebuah pertanyaan yang sangat menggelitik untuk dianalisis.



Marilah kita cermati :

Misalkan saja kita ambil kondisi kota Surabaya. Suhu pada umumnya pagi hari di kota Surabaya, berkisar di bawah 30 derajat Celsius. Ketika siang mulai menjelang, maka suhu beranjak di atas 30 derajat. Dan puncaknya pada jam 12 siang sampai jam 14 siang, suhu udara bisa mencapai 33-34 derajat, atau bahkan lebih.



Pernahkah kita memperhatikan aspal jalan raya Surabaya pada siang hari. Di permukaannya terlihat mengepul uap tipis, dan aspalnya menjadi lembek. Diperkirakan panas permukaan jalan raya itu di atas 50 derajat. Kalau disiramkan air di sana, tak berapa lama kemudian air itu akan menguap, dan jalanan itu pun kering kembali.



Kita lihat contoh di atas. Hanya dalam kurun waktu setengah hari saja, panas udara dan permukaan bumi bisa mengalami peningkatan suhu yang demikian tinggi. Apa jadinya kalau matahari tidak bergeser ke arah barat, tetapi tetap berada di atas kita terus-menerus?



Diperkirakan, dalam waktu 100 jam, air di permukaan bumi akan mulai, mendidih, dan banyak yang mulai menguap. Dan kemudian apa yang terjadi 100 jam berikutnya? Diperkirakan seluruh air di muka bumi sudah habis menguap, dan darah di tubuh kita pun ikut mendidih, Dengan kata lain, tidak ada kehidupan yang tahan di bumi yang hanya punya siang terus-menerus!



Lho, jadi tidak perlu menunggu sampai hari kiamat seperti retorika Allah dalam. firmanNya tersebut di atas? Ya, begitulah, cukup dengan 200 jam saja!

Sebenarnya Allah sudah tahu secara pasti bahwa seluruh kehidupan di muka bumi ini akan mengalami kemusnahan kalau di bumi hanya ada siang terus-menerus. Akan tetapi, Allah mempertanyakan kepada kita, dengan maksud untuk memancing perhatian kita. Dan kemudian memahami betapa besar kasih sayang Allah yang dicurahkan untuk kita semua ...



Sebaliknya, apakah yang terjadi jika Allah hanya menciptakan malam terus di bumi? Cobalah lihat suhu udara di daerah padang pasir, sebutlah di Arab Saudi. Pada keadaan normal, siang hari di sana bisa mencapai 50 derajat celsius, sedangkan malam hari bisa mencapai 14 derajat. Puncaknya adalah antara jam 12 malam sampai sekitar 2 dini hari.



Apakah yang terjadi dalam kurun waktu 100 jam setelah suhu terendah itu? Jika, matahari tidak pernah muncul lagi, alias malam terus, maka dalam kurun waktu itu suhu akan terus-menerus turun hingga mencapai 0 derajat, dimana air akan mulai membeku. Dan ketika diteruskan sampai 100 jam berikutnya, maka seluruh air di muka bumi akan membeku, termasuk cairan tubuh kita!



Jadi, sungguh sangatlah dahsyat dampak dari pergantian siang dan malam hari. Sebuah rutinitas yang tidak semua kita pernah memikirkannya. Karena itu Allah memancing kita untuk memahami. Apakah tujuan utamanya? Tak lain, agar kita sadar bahwa di balik terjadinya rutinitas pergantian siang dan malam hari itu terdapat sesuatu yang luar biasa yang berkait dengan Sebuah Kekuatan Besar yang mengendalikan alam sekitar kita, yaitu Sang Maha Perkasa.



Bahkan, kalau kita lihat lebih jauh.tentang pergerakan matahari, dampaknya bukan hanya pada pergantian siang dan malam hari saja. Pergerakan matahari sebenarnya ditentukan oleh dua hal : yang pertama oleh perputaran bumi pada porosnya atau pada dirinya sendiri. Dan yang kedua disebabkan oleh perputaran bumi pada orbitnya, yaitu perputaran bumi mehgelilingi matahari.



Perputaran bumi pada dirinya sendiri disebut juga Rotasi bumi. Sekali berputar, bumi membutuhkan waktu 24 jam. Inilah yang disebut sehari semalam. Akan tetapi jika kita amati lebih jauh, lamanya malam dan lamanya siang selalu bergeser-geser. Kadang lebih panjang malamnya. Kadang lebih panjang siangnya. Kenapa bisa demikian? Ini disebabkan oleh pergerakan bumi mengelilingi matahari, yang juga disebut Revolusi Bumi.



Satu kali revolusi bumi membutuhkan waktu 3651/4 hari. Atau disebut juga sebagai waktu setahun.

QS. Luqman (31):29

“Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah memasukkan malam kepada siang dan memasukkan siang kepada malam, dan Dia tundukkan matabari dan bulan masing-masing berjalan sampai waktu yang ditentukan, dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”



Efek dari pergerakan bumi mengelilingi matahari ini adalah terjadinya musim di permukaan bumi. Kita lihat, di negara-negara tropis terjadi musim hujan dan musim kemarau. Sedangkan di negara-negara sub tropis terjadi musim Salju, musim Semi, musim Panas dan musim Gugur. Kehidupan manusia di muka bumi menjadi demikian indah dan dinamis.



Pergerakan musim ini juga menyebabkan terjadinya waktu panen dan berbuah yang berbeda-beda. Di sekitar musim kemarau misalnya bermunculanlah buah-buah yang mengandung banyak air seperti Mangga, Belimbing, Melon, Semangka, Jeruk, dan lain sebagainya. Sedangkan di sekitar musim Hujan banyak buah-buahan seperti Durian, Apokat, Salak, Nangka, dan lain sebagainya. Semua buah-buahan itu bermanfaat bagi kehidupan dan kesehatan manusia, sesuai dengan musimnya.





3. Tanda-Tanda Kebesaran Allah



Saya kira semua sependapat, bahwa Allah tidak bisa kita lihat, tidak bisa kita dengar, atau kita observasi dengan seluruh panca indera kita. Kenapa demikian? Ya, karena panca indera kita sangat terbatas kemampuannya.



Jangankan melihat Allah, melihat matahari saja mata kita akan langsung buta! Jangankan mendengar Allah, mendengar ledakan petasan di dekat telinga saja, kita akan tuli. Jadi begitu lemahnya panca indera kita. Maka, jangan berharap kita bisa ‘bertemu’ Allah dengan menggunakan panca indera kita. Allah hanya bisa kita ‘lihat’ sekaligus kita ‘dengar dan rasakan’ hanya dengan hati atau kalbu. ‘Penglihatan’ dengan hati ini akan kita bahas di bagian lain.



Lantas apa yang bisa kita perbuat dengan panca indera berkaitan dengan pendekatan kita kepada Allah? Yang bisa kita observasi lewat panca indera dan akal kita hanyalah ‘tanda-tandaNya’ atau dalam bahasa Al Quran disebut ‘ayat-ayatNya’.



Suatu ketika, nabi Musa as pernah ingin melihat Allah, agar hatinya semakin yakin. Allah sudah mengatakan bahwa Musa tidak akan mampu melihat Allah. Tetapi beliau 'ngotot' untuk bisa melihatNya. Maka, Allah pun memenuhi keinginan nabi Musa.



Tapi apa yang terjadi? Allah baru menampak kan cahayaNya saja, gunung Sinai tempat berpijak nabi Musa mengalami gempa vulkanik yang luar biasa dahsyat. Sehingga Musa pun terpental dan pingsan. Setelah siuman, beliau baru menyadari bahwa manusia tidak mungkin melihat Allah dengan panca inderanya. Jangankan manusia, alam semesta pun tidak mampu menerima Eksistensi Dzat Yang maha Besar dan Maha Agung itu.



QS. Al A'raaf : 143

“Dan ketika Musa datang untuk (bermunajat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman kepadanya, berkatalah Musa .. Ya Tuhanku, nampakkanlah (DiriMu) kepadaku agar aku dapat melibatMu. Tuhan berfirman : Kamu sama sekali tidak akan mampu melibatKu, tapi lihatlah bukit itu, jika ia tetap di tempatnya, maka kamu akan mampu melihatKu. Ketika Tuhan menampakkan Diri kepada gunung itu, maka hancurlah gunung itu, dan Musa pun pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata : Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepadaMu dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman.”



QS. Asy Syuura : 51

“Dan tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengannya kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir, atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizinNya apa yang Dia kehendak. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.”



Jadi, manusia demikian ringkihnya di hadapan Allah. Kalau manusia ingin berkenalan dengan Allah, itu bisa dilakukan melalui ‘tanda tanda’ yang tersebar di alam semesta dan termaktub di dalam Al Quran. Yang pertama disebut sebagai Ayat Kauni dan yang kedua disebut sebagai Ayat Qurani. Kedua-duanya berfungsi sama, yaitu menuntun kita untuk lebih memahami Allah, mengenalNya, berinteraksi, dan lantas kembali : menyatu dengan Dzat Yang Maha Tunggal lagi Maha Agung.



Apakah bentuk tanda-tanda itu? Kalau yang berada di dalam Al Quran, kita bisa langsung membacanya. Kemudian menganalisisnya sesuai dengan ilmu bahasa dan tafsir. Akan tetapi, sebagaimana telah saya sampaikan sebelumnya, bahwa penafsiran Quran dari sisi bahasa saia tidaklah cukup untuk mengenal Allah. Kita harus memadukannya dengan ayat-ayat yang tersebar di alam semesta.



Coba bayangkan bagaimana kita bisa memahami langit yang tujuh, misalnya, kalau kita tidak belajar ilmu Astronomi. Atau, bagaimana pula kita bisa beriman kepada hari kiamat, kalau kita tidak memahami mekanisme kiamat tersebut dari data-data empirik ilmu pengetahuan. Dan, bagaimana juga kita bisa menafsirkan QS. Al Ma'arij : 4, Yang bercerita tentang relativitas waktu malaikat dan manusia, kalau kita tidak belajar rumus-rumus relativitasnya Einstein, dst. Begitu banyaknya ayat-ayat Allah di dalam Al Quran yang tidak bisa kita pahami, tanpa memadukannya dengan data-data ilmu pengetahuan modern.



Selain melakukan pendekatan lewat ayat-ayat Quran, kita juga bisa langsung mengobservasi ayat-ayat tersebut dari ayat Kauniah yang tersebar di seantero alam ini. Hal inilah yang dilakukan oleh nabi Ibrahim, ketika mencari Tuhan. Akhirnya beliau bertemu dengan Allah setelah bereksperimen secara trial and error, seperti digambarkan Allah berikut.





QS Al An'aam : 76-79

“Ketika malam telah menjadi gelap dia melibat sebuab bintang (lalu) dia berkata : Injah Tuhanku. Tapi tatkala bintang itu tenggelam, dia berkata aku tidak suka kepada yang tenggelam.



“Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit, dia berkata : Inilah Tuhanku. Tapi setelah bulan itu terbenam dia berkata : Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku pastilah aku termasuk orang orang yang sesat.”



“Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata : Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar. Maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata hai kaumku sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.”



"Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuban.”



Bayangkan beliau, yang rasul kesayangan Allah itu, pernah mengira bahwa bintang, bulan, dan matahari adalah Tuhan. Meskipun, akhirnya beliau menemukan bahwa semua itu hanyalah ciptaanNya belaka. Tetapi, beliau sempat melakukan kekeliruan-kekeliruan dalam mencari Tuhan. Tidak langsung final, ketemu. Tidak apa-apa. Semua ada prosesnya. Yang penting konsisten dan serius mencari Allah, Insya Allah Dia akan membimbing hambaNya yang ingin bertemu denganNya.



Betapa banyaknya para ilmuwan yang bertemu Tuhan karena melihat kedahsyatan ilmu Allah di alam semesta. Bayangkan misalnya, bagaimana kita tidak ‘terperangah’ melihat jantung yang ada di dalam dada kita terus berdenyut tanpa ada baterainya, sejak di dalam rahim pada bulan pertama. Ini sebuah keganjilan, bagi orang-orang yang mau berpikir.



Ketika bayi masih di dalam rahim, paru-parunya juga belum bekerja. la mendapat makanan dari sang ibu lewat ari-arinya (plasenta). Tapi, begitu lahir, si bayi ini kemudian ditepuk-tepuk oleh si bidan, dan akhirnya paru dan jantungnya bekerja. Kerja jantung dan paru itu terus terjadi tak pernah berhenti sepanjang usianya. Ini sungguh sebuah ‘fenomena’ yang sangat dahsyat menyangkut kehidupan manusia, yang bisa membawa kita untuk berkenalan dengan Sang Maha Pencipta.



Atau pernahkah kita berpikir, kenapa bumi ini terus berputar pada porosnya? Darimanakah perintah untuk berputar itu datang? Dan dari mana pulahkah energi yang digunakan untuk berputar terus selama miliaran tahun itu? Apakah Anda menangkap keganjilan ini.



Padahal kalau bumi ini tidak berputar (berotasi) pada porosnya, di bumi ini tidak akan terjadi kehidupan. Ya, karena di bagian yang menghadap matahari akan terjadi siang terus-menerus. Sedangkan yang membelakangi matahari akan terjadi malam terus. Apa akibatnya, sudah kita bahas di bagian sebelumnya.



Kita melihat ada sebuah campur tangan yang luar biasa dahsyat, untuk memutar bumi selama miliaran tahun. Besarnya energi pemutar itu, tak akan pernah terbayangkan oleh pikiran kita. Apalagi selama kurun waktu miliaran tahun. Kalau seandainya, semua batubara, minyak, bahan bakar nuklir, dan seluruh sumber energi yang ada di bumi ini dibakar untuk memutar bumi itu, maka sudah bisa dipastikan tidak akan mencukupi!



Padahal kita tahu, bukan hanya bumi yang berputar atau berotasi. Bulan juga berputar; selain pada dirinya sendiri, ia juga mengelilingi bumi. Bumi mengelilingi matahari. Matahari berputar juga mengelilingi pusat galaksi. Dan seluruh galaksi yang jumlahnya miliaran itu, juga berputar putar mengelilingi pusat Superkluster dan alam semesta. Subbanallaah, betapa besarnya kekuatan yang terlibat dalam pergerakan benda benda di jagad raya ini!

QS. Ar Ra'du (13) : 2

“Allah lah yang meninggikan langit tanpa tiang, yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar bingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan, menjelaskan tanda-tanda, agar kamu meyakini pertemuan dengan Tuhanmu”



Kembali kepada tanda-tanda kebesaranNya, masih demikian banyak tanda-tanda Kebesaran Allah di alam semesta ini yang bisa kita jadikan ‘Jalan’ untuk lebih mengenalNya. Bahkan jumlahnya tak berhingga.



Di pepohonan yang sedang berbuah dan bermekaran bunganya, terdapat tanda-tanda Kebesaran Allah. Di atmosfer bumi yang memayungi kita dari ancaman meteor-meteor, juga terserak ayat-ayat Allah. Di miliaran jenis binatang laut, darat dan udara yang begitu indah juga terdapat bukti-bukti kebesaranNya.



Bahkan, di sekujur tubuh kita : di setiap tarikan nafas kita, di aliran darah dan denyut jantung, di rambut, di mata, telinga dan seluruh panca indera, sampai kepada bisikan hati yang paling dalam. Semuanya memberikan tanda-tanda Kebesaran Allah kepada orang-orang yang mau berpikir. Tak akan pernah selesai kita tuliskan, meskipun menggunakan tinta dari tujuh lautan, seperti difirmankan Allah...

QS. Luqmaan (31) : 27

“Dan Seandainya pohon-pohon di bumi Menjadi Pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering) nya, niscaya tidak akan habis habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”





4. Selalu Berpikir Tentang Allah.



Kata kunci Yang berikutnya dalam memahami QS. Ali Imran : 190-191 adalah ‘selalu berpikir tentang Allah’. Penggalan kalimat ini juga sangatlah mendalam. Lagi-lagi Allah ingin mengajak kita untuk berinteraksi denganNya.



Bayangkan firman yang disampaikan Allah dalam ayat tersebut : "...yaitu orang-orang yang selalu berpikir dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring, ia selalu memikirkan tentang kejadian langit dan bumi... "



Seakan-akan Dia ingin mengatakan kepada kita bahwa kunci kedekatan seorang Hamba dengan Tuhannya, salah satunya, adalah selalu berpikir tentang Allah, lewat ayat-ayatNya yang terserak di seluruh penjuru alam ini. Nabi Ibrahim melakukan itu sepanjang hayatnya. Nabi Musa juga. Demikian pula nabi Muhammad, sejak beliau berada di Gua Hira' sampai akhir hayatnya.



Berpikir adalah salah satu kunci kedekatan kita dengan Allah. Ini menunjukkan bahwa Allah sangat menghargai pikiran kita. Orang yang tidak berpikir dan tidak menggunakan akalnya, termasuk golongan yang dimurkai Allah.

QS. Yunus (10) : 100

“Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.”



QS. Al Baqarah (2)

“Allah menganugerahkan al hikmah kepada siapa yang Dia kebendaki, Dan barangsiapa yang dianugerahi, al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran.”



Kita juga tahu, bahwa agama ini memang diperuntukkan bagi makhluk yang berakal. Sebagai contoh tumbuhan dan binatang, yang tidak berakal, tidak dikenai kewajiban beragama. Demikian pula, manusia yang dalam keadaan pingsan, mabuk, gila, atau mati suri dimana akalnya tidak jalan juga tidak dikenai kewajiban beragama. Sangat jelas bahwa agama hanya cocok untuk makhluk yang berakal.



Karena itu, Allah juga secara tersirat maupun tersurat, menegaskan bahwa kita harus berpikir untuk menjalani agama ini. Apalagi untuk ‘bertemu’ dengan Allah.



Nah, dalarn ayat tersebut bahkan dikatakan tidak cukup berpikir hanya kadang-kadang saja. Berpikir harus total, sepanjang waktu kita. Baik dalam keadaan sedang berdiri, duduk, tidur tiduran, dan apa pun aktifitas kita. Semuanya harus diorientasikan kepada Allah. Itu kalau kita ingin bertemu dengan Nya.



Apakah esensi dari aktifitas berpikir yang seperti itu? Intinya, kita harus menghubungkan setiap aktifitas kita apa pun bentuknya, semata-mata Lillaahi Ta'ala. Tidak ada tujuan lain dalam hidup kita kecuali untukNya. Mulai dari bangun tidur, shalat Subuh, olahraga pagi, sarapan, bekerja, istirahat, belanja, dan seterusnya sampai kita tidur kernbali, harus berorientasi kepada Allah. Bahkan tidur itu sendiri, harus berorientasi kepada Allah.



Ada sebuah kisah menarik pada jaman Rasulullah. Pada suatu ketika, Rasulullah shalat berjamaah dengan para sahabat. Usai shalat berjamaah, ada sahabat yang masih melanjutkan dengan shalat-shalat sunnah, dan ada pula yang berbaring melepas lelah kemudian tertidur di serambi masjid.



Tiba tiba saja, Rasulullah melihat ada setan masuk ke dalam masjid. Apa yang dilakukan setan itu? Ternyata ia mencoba mengganggu orang yang sedang shalat. Kemudian, oleh Rasulullah setan itu ditangkapnya. Beliau mengumpulkan beberapa sahabat, dan menjelaskan bahwa ada setan yang tertangkap karena sedang mencoba menggoda sahabat yang sedang shalat.



Di hadapan para sahabat, Rasulullah bertanya kepada si setan : kenapa ia mengganggu orang yang sedang shalat. Apakah ia tidak takut, Dan kenapa tidak mengganggu orang yang sedang tidur?



Apa. jawab si setan? la mengatakan: bahwa ia justru takut untuk mengganggu orang yang tertidur itu, karena si orang yang sedang tidur hatinya sedang berdzikir kepada Allah. Sedangkan orang yang shalat itu, hatinya tidak khusyuk. Bahkan teringat segala macam aktivitas keduniaannya ...



Kenapa berpikir menjadi kunci dari keberhasilan proses pendekatan kita kepada Allah? Tidak bisakah kita tanpa berpikir lantas bisa dekat dengan Allah?



Rasanya sulit untuk mengatakan bahwa tanpa berpikir manusia bisa mendekatkan diri kepada Allah. Allah sendiri berulang-ulang mengatakan di dalam Al Quran bahwa manusia harus berpikir, dan Dia sangat menghargai orang orang yang berpikir dengan baik. Berpikir menunjukkan bahwa kita hidup. Orang yang sudah tidak bisa berpikir, pada hakikatnya dia sudah ‘mati’. Dan orang yang sudah mati, tidak dikenai lagi kewajiban beragama.

Allah mengatakan di dalam QS Al Israa (17) : 36

“Dan janganlah kalian mengikuti apa-apa yang kalian tidak memiliki ilmunya. Sesungguhnya Pendengaran, Penglihatan dan hati, semua itu akan diminta Pertanggungjawabannya.”



Artinya kita tidak boleh ikutan-ikutan saja dalam mengerjakan sesuatu. Itu bisa berbahaya, dan lantas kita sulit untuk mempertanggung jawabkannya. Harus punya ilmunya, kata Allah. Itu artinya kita harus banyak-banyak berpikir.



Dan kalau kita membaca Al Quran, betapa banyaknya Allah menyindir kita dengan kalimat-kalimat : afalaa ta’qiluun (apakah kalian tidak berakal) afalaa yandzuruuna (Apakah kalian tidak melakukan observasi), afalayatafakkaruun (apakah kalian tidak berpikir), dan lain sebagainya.



Berpikir menjadi entry point (pintu masuk) bagi proses pendekatan kita kepada Allah. Seseorang tidak akan memiliki keimanan yang kuat kalau tidak melalui proses berpikir. Hal ini sudah ditunjukkan oleh para nabi besar, seperti Ibrahim, Musa dan Muhammad. Memang, para nabi itu memperoleh ilmunya tidak lewat berguru, tetapi lewat wahyu dari Allah, yang langsung masuk ke kalbunya. Akan tetapi, semua itu selalu didahului dengan sebuah proses berpikir secara total, yang cukup panjang.



Nabi Ibrahim misalnya lewat proses dialognya dengan alam semesta. Nabi Musa dengan ‘bertapa’ di gunung Sinai. Dan nabi Muhammad lewat proses berkhalwat di gua Hira'. Semua itu adalah proses awal berupa perenungan-perenungan untuk memperoleh ilmu yang sangat tinggi dan mendalam. Maka kalau kita ingin memperoleh kedekatan dengan Allah lakukanlah apa-apa yang telah dialami oleh para nabi besar itu. Atau dalam konteks ini, jalankanlah apa yang diisyaratkan Allah dalam QS Ali Imran 190-191 tersebut : selalu berpikir dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring…, apa pun aktifitas kita.









5. Tidak Ada Yang Sia-Sia



Orang yang disebut sebagai 'Ulil Albab' di dalam wahyu itu akhirnya memiliki kesimpulan : Rabbanaa maa kbolaqtabaadzaa baatila , Ya Tuhanku, tidak sia-sia segala yang Engkau ciptakan ini ...



Kapankah seseorang bisa memiliki kesimpulan bahwa segala sesuatu yang dia pelajari itu tidak sia-sia? Jawabnya hanya satu, yaitu ketika dia sudah sangat memahami tentang apa yang dia pelajari. Barulah dia bisa mengatakan bahwa ternyata segala yang dicipta oleh Allah semuanya ada manfaatnya. Betapa mendalamnya kalimat ini...



Orang yang belum mengerti tentang apa yang dia pelajari dia tidak akan bisa mengatakan bahwa sesuatu itu bermanfaat alias tidak sia sia. Jadi, bisakah Anda bayangkan bahwa wahyu Allah tersebut seakan akan menggambarkan sebuah kurun waktu yang sangat panjang dalam kehidupan seseorang. Barangkali sepanjang usianya.



Di ayat itu, sang pemikir digambarkan selalu gelisah untuk bisa bertemu dengan Allah. Karena itu ia selalu berpikir tentang tanda-tanda kebesaranNya sepanjang hidupnya. Baik, ia sedang berdiri, duduk, bahkan tidur. Ketika ia sedang susah maupun senang. Ketika sedang sendiri maupun sedang beramai-ramai. Dan, segala aktivitas kehidupannya.



Setelah berpuluh-puluh tahun kemudian sebagaimana Ibrahim akhirnya ia mendapatkan satu kesimpulan bahwa Allah memang Sang Pencipta Yang Maha Pintar dan Maha Bijaksana. Tak ada satu benda pun yang tidak bermanfaat di alam semesta ini. Barangkali, kalau aktivitas berpikirnya itu dibukukan, itu akan menjadi sebuah informasi ilmu pengetahuan yang hebat dan dahsyat. Kenapa demikian? Ya, karena kesimpulannya mengatakan bahwa ia sangat paham dengan fakta yang terserak di alam semesta ini, dan bisa berkata : Tidak sia-sia segala yang ada ...



Begitulah Allah memancing kita untuk mempelajari alam semesta ciptaanNya. Hasil akhirnya, bukannya sekadar kita puas dengan ilmu yang kita peroleh, melainkan kita mendapatkan satu kesimpulan esensial, yaitu lebih mengenal Dzat, Sang Penguasa Semesta.

Saya yakin, bahwa kita masih sering menganggap sesuatu yang terjadi di sekitar kehidupan kita adalah sia‑sia. Atau setidak‑tidaknya biasa‑biasa saja. Tidak ada gunanya. Dan tidak memberikan tanda‑tanda bagi eksistensi serta keterlibatan Allah.



Ambil saja centoh. Allah mengatakan bahwa Dia tidak merasa malu menciptakan nyamuk. Apakah kita pernah berpikir bahwa nyamuk adalah ciptaan Allah yang luar biasa rumit dan memiliki peran dalam kehidupan kita?



QS Al Baqarah (2) : 26

“Sesungguhnya Allah tidak malu membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu...”



Sampai saat ini tidak ada seorang ahli robot pun yang bisa meniru membuat nyamuk. Seluruh ilmu pengetahuan sepanjang peradaban manusia belum cukup untuk digunakan membuat nyamuk. Untuk meniru gerakan kakinya saja, para ahli robot terkemuka di dunia tidak bisa menirunya. Apalagi meniru alat penglihatannya, pencernaannya, sayapnya, instinknya dan seluruh proses metabolisme yang menyebabkan dia hidup dan berkembang biak.



Belum lagi peran dalam ekosistem kehidupan kita. Keterlibatannya dengan berbagai macam penyakit, yang lantas memberikan kontribusi pada kehidupan sosial dan kesehatan manusia. Seekor nyamuk bisa menghabiskan umur kita untuk memahaminya lewat sebuah penelitian yang panjang. Dan akhimya kita akan mengatakan bahwa Allah tidak sia‑sia menciptakan nyamuk dalam kehidupan di muka bumi ini.



Atau pernahkah kita berpikir tentang lebah? Darimana ia memperoleh instink untuk 'memproduksi' madu yang ternyata bisa menjadi obat itu? Berapa nilai ekonomi dan kesehatan yang telah dihasilkan oleh serangga yang hidup bergerombol bersama sang ratu lebah itu.



Bahkan, bukan hanya makhluk berupa binatang atau tumbuhan saia yang menarik untuk dipikirkan. Kejadian‑kejadian yang melingkupi kehidupan kita pun tidaklah ada yang sia‑sia. Semuanya mengandung pelajaran dan hikmah untuk kita ambil sebagai pelajaran dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah.



Suatu ketika ayah teman saya mengalami kecelakaan sampai meninggal dunia. Kejadiannya sendiri memang terkesan 'aneh'. Setiap pagi, dia selalu berangkat ke toko tempat dia jualan pukul 07.00. Pada hari itu, entah apa yang menyebabkan dia enggan berangkat pada jam seperti biasanya. Dia sudah keluar rumah untuk berangkat tetapi ditundanya, dan dia masuk kembali ke rumah. Sejam kemudian dia baru berangkat. Dan ketika dia menyeberang jalan menuju ke tokonya, dia tertabrak mobil. Kemudian meninggal dunia.



Sepintas lalu kita, akan mengatakan bahwa hal itu adalah biasa saja. Akan tetapi kalau kita cermati, kita lantas bisa bertanya‑tanya : kenapa dia menunda kebiasaannya pergi pukul tujuh pagi, sehingga bertepatan dengan mobil yang melintas di jalan itu, dan kemudian menabraknya. Siapakah yang membuat semua itu terjadi secara tepat waktu? Apakah semua itu kebetulan? Padahal kalau kejadian itu berbeda 1 menit saja, kecelakaan itu tidak terjadi.



Rasanya tidak ada yang ‘kebetulan’ dalam hal ini. Setiap detik telah diperhitungkan Allah untuk mempertemukan kejadian itu. Kecepatan langkah sang ayah dan kecepatan mobil penabrak berjalan demikian akurat, sehingga bertemu di tempat kejadian itu. Meleset sedikit saja, maka kecelakaan itu tidak akan terjadi.



Maka, dengan beberapa contoh di atas, saya ingin mengatakan bahwa segala kejadian yang berlangsung di sekitar kita tidak ada yang kebetulan dan tidak ada yang sia-sia. Semuanya berlangsung dalam sebuah skenario yang sangat teliti dan ada hikmahnya.



Kita makan, minum, tidur, bekerja, tersandung, kesedak, sakit, menikah, punya anak, dapat rezeki, dan segala macam aktivitas kita, tidaklah ada yang kebetulan dan sia-sia. Sekali lagi, semuanya terjadi dalam frame yang jelas dan dengan tujuan yang jelas pula.



Inilah kira kira Yang bisa kita petik dari penggalan ayat dalam wahyu tersebut. Pemahaman yang komprehensif terhadap segala yang ada justru akan membawa kita kepada suatu kesimpulan yang terfokus pada Kekuasan Allah, sang Maha Perkasa.





6. Maha Suci Allah



Kalimat Subhanallaah di dalam agama Islam dianjurkan untuk diucapkan ketika kita melihat sesuatu yang mempesona atau sesuatu yang luar biasa. Maka, ketika sang pemikir mengucapkan kalimat itu di akhir wahyu tersebut, kita menangkap nuansa bahwa ia sedang terpesona oleh Keagungan dan Kebesaran Allah.



Situasi ini konsisten dengan kalimat sebelumnya, di atas, di mana ia mengatakan tidak sia-sia segala yang diciptakan Allah. Kedua duanya memberikan kesan kepada kita bahwa sang pemikir telah melakukan sebuah proses berpikir dan pengamatan yang sangat mendalam, sehingga ia sampai terpesona. Orang yang sekedar berpikir asal-asalan tidak akan pernah mencapai tingkatan terpesona. Orang hanya bisa terpesona ketika dia sangat menghayati kenyataan luar biasa yang sedang dihadapinya ... !



Maka, lagi-lagi kita menemukan bahwa wahyu yang diturunkan Allah kepada nabi Muhammad itu memang memiliki makna yang luar biasa dahsyatnya, sehingga Rasulullah pun menangis semalaman...



Di dalam Al Quran Allah memberikan banyak gambaran tentang makhluk yang bertasbih, me Maha Suci kan Allah. Ada suatu kesan yang kuat bahwa mereka yang me Maha Suci kan Allah itu adalah mereka yang telah begitu memahami bahwa Allah memang benar-benar Tuhan semesta alam.



QS. Al Israa’ (17) : 44

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada satu pun melainkan bertasbih dengan memujiNya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah maha Penyantun lagi Maha Pengampun.”



Kalau kita mencoba mencermati firman di atas, maka kita akan mengambil kesimpulan bahwa yang disebut tasbih dalam hal ini bukanlah sekedar mengucapkan Subhanallah. Kenapa demikian? karena

kalimat di atas memberikan gambaran kepada kita bahwa benda-benda mati pun seperti langit dan bumi, dan segala macam isi alam semesta ternyata bertasbih kepadaNya.



Tentu kita semua tahu bahwa benda-benda itu tidak bisa berkata kata, seperti manusia. Termasuk tentu saia mereka tidak bisa mengucapkan subhanallah. Apalagi lantas Allah memberikan penegasan Pada kalimat berikutnya, bahwa kita kebanyakan manusia tidak mengerti tasbih mereka. Karena mereka memiliki caranya sendiri untuk mentasbihkan Allah.



Yang mengerti tentang tasbih mereka, hanya sebagian kecil saja dari kita. Termasuk sang 'Ulil Albab' yang selalu mencermati dan berpikir tentang ayat-ayat Allah di alam semesta. Hanya orang-orang semacam dialah yang mengetahui bahwa alam semesta ini sedang bertasbih kepada Allah. Sehingga dia pun akhirnya mengucapkan kalimat yang sama : Maha Suci Engkau ya Allah sebagaimana bagian akhir QS Ali lmran 191.



Di bagian yang lain, Allah juga memberikan gambaran bahwa alam semesta ini bertasbih bersama orang-orang yang berilmu pengetahuan seperti nabi Daud dan nabi Sulaiman.

QS. Al Anbiyaa' (21) : 79

“Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum, dan kepada masing-masing mereka (Daud dan Sulaiman) telah Kami, berikan hikmah dan ilmu, dan telah Kami tundukkan gunung gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. Dan Kamilah yang melakukannya.”



Maka, barangkali kita boleh mengambil kesimpulan bahwa hakikat tasbih yang dimaksudkan oleh Allah di dalam berbagai ayat Quran bukanlah sekedar berucap Subhanallah, melainkan lebih kepada pengakuan atas ke Maha Perkasaan Allah, sehingga seluruh isi alam ini tunduk dan patuh kepadaNya. Kepada hukum alam yang ditegakkanNya. Serta kepada seluruh sunnatullahNya.



Bagaimana mungkin kita bisa memberikan pengakuan tentang Keperkasaan Allah tanpa mempelajari dan memahami alam sekitar kita? Tentu saja sulit, karena pengakuan terhadap Kehebatan Allah hanya bisa muncul kalau kita melakukan proses pemahaman atas segala ciptaanNya. Kecuali, Para Nabi yang memperoleh Wahyu dariNya, langsung dimasukkan ke dalam kalbunya.



Berulang-ulang Allah menceritakan tasbih Para makhlukNya di dalam Al Quran. Mulai dari para malaikat, langit yang tujuh, hamparan bumi dan gunung-gunung, burung yang beterbangan, awan yang berarak, hujan dan salju, pergantian siang dan malam hari, penciptaan binatang-binatang melata, dan segala macam isi alam semesta ini. Lagi lagi semua itu menegaskan bahwa ‘ketaatan’ seluruh isi alam dalam mengikuti sunnatullah itulah yang menjadi bukti Kemahasucian Allah. QS. An Nuur (24) : 41-46

“Tidakkah kamu tabu bahwasannya Allah, kepadanya bertasbih apa yang di langit dan di bumi, dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembabyang dan tasbihnya. Dan Allah Maha Mengetabui apa yang mereka kerjakan.”



“Dan kepunyaan Allah lah kerajaan langit dan bumi dan kepada Allah lah semuanya kembali”



“Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah celahnya, dan Allah juga menurunkan es dari langit, dari gunung gunung, maka ditimpakanNya es itu kepada siapa yang dikehendakiNya dan dibiarkanNya dari siapa yang dikehendakiNya. Kilatan awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan.”



“Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran yang benar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan.”



“Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya, dan sebagian berjalan dengan dua kaki, sedang sebagian yang lain berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendakiNya, sesungguh-nya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”



“Sesungguhnya Kami telah menurunkan ayat-ayat yang menjelaskan. Dan Allah memimpin siapa yang dikebendakiNya kepada jalan yang lurus.”



Seluruh benda mati di alam semesta ini dengan sendirinya sudah mengakui ke Maha Sucian Allah, karena eksistensi mereka seluruhnya telah mengikuti hukum alam alias sunnatullah. Termasuk seluruh bagian dan organ dalam tubuh kita. Detak jantung kita, nafas dan paru kita, ginjal dan hepar, pencernaan, otak, saraf, dan seluruh sel-sel serta miliaran molekul dan atom di dalam tubuh kita, semuanya telah bertasbih kepada Allah.



Lantas, kenapa kita masih 'dituntun' oleh Allah untuk bertasbih kepadaNya? ya, karena jiwa kita telah terkungkung dalam badan kemanusiaan yang serba terbatas dan berkutub dua: yaitu ‘kemuliaan’ dan'hawa



nafsu'. Kesadaran kita terus bergerak di antara dua/ kutub itu.



Ketika, kesadaran kita meningkat rnenu~‑. kepada 'kemuliaan', maka kita lantas bisa 'melihitt kenyataan, kehidupan yang sesungguhnya. Sebaliknya. kalau'kesadaran'kita menurun menuju kepada hawa nafsti, maka kita lantas kehilangan'penglihatan'.kita untuk melihat kehidupan yang sesungguhnya.



Dalam sudut pandang yang lain, kita bisa mengatakan bahwa tubuh manusia ini menyebabkan kernampuan kita serba terbatas. Padahal kita sebenarnya memiliki potensial ruh yang serba'tidak terbatas', karena ruh adalah potensi Itahiah. Maka ketika kita terlalu mernanjakan pernenuhan kebutuhan raga saia, seperti makan, minum, harta, seksualitas, kekuasaan, dan sebagainya, kita akan tetjebak kepada hawa nafsu.



Sebaliknya, kalau kita bisa mernandang bahwa kebutuhan raga itu hanyalah sebuah 'perantara' saia dan kebutuhan ruh adalah utarna ‑ maka kita akan mencapai deraiat kemuliaan, dalarn hidup yang sesungguhnya.



Disinilah, karena potensi ruh kita telah terkungkung dalarn eksistensi kernanusiaan kita, maka kualitas kesadaran kita bisa naik turun antara Kernuliaan dan hawa nafsu yang membawa pada Kehinaan. Sehingga , lantas Allah mengingatkan kepada kita bahwa Kesadaran ruh harus terus ditingkatkan.



Caranya adalah dengan terus menerus menghubungkan 'kesadaran' ruh kita dengan Sang Maha Pencipta. Akhirnya, diharapkan kita bisa memperoleh sebuah 'kesadaran semesta' bahwa segala eksistensi ini sebenarnya adalah kecil yang besar dan penting hanya Allah saja ...





7. Hindarkan Kami Dari Siksa Api Neraka



Dan kalimat yang terakhir dari wahyu itu adalah permohonan untuk dihindarkan dari siksa api neraka. Kenapa sang Pemikir ‑ yang dijadikan tokoh dalam wahyu itu ‑ melakukan permohonan tersebut? Saya menangkap kesan bahwa dia telah mengakui kebodohannya selama ini, yang tidak bisa memahami keluar biasaan tanda‑tanda Kebesaran Allah yang ada di sekitarnya. la sangat menyesalinya ...



Betapa tidak, hamparan kekuasaan Allah demikian nyata di hadapannya, namun selama ini ia tidak mampu menangkapnya. Ini bagaikan sebuah sindiran kepada kita semua, bahwa kebanyakan kita tidak memiliki kepekaan untuk menangkap tanda‑tanda Kebesaran Allah itu. Maka, Rasulullah pun merasa malu atas sindiran Allah itu, sehingga beliau menangis semalaman.



Bagaimanakah dengan kita? Apakah kita bisa menangis membaca firman Allah itu? Atau, setidak-tidaknya bergetarkah hati kita? Kalau tidak, maka ini bagaikan sebuah sindiran untuk kita. Allah mengatakan bahwa orang‑orang yang beriman itu ciri‑cirinya adalah hatinya gampang bergetar ketika disebut nama Allah.



QS‑ Al Anfal (8) : 2



“Sesungguhnya orang‑orang yang beriman itu adalah mereka yang jika disebut nama Allah, hati mereka bergetar, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat‑ayatNya: bertambahlah iman mereka, dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal.”



Dari sisi lainnya, kita juga memperoleh kesan bahwa orang orang yang tidak bisa menangkap, sindiran Allah dalam wahyu itu akan terkena ‘adzab neraka’. Karena itu, sang tokoh di dalam ayat tersebut berdoa kepada Allah untuk dihindarkan dari api neraka. Sebaliknya, orang-orang yang bisa memetik pelajaran dari wahyu tersebut akan bisa, terhindar dari api neraka.



Kenapa orang-orang yang tidak bisa memetik pelajaran akan terkena azab neraka? Karena, sesungguhnya dia tidak bisa memahami hakikat beragama Islam. Apa hakikatnya? Sesuai dengan ringkasan ayat tersebut, bahwa mereka yang bisa tehindar dari api neraka adalah orang orang ‘tidak mati’ hatinya sepanjang hidupnya.



Karena Allah berulangkali mengatakan di dalam firmanNya, betapa banyaknya manusia yang sudah ‘mati’ justru ketika dia masih hidup. Hatinya tidak digunakan untuk memahami pelajaran dari proses kehidupan yang dijalaninya.



QS. Al A'raaf (7): 179

“Dan sesungguhnya Kami jadikan isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak digunakan untuk memahami (ayat ayat Allah), dan mereka mempunyai mata tidak digunakan untuk melihat (tanda tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak digunakan untuk mendengar (ayat ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”



Maka orang-orang yang demikian ini, seperti orang yang tidak tahu jalan kemana mereka sedang menuju. Lantas, kehidupannya tidak ditata dengan strategi yang baik, sesuai dengan tujuan jangka panjangnya. Sehingga, kalau demikian keadaannya, mereka sangat gampang terjebak dalam kehidupan duniawi yang serba semu. Dianggapnya segala kenikmatan dunia ini adalah tujuan akhir dari kehidupannya. Padahal, kehidupan yang sesungguhnya adalah di akhirat. Di dunia ini, kita hanya hidup dalam kurun waktu puluhan tahun saja. Tetapi di akhirat nanti kita akan hidup dalam kurun waktu tak terhingga. Hidup di dunia, justru untuk mempersiapkan segala sesuatu untuk bekal hidup di akhirat nanti.



Bahkan, di dalam ayat di atas Allah menggunakan sindiran yang agak 'keras' tetapi realistis. Bahwa mereka yang tidak bisa mengambil pelajaran dari sekitarnya bagaikan binatang ternak, yang memang tidak berakal. Hidup mereka mengelinding saja, apa adanya, tanpa tujuan yang jelas. Apalagi untuk selalu meningkatkan kualitas dari hari ke hari seperti di ajarkan Rasulullah.



Jadi, dengan diskusi kita yang serba ringkas ini, saya harap kita memperoleh pemahaman yang memadai terhadap beberapa kata kunci di dalam wahyu tersebut. Sehingga kita lantas bisa mengerti kenapa Rasulullah menangis sedemikian rupa sepanjang malam, ketika wahyu itu turun kepada beliau.



Harapannya adalah, hal ini bisa terjadi juga kepada kita. Caranya adalah dengan berusaha, untuk lebih memahami dan menghayati makna ayat tersebut secara mendalam sehingga kita bisa merasakan hati kita bergetar getar ketika membacanya. Dan syukur, jika sampai melelehkan air mata, karena merasakan kedekatan, yang luar biasa dengan Allah Azza wa Jalla...(Dahlia Putri)
 
Terimakasih Atas kunjungan Anda, Semoga Semuanya Dapat Memberikan Manfaat Bagi Kita Semua