(Persembahan Untuk Para Sahabat)
Sahabat adalah dorongan ketika engkau hampir berhenti, petunjuk jalan ketika engkau tersesat, membiaskan senyuman sabar ketika engkau berduka, memapahmu saat engkau hampir tergelincir dan mengalungkan butir-butir mutiara doa pada dadamu...Ikhwan and akhwat...moga hati kita dipertautkan karena-Nya
Terimakasih Telah Menjadi Sahabat Dalam Hidup kami

rss

Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Mei 2008

Seuntai Hikmah Jihad Umar Bin Khatab

Ayunkan pedang semarak Islam. Wahai bintara kesuma bangsa. Janganlah sayang nyawa dan harta. Tinggalkan untuk sementara. Lihatkan surga berhias. Ainulmardiyah pemberian Allah. Di sana kekal selama-lamanya. Sebelum runtuh langit dan bumi. Sebelum ajal datang menyerang. Lebih baik kita maju menerjang. Tak usah bimbang wahai perwira. Bila tiba mata pedang menyala. Semuanya tak berguna lagi. Orang musyrik musnahkan kita. Lebih baik sekarang kita berjuang. Jangan ragu jangan bimbang.

menegakkan citra agama Islam. Semua belum terlambat. Tiada manfaat berpangku tangan. Sebelum terkunci pintu taubat. Sebab itu jangan lalai. Sebelum jiwa putus bercerai. Baik diantar ke medan juang. Harus diingat wahai perwira. Biar raja, hina, dan mulia akan fana. Di sisi Allah dipandang sama. Meskipun raja negeri Romawi. Megah kuasa menantang kita. Namun tak lepas dari kuasa Ilahi. Semuanya punah dan mati. Seperti firman Allah dalam Qur'an, "Meski masuk di peti besi. Semua orang pasti akan mati". Daripada mati mencangkul di ladang. Atau berdendang berjoget riang. Mengumpulkan kekayaan, berbuat curang. Lebih baik mati di tengah gelanggang. Esa hilang dua terbilang. Adat lelaki bermain pedang. Untuk membela agama Islam. Kalau kalian mati di rumah istri. Tak usah ditanya menyayat hati. Bila mati di medan perang. Bidadari cantik datang menjemput. Berlomba tangan mendekap tubuh. Mengangkat pahlawan berlumur darah. Segera dipangku bidadari jelita. Terdengar ucapan alhamdulillah. Engkau pahlawan mati syahid di sisi Allah.

Mengambil Hikmah Yang Tersembunyi Disetiap Cobaan

Allah menciptakan segala hal di dunia ini tentu dilengkapi dengan tujuan-tujuan tertentu. Suatu hal yang mustahil jikalau sesuatu tercipta tanpa ada pertimbangan tujuan yang pasti. Begitu pula disetiap musibah atau cobaan yang mendera, tentu Hikmah dari Allah jauh lebih sempurna. Akan tetapi kebanyakan dari kita tidak menyadarinya bahwa ada hikmah yang ingin disampaikan oleh Allah kepada makluknya. Kadangkala hati kita telah tertutup, dan seolah-olah kitalah orang yang paling menderita di dunia.

wahai manusia yang dirahmati oleh Allah, ingatlah bahwa nikmat Allah jauh lebih besar jika dibandingkan dengan cobaan hidup yang mendera kita. Janganlah kita menjadi lentur dan luntur hanya karena kesulitan hidup yang kian hari terus menghimpit. Karena inilah realita kehidupan. Jika kita merasa tidak mampu menjalani kehidupan kita di dunia ini, apa toh lagi kita kan mampu menjalani kehidupan di akhirat. Tulisan ini khusus untuk pribadi dan untuk mereka yang butuh motivasi. Segeralah bangkit dari tidur, karena tak ada orang yang pernah sukses di dunia dan di akhirat dengan hanya menyesali kehidupanya. Segeralah Berbuat sesuatu, meski hanya sedikit saja usaha yang kita mampu.

Minggu, 04 Mei 2008

Hikmah Hari Ini

Saya pengen mengutip kata-kata dari Kahlil Gibran yang begitu dahsyat dan fenomenal, hanya untukmu shobat. "Tuhan telah melimpahkan kepadamu kecerdasan dan pengetahuan. Janganlah engkau memadamkan lentera rahmat Keilahian-NYA dan jangan biarkan lilin kebijak sanaan mati karena kegelapan nafsu dan dosa. Sebab manusia bijaksana mendekati-NYA dengan lentera untuk menerangi jalan kepada umat manusia." (Kahlil Gibran)

"Uang receh yang engkau jatuhkan ke dalam tangan-tangan rapuh yang terulur di hadapanmu adalah satu-satunya rantai emas yang mengikat hatimu yang mulia dengan hati Tuhan yang penuh cinta." (Kahlil Gibran)

Tak Ada Kata Sendiri

Hidup ini penuh perjuangan broth, jangan pernah menyerah. Sekali menyerah pasti parah ujung-ujungnya. Lihat dan baca kisah-kisah teladan yang udah bejibun disini. Jangan pernah menyerah dan jangan pernah putus asa brother. Ingat sampai darah kita mendesir. Kita akan tetap berjuang bersama untuk tetap maju. Karena hidup kita bukan hanya hari ini, tetapi masih ada hidup yang jauh lebih hebat dari hari ini. Jika kita hari ini sudah menyerah dan putus asa, bagaimana mungkin kita akan bisa dan mampu menghadapi hari yang telah dijanjikan? Mari kita cari tips seo yang handal bersama-sama.

oh ya satu lagi broth, jangan pernah katakan kalo ente berjuang cuman sendirian. Jangan pernah menyerah, masih ada kita-kita disamping ente broth... Pokoknya viva forever for Jatra.

Sabtu, 03 Mei 2008

Hikmah hari ini

Tiada kata hina didunia ini tanpa sebab yang berarti. Terlalu hina dimata manusia karena kemiskinan, bukanlah berarti hina dihadapan Allah. Sementara hina karena kebodohan, tentu saja akan menjadi hina dimata manusia dan Allah. Sobat, marilah kita berjuang bersama-sama guna mencari ilmu Allah yang luasnya langit dan bumi ini. Karena kita telah diwajibkanNYA, sampai diliang lahat.

Sabtu, 29 Maret 2008

DO'A SEORANG TUKANG BECAK

Pak Samin, seorang tukang becak. Ia sudah lama menggeluti pekerjaannya. Dan mempunyai prestasi yang cukup mencengangkan. Sejak kecil ia tidak pernah mengenal bangku sekolah. Tetapi kini ia telah menjadi seorang sukses dengan menikmati kehidupan hari tuanya yang penuh damai dan sejahtera.

Cerita ini saya dapatkan dari seorang kawan, ketika kami ngobrol. Pak 'DJ' Kawan saya ini, dengan penuh antusias menceritakan 'sejarah'nya Samin.

Pak Samin mempunyai dua orang anak lelaki, yang dua-duanya kini sudah menjadi perwira Angkatan Darat. Kedua anak tersebut lulus SMA, dan dua-duanya masuk pendidikan militer, AKABRI.

Sebagai seorang yang tidak punya biaya, untuk bisa menyekolahkan kedua orang anaknya pak Samin mencari biaya dengan cara yang lain. Cara apa yang bisa diterapkan oleh seorang tukang becak seperti dia? Ia tidak punya pekerjaan sampingan. Juga tidak berpendidikan?

Ketika pak DJ bertanya, "...pak Samin!, kok bisa ya, bapak menyekolahkan kedua anak bapak, sampai di AKABRI? Wah, berapa biaya yang bapak keluarkan, dan bagaimana cara bapak mendapatkan biaya itu ?"

"Pak DJ, saya ini kan tukang becak, dari mana saya dapatkan biaya? Sejak anak saya sekolah di SMP, saya sudah kewalahan mencarikan biaya. Tetapi alhamdulillah sejak saat itu saya bisa terus menyekolahkannya dengan cara saya sendiri. Yaitu saya terus berdo'a tidak kenal putus sepanjang hari dan malam. Itu saya lakukan selama puluhan tahun. Sejak saya menyadari bahwa tidak mungkin saya mencari biaya sendiri untuk menyekolahkan kedua anak saya. Tentu harus ada yang menolong saya untuk menyekolahkan."

Tanya pak DJ : Siapa yang bapak maksud dapat menolong untuk mencarikan biaya itu? Siapa lagi kalau bukan Gusti Allah kang Maha Kuasa? katanya.

Pak DJ berdecak kagum. ''pak Samin, kalau boleh saya tahu, do'a apa yang bapak sampaikan selama puluhan tahun itu, sehingga bapak bisa seperti ini?" Jawab pak Samin : "..saya juga ngggak bisa do'a yang panjang-panjang pak. Saya hanya berdo'a kepada Gusti Allah yang Maha Kuasa, agar kami sekeluarga mendapatkan ridhaNya..."

Pak Samin menambahkan: "...Saya menangis sepanjang malam untuk mendapatkan ridhaNYa, selain itu tidak! Saya tidak pernah minta untuk mendapatkan biaya sekolah. Saya tidak pernah untuk minta agar saya kaya, bahkan saya tidak berani minta agar saya bahagia...saya takut minta yang macam-macam, saya hanya minta untuk mendapatkan ridhaNya saja..."

Mendengar jawaban itu, pak Dj termangu. Dan terdiam dalam seribu bahasa. Sungguh luar biasa do'a itu. Seorang yang miskin, yang secara ekonomi serba kesulitan dalam hidupnya. Tetapi do'a yang dipanjatkannya bukan minta kemudahan dalam kehidupan. Yang diminta sangat simpel. Tetapi justru nilainya jauh lebih tinggi dari kebutuhannya saat itu. Yang dimintanya adalah keridhaan Allah Yang Maha Kuasa....subhaanallah.

Kalaulah Allah Swt, sebagai Dzat Yang Berkuasa atas segala sesuatu sudah meridhainya, maka tak ada kata mustahil. Semua yang mengatur Dia. Apa yang dibutuhkan oleh hambaNya, Dialah yang memproses.

Jika seorang yang dicintaiNya sedang membutuhkan biaya, maka Dialah Dzat Yang Maha Kaya itu. Jika seorang HambaNya sedang kesulitan akan sesuatu, maka Dialah yang akan memudahkannya. Dengan menjadi hambaNya, sungguh manusia akan mendapatkan sesuatu dariNya sebelum ia memintanya.

Hadits Qudsi:
'Apabila seorang hamba datang kepadaku, dan ia sibuk mengingatKu sampai lupa memohon keperluannya sendiri, maka Aku akan memberikan sesuatu yang terbaik baginya sebelum minta kepadaKu."
(HR. Bukhari, Baihaqi)

Sungguh kita semua menjadi malu kepada diri sendiri. Kita sering minta kepada Allah yang macam-macam, lebih-lebih ketika kita sedang dirundung kesulitan.
Do'a pak Samin sungguh sangat indah dan sangat universal. Ia 'hanya' meminta ridha. Dengan mendapatkan ridhaNya itulah, insyaAllah semua kebutuhan manusia akan terkandung di dalamnya. Dan itu telah dibuktikan oleh seorang tukang becak yang luar biasa

Sebagai tetangga, pak DJ kagum luar biasa. Dan sangat bangga serta sangat bersyukur punya tetangga seperti pak Samin. Pak Samin kini menjadi orang yang bahagia dalam kehidupannya. Ia menempati rumah yang cukup layak. Bapak dari dua orang perwira....

Kamis, 27 Maret 2008

MEMBUNUH NYAMUK DI TENGAH MALAM

Jam dinding tepat menunjukkan pukul 02.30. Tanpa terasa saya terbangun dari tidur. Saya dikagetkan oleh dengungan suara seekor nyamuk yang mau hinggap di tubuh.

Secara reflek tangan saya bergerak. Dan 'plak'. Seketika matilah nyamuk tersebut oleh kedua tangan saya yang menepuknya.

Setelah terbangun dari gangguan nyamuk tadi, saya menuju kamar mandi, mengambil air wudhu dan kembali ke kamar tidur. Berikutnya saya mengambil sajadah, dan saya 'terperangkap' dalam khusyu'nya tahajud malam.

Selesai melakukan shalat, dzikir yang cukup panjang mewarnai malam itu. Ditengah basahnya lidah menyebut asma Allah, tiba-tiba saya teringat akan nyamuk yang saya bunuh tadi. Dan tak tertahankan lagi, mata basah oleh penyesalan yang mendalam.

Rasa salah yang begitu besar, telah menyelinap di hati yang paling dalam. Saat itu diri ini merasa berdosa, sebab telah membunuh seekor nyamuk yang telah berjasa besar. Nyamuk itulah justru yang telah membangunkan saya dari tidur lelap agar bisa tahajud malam. Agar bisa mendekati Sang Khaliq. Agar bisa mencintai Sang pengasih. Tetapi 'pahlawan' itu terbunuh dalam 'tugas mulia'nya ketika membangunkan manusia dari kekhilafannya. Maka bertambah berderailah air mata penyesalan, disela-sela dzikir asmaul husna.

Keesokan harinya, ketika saya berusaha mengulang untuk merekonstruksi kejadian malam itu, tidak sebutir air matapun yang menetes. Mengapa? sebab suasana sudah berubah. Saya termenung memikirkan kejadian semalam itu.

Pertanyaan yang selalu muncul adalah mengapa pada malam itu, saya bisa menangisi seekor nyamuk? Padahal ia membawa penyakit, padahal gigitannya mendatangkan rasa sakit. Apa yang menyebabkan saya menjadi menyesal setelah membunuh nyamuk itu?

Pertanyaan demi pertanyaan, muncul di benak saya. Manakah yang benar? Apakah yang terbunuh malam itu, ia adalah seekor binatang jahat yang akan mendatangkan kerugian karena gigitan atau penyakit yang dibawanya, ataukah justru ia adalah seekor binatang kecil sebagai sosok pahlawan yang rela mati demi kepentingan seorang manusia agar bisa bertemu dengan Tuhannya.

Yang jelas, suasana malam hari yang hening akan menyebabkan seseorang bisa berfikir dengan begitu jernihnya tanpa dipengaruhi oleh dunia yang penuh dengan tipu daya.

Sungguh sangat masuk akal kalau Rasulullah saw, menganjurkan kita agar sering bangun di sepertiga malam terakhir, agar kita mendapatkan suatu anugerah yang luar biasa. Bahkan dalam bulan ramadhan ada suatu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan....

Tetapi memang sungguh berbeda, calon penghuni neraka, dan calon penghuni surga. Ada sebagian orang yang menggunakan waktu malamnya untuk mendekatkan diri pada Ilahi. Dia bangun tengah malam, diambilnya air wudhu' untuk mensucikan dirinya, setelah itu ia asyik tenggelam dalam shalat tahajudnya. Kenikmatan yang didapatnya tak dapat diutarakan dengan kata-kata....

Sementara, di tempat lain banyak juga orang-orang yang menggunakan waktu malamnya yang sangat berharga itu, untuk melakukan perbuatan maksiat yang dilarang oleh Penciptanya. Padahal semua fasilitas untuk berbuat maksiat itu adalah didapat karena kasih sayang Tuhannya.

Apakah kesehatannya, apakah rezekinya, atau kesempatannya, atau umurnya. Semua yang dipakai untuk pergi menuju tempat 'terlarang' itu berasal dari Tuhan sang Penciptanya. Pertanyaan yang mungkin muncul di benak kita adalah, Manakah yang lebih pintar?

Apakah orang-orang yang menggunakan waktu malamnya untuk menuju keridhaan Allah, dengan melakukan dzikrullah,

Ataukah orang-orang yang menggunakan waktu malamnya untuk menuju tempat atau melakukan perbuatan yang dilarang Allah.
Dan kita pun tinggal memilih, berada pada golongan manakah diri kita? Kata Allah Swt, dalam Surat
Al-Hasyr : 20
"(sungguh), Tiada sama penghuni neraka dengan penghuni syurga. Penghuni syurga itu adalah orang-orang yang beruntung..."

NASEHAT SANG IBUNDA

Jam menunjukkan pukul 23.00. Tapi mata belum juga bisa terpejamkan. Setelah menyaksikan adegan istimewa yang disuguhkan Allah Swt di dinding kamar saya, bagaimana upaya seekor cicak menyambut rizkinya. Tiba-tiba tanpa sengaja pikiran saya melayang jauh ke masa lampau. Waktu itu bertepatan dengan hari ke sebelas bulan ramadhan.

Sosok ibu kami, pada masanya, beliau tidak pernah merasakan bagaimana menjadi seorang murid. Beliau tidak pernah sekolah. Walaupun hanya setingkat sekolah dasar. Tetapi cara-cara beliau mendidik dan memberi pelajaran kepada kami, sungguh sangat mengesankan dan membuat kami selalu kagum pada beliau. Diantara sekian banyak pelajaran kehidupan yang kami terima, ada satu hal yang terus saya ingat, apabila pikiran terbayang pada beliau.

Pada sore hari yang cerah, saya mau mengambil buah jambu yang ada di halaman rumah kami. Buah jambu itu tampak sudah matang dan begitu menggairahkan. Perlu diketahui bahwa pohon jambu yang kami tanam di depan rumah kami adalah buah 'jambu jepang', istilah orang kampung. Pohon itu sangat langka pada saat itu.

Di kampung tempat kami tinggal hanya ada satu pohon itu saja. Sehingga semua orang yang melihatnya kepingin sekali merasakan bagaimana rasa buah `jambu jepang' tersebut. Pohon itu kalau berbuah juga tidak terlalu banyak. Kadang-kadang satu pohon hanya ada satu atau dua buah saja yang masak. Perlu diketahui pula bahwa buahnya sangat kecil hanya sebesar buah kelengkeng saja. Tetapi baunya harum dan rasanya manis.

Pada hari itu, buah jambu yang masak ada dua buah. Ketika sore itu saya mau mengambil buah yang sudah ranum, ibu melarangnya. Sehingga saya agak kecewa karenanya.

Kata saya : '..mengapa bu, saya tidak boleh mengambil buah tersebut? Kan itu milik kita. Kalau tidak cepat diambil nanti kan membusuk?"
Jawab ibu : "Nak, kita kan sudah pernah makan buah tersebut. Walaupun dengan menunggu dalam waktu yang cukup lama. Dan memang kadang-kadang kita hanya bisa makan satu atau duah buah saja yang sedang masak. Tetapi tetangga depan rumah kita itu, belum pernah mencicipinya. Kemarin ibu lihat anaknya pingin sekali mengambil jambu itu. Karena itu janganlah diambil. Berikan buah jambu itu kepada mereka. Agar hatinya senang...

Kembali mata saya berkaca-kaca, mengingat peristiwa sederhana itu. Sebuah peristiwa yang mungkin setiap orang akan pernah menjumpainya dalam keluarganya masing-masing. Atau dalam lingkungan lainnya, dengan model yang berbeda.

"Dahulukanlah orang lain... ! Begitulah kira-kira inti pelajaran istimewa yang saya terima dari beliau Mengenang peristiwa itu, saya jadi teringat sebuah riwayat yang menceritakan tentang seorang sahabat yang oleh rasulullah disuruh menjamu tamunya. Ceritanya, di rumah sahabat tersebut tidak terdapat sesuatu makanan, kecuali makanan milik anaknya. Karena sang pemilik rumah ingin lebih mengutamakan tamunya dari pada keluarganya, ia memberikan makanan milik anaknya tersebut kepada tamunya dengan cara yang sangat luar biasa.

Yaitu ketika waktu makan bersama tamunya, sang pemilik rumah pura-pura makan juga, padahal piringnya kosong. Mengapa pura-pura? Supaya sang tamu tidak mengetahui kalau pemilik rumah sebenarnya tidak ikut makan. Untuk maksud itu, maka lampu di dalam rumahnya dipadamkan. Pura-pura kehabisan minyak. Setelah suasana menjadi gelap, maka mereka 'makan' bersama-sama. Sang tamu makan sungguhan, sang pemilik rumah makan pura-pura, padahal perutnya sangatlah laparnya.

Peristiwa itu begitu luar biasanya, sehingga turunlah ayat Al-Qur'an surat Al-Hasyr (59) : 9, sebagai penghargaan terhadap peristiwa tersebut.
Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Kalaulah sampai Allah Swt, menurunkan sebuah ayat lantaran peristiwa tersebut, sungguh betapa hebatnya kejadian itu sehingga perlu diabadikan dalam kitab suci akhir zaman ini. Agar bisa dicontoh dan diteladani oleh umat manusia.

Demikian pula banyak pelajaran-pelajaran yang diberikan oleh Rasulullah saw, agar kita selalu berbuat baik kepada orang lain, serta memiliki sifat murah hati terhadap orang lain.

Anas bin Malik ra, berkata, bahwa rasulullah saw itu, tidak pernah diminta kecuali selalu memberi. Pernah datang seorang lelaki kepada Rasulullah untuk meminta, maka beliau memberikan kambing-kambing yang banyak yang berada diantara dua gunung, kambing sadaqah. Maka lelaki itu pulang dan ia berkata kepada kaumnya...

Wahai kaumku, masuk Islamlah kalian semua! Sesungguhnya Muhammad itu amat pemurah. Ia memberi dengan pemberian yang sangat banyak, tidak pernah takut melarat...(Firliana Putri)

Sabtu, 15 Maret 2008

Penyumbat Rezeki

Oleh Bayu Gawtama Hardi, seorang pedagang kelontong yang cukup berhasil di kotanya. Namun jangan lihat keberhasilannya sekarang sebelum tahu faktor apa yang menjadi penyebab usahanya maju dan lancar.
Setahun yang lalu, Hardi mengadukan nasibnya kepada guru ngajinya. Ia mengaku sudah lebih sebelas tahun mencoba berbagai usaha namun selalu kandas di tengah jalan. Usaha pertamanya sudah dimulai saat ia baru memasuki kuliah tingkat dua, sekitar tahun 1994. Saat itu, ia mendapat pembagian warisan dari orangtuanya yang belum lama meninggal dunia. Jiwa bisnisnya memang sudah terlihat semenjak kecil, jadi wajar jika kemudian ia mendapatkan uang warisan dalam jumlah yang cukup banyak, maka yang terbersit di kepalanya adalah bisnis.

Maka, beberapa bulan kemudian ia membuka sebuah warung makan. Mulanya, warung makannya berjalan normal, bahkan bisa dibilang sangat laku keras. Mungkin karena ia melakukan promosi sangat gencar, selain karena ia termasuk anak muda yang memiliki cukup banyak relasi meski pun usianya masih sangat muda. Jadi sangat mudah baginya untuk mengundang sahabat, kerabat dan relasinya untuk sekadar mencicipi warung makan miliknya.

Entah kenapa, selang tiga bulan kemudian satu persatu pelanggan meninggalkannya. Tak banyak lagi yang makan di warungnya, sehingga dalam waktu tak berapa lama ia terpaksa menutup usahanya dan gulung tikar. Ia pun berganti usaha yang lain dengan sisa modal yang ada.

Usaha barunya, tak jauh berbeda dengan sebelumnya. Masih seputar makanan. Kali ini ia membuka usaha catering yang melayani makan untuk kantor-kantor di kota tinggalnya. Alhamdulillah ia dipercaya seorang rekannya yang bekerja di sebuah perusahaan untuk memasukkan catering untuk makan siang beberapa karyawan. Untuk sebuah awalan, catering untuk sekitar 20 karyawan dianggapnya bagus. “Mulanya 20, insya Allah menjadi 200, 2000 dan seterusnya…” semangat Hardi berapi-api.

Alih-alih bertambah pelanggan, rupanya Allah berkehendak lain. Yang 20 pun menyetop langganan catering kepada Hardi, sementara selama satu bulan penuh itu ia belum mendapatkan pelanggan baru. Akhirnya, ia pun kembali mengalami kebangkrutan. Demikian seterusnya hingga lebih sepuluh tahun kemudian ia berganti jenis usaha selalu menemui kegagalan.

Pada satu kesempatan ia mengadukan perihal kegagalan demi kegagalan usahanya kepaada guru mengajinya. Ia menceritakan secara detil semua jenis usaha yang pernah dicobanya dan bagaimana sampai akhirnya semua usahanya gagal. “Saya harus usaha apalagi guru, saya sudah kehabisan modal. Bahkan saat ini saya memiliki hutang yang tidak sedikit…” keluhnya.

Guru tersebut tak lantas memberikan jawaban dengan menyebut satu bentuk usaha baru yang patut dicoba Hardi, melainkan meminta Hardi mengingat-ingat sesuatu di masa lalu. “Coba ingat, pernah punya hutang atau tidak di masa lalu? Atau pernah punya sangkutan berkenaan dengan rezeki orang lain atau tidak di masa lalu…?” tanya sang guru.

Dahi Hardi mengerenyit, mencoba mengingat-ingat masa lampaunya. Rasa-rasanya ia tak pernah punya hutang kepada siapa pun, justru sebaliknya ia malah mengingat kembali daftar nama-nama yang pernah berhutang kepadanya. “Coba lebih keras mengingat, mungkin nilainya kecil, tapi boleh jadi itu yang menjadi penyumbat rezekimu…”

“Astaghfirullah…. “ Hardi teringat sesuatu. Ia pun segera menyalami sang guru dan mohon pamit seraya berucap terima kasih. Pria itu segera memacu kencang kendaraannya menuju suatu tempat. Dalam hati ia berharap cemas, “Semoga masih ada warung itu…”

Tidak kurang dari tiga belas jam waktu yang ditempuh Hardi menuju Semarang, mencari satu tempat yang pernah ia singgahi hampir dua belas tahun yang lalu. Tiba di tempat yang dituju, ia tidak menemukan lagi warung mie ayam tempatnya makan dahulu. Kemudian ia mencoba bertanya kepada orang-orang di sekitar perihal tukang mie yang pernah berjualan di situ.

“Ya, tukang mie itu bapak saya. Sekarang sudah tidak berjualan lagi. Sekarang bapak sedang sakit parah…” seorang anak menceritakan ciri-ciri fisik penjual mie ayam itu, dan Hardi yakin sekali itu orang yang dicarinya. Tanpa pikir panjang, ia minta diantarkan ke rumah penjual mie untuk bertemu langsung.

Ketika melihat kondisi penjual mie, Hardi menitikkan air mata. Ia langsung meminta beberapa anggota keluara membopong penjual mie itu ke mobilnya dan segera membawanya ke rumah sakit. Alhamdulillah, jika tidak segera dibawa ke rumah sakit, mungkin penjual mie itu tidak akan tertolong. Seluruh biaya rumah sakit tercatat mencapai lima belas juta rupiah, dan semuanya ditanggung oleh Hardi.

Beberapa hari kemudian, setelah kembali ke rumah, bapak penjual mie itu mengucapkan terima kasih kepada Hardi. “Bapak tidak tahu harus bagaimana mengembalikan uang biaya berobat itu kepada nak Hardi. Usaha dagang bapak sedang susah…” Hardi berkali-kali mencium tangan Pak Atmo, penjual mie itu. Matanya tak henti menitikkan air mata, ia sedang berusaha menyatakan sesuatu, namun bibirnya terasa sangat berat.

Akhirnya, “… semua sudah terbayar lunas pak. Saya hanya minta bapak mengikhlaskan semangkuk mie ayam yang pernah saya makan tanpa membayar dua belas tahun silam”, Hardi terus menangis berharap keikhlasan itu didapatnya. Saat itu, sehabis makan ia langsung kabur memacu sepeda motornya dan tak membayar semangkuk mie seharga 1.500 rupiah.

Pak Atmo memeluk erat tubuh Hardi dan mengusap-usap kepala pria muda itu seraya berucap, “Allah Maha Pemaaf, begitu pun semestinya kita…”.

***

Perlancar dulu rezeki orang lain, agar tidak menyumbat rezeki kita. Wallaahu ‘a’lam bishshowaab (Gaw)(Firliana Putri)

Kamis, 06 Maret 2008

Kembalikan Keranjang Itu

Suatu saat ada sepasang suami istri yang hidup serumah dengan ayah sang suami. Orang tua ini sangat rewel, cepat tersinggung, dan tak pernah berhenti mengeluh. Akhirnya suami istri itu memutuskan untuk
mengenyahkannya.

Sang suami memasukkan ayahnya ke dalam keranjang yang dipanggul di bahunya. Ketika ia akan meninggalkan rumah, anak lelakinya yang baru berusia sepuluh tahun muncul dan bertanya, "Ayah, kakek hendak
dibawa kemana?"

Sang ayah menjawab bahwa ia bermaksud membawa kakek ke gunung agar ia bisa belajar hidup sendiri. Anak itu terdiam. Tapi pada waktu ayahnya sudah berlalu, ia berteriak, "Ayah, jangan lupa membawa pulang keranjangnya."

Ayahnya merasa aneh, sehingga ia berhenti dan bertanya mengapa. Anak itu menjawab, "Aku memerlukannya untuk membawa ayah nanti kalau ayah sudah tua."

Sang ayah segera membawa kembali sang kakek. Sejak saat itu mereka memperhatikan kakek itu dengan penuh perhatian dan memenuhi semua
kebutuhannya.

”Hukuman” yang kita berikan pada orang lain, mungkin akan berbalik pada diri kita sendiri. (Firliana Putri)

Terangi Alam Kubur yang Gelap

> Assalamu 'alaikum,
> Kubur itu gelap, cahayanya ialah Laa Ilaaha IllalLah.
>
> Jika diletakkan langit dan bumi di sebelah dacin, dan kalimah ini
> disebelah
> yang satu lagi, pasti lebih berat lagi nilai Kalimah 'Laa ilaaha
> illalLah'ini.

> Rasulullah saw. bersabda (mafhumnya):"Wahai manusia! Ucaplah 'Laa
> ilaaha
> illalLah', kamu pasti berjaya!"
>
> Marilah kita ucapkan kalimah ini: "Laa ilaaha illallah!" 10 X
> Setelah ucapkannya sebanyak 10 kali, panjangkan/fowardkan email ini
> kepada
> 10 orang rekan-rekan anda
> Bayangkan betapa besarnya pahala yang Allah sediakan, hanya untuk usaha
> kita
> yang sedikit dan sambil lewat .....
>
> Laa ilaaha illalLah!
> Wassalam. Zdalim@nationalgmts.com

Rabu, 20 Februari 2008

Kumohon Kelembutan-Mu Yaa Allah

Kumohon kelembutan-Mu Yaa Allah Kemarin Pagi sekitar jam 08.30, aku melihat peristiwa yang memilukan hati. Aku merasakan betul apa yang sedang dialami oleh seorang Bapak penjual kue-kue basah. Dia yang sejak pagi berangkat dari rumah dengan niat berusaha menafkahi keluarga harus mengalami insiden yang mungkin berat baginya. Dengan sepeda jengki tuanya, diikatkannya dua lapis tenong (tempat kue) persegi empat di bagian belakang sepedanya. Diisinya tenong itu dengan bermacam kue basah seperti lumpia, risoles, lapis, lumpur dan sejenisnya. Dijajakannya kue-kue itu di sepanjang jalan yang dilalui, keluar masuk di berbagai perkantoran dengan mengharap keuntungan yang bisa dibawa pulang untuk keluarga tercinta di mana dia sebagai tulang punggungnya.
Ah... tetapi entah kenapa, pagi ini dia harus mengalami suatu kecelakaan. Mungkin karena keteledorannya atau mungkin juga karena keangkuhan para pemakai jalan yang semena-mena. Ketika dia menyeberang dari arah Timur ke Barat dengan menuntun sepedanya di jalan Basuki Rahmat, ada satu kendaraan yang melanggarnya sehinga sepedanya terguling, velg rodanya bengkok dan tenong tempat kue terbuka menyebarkan isinya tak tentu arah. Hari masih pagi, pelanggan pun mungkin masih menanti, tapi apa daya diri jika memang telah terjadi. Dari jauh terlihat wajah cemasnya, terdengar degup jantungnya dan tergambar ruwet pikirnya. Semoga Engkau mudahkan baginya Yaa Allah. Itulah cermin kehidupan. Pada segala sesuatu semestinya aku
bisa bercermin. Kejadian itu juga merupakan cermin yang memantulkan bayangang diri, tentang diriku yang masih jauh dari syukur, jauh dari sabar dan jauh dari ridho. Dalam skala dunia, sungguh masih sangat beruntung diriku yang tidak harus mengayuh pedal sepeda dalam bekerja, yang tidak usah berharap-harap cemas berapa jumlah uang yang bisa kubawa pulang dan yang tidak usah seharian berada di jalanan yang panas, berdebu dan penuh asap. Tetapi dalam skala akhirat mungkin dia jauh lebih mulia dari diriku. Bisa jadi keyakinannya tentang Allah telah menancap demikian kuat dalam hatinya hingga tak pernah diresahkannya tentang rejekinya, tak pernah diturutinya lelahnya badan dalam bekerja sebagai penggugur dosa dan tak pernah dikeluhkannya berbagai kesulitan yang dihadapinya. Sungguh banyak di sana, para tulang punggung keluarga terutama kaum laki-laki yang menghadapi situasi sulit dalam pekerjaannya telah kehilangan kelembutan kepada keluarga. Kondisi pekerjaan yang penuh tekanan, kelelahan fisik dalam menuntaskan pekerjaan dan beratnya tanggung jawab yang dipikul dalam pekerjaan, sering menjadi alasan pembenar hilangnya kelembutan bagi keluarga, sering menjadikan mereka menuntut lebih dari keluarga dan lebih mudah dalam mengumbar amarah. Papa ini capek pulang kerja !!! Papa ini kerja buat kalian !!! dan sebagainya. Kalau memang tidak mau capek karena bekerja untuk menafkahi keluarga, kenapa harus berkeluarga ? Kenapa anak di rumah menjadi sasaran kemarahan dan kenapa pula istri di rumah jadi sasaran cercaan ? Karenanya Yaa Allah anugerahkanlah kelembutanMu kepada kami semua, kepada para Ayah yang bertanggung jawab menafkahi keluarga, kepada para Ibu yang jihadnya mengurus keluarga, kepada para Guru yang mendidik muridnya, kepada para BOS yang memperkerjakan karyawannya, kepada para Pimpinan yang menggembalakan anak buahnya, agar situasi sesulit apa pun yang harus kami hadapi tetap dapat kami sikapi dengan kelembutan hati, agar kami selalu sabar, syukur dan ridho. Aamiin. (Firliana Putri)

Jumat, 08 Februari 2008

MUDAH-MUDAHAN SEGERA SADAR

Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah
orang-orang yang membuat kerusakan,
tetapi mereka tidak sadar.
QS. Al Baqoroh (2) : 12

Kunci penyelesaian berbagai bencana yang terus mendera kita ini cuma satu: segera sadar! Kesadaran bahwa kita telah melakukan kesalahan. Kemudian berlanjut dengan taubat. Yaitu, tidak melakukan kesalahan yang sama lagi. Hanya orang-orang bodohlah yang melakukan kesalahan yang sama berulangkali. Orang buta saja tidak terperosok berulang kali di lubang yang sama...

Segala yang telah kita bahas di depan telah menunjukkan kepada kita bahwa segala bencana ini tidak terlepas dari perbuatan kita sendiri.

QS. Ar Ruum (30) : 41
Telah nampak kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Begitulah Allah mengingatkan. Semua itu karena perbuatan tangan manusia. Supaya Allah menunjukkan kepada kita, begitulah akibatnya kalau kita melakukan kerusakan dan kejahatan. Supaya kita segera kembali ke jalan yang benar. Supaya sadar.

Memang sih, planet Bumi menyimpan potensi bencana yang sangat besar, tetapi datangnya bencana itu ternyata bisa 'memilih' tempat dan korbannya. Sesuai kehendak Allah Sang Penguasa alam semesta. Dialah yang berkehendak menjadikan bencana itu sebagai ujian, cobaan, peringatan, atau pun azab yang menghancurkan. Terserah kepadaNya. Semuanya berjalan sesuai dengan Sunnatullah. Yang terkait dengan perbuatan kita...

QS. Asy Syu'araa' (26) : 208-209
Dan Kami tidak membinasakan sesuatu negeripun, melainkan sesudah ada baginya orang-orang yang memberi peringatan;

untuk menjadi peringatan. Dan Kami sekali-kali tidak berlaku zalim.

Ayat di atas memberikan informasi kepada kita tentang dua hal. Yang pertama, Allah tidak menimpakan bencana yang menghancurkan suatu negeri, kecuali Dia sudah memberikan peringatan kepada penduduknya. Diajak berbuat baik, tidak mau. Dilarang berbuat kerusakan, malah melakukan dengan sewenang-wenang. Jika itu yang terjadi, Allah bakal mengirimkan bencana yang membinasakan.

Yang ke dua, bencana itu berfungsi sebagai peringatan, agar kita segera bertaubat. Jika tidak segera bertaubat, bencana yang akan datang bakal lebih besar lagi. Kemudian, Allah menambahkan: "Dan kami sekali-kali tidak berlaku zalim (tidak semena-mena)". Allah pun menurunkan azabNya.

QS. Asy Syu'araa' (26) : 173
Dan Kami hujani mereka dengan hujan (batu) maka amat buruklah hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu.

Semua itu karena Allah menyayangi kita. lngin memberi petunjuk kepada kita bahwa hukum alam ini demikian adanya. Barangsiapa merusak dia akan menuai derita. Barangsiapa membangun dia akan menuai bahagia. Tinggal pilih saja. Allah memberikan kebebasan sebesar-besarnya kepada umat manusia. Dia telah memberikan kepercayaan dan kekuasaan kepada manusia untuk menjadi pengelola Bumi. Khalifatu fil Ardhi...

Bahwa kemudian kita merusak sendiri tempat hidup kita. Maka, kita jugalah yang merasakan hasilnya. Atau sebaliknya, kita menjadi orang yang bijak, dan mengelola planet Bumi ini dengan baik, maka kita juga yang bakal sejahtera.

QS. Al An'aam (6) : 104
Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka barangsiapa melihat (kebenaran) maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri; dan barangsiapa buta (dari kebenaran), maka kemudharatannya kembali kepadanya. Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara (mu).

Begitulah firman Allah lewat nabi Muhammad saw. Bahwa tanggungjawab sepenuhnya ada di tangan kita. Bahkan beliau pun tidak bertanggungjawab atas perbuatan kita. Semuanya kembali kepada masing-masing. Kalau pun kita nekat mengambil risiko tersebut, kata Allah: "biarkan saja, dia nanti bakal menerima akibatnya."

QS. An Nahl (16) : 55
biarlah mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka; maka bersenang-senanglah kamu (untuk sementara waktu). Kelak kamu akan mengetahui (akibatnya).

Boleh saja kita bermain kata dan membela diri bahwa kita tidak berbuat kerusakan. Bahkan kita sedang berbuat untuk kemaslahatan orang banyak. Akan tetapi, kerusakan tetap saja kerusakan. Tidak bisa ditutup-tutupi. Sunnatullah 'berbicara' apa adanya.

QS. Al Baqoroh (2) : 11-12
Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan."

Ingatlah, sesungguhnya mereka itu orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tak sadar.

Maka, balasan yang baik hanya bagi orang-orang yang berbuat kebajikan. Banyak beramal saleh bagi sekitarnya. Beriman hanya kepada Allah. Merekalah yang bakal merasakan kebahagiaan sejati, di dunia maupun di akhirat.

QS. Ar Ra'd (13) : 29
Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.

Allah bakal meneguhkan orang-orang yang baik. Mereka yang menegakkan shalat agar manusia tercegah dari perbuatan keji dan munkar. Yang membudayakan zakat agar manusia saling tolong menolong untuk menciptakan kesejahteraan dalam keadilan. Yang mengajak manusia melakukan berbagai kebajikan dan mencegah perbuatan munkar. Yang selalu ingat kepada Allah dalam menjalani kehidupannya. Karena ia tahu bahwa segala perilakunya bakal membawanya kepada kebahagiaan sejati, atau sebaliknya malah mengantarkannya untuk MENUAI BENCANA ... !!

QS. Al Hajj (22) : 41
(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan...(Firliana Putri)

UJIAN, COBAAN DAN AZAB

Tiap-tiap yang berjiwa
akan merasakan mati. Kami akan menguji
kamu dengan keburukan dan kebaikan
sebagai cobaan. Dan hanya kepada
Kamilah kamu dikembalikan.
QS. Al Anbiyaa' (21) : 35

Bencana datang beruntun! Sebagian kawan bilang ini adalah ujian dari Allah. Sebagian lagi mengatakan bahwa ini adalah cobaan. Dan sebagian lainya mengatakan ini adalah azab alias siksa. Manakah yang benar? Kita sedang diuji oleh Allah, atau sedang dicobai ataukah sedang disiksa. Masing-masing memberikan konsekuensi yang berbeda...

Kata kawan saya, ujian berbeda dengan cobaan, berbeda pula dengan azab. Ujian, katanya, adalah suatu masalah yang diberikan kepada kita untuk mengetahui seberapa tinggi kualitas kita. Jika lulus ujian, berarti kualitas kita meningkat. Naik kelas.

Cobaan, ia menjelaskan, hampir sama dengan ujian. Akan tetapi memiliki konotasi yang agak berbeda. Jika ujian menjurus pada kenaikan tingkat, maka cobaan terkesan hanya mencoba apakah kita bisa bertahan.

Sedangkan azab alias siksaan, katanya lagi, memiliki konotasi yang negatif. Masalah diberikan kepada seseorang disebabkan ia telah melakukan kesalahan atau kejahatan. Besar kecilnya azab bergantung kepada besar kecilnya kesalahan yang diperbuat.

Lantas bagaimanakah Al Qur’an menjelaskan tentang bencana yang yang menimpa manusia? Al Qur’an memiliki beberapa istilah berkait dengan bencana atau musibah yang menimpa seseorang atau suatu komunitas manusia.

Ada yang disebut fitnah. Ada yang disebut balak. Ada yang diistilahkan rijza. Dan ada yang kita kenal sebagai adzab. Makna istilah-istilah itu bisa kita pahami ketika kita mengutip ayat-ayat yang bersangkutan dengan kata tersebut.

Maka, agar kita bisa memperoleh nuansa makna katanya, sebaiknya saya kutipkan ayat-ayat yang berkait dengan kata-kata tersebut. Membaca beberapa ayat saja, kita sudah akan bisa merasakan maknanya.

1. FITNAH
Kata 'fitnah' dalam konteks yang akan kita bicarakan ini mungkin agak berbeda dengan yang kita pahami selama ini. Yang terbayang di benak kita pada saat mendengar kata 'fitnah' adalah sebuah informasi bohong yang menyudutkan seseorang. Misalnya, si A difitnah oleh si B. Maksudnya, si B menyebarkan berita bohong yang menyudutkan si A. Yang demikian ini diceritakan di dalam Al Qur’an di antaranya ayat berikut ini. Allah mengecam 'fitnah' sebagai sebuah kejahatan yang lebih kejam dari pada membunuh.

QS. Al Baqoroh (2) : 191
Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir.

Akan tetapi dalam konteks yang akan kita bahas ini, makna fitnah adalah cobaan atau ujian. Banyak ayat Qur'an yang menggunakan kata 'fitnah' dengan maksud tersebut. Misalnya beberapa di bawah ini.

QS. Al Anfaal (8) : 28
Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai Fitnah (cobaan, ujian) dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.

Ayat di atas menjelaskan bahwa harta benda duniawi, anak-anak, dan segala yang kita miliki, sebenarnya diberikan Allah kepada kita sebagai 'alat uji' untuk mengetahui apakah kita terjebak oleh dunia ataukah lebih menyiapkan bekal untuk akhirat. Kata fitnah di sini bermakna cobaan atau ujian.

Ada nuansa, cobaan dan ujian itu diberikan dalam konotasi yang baik. Berupa anugerah kekayaan, anak-anak, kekuasaan dan sebagainya. Karena itu hati-hatilah. Banyak orang terjebak pada urusan dunia dan lupa mempersiapkan kehidupan akhirat. Allah mengingatkan, karena kebanyakan kita suka lupa jika memperoleh 'ujian enak'.

Ayat yang lain memberikan konotasi yang sedikit berbeda, yaitu ketika kita terlepas dari suatu bahaya. Biasanya, jika sedang dalam keadaan kritis dan bahaya, kita berdoa minta tolong kepada Allah. Akan tetapi setelah terlepas, kita menepuk dada sendiri sambil mengatakan bahwa yang terjadi itu adalah karena usaha kita sendiri.

Allah mengingatkan dengan menggunakan kata 'fitnah'. Bahwa Allah ingin menguji atau ngetes, apakah kita menjadi sombong dan bangga diri ataukah tidak. Lha asalnya kita ketakutan, minta tolong kepada Allah, kok setelah ditolong mengatakan itu karena usaha kita sendiri.

QS. Az Zumar (39) : 49
Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata: "Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku". Sebenarnya itu adalah fitnah (cobaan, ujian), tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui.

Penggunaan kata 'fitnah' dalam kaitannya dengan bencana terlihat pada ayat berikut ini. Ketika nabi Musa berdoa kepada Allah, sehubungan dengan bencana yang menimpa kaumnya pada waktu itu.
Nabi Musa digambarkan sempat gelisah karena Allah menurunkan bencana gempa Bumi. Beliau kemudian mengadu kepada Allah: "Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau telah membinasakan kami sebelum ini.

Artinya, nabi Musa berharap Allah tidak membinasakan umatnya lewat gempa itu. Apalagi penyebab turunnya gempa itu adalah perbuatan jahat orang-orang kafir. Yang disebutnya sebagai orang-orang yang 'kurang akal'. Maka, Musa memohon ampun kepada Allah, sambil berharap bahwa semua itu hanya cobaan untuk menguji ketaatan umatnya.

QS. Al A'raaf (7) : 155
Dan Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk (memohonkan taubat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan. Maka ketika mereka digoncang gempa bumi, Musa berkata: "Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami? Itu hanyalah cobaan dari Engkau, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah Yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkaulah Pemberi ampun yang terbaik.

Ayat tersebut menarik, karena memberikan gambaran kepada kita hubungan antara bencana, perbuatan 'kurang akal', cobaan, dan taubat.

Bahwa bencana yang datang itu ternyata disebabkan oleh perbuatan ‘ngawur’ tak menggunakan akal secara baik. Dan, kemudian Allah menurunkan bencana sebagai cobaan untuk mengingatkan bahwa perbuatan ngawur itu mengundang masalah. Jika tidak digubris, bencana bakal datang lebih besar dan bakal menghancurkan. Maka nabi Musa mengajak umatnya untuk bertaubat kepada Allah.

Pemahaman itu menjadi semakin jelas dengan ayat berikut ini. Bahwa Allah memberikan cobaan untuk mengigatkan. jika mereka tetap berpaling alias tidak menggubris, Allah bakal memberikan adzab yang amat berat.

QS. Al Jin (72) : 17
Untuk Kami beri cobaan kepada mereka padanya. Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan Tuhannya, niscaya akan dimasukkan-Nya ke dalam azab yang amat berat.

Jadi kata 'fitnah' dalam konteks ini bermakna menjajal sikap kita. Jika tidak menghiraukan bakal diteruskan. Jika bertaubat dihentikan. Juga bermakna menguji keimanan dan keislaman kita. Memilih dunia ataukah memilih akhirat. Memilih Allah ataukah selain Dia...

2. BALAK
Kata yang senada dengan fitnah yang terkait dengan bencana atau musibah adalah 'balak'. Jika 'fitnah' bisa bermakna ujian atau cobaan, maka balak pun bisa bermakna ujian dan cobaan. Kalau fitnah bisa berkonotasi positif dan negatif, maka balak pun punya konotasi positif dan negatif. Untuk jelasnya, cermati ayat berikut ini.

QS. Al A'raaf (7) : 141
Dan (ingatlah hai Bani Israil), ketika Kami menyelamatkan kamu dari (Fir'aun) dan kaumnya, yang mengazab kamu dengan azab yang sangat jahat, yaitu mereka membunuh anak-anak lelakimu dan membiarkan hidup wanita-wanitamu. Dan pada yang demikian itu adalah (balak) cobaan yang besar dari Tuhanmu".

Kata balak digunakan untuk menggambarkan betapa kejamnya kejahatan yang dilakukan oleh Fir'aun dan pengikutnya kepada bani Israil. Bayi-bayi lelaki mereka dibunuhi hanya karena Fir'aun memperoleh informasi dari ahli nujumnya bahwa kekuasaannya kelak akan jatuh oleh seorang lelaki yang lahir dari bani Israil.

Maka, Allah menggunakan kata balaa-un min rrabbikum 'Adhiim - cobaan yang besar dari Tuhanmu. Artinya, Allah ingin menjelaskan bahwa kejahatan yang dilakukan oleh Fir'aun itu benar-benar keji dan menyengsarakan bani Israil. Akan tetapi, sekaligus Allah menginformasikan agar bani Israil bersabar, karena Allah selalu meliputi seluruh kejadian, termasuk peristiwa yang menyengsarakan mereka itu. Allah punya rencana tertentu.

Makna balak yang berkonotasi ujian yang berat juga tampak pada ayat berikut ini. Yaitu ketika Allah menguji nabi Ibrahim untuk mengorbankan anaknya, Ismail. Ujian itu sedemikian berat bagi Ibrahim sehingga disebut sebagai balak. Balaa-ul mubiin - ujian yang nyata.

QS. Ash Shaaffaat (37) : 104-107 - balak
Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim,

sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu", sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

Sesungguhnya ini benar-benar suatu (balak) ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.

Namun ternyata, kata balak tidak selalu berkonotasi negatif. Allah juga menggunakan kata balak untuk makna positif. Hal itu tampak pada ayat berikut ini, yaitu balaa-an hasanan yang berarti 'kemenangan' alias 'ujian yang baik'.

QS. Al Anfaal (8) : 17
Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mu'min, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Konotasi positif itu juga ditunjukkan dalam ayat berikut ini ketika Allah menceritakan kemenangan nabi Musa dan bani Israil terhadap Fir'aun. Allah mengatakan bahwa kepada bani Israil itu telah diberikan kenikmatan berupa berbagai mukjizat untuk mengalahkan Fir'aun. Balaa-un mubiin.

QS. Ad Dukhaan (44) : 33
Dan Kami telah memberikan kepada mereka di antara tanda-tanda kekuasaan (Kami) sesuatu yang di dalamnya terdapat nikmat yang nyata.

Jadi, selain kata fitnah yang bermakna ujian dan cobaan, Allah juga menggunakan kata 'balak' untuk menggambarkan ujian dan cobaan. Akan tetapi, penggunaan kata 'balak' lebih menunjukkan betapa beratnya cobaan dan ujian itu. Misalnya, pembunuhan bayi-bayi lelaki bani Israil. Atau, nabi Ibrahim yang diperintahkan untuk mengorbankan anaknya.

Perbedaannya adalah dari sisi sudut pandangnya. Kalau kita merasakan cobaan itu sangat berat dan menyengsarakan, kita bisa menyebutnya sebagai ujian yang bersifat balak. Sebaliknya kalau itu sebuah kemenangan yang besar, kita juga bisa menyebutnya balak yang baik. Sedangkan fitnah, lebih menunjukkan kepada ujian yang bersifat lebih ringan. Allah menjajal kemampuan dan kualitas keislaman kita. Dengan cobaan baik, maupun cobaan buruk.

3. AZAB
Kata ke tiga yang sering digunakan untuk menggambarkan bencana adalah 'azab'. Berbeda dengan fitnah atau balak yang hampir sulit dibedakan, azab memiliki konotasi yang jelas, yang bersifat negatif. Yaitu bermakna siksa.

Ini bukan lagi ujian atau cobaan, melainkan balasan atas perbuatan jahat. Dan biasanya, kata azab ini digunakan untuk menggambarkan siksaan yang berat dan mengerikan. Seringkali dikaitkan dengan siksa neraka.

QS. Ali Imran (3) : 77
Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak (pula) akan mensucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih.

Selain berkait dengan siksa akhirat, kata azab digunakan oleh Allah untuk menggambarkan siksaan di dunia. Misalnya siksaan Fir'aun kepada bani Israil. Fir'aun dan pengikutnya mengazab bani Israil dengan azab yang sangat jahat. Menyiksa dan membunuhi anak-anak lelakinya.

QS. Al A'raaf (7) : 141
Dan (ingatlah hai Bani Israil), ketika Kami menyelamatkan kamu dari (Fir'aun) dan kaumnya, yang mengazab kamu dengan azab yang sangat jahat, yaitu mereka membunuh anak-anak lelakimu dan membiarkan hidup wanita-wanitamu. Dan pada yang demikian itu cobaan yang besar dari Tuhanmu".

Di ayat yang lain, Allah menggambarkan malaikat yang akan menghancurkan negeri Luth. Dua malaikat itu mampir ke rumah Ibrahim, dan memberitahukan informasi bahwa mereka ditugasi Allah untuk mengazab kaum Luth dengan hujan batu dari angkasa secara bertubi-tubi.

QS. Huud (11) : 76
Hai Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Tuhanmu, dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi azab yang tidak dapat ditolak.

QS. Huud (11) : 82
Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami jungkir balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi,

Maka, kata azab memiliki arti yang sangat jelas, yaitu siksa yang pedih baik di dunia maupun di akhirat. Baik azab antar sesama manusia, maupun yang dikirimkan Allah untuk orang-orang yang kafir dan berbuat jahat...

QS. Al An'aam (6) : 65
Katakanlah: "Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami.(FIRLIANA PUTRI)

Rabu, 06 Februari 2008

AKHIR YANG BERBEDA

Dari Seorang Sahabat....

semoga kita termasuk dalam orang2 yang khusnul khotimah....amien....

Tatkala masih dibangku sekolah, aku hidup bersama kedua orangtuaku dalam
ling kungan yang baik. Aku selalu mendengar doa ibuku saat pulang dari
keluyuran dan begadang malam. Demikian pula ayahku, ia selalu dalam
shalatnya yang panjang. Aku heran, mengapa ayah shalat begitu lama, apalagi
jika saat musim dingin yang menyengat tulang.

Aku sungguh heran, bahkan hingga aku berkata kepada diri sendiri :
"Alangkah sabarnya mereka...setiap hari begitu...benar-benar mengherankan!
" Aku belum tahu bahwa disitulah kebahagiaan orang mukmin dan itulah shalat
orang orang pilihan. Mereka bangkit dari tempat tidurnya untuk munajat
kepada Allah.

Setelah menjalani pendidikan militer, aku tumbuh sebagai pemuda yang
matang. Tetapi diriku semakin jauh dari Allah padahal berbagai nasehat selalu
kuterima dan kudengar dari waktu ke waktu. Setelah tamat dari pendidikan,
aku ditugaskan di kota yang jauh dari kotaku. Perkenalanku dengan
teman-teman sekerja membuatku agak ringan menanggung beban sebagai orang
terasing.

Disana, aku tak mendengar lagi suara bacaan Al-Qur'an. Tak ada lagi suara
ibu yang membangunkan dan menyuruhku shalat. Aku benar-benar hidup
sendirian, jauh dari lingkungan keluarga yang dulu kami nikmati. Aku
ditugaskan mengatur lalu lintas di sebuah jalan tol. Di samping menjaga
keamanan jalan,tugasku membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan.
Pekerjaan baruku sungguh menyenangkan. Aku lakukan tugas-tugasku dengan
semangat dan dedikasi tinggi.

Tetapi, hidupku bagai selalu diombang-ambingkan ombak. Aku bingung dan
sering melamun sendirian ... banyak waktu luang ... pengetahuanku terbatas.
Aku mulai jenuh ... tak ada yang menuntunku di bidang agama. Aku sebatang
kara. Hampir tiap hari yang kusaksikan hanya kecelakaan dan orang-orang
yang mengadu kecopetan atau bentuk-bentuk penganiayaan lain.

Aku bosan dengan rutinitas. Sampai suatu hari terjadilah sebuah peristiwa
yang hingga kini tak pernah aku lupakan.
Ketika itu, kami dengan seorang kawan sedang bertugas disebuah pos jalan.
Kami asyik ngobrol ... tiba-tiba kami dikagetkan oleh suara benturan yang
amat keras. Kami mengedarkan pandangan. Ternyata, sebuah mobil bertabrakan
dengan mobil lain yang meluncur dari arah yang berlawanan. Kami segera
berlari menuju tempat kejadian untuk menolong korban. Kejadian yang sungguh
tragis.

Kami lihat dua awak salah satu mobil dalam kondisi kritis. Keduanya segera
kami keluarkan dari mobil lalu kami bujurkan di tanah. Kami cepat-cepat
menuju mobil satunya. Ternyata pengemudinya telah tewas dengan amat
mengerikan.
Kami kembali lagi kepada dua orang yang berada dalam kondisi koma. Temanku
menuntun mereka mengucapkan kalimat syahadat. Ucapkanlah "Laailaaha
Illallaah ... Laailaaha Illallaah .." perintah temanku. Tetapi sungguh
mengerikan,
dari mulutnya malah meluncur lagu-lagu. Keadaan itu membuatku merinding.
Temanku tampaknya sudah biasa menghadapi orang-orang yang sekarat ...
Kembali ia menuntun korban itu membaca syahadat. Aku diam membisu. Aku tak
berkutik dengan pandangan nanar. Seumur hidupku, aku belum pernah
menyaksikan orang yang sedang sekarat, apalagi dengan kondisi seperti ini.
Temanku terus menuntun keduanya mengulang-ulang bacaan syahadat.
Tetapi ... keduanya tetap terus saja melantunkan lagu.

Tak ada gunanya ... Suara lagunya terdengar semakin melemah ... lemah dan
lemah sekali. Orang pertama diam, tak bersuara lagi, disusul orang kedua.
Tak ada gerak ... keduanya telah meninggal dunia. Kami segera membawa
mereka ke dalam mobil. Temanku menunduk, ia tak berbicara sepatahpun.
Selama perjalanan hanya ada kebisuan. Hening...
Kesunyian pecah ketika temanku mulai bicara.Ia berbicara tentang hakikat
kematian dan su'ul khatimah (kesudahan yang buruk).

Ia berkata "Manusia akan mengakhiri hidupnya dengan baik atau buruk..
Kesudahan hidup itu biasanya pertanda dari apa yang dilakukan olehnya
selama di dunia.
"Ia bercerita panjang lebar padaku tentang berbagai kisah yang diriwayatkan
dalam buku-buku islam. Ia juga berbicara bagaiman seseorang akan mengakhiri
hidupnya sesuai dengan masa lalunya secara lahir batin.
Perjalanan kerumah sakit terasa singkat oleh pembicaraan kami tentang
kematian. Pembicaraan itu makin sempurna gambarannya tatkala ingat bahwa
kami sedang membawa mayat. Tiba-tiba aku menjadi takut mati. Peristiwa ini
benar-benar memberi pelajaran berharga bagiku. Hari itu, aku shalat khusyu'
sekali.

Tetapi perlahan-lahan aku mulai melupakan peristiwa itu. Aku kembali pada
kebiasaanku semula ... Aku seperti tak pernah menyaksikan apa yang menimpa
dua orang yang tak kukenal beberapa waktu yang lalu. Tetapi sejak saat itu,
aku memang benar-benar menjadi benci kepada yang namanya lagu-lagu. Aku tak
mau tenggelam menikmatinya seperti sedia kala.
Mungkin itu ada kaitannya dengan lagu yang pernah kudengar dari dua orang
yang sedang sekarat dahulu. Kejadian yang menakjubkan !.

Selang enam bulan dari peristiwa mengerikan itu .... sebuah kejadian
menakjubkan kembali terjadi di depan mataku. Seseorang mengendarai mobilnya
dengan pelan, tetapi tiba-tiba mobilnya mogok di sebuah terowongan menuju
kota . Ia turun dari mobilnya untuk mengganti ban yang kempes. Ketika ia
berdiri dibelakang mobil untuk menurunkan ban serep, tiba-tiba sebuah mobil
dengan kecepatan tinggi menabraknya dari arah belakang. Lelaki itupun
langsung tersungkur seketika. Aku dengan seorang kawan, bukan yang
menemaniku pada peristiwa pertama cepat-cepat menuju tempat kejadian.
Dia kami bawa dengan mobil dan segera pula kami menghubungi rumah sakit
agar langsung mendapat penanganan.Dia masih sangat muda, wajahnya begitu
bersih.Ketika mengangkatnya ke mobil, kami berdua cukup panik, sehingga tak
sempat memperhatikan kalau ia menggumamkan sesuatu. Ketika kami
membujurkannya di dalam mobil, kami baru bisa membedakan suara yang keluar
dari mulutnya.

Ia melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an ... dengan suara amat lemah.
"Subhanallah ! dalam kondisi kritis seperti itu ia masih sempat melantunkan
ayat-ayat suci Al-Qur'an ? Darah mengguyur seluruh pakaiannya,
tulang-tulangnya patah, bahkan ia hampir mati. Dalam kondisi seperti itu,
ia terus melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an dengan suaranya yang merdu.Selama
hidup, aku tak pernah mendengar bacaan Al-Qur'an seindah itu. Dalam batin
aku bergumam sendirian "Aku akan menuntunya membaca syahadat sebagaimana
yang dilakukan oleh temanku terdahulu ... apalagi aku sudah punya
pengalaman." aku meyakinkan diriku sendiri. Aku dan kawanku seperti
terhipnotis mendengarkan suara bacaan Al-Qur'an yang merdu itu.
Sekonyong-konyong sekujur tubuhku merinding, menjalar dan menyelusup ke
setiap rongga.Tiba-tiba, suara itu terhenti. Aku menoleh kebelakang.
Kusaksikan dia mengacungkan jari telunjuknya lalu bersyahadat. Kepalanya
terkulai, aku melompat ke belakang.

Kupegang tangannya, degup jantungnya, nafasnya, tidak ada yang terasa. Dia
telah meningal. Aku lalu memandanginya lekat-lekat, air mataku menetes,
kusembunyikan tangisku, takut diketahui kawanku.
Kukabarkan kepada kawanku kalau pemuda itu telah meninggal. Kawanku tak
kuasa menahan tangisnya. Demikian pula halnya dengan diriku. Aku terus
menangis air mataku deras mengalir.Suasana dalam mobil betul-betul sangat
mengharukan..Sampai di rumah sakit .....Kepada orang-orang di sana , kami
mengabarkan perihal kematian pemuda itu dan peristiwa menjelang kematiannya
yang menakjubkan.

Banyak orang yang terpengaruh dengan kisah kami, sehingga tak sedikit yang
meneteskan air mata.
Salah seorang dari mereka, demi mendengar kisahnya, segera menghampiri
jenazah dan mencium keningnya. Semua orang yang hadir memutuskan untuk
tidak beranjak sebelum mengetahui secara pasti kapan jenazah akan di
shalatkan. Mereka ingin memberi penghormatan terakhir kepada jenazah. Semua
ingin ikut menyolatinya. Salah seorang petugas rumah sakit menghubungi
rumah almarhum. Kami ikut mengantar jenazah hingga ke rumah keluarganya.
Salah seorang saudaranya mengisahkan, ketika kecelakaan, sebetulnya
almarhum hendak menjenguk neneknya di desa. Pekerjaan itu rutin ia lakukan
setiap hari senin. Disana almarhum juga menyantuni para janda, anak yatim
dan orang-orang miskin.

Ketika terjadi kecelakaan, mobilnya penuh dengan beras, gula, buah-buahan
dan barang-barang kebutuhan pokok lainnya. Ia juga tak lupa membawa
buku-buku agama dan kaset-kaset pengajian. Semua itu untuk dibagi-bagikan
kepada orang-orang yang dia santuni. Bahkan juga membawa permen untuk
dibagikan kepada anak-anak kecil.

Bila tiba saatnya kelak, kita menghadap Allah Yang Perkasa. hanya ada satu
harap, semoga kita menjadi penghuni surga. Biarlah dunia jadi kenangan,
juga langkah-langkah kaki yang terseok, di sela dosa dan pertaubatan.
Hari ini, semoga masih ada usia, untuk mengejar surga itu, dengan amal-amal
yang nyata : "memperbaiki diri dan mengajak orang lain "
Allah Swt berfirman:
"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari
kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka
dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan
dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan." (QS. Al-Imran
:185)

Rasulullah Saw telah mengingatkan dalam sabadanya, "Barangsiapa yang lambat
amalnya, tidak akan dipercepat oleh nasabnya."

Saudaraku Siapa yang tau kapan, dimana, bagaimana, sedang apa, kita menemuai
tamu yang pasti menjumpai kita, yang mengajak menghadap Allah SWT,Orang
yang cerdik dan pandai adalah yang senantiasa mengingat kematian dalam
waktu waktu yang ia lalui kemudian melakukan persiapan persiapan untuk
menghadapinya.


note : amalkan ilmu, sampaikan walau satu ayat, salah satu amalan yang
terus mengalir walau seseorang sudah mati adalah ilmu yang bermanfaat.

Begitulah hendaknya engkau nasehati dirimu setiap hari karena engkau tidak
menyangka mati itu dekat kepadamu bahkan engkau mengira engkau mungkin
hidup lima puluh tahun lagi, Kemudian engkau menyuruh dirimu berbuat taat,
sudah pasti dirimu tidak akan patuh kepadamu dan pasti ia akan menolak dan
merasa berat untuk mengerjakan ketaatan.

Nasehat ini terutama untuk diri saya sendiri,dan saudara-saudaraku seiman
pada umumnya.

Jazakumullah khairan katsiran

Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.
(Firliana Putri)

Minggu, 27 Januari 2008

MISTERI SANDAL JAPIT

Sandal japit selalu menjadi cerita primadona, ada apa...?

Sebagaian besar para jama'ah yang pulang dari haji, sering bercerita tentang sandal japit mereka. Hal ini sudah sejak puluhan tahun yang lalu. Apakah hal ini terpengaruh oleh cerita jama'ah haji sebelumnya, ataukah tidak. Tetapi yang jelas setiap kita mengunjungi jama'ah haji yang baru pulang dari ibadahnya, selalu ada cerita tentang sandal japit.

Pak Adi misalnya, ia sejak berangkat dari tanah air membawa sandal japit sebanyak lima pasang. Ketika seorang temannya bertanya mengapa membawa sebanyak itu, ia hanya tertawa saja, sambil ganti bertanya setengah mengolok temannya:
"Apa kamu tidak pernah tahu cerita orang-orang haji sebelumnya? Kalau kamu tahu pasti kamu akan membeli dan mempersiapkan sandal lebih banyak dari saya!" katanya. Sang teman pun hanya geleng kepala saja sambil pergi.

Ketika pak Adi pulang dari ibadah haji, Ia kembali bercerita tentang sandal japitnya. Ternyata benar ‘firasat’nya! Lima pasang sandal yang ia persiapkan dari rumah, di kota Mekah hanya bisa 'bertahan' lima hari saja. Setiap hari ia kehilangan sandal japitnya. Selalu lupa di mana menaruh sandalnya tersebut. Sehingga pada hari yang ke enam ia membeli lagi sandal di kota mekah untuk kesehariannya. Dan anehnya sandal yang ia beli tersebut bertahan sampai ia selesai melakukan ibadah di kota Mekah.

Pak Santo, adalah teman pak Adi. Mereka bekerja pada kantor yang sama. Tetapi karena pak Santo mengikuti rombongan yang berbeda, mereka tidak berada pada kloter yang sama. Meskipun mereka berbeda hotel dan berbeda kloter, ternyata pada hari yang ke enam, mereka bertemu di masjidil Haram. Betapa senangnya mereka. Maka sambil bercerita pengalamannya, mereka pulang ke hotel masing-masing sambil jalan bersama-bersama.

Pak Adi membuka pembicaraan :
"Wah, sandal yang kupersiapkan lima pasang dari rumah itu, ternyata sekarang sudah 'habis'. Setiap hari aku selalu lupa di mana aku menaruhnya. Padahal pintu mana ketika aku memasuki masjid sudah aku ingat-ingat. Tetapi tetap saja sandal yang aku letakkan di tempat yang cukup aman itu ternyata hilang."
" Oh, kalau masalah itu saya tahu betul. Pak Adi kan memang orang yang pelupa, iya toh?" Kata pak Santo.
" ...nggak heran saya, kalau sandal pak Adi selalu hilang. Kadang kunci mobil yang jelas-jelas baru ditaruh di atas meja kantor beberapa saat saja, pak Adi sudah lupa...!" sambung Pak Santo.
"...untung saja, saya ditakdirkan menjadi orang yang gampang ingat. Tidak pelupa...ha ha ha... Sejak saya datang di kota Mekah ini, sandal yang saya pakai, ya ini pak! lumayan-lah agak ngirit he he" kata Pak Santo.
"Baiklah pak, kita berpisah di sini ya. Kan hotel kita berbeda. Besok subuh kita ketemu di dekat sumur zam-zam ya..." kata pak Adi
"Ok. pak, assalamu'alaikum..." sahut pak Santo sambil menyeberang jalan menuju hotelnya.

Keesokan paginya, ketika mereka di dalam masjid, ternyata mereka berdua tidak bisa bertemu seperti maksud mereka sebelumnya, karena jama'ah begitu penuh. Maka pak Adi pun tidak berusaha mencari pak Santo lagi. Sekitar jam delapan pagi pak Adi pulang menuju hotelnya, bersama-sama dengan jama'ah rombongannya.

Ketika pak Adi berjalan, sudah sekitar lima puluh meter dari pintu masjid, ia melihat pak Santo berdiri di dekat salah satu pintu masjid. Ia berdiri saja di dekat pintu tersebut. Maka pak Adi pun mendekati pak Santo, yang saat itu kelihatan agak bingung.
"Ada apa pak?" Tanya pak Adi
"Ini pak, sandal saya tadi kan saya taruh di dekat pintu ini, saya ingat betul koq, tidak mungkin-lah saya lupa! Bahkan yang kiri saya pisahkan tempatnya dengan yang sebelah kanan. Supaya tidak terambil orang lain. Tapi dimana ya..? Saya sudah hampir lima belas menit berdiri disini, tapi belum ketemu juga....

Pak Adi hanya tersenyum saja menyaksikan kebingungan pak Santo. Katanya dalam hati: “....tahu rasa kamu sekarang...!”
Dan pak Adi-pun pergi meninggalkan pak Santo yang masih kebingungan di dekat pintu masjid. Ketika pak Adi sambil berjalan melayangkan pandangannya ke arah pak Santo, ia melihat pak Santo-pun meninggalkan pintu masjid berjalan pulang tanpa mengenakan alas kaki...

Lain lagi halnya dengan bu Toni. Ketika ia berjalan pulang dengan beberapa temannya, bu Toni bercerita bahwa ia merasa kasihan melihat bu Fajar, yang baru satu hari di Mekah bu Fajar sudah kehilangan sandalnya. Padahal sandal itu sudah diletakkan di tempat yang aman, di dekat tempat ia shalat katanya. Tapi tetap saja ketika shalat sudah selesai, bu Fajar tidak menemukan sandalnya.
Kata bu Toni: "..Ya maklumlah, karena pergeseran-pergeseran shaf ketika akan shalat, maka tempat berubah dari posisi semula. Sehingga tentu bu Fajar kesulitan mencari-nya kembali."

Tiba-tiba bu Sodiq yang berada di sebelah bu Toni berkomentar: "Kalau saya bu, sejak dari rumah sudah diberi tahu oleh kakak saya yang tahun kemarin berangkat haji. Pokoknya kalau ke masjid kita bawa aja tas kresek. Atau tas apa saja khusus untuk tempat sandal supaya tidak hilang. Sekarang pun saya membawa! Dan selalu siap sedia dengan tas tersebut, sehingga amanlah sandal saya...!"

Seperti biasanya, keesokan harinya sebelum waktu subuh, rombongan bu Toni sudah berangkat menuju masjid. Mereka masing-masing membawa sandalnya menuju tempat, dimana mereka berada. Sandal mereka letakkan di dekat tempat duduk mereka. Setelah shalat subuh dikumandangkan melalui iqamah bilal, mereka pun tenggelam dalam suasana shalat subuh yang menyejukkan.

Seusai shalat, mereka tetap beraktivitas di dalam masjid. Ada yang membaca Al-Qur'an ada yang thawaf, ada yang berdzikir, dan sebagainya. Bu Sodiq pun melihat-lihat keindahan arsitektur masjidil Haram. Ia berjalan kesana-kemari, bahkan beberapa kali ke tempat air zam-zam.

Setelah dirasa cukup dengan aktivitasnya masing-masing, rombongan bu Toni sepakat untuk pulang ke hotel. Para jama'ah bertebaran keluar dari masjid untuk kembali ke hotelnya masing-masing. Bu Toni dan teman-temannya bergegas mau pulang, tetapi mereka masih menunggu bu Sodiq yang belum kembali dari acara jalan-jalannya di dalam masjid tersebut.
" Nah, itu dia bu Sodiq, ayo kita pulang..!" kata bu Toni. " lho, sandal saya dimana toh, tadi kan disini?" kata bu Sodiq setengah terkejut, setelah ia melihat tas sandalnya tidak ada ditempatnya lagi.
"iya, tadi kan di sini, bersama sandal milik kita semua..., dimana ya? celetuk ibu yang lain. "...yaah, mungkin aja ada orang yang keliru membawa tas sandalnya, dikira miliknya, padahal itu milik bu Sodiq ya..."
" Mungkin juga iya..., memang warna tas saya hitam, jadi banyak yang mirip. Sehingga mungkin saja ada orang yang lupa menaruh tasnya, maka diambil-lah tas saya..."jawab ibu Sodiq dengan agak malu kepada ibu-ibu yang lain. Soalnya kemarin ia sudah berbangga bahwa tidak mungkin, sandalnya akan hilang.
Secara logika, sebenarnya 'para' sandal tersebut tidaklah hilang. Tetapi ada saja penyebabnya sehingga pemiliknya kehilangan atau tidak bisa menemukan sandalnya yang sudah ditempatkan di posisi yang aman.

Pak Adi, Pak Santo, Bu Toni, Bu Fajar, maupun bu Sodiq, mereka adalah contoh kecil dalam hal kehilangan sandal. Setiap tahun setiap saat musim haji selalu ada cerita unik tentang sandal japit. Satu hal, yang rata-rata menjadi kuncinya, ialah masalah kebanggaan dan kesombongan diri.

Para jama'ah diperintahkan bertamu di rumah Allah adalah untuk melatih ketawadhu'annya. Melatih sabarnya, dan juga melatih ketawakalannya. Bangga, ria, sombong adalah penyakit hati, yang mencerminkan ego yang tinggi.

Karenanya, penyakit-penyakit itu harus dihilangkan, dengan cara berserah diri kepada Ilahi Rabbi, merasa kecil di hadapan Allah Yang Maha Besar, merasa rendah di hadapan Allah Yang Maha Tinggi.

QS.Al-Qashash (28) : 76
Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: "Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.

Inilah salah satu pelajaran dalam perjalanan haji. Misteri tentang sandal japit! Meskipun nampak sederhana, tetapi merupakan pelajaran yang memiliki nilai sangat tinggi di dalamnya... (Firliana Putri)

Jumat, 25 Januari 2008

SEBUTIR DEBU DI KEDIPAN MATA

Betapa kalang kabut orang yang matanya kemasukan debu. Terasa perih. Mengganjal. Sakit, berurai air mata. Dan, tidak bisa melihat apa Baja.

Lebih kalang kabut, kalau debu tidak juga mau keluar. Ditiup, tak mau keluar. Dirambang air juga tak mau keluar. Dikucek-kucek, semakin perih. Mata memerah berurai air mata. Tak bisa melakukan aktifitas apa-apa. Bahkan berkedip pun terasa sakit. Sungguh tersiksa...

Tapi betapa jarangnya kita berpikir, seandainya mata kita terganggu seperti itu. Sangat merepotkan dan tersiksa. Siapakah yang bisa menolong kita selain Allah? Barangkali anda akan mengatakan, "bukankah dokter bisa menolong kita"?

Ya, kalau dokter itu pun dicobai oleh Allah dengan problem mata seperti itu, tidak ada yang bisa menghalangi. Betapa banyaknya, dokter jantung terkena penyakit jantung. Dokter saraf terkena penyakit saraf. Dan dokter mata terkena penyakit mata. Tidak ada yang bisa menjamin, bahwa dokter adalah jaminan atas segala problem kesehatan kita.

Itu baru persoalan sebutir debu masuk mata. Belum lagi, soal-soal yang lebih serius berkaitan dengan kesehatan mata kita. Banyak sekali penyakit mata aneh-aneh yang diderita oleh manusia di muka bumi ini.

Sehingga, soal kedipan mata saja, sebenarnya adalah persoalan yang serius dalam kesehatan kita. Bayangkan kalau anda tidak bisa berkedip. Apa jadinya? Setiap kedipan itu membawa nikmat tiada berhingga bagi kesehatan mata kita.

Berkedip adalah mekanisme untuk menetralisir kembali kondisi mata yang kering dan kelelahan. Orang yang melotot terus di depan komputer selama berjam-jam dianjurkan untuk sering berkedip-kedip agar matanya tidak cepat rusak.

Radiasi layar komputer yang mengenai mata kita terus menerus akan menyebabkan pemanasan terhadap kornea mata. Ini bisa menyebabkan kekeruhan dalam jangka panjang. Dengan sering berkedip, mata kita akan basah dan sejuk kembali.

Coba bayangkan, setiap kedipan mata itu, Allah memberikan nikmat dan penjagaan kepada mata kita. Dengan ketelitian yang sangat tinggi. Kandungan air, protein, dan mineral yang terdapat di dalam air mata kita itu terukur dengan cermat. Setiap berkedip Allah mengusap bola mata kita. Subhanallah. Tapi kita tidak merasakannya. Biasa saja.

Coba hitung berapa kalikah Allah mengusap mata kita lewat kedipan itu dalam sehari semalam. Saya hitung, dalam setiap menit, seseorang bisa berkedip antara 60 sampai 80 kedipan. Anggap saja 70 kedipan. Maka dalam 1 jam kita berkedip sebanyak 4.200 kali. Dalam sehari, di luar tidur, kita berkedip sekitar 16 jam x 4200 = 67.200 kali.

Dalam setahun kita bekedip 24.192.000 kali. Dan pada orang yang berumur 40 tahun, mereka sudah berkedip sekitar 967,68 juta kali. Subhanallah. Hampir 1 miliar kali Allah mengusap mata kita agar tidak cepat rusak dan sakit, sehingga merepotkan pemiliknya. Pernahkah kita berterima kasih? Tidak. Kalau pun ada, sangatlah jarang. Tapi, Allah tetap saja menyayangi kita. Memberikan kemampuan berkedip untuk menjaga kesehatan mata kita.

Maka betapa indahnya kalau setiap bangun tidur membuka mata, di pagi hari, kita lantas teringat kepada nikmat Allah yang demikian besar itu. Allah memberikan ijin agar kita masih bisa membuka mata, dan berkedip.

Belum lagi kita bicara hidung, telinga, lidah, mulut, gigi, jantung, liver, ginjal, otak dan lain sebagainya. Bertriliun-triliun kondisi kesehatan kita dikendalikan oleh Allah dengan kecermatan yang tiada tara .

(QS. An Nanl : 18)
Dan jika kamu menghitung-hitung ni'mat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(Firliana Putri)

ALHAMDULILLAH, BETAPA SEGARNYA!

Mandi, betapa segarnya! Bisakah anda membedakan segarnya badan antara sebelum dan sesudah mandi? Pasti terasa. Sebelum mandi, lemas. Sesudah mandi, badan lebih segar dan bersemangat.

Islam mengajarkan umatnya untuk mandi. Kenapa? Karena mandi, wudlu, dan membersihkan diri bakal memberikan kondisi yang menyehatkan. Islamlah satu-satunya agama yang mengajarkan mandi secara eksplisit kepada umatnya. Padahal Islam turun di daerah Arab yang sulit air. Tetapi, Allah Maha Tahu, bahwa manusia butuh mandi. Karena itu ada perintah mandi janabat, wudlu, dan istinja'.

Mandi, di era modern, bahkan sering digunakan sebagai terapi dan penyembuhan. Mandi memberikan kesegaran karena menyeimbangkan suhu badan secara keseluruhan.

Ketika bekerja keras seseorang akan mengalami peningkatan suhu secara tidak merata. Aktifitas otak yang intens akan menyebabkan suhu di sekitar kepala meningkat. Aktifitas otot tangan yang berlebihan juga akan menyebabkan suhu di sekitar tangan meningkat. Demikian pula aktifitas kaki, dan lain sebagainya.

Nah, peningkatan suhu lokal ini, akan menyebabkan ketidak-seimbangan kondisi badan. Dengan cara berwudlu, atau apalagi mandi, suhu badan akan diseimbangkan kembali. Segar. Maka, mandi adalah salah satu bentuk nikmat Allah yang diberikan kepada kita. Semakin bersyukur, semakin nikmat rasanya.

Aktifitas pagi yang tepat, adalah awal yang baik bagi kinerja kita seharian. Bangun pagi penuh nikmat, membuka mata penuh rasa syukur, dan mandi pagi seiring dengan segarnya badan, sungguh bakal memompa jiwa kita. Bekerja dan mencari rezeki pun jadi penuh semangat...

Betapa enaknya orang yang selalu ingat Allah. Berdzikir di setiap waktu yang kita miliki. Semuanya jadi nikmat. Guyuran air pun jadi sumber kebahagiaan. Bukan dibuat-buat. Apalagi dipaksa-paksakan. Semuanya berjalan secara alami, karena kita paham apa yang kita rasakan dan kita alami.

Bahkan kalau kita mau mengamati lebih jauh. Saat di kamar mandi buang air, itu adalah karunia yang luar biasa besarnya kepada kita. Bayangkan kalau kita tidak bisa buang air - besar maupun kecil.

Betapa banyak orang yang menderita dan kemudian masuk rumah sakit karena tidak bisa buang air. Saya pernah melihat seorang kawan yang sakit liver kronis. Salah satu efeknya, dia tidak bisa buang air besar. Setiap buang air besar dia sangat tersiksa. Tapi tidak juga bisa. Perutnya membuncit, karena kotoran tidak bisa keluar dengan lancar. Bahkan pembuluh darah di matanya sempat pecah karena mengejan terlalu keras, setiap buang air besar. Astaghfirullah...

Kita yang sehat ini diberi kenikmatan oleh Allah tiada terkira. Tapi tidak merasakan. Tidak menyadarinya. Tidak mensyukurinya. Jangan menyesal kalau suatu ketika nikmat itu lepas dari tangan kita dan ketemu dengan penderitaan yang menyakitkan. Na'udzubillahi mindzalik. Mudah-mudahan Allah melindungi dan mengampuni kekhilafan kita...

Marilah kita ikuti sabda Rasulullah saw, kita jaga kesehatan semasih kita bisa. Dan kita syukuri nikmat ini selagi diberi kesempatan...

Sabda Rasulullah saw:
“Barangsiapa sehat lahirnya, dan juga sehat batinnya, maka seolah-olah dunia dan isinya ini menjadi miliknya…”(Firliana Putri)

MAKAN BERSAMA ALLAH

Beberapa jauh anda bisa 'melihat' hikmah yang ada di balik makanan yang sedang kita santap? Tahukah anda darimana nasi dan lauk pauk yang anda makan? Tentu saja, anda spontan akan menjawab : tahu!

Bahwa nasi yang kita makan itu, berasal dari padi yang ditanam petani. Bagaimana padi itu bisa jadi nasi? Anda dengan pasti menjawab: karena sudah diproses oleh mesin selep, yang merontokkan kulit bijinya.

Lantas bagaimana bisa sampai ke tempat anda? Tentu saja dibawa oleh pedagang untuk dijual ke perkotaan. Setelah itu dimasak, dan kemudian disajikan di piring makanan kita.

Lebih jauh, saya bertanya, berapa orang yang terlibat dalam proses menyediakan nasi putih di piring anda itu? Yah, saya nggak tahu. Yang jelas cukup banyak.

Ada sejumlah petani, yang menabur biji di sawah. Menyiangi tanaman liarnya. Menunggu dan merawatnya selama beberapa bulan dengan penuh harap dan kesetiaan. Lantas, setelah menguning dipanen untuk dijual ke pedagang.

Sang pedagang punya beberapa karyawan untuk mengurusi dan mengangkuti karung-karung padi. Kemudian di bawa ke pabrik selep, untuk mengelupas kulit bulirnya.

Setelah itu, diangkutlah dengan menggunakan truk-truk menuju daerah-daerah yang jauh dari lokasi pertanian itu. Sampai di kota dijual di toko-toko. Dan kemudian kita beli untuk makan sehari-hari.

Coba cermati berapa banyak orang yang terlibat di dalam proses bulir padi menjadi nasi yang siap kita makan. Bisa ratusan atau mungkin ribuan orang. Belum lagi, sayur mayur, lauk pauk, tempe , tahu, ikan laut, daging sapi dan ayam, telur, dan berbagai bumbu-bumbu masak yang terlibat di dalamnya.

Dari manakah itu semua? Kenapa bisa demikian mudah sampai di meja makan kita, dan kemudian kita santap bareng keluarga, dengan penuh nikmat. Jika anda tidak mencoba mencari hikmah di dalamnya, barangkali anda akan dengan santai mengatakan, bahwa semua itu berjalan dengan sendirinya karena semua orang yang terlibat di dalamnya butuh bekerja.

Tapi, coba renungkan, kenapa mereka tidak menjadi petani semua. Atau menjadi peternak semua. Atau menjadi nelayan semua. Atau, menjadi pegawai semua. Kenapa, ada yang ingin menanam padi, ingin menyalurkan dan mendistribusikan, ingin menjual di toko-toko, ingin membeli, ingin memasak, ingin memakannya, dan lain sebagainya.

Dan, ini melibatkan beribu-ribu orang secara harmonis membentuk suatu tatanan hidup yang saling membutuhkan. Ada yang kaya, ada yang miskin. Ada penguasa, ada rakyat jelata. Ada penjual, ada pembeli.

Bayangkan kalau manusia ini kaya semua. Tidak ada yang miskin. Siapa yang mau menjadi karyawan? Tidak ada. Semua ingin menjadi bos. Bayangkan kalau semua manusia adalah penguasa. Siapa yang mau jadi rakyat jelata? Tidak ada. Bayangkan kalau semua ingin menikmati makanan tanpa terlibat dalam proses penyediaannya. Kita semua malah tidak ada yang bisa makan. Siapakah yang menciptakan harmoni ini? Tidak ada lain. Dialah Allah Sang Maha Bijak dan Maha Pemurah.

Kembali kepada makanan yang sedang kita santap. Dialah, Allah yang menyediakan buat kita. Allah yang menyiapkan nasi putih tanpa kita harus menanam. Allah `memerintah' orang lain untuk menanam buat kita. Agar kita bisa makan dengan enak. Sebaliknya, Allah memerintahkan kepada kita untuk membeli nasi itu sehingga bisa menghidupi petani, pedagang, jalur distribusi, dan siapa saja yang terlibat di dalamnya.

Allah juga yang memerintah para peternak, nelayan, pembuat tempe dan tahu, juru masak, pembuat piring dan sendok, gelas, teh, kopi, dan segala macam rezeki yang ditebarkanNya di muka bumi.

Ribuan orang atau bahkan jutaan orang terlibat untuk menyiapkan makan pagi, makan siang dan makan malam kita. Selama bertahun-tahun. Selama peradaban manusia. Betapa mempesona dan indahnya...!

Masihkah kita berpikir sempit dan egois? Sementara Allah demikian bijak dan menyayangi kita semua. Ia Maha Pemurah, dengan segala caraNya yang luar biasa. Memudahkan dan memberikan kesenangan, kenikmatan tiada tara ...

QS. Al Baqarah (2) : 29
Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

Namun, yang demikian ini hanya bisa ‘dilihat’ oleh orang-orang yang mencari hikmah dalam hidupnya. Orang-orang yang dekat dengan Allah. Orang-orang yang selalu ingat bahwa segala sesuatu tidak ada yang kebetulan. Orang-orang yang hatinya selalu berdzikir dalam segala situasi dan kondisi.

Termasuk ketika dia sedang menyantap makanannya. Sebelum makan ia ucapkan dan sesudahnya ia bisikkan Alhamdulillah. Karena ia tahu bahwa ia sedang ‘makan bersama Allah'...(Firliana Putri)

Senin, 07 Januari 2008

Jam kerja

Berapa hari kita bekerja dalam sehari ?
8 jam, 10 jam atau 16 jam plus lembur ?

Berapa duit yang kita hasilkan dari kerja sekian jam tersebut dalam setahun ?
20 juta, 50 juta, 100 juta tau 5 milyar ?

Cukupkah jumlah itu untuk membeli satu biji mata kita atau organ jantung kita atau organ genital kita ? Atau bahkan mungkin cukupkah untuk membeli organ tubuh kita secara lengkap, organ tubuh yang berfungsi sempurna berikut seluruh kenikmatan yang di dapat dari organ tubuh tersebut ?

Cukupkah untuk membeli oksigen yang kita hirup selama ini ?

Cukupkan untuk membeli 100 milyar sel di dalam otak kita yang menyimpan potensi kehidupan yang luar biasa yang sampai saat ini pun bahkan para ahli belum tahu seberapa maksimal kemampuan otak kita ?

oh.... ternyata kita terlahir dalam keadaan yang sangat kaya. Kita lahir dalam keadaan yang memungkinkan kita menjalani hidup ini. Siapa yang memberi atau membekalinya ?

ALLAH

Semua dari ALLAH ternyata. Kenapa kita tidak bekerja saja sama ALLAH ? Pasti gaji kita dari ALLAH tidak terkira ?

Gimana caranya ? Yah... jalankan saja proyek-proyeknya Gusti ALLAH. BERES

Gimana bisa menjalankan proyek-proyeknya Gusti ALLAH, kalau baru niat aja sudah dijegal sama hawa nafsu kita yang diharu biru oleh syetan ?

Gampang.... pegang kuncinya, buka pintunya.

KUNCINYA ADALAH DZIKIR.

Pegang kuncinya, buka pintunya!

Mau meningkatkan kualitas diri secara lengkap (lahiriyah-batiniyah, material-spiritual, dunia-akhirat) - gampang sekali, pegang kuncinya, buka pintunya. Sebagaimana tulisan yang lalu. KUNCINYA ADALAH DZIKIR.

Dzikir yang bagaimana ?

Dzikir yang diajarkan secara khusus yang mempunyai mata rantai - silsilah - otoritas pengajaran dzikir dari Rasulullah SAW.

Agama ISLAM secara lengkap terdiri dari 3 pondasi dasar yaitu IMAN, ISLAM dan IHSAN, sebagaiman hadits yang mengisahkan ketika Rasulullah Muhammad SAW di"test" oleh Malaikat Jibril a.s.

Dari Umar Al Khattab r.a. berkata: Pada suatu hari ketika kami duduk di samping Rasulullah SAW, tiba-tiba muncul seorang lelaki di hadapan kami yang pakaiannya terlalu putih dan rambutnya terlalu hitam, tidak terdapat padanya tanda-tanda orang yang bermusafir tetapi tidak seorang pun daripada kami mengenalinya. Dia mendekati Nabi SAW, dengan duduk menyandarkan lututnya bertemu dengan lutut Rasulullah dan kedua tapak tangannya diletakkan ke atas kedua paha Rasulullah saw.
Dan dia terus bertanya: "Wahai Muhammad, terangkan padaku mengenai ISLAM."
Maka Rasulullah SAW bersabda, "Islam ialah kamu mengucapkan pengakuan (syahadah): dan kamu dirikan sembahyang, dan kamu keluarkan zakat dan kamu berpuasa (dalam bulan) Ramadhan dan menunaikan haji di Baitullah jika berkemampuan ke sana."Benarlah kamu,". Kata-katanya itu mengherankan kami karena dia yang bertanya dan dia juga yang membenarkannya. Dan seterusnya dia bertanya lagi, "Terangkan padaku mengenai IMAN." Rasulullah bersabda, "Bahwa kamu beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, Hari Akhirat dan ketentuan baik dan buruknya (qadha dan qadar) dari Allah." "Benar," dia mengakuinya dan bertanya lagi: "Terangkan padaku apa itu IHSAN?" Rasulullah berkata, "Ihsan ialah kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, jika tidak sesungguhnya Dia sentiasa memperhatikan kamu." "Benar," jawab lelaki itu.

IMAN nantinya berkembang menjadi displin ilmu Tauhid - ilmu ketuhanan.
ISLAM nantinya berkembang menjadi displin ilmu Fiqh - tata cara ibadah dan muamalah.
IHSAN nantinya berkembang menjadi disiplin ilmu Tasawuf - manajemen qolbu dengan amaliahnya yaitu Thoreqoh.

Namun yang terus diajarkan secara terus menerus pada masyarkat umum kebanyakan hanya IMAN dan ISLAM, sedangkan IHSAN sering tidak mendapat perhatian secara khusus, padahal sesungguhnya IHSAN itulah yang merupakan intisari dalam beragama, yaitu bagaimana kita mengenal ALLAH. Karena dengan mengenal ALLAH bukan hanya secara teori bahwa Allah itu ada melainkan Haqqul Yaqin akan ALLAH - benar-benar merasakan Allah - maka kita akan ridho kalau ALLAH tuhan kita dan kitalah hamba. Bila kesadaran itu sudah menyatu dalam diri kita maka kita akan dengan ringan menjalankan seluruh yang disyariatkan (ISLAM) bukan karena terpaksa atau karena adanya surga ataupun neraka, tetapi karena kita IMAN kepada ALLAH. Di situlan manisnya iman dan islam baru dapat kita rasakan.

Kembali ke masalah dzikir, karena dzikir sebagi kunci "pembuka pintu" tersebut haruslah yang mempunyai silsilah otoritas pengajaran, maka tidak sembarang orang yang bisa mengajarkan dzikir tersebut. Dzikir tersebut harus berfungsi sebagai biji iman yang ditanamkan ke dalam tanah qolbu kita dan dapat mensucikan qolbu kita sehingga nanti dapat membuahkan akhlaqul karimah.

Selama ini sering kita melaksanakan ritual peribadahan, menghadiri pengajian, mendengarkan ceramah, mengikuti berbagai pelatihan EQ, SQ, QQ dan sebagainya. Tetapi mengapa kita belum berubah juga, semua itu rasanya sebatas teori, jiwa kita kering, qolbu kita gersang, mengapa kita belum bisa merasakan ALLAH selalu hadir dalam tiap detik kehidupan kita.

Masalah utamanya ya itu tadi. Hati kita belum tersucikan, biji iman belum benar-benar tertanam.

Lalu siapa yang meneruskan Rasulullah melakukan pengajaran tersebut ?

Yaitu seorang Mursyid Kamil Mukammil - Guru Ruhani yang Sempurna dan dapat Menyempurnakan. (Firliana Putri)
 
Terimakasih Atas kunjungan Anda, Semoga Semuanya Dapat Memberikan Manfaat Bagi Kita Semua