KABUPATEN REMBANG - Petani garam di Kabupaten Rembang khawatir karena dalam beberapa hari terakhir daerahnya masih sering diguyur hujan. Padahal mereka sudah telanjur menggarap lahan tambak setelah lama tidak berproduksi karena musim hujan.
“Sekarang, untuk menentukan jadwal produksi sangat sulit. Masalahnya cuaca tidak menentu,” kata petani garam asal Lasem, (45), kemarin. Petani garam lainnya, Jumadi (45), Supriono (39), dan Parno (48) saat dihubungi secara terpisah mengatakan, sejak April sebagian petani telah melakukan penggarapan lahan tambak. Namun memasuki persiapan pembuatan garam, tiba-tiba hujan sering turun. Akibatnya, kerja selama beberapa hari menjadi sia-sia. (jl-76)
Tampilkan postingan dengan label Kabupaten Rembang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kabupaten Rembang. Tampilkan semua postingan
Kamis, 24 April 2008
Ganti Rugi Padi Ditolak
KBUPATEN REMBANG - Warga yang menduduki lahan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Sluke tidak akan menerima pembayaran ganti rugi tanaman yang ditawarkan PT PLN Persero. Tawaran harga ganti rugi tanaman yang ditaksir Rp 2.000/kg gabah, sangat jauh dari harapan warga. Ketua Forum Masyarakat Leran dan Trahan untuk Reformasi (FMLTR), Syaeful Mukmin (30), mengatakan, semestinya warga turut dilibatkan dalam menaksir ganti rugi tanaman yang dirusak untuk proyek PLTU pada Februari lalu. ”Tiba-tiba saja kami disodori ganti rugi tanaman Rp 2.000/kg. Ganti rugi tanaman segitu sangat sangat jauh dari harga pembelian petani (HPP).”
Asisten I Pemkab Gatot Sugiarso SH, mengutarakan, perhitungan ganti rugi tanaman tersebut didasarkan pada luas lahan. ”Untuk satu hektare lahan, ganti ruginya Rp 14.000.000. Ganti rugi ini lebih banyak Rp 4.000.000 dari prediksi hasil panen rata-rata warga untuk setiap hektare lahan,” jelas Gatot. (H19-76)
Asisten I Pemkab Gatot Sugiarso SH, mengutarakan, perhitungan ganti rugi tanaman tersebut didasarkan pada luas lahan. ”Untuk satu hektare lahan, ganti ruginya Rp 14.000.000. Ganti rugi ini lebih banyak Rp 4.000.000 dari prediksi hasil panen rata-rata warga untuk setiap hektare lahan,” jelas Gatot. (H19-76)
Mengembalikan Kejayaan Batik Lasem, Ikuti Pameran, Gandeng Desainer Terkenal
Oleh Djamal Abdul Garhan
APA kelebihan batik tulis lasem? Warga Rembang umumnya mengatakan, nilai seni batik tulis ini terletak pada motif. Sedikitnya ada lima motif, yaitu tiga negeri, empat negeri, kawung, rawan, dan kendoro-kendiri.
Pembuatan batik tulis lasem melalui proses yang cukup panjang. Untuk menyelesaikan satu potong batik tulis, menurut Naomi, perajin batik asal Lasem, waktu yang dibutuhkan cukup beragam. Bisa menghabiskan waktu 2-3 hari, bahkan ada sampai 6-8 bulan. Semua tergantung tingkat kerumitannya.
Pembuatan batik dilakukan secara kumulatif, artinya masing-masing orang mengerjakan satu tahapan, mulai dari pembuatan pola (nglengkreng) , menutup bagian yang tidak berpola (nembok), dan mewarnai (nerusi).
Tahap nerusi ini bisa mencapai tiga kali proses, bergantung pada berapa warna yang digunakan. Semakin banyak warna yang digunakan, semakin lama pula prosesnya. Itu sebabnya, batik tulis lasem terkenal mahal harganya. Di pasaran umum, selembar kain batik rata-rata dijual Rp 350.000 - Rp 500.000. Bahkan ada yang lebih mahal lagi, sampai Rp 2 juta.
Harga yang mahal ini pula, batik tulis lasem sempat tergusur oleh batik cap atau batik printing buatan daerah lain yang harganya jauh lebih murah. Hal itu menjadikan pasar batik tulis lasem lesu.
”Sejak munculnya batik printing, di era 1990-an, kondisi batik tulis lasem menjadi lesu,” ucap Naomi yang kini memiliki koleksi sekitar 300 potong.
Keadaan tersebut lebih diperparah adanya krisis moneter yang melanda Indonesia sejak pertengahan tahun 1997. Penjualan batik tulis menjadi sangat merosot dan akibatnya banyak perajin batik tulis yang gulung tikar.
Generasi Penerus
Menurutnya, dari sekitar 150 perusahaan batik tulis yang dulu ada di daerah ini, sekarang yang masih bertahan tinggal 30 perajin, salah satunya adalah miliknya. Selain karena faktor harga, keterpurukan usaha batik tulis juga disebabkan oleh semakin langkanya generasi yang menekuni profesi ini. Umumnya angkatan muda dari Lasem lebih memilih merantau dari pada mempertahankan tradisi membatik.
Beberapa perajin batik di Lasem umumnya mengaku, sekarang anak-anak mereka sudah bekerja di luar daerah, sehingga tidak ada penerus yang melanjutkan usahanya. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi dengan usahanya kelak.
Merasakan lesunya industri batik tulis ini, banyak pengusaha yang mencoba bangkit lagi, dengan cara menurunkan harga jual, tetapi tetap mempertahankan kualitas produksinya. Seperti yang dilakukan Sugiyem, asal Pancur.
Perajin batik tulis ini sekarang bisa melayani pembeli dengan harga cukup murah, yakni sekitar Rp 65 ribu-Rp 150 ribu/potong. Dia adalah warga pribumi yang tergolong sukses menekuni usaha tersebut. ”Saya ingin batik lasem kembali terkenal dan jaya seperti dulu,” katanya.
Lain halnya pengakuan Santoso, pengusaha batik Lasem cap Pusaka Beruang ini mengatakan, ada beberapa kelebihan yang menjadikan batik Lasem mampu bertahan hingga sekarang. Salah satunya adalah menyangkut corak yang tidak menganut pakem.
Motif batik Lasem merupakan hasil kreasi dari para seniman batik asal daerah setempat, sehingga tak ada duanya dengan hasil produksi daerah lain.
Itu sebabnya, corak batik lasem terus mengalami perubahan sesuai dengan zamannya. Namun sebagian besar motifnya diilhami oleh kekayaan hasil laut. ”Maklumlah, kami berada di daerah pantai.”
Ia menambahkan, batik lasem memiliki banyak motif. Namun motif satu dengan lainnya tidak ada yang sama, karena proses pembuatannya melalui lukisan tangan pembatik. Itu sebabnya, selembar kain batik harganya bisa mencapai jutaan rupiah. Semakin lama proses pembuatannya, kian mahal harganya.
Hal yang menarik, sekarang ini banyak orang yang memburu batik tulis Lasem buatan tahun 70-an ke bawah. Semakin kuno semakin diburu orang. Harganya tak tanggung-tanggung, selembar kain batik bisa laku dijual Rp 3 juta-Rp 10 juta, bahkan bisa lebih mahal lagi.
Beberapa pengusaha melakukan kerja sama dengan desainer (perancang busana) dari kota-kota besar. ”Langkah ini memang masih awal. Kami berharap, batik lasem bisa meraih kejayaannya kembali,”ucap Santoso. (79)
APA kelebihan batik tulis lasem? Warga Rembang umumnya mengatakan, nilai seni batik tulis ini terletak pada motif. Sedikitnya ada lima motif, yaitu tiga negeri, empat negeri, kawung, rawan, dan kendoro-kendiri.
Pembuatan batik tulis lasem melalui proses yang cukup panjang. Untuk menyelesaikan satu potong batik tulis, menurut Naomi, perajin batik asal Lasem, waktu yang dibutuhkan cukup beragam. Bisa menghabiskan waktu 2-3 hari, bahkan ada sampai 6-8 bulan. Semua tergantung tingkat kerumitannya.
Pembuatan batik dilakukan secara kumulatif, artinya masing-masing orang mengerjakan satu tahapan, mulai dari pembuatan pola (nglengkreng) , menutup bagian yang tidak berpola (nembok), dan mewarnai (nerusi).
Tahap nerusi ini bisa mencapai tiga kali proses, bergantung pada berapa warna yang digunakan. Semakin banyak warna yang digunakan, semakin lama pula prosesnya. Itu sebabnya, batik tulis lasem terkenal mahal harganya. Di pasaran umum, selembar kain batik rata-rata dijual Rp 350.000 - Rp 500.000. Bahkan ada yang lebih mahal lagi, sampai Rp 2 juta.
Harga yang mahal ini pula, batik tulis lasem sempat tergusur oleh batik cap atau batik printing buatan daerah lain yang harganya jauh lebih murah. Hal itu menjadikan pasar batik tulis lasem lesu.
”Sejak munculnya batik printing, di era 1990-an, kondisi batik tulis lasem menjadi lesu,” ucap Naomi yang kini memiliki koleksi sekitar 300 potong.
Keadaan tersebut lebih diperparah adanya krisis moneter yang melanda Indonesia sejak pertengahan tahun 1997. Penjualan batik tulis menjadi sangat merosot dan akibatnya banyak perajin batik tulis yang gulung tikar.
Generasi Penerus
Menurutnya, dari sekitar 150 perusahaan batik tulis yang dulu ada di daerah ini, sekarang yang masih bertahan tinggal 30 perajin, salah satunya adalah miliknya. Selain karena faktor harga, keterpurukan usaha batik tulis juga disebabkan oleh semakin langkanya generasi yang menekuni profesi ini. Umumnya angkatan muda dari Lasem lebih memilih merantau dari pada mempertahankan tradisi membatik.
Beberapa perajin batik di Lasem umumnya mengaku, sekarang anak-anak mereka sudah bekerja di luar daerah, sehingga tidak ada penerus yang melanjutkan usahanya. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi dengan usahanya kelak.
Merasakan lesunya industri batik tulis ini, banyak pengusaha yang mencoba bangkit lagi, dengan cara menurunkan harga jual, tetapi tetap mempertahankan kualitas produksinya. Seperti yang dilakukan Sugiyem, asal Pancur.
Perajin batik tulis ini sekarang bisa melayani pembeli dengan harga cukup murah, yakni sekitar Rp 65 ribu-Rp 150 ribu/potong. Dia adalah warga pribumi yang tergolong sukses menekuni usaha tersebut. ”Saya ingin batik lasem kembali terkenal dan jaya seperti dulu,” katanya.
Lain halnya pengakuan Santoso, pengusaha batik Lasem cap Pusaka Beruang ini mengatakan, ada beberapa kelebihan yang menjadikan batik Lasem mampu bertahan hingga sekarang. Salah satunya adalah menyangkut corak yang tidak menganut pakem.
Motif batik Lasem merupakan hasil kreasi dari para seniman batik asal daerah setempat, sehingga tak ada duanya dengan hasil produksi daerah lain.
Itu sebabnya, corak batik lasem terus mengalami perubahan sesuai dengan zamannya. Namun sebagian besar motifnya diilhami oleh kekayaan hasil laut. ”Maklumlah, kami berada di daerah pantai.”
Ia menambahkan, batik lasem memiliki banyak motif. Namun motif satu dengan lainnya tidak ada yang sama, karena proses pembuatannya melalui lukisan tangan pembatik. Itu sebabnya, selembar kain batik harganya bisa mencapai jutaan rupiah. Semakin lama proses pembuatannya, kian mahal harganya.
Hal yang menarik, sekarang ini banyak orang yang memburu batik tulis Lasem buatan tahun 70-an ke bawah. Semakin kuno semakin diburu orang. Harganya tak tanggung-tanggung, selembar kain batik bisa laku dijual Rp 3 juta-Rp 10 juta, bahkan bisa lebih mahal lagi.
Beberapa pengusaha melakukan kerja sama dengan desainer (perancang busana) dari kota-kota besar. ”Langkah ini memang masih awal. Kami berharap, batik lasem bisa meraih kejayaannya kembali,”ucap Santoso. (79)
Dua Siswi Pingsan setelah Ujian
KABUPATEN REMBANG - Dua orang siswi SMA Negeri Sumber pingsan dan beberapa lainya menangis histeris usai mengikuti ujian nasional (UN) mata pelajaran Bahasa Inggris, kemarin.
Pingsannya dua orang siswi itu diduga karena ketakutan yang teramat sangat karena tidak bisa menyelesaikan dengan baik soal UN Bahasa Inggris. Setelah dirawat beberapa waktu di unit kesehatan sekolah (UKS), dua murid itu bisa melanjutkan lagi mengerjakan UN mata pelajaran kedua.
Penjabat Kepala Pendidikan Nasional (Diknas), Muthohir, mengaku, sudah mendapatkan laporan tentang dua siswi yang pingsan itu. Di SMA Negeri Sumber, pelajaran Bahasa Inggris memang merupakan momok yang sangat ditakuti siswa. ‘’Mungkin karena terbebani sehingga mengakibatkan dua siswi itu pingsan. Dua siswi itu bisa melanjutkan UN untuk mata ujian jam kedua,’’ katanya.
Dia menerangkan, selain dua siswi yang pingsan itu, pelaksanaan UN tingkat SMA di Kabupaten Rembang pada hari kedua secara keseluruhan berjalan lancar. Insiden handphone yang berbunyi di ruangan kelas SMA Negeri 2 Rembang pada hari pertama tidak lagi terulang. ‘’Pada hari kedua ini, kami melakukan penggeledahan terhadap handphone siswa. Kami pastikan pada hari kedua ini tidak ada lagi siswa yang bisa membawa masuk handphone ke ruang ujian,’’ kata Muthohir.
Baterai
Selain itu, untuk mengantisipasi kemungkinan matinya aliran listrik pada ujian listening Bahasa Inggris, sekolah telah menyiapkan batu baterai yang dipasang pada tape recorder. ‘’Hingga siang ini (kemarin siang-Red) , kami pantau belum ada laporan mengenai adanya gangguan listrik pada saat ujian Bahasa Inggris itu,’’ tegasnya.
Di tempat terpisah Kepala SMA Kartini Rembang, Endang Sri W, mengutarakan, peningkatan jumlah mata pelajaran (mapel) yang diujikan dalam UN tahun ini membuat shock bagi murid dan guru. ‘’Tahun sebelumnya hanya mengujikan satu mata pelajaran saja sudah membuat siswa shock berat. Apalagi tahun ini siswa harus mengikuti dua ujian dalam sehari,’’ paparnya. (H19-76)
Pingsannya dua orang siswi itu diduga karena ketakutan yang teramat sangat karena tidak bisa menyelesaikan dengan baik soal UN Bahasa Inggris. Setelah dirawat beberapa waktu di unit kesehatan sekolah (UKS), dua murid itu bisa melanjutkan lagi mengerjakan UN mata pelajaran kedua.
Penjabat Kepala Pendidikan Nasional (Diknas), Muthohir, mengaku, sudah mendapatkan laporan tentang dua siswi yang pingsan itu. Di SMA Negeri Sumber, pelajaran Bahasa Inggris memang merupakan momok yang sangat ditakuti siswa. ‘’Mungkin karena terbebani sehingga mengakibatkan dua siswi itu pingsan. Dua siswi itu bisa melanjutkan UN untuk mata ujian jam kedua,’’ katanya.
Dia menerangkan, selain dua siswi yang pingsan itu, pelaksanaan UN tingkat SMA di Kabupaten Rembang pada hari kedua secara keseluruhan berjalan lancar. Insiden handphone yang berbunyi di ruangan kelas SMA Negeri 2 Rembang pada hari pertama tidak lagi terulang. ‘’Pada hari kedua ini, kami melakukan penggeledahan terhadap handphone siswa. Kami pastikan pada hari kedua ini tidak ada lagi siswa yang bisa membawa masuk handphone ke ruang ujian,’’ kata Muthohir.
Baterai
Selain itu, untuk mengantisipasi kemungkinan matinya aliran listrik pada ujian listening Bahasa Inggris, sekolah telah menyiapkan batu baterai yang dipasang pada tape recorder. ‘’Hingga siang ini (kemarin siang-Red) , kami pantau belum ada laporan mengenai adanya gangguan listrik pada saat ujian Bahasa Inggris itu,’’ tegasnya.
Di tempat terpisah Kepala SMA Kartini Rembang, Endang Sri W, mengutarakan, peningkatan jumlah mata pelajaran (mapel) yang diujikan dalam UN tahun ini membuat shock bagi murid dan guru. ‘’Tahun sebelumnya hanya mengujikan satu mata pelajaran saja sudah membuat siswa shock berat. Apalagi tahun ini siswa harus mengikuti dua ujian dalam sehari,’’ paparnya. (H19-76)
Kamis, 17 April 2008
Diterjang ombak, delapan rumah roboh
KABUPATEN REMBANG - Akibat diterjang ombak besar dan terkena abrasi selama bulan Maret dan hingga pertengahan April ini, sedikitnya delapan rumah warga Desa Karangmangu roboh dan 44 rumah penduduk Desa Bajingmeduro, Kecamatan Sarang, Rembang, mengalami kerusakan.
Selain itu, sejumlah talud dan jalan yang berada di bibir pantai juga mengalami kerusakan, sehingga nyaris tidak bisa dimanfaatkan. Kerugian kerusakan akibat keganasan alam laut di Pantai Sarang mencapai ratusan juta rupiah.
Delapan rumah warga Karangmangu yang roboh diterjang ombak pekan lalu, masing- masing milik Sumari (31), Mukhlisin (33), Munawar (36), Mampuri (40), Warno (40) dan Trisno (35), semuanya warga RT 01, RW 01. Kemudian rumah Rofiq (31), warga RT 02, RW 01 dan Suhadi (40), warga RT 02, RW 02. Mereka mengalami kerugian antara Rp 3 juta - Rp 5 juta.
Sebagian dari mereka telah membersihkan puing-puing rumahnya yang porak-poranda diterjang ombak, tetapi sebagian warga lain masih membiarkan kondisi rumahnya kocar-kacir.
Bagi warga yang sebelumnya mendiami rumah di pinggir pantai dan sekarang rusak, terpaksa mengungsi di rumah sanak familinya. Mereka keberatan jika harus pindah dari lokasi pantai. Alasannya, satu-satunya sumber penghidupannya adalah sebagai nelayan.
"Kendati harus menerima risiko diterjang ombak, kami tetap pilih tinggal di pinggir laut, karena satu-satunya pekerjaan yang kami bisa hanya sebagai nelayan," ujar Mukhlisin.
Talud permanen
Sementara itu Kades Bajingmeduro M Musyawafak dalam laporannya menyatakan, selama bulan Maret hingga saat ini, sebanyak 44 rumah warganya rusak akibat diterjang ombak besar. Sebagai perangkat desa, dia selalu mengingatkan warga yang rumahnya di bibir pantai agar selalu waspada terhadap datangnya ombak besar.
Menurut dia, karena sebagian besar warga menolak direlokasi, jalan satu-satunya untuk mengantisipasi dan mengatasi kerusakan lebih parah di Pantai Sarang dibuatkan talud permanen seperti di Desa Kalipang.
"Menurut saya, satu-satunya cara harus dibuatkan talud permanen yang kuat. Jika tidak, korban rumah rusak akibat terjangan ombak akan terus terjadi. Sebab Pantai Sarang me-mang rawan terjadi gelombang besar," ujar M Musyawafak. K.14-ip
Selain itu, sejumlah talud dan jalan yang berada di bibir pantai juga mengalami kerusakan, sehingga nyaris tidak bisa dimanfaatkan. Kerugian kerusakan akibat keganasan alam laut di Pantai Sarang mencapai ratusan juta rupiah.
Delapan rumah warga Karangmangu yang roboh diterjang ombak pekan lalu, masing- masing milik Sumari (31), Mukhlisin (33), Munawar (36), Mampuri (40), Warno (40) dan Trisno (35), semuanya warga RT 01, RW 01. Kemudian rumah Rofiq (31), warga RT 02, RW 01 dan Suhadi (40), warga RT 02, RW 02. Mereka mengalami kerugian antara Rp 3 juta - Rp 5 juta.
Sebagian dari mereka telah membersihkan puing-puing rumahnya yang porak-poranda diterjang ombak, tetapi sebagian warga lain masih membiarkan kondisi rumahnya kocar-kacir.
Bagi warga yang sebelumnya mendiami rumah di pinggir pantai dan sekarang rusak, terpaksa mengungsi di rumah sanak familinya. Mereka keberatan jika harus pindah dari lokasi pantai. Alasannya, satu-satunya sumber penghidupannya adalah sebagai nelayan.
"Kendati harus menerima risiko diterjang ombak, kami tetap pilih tinggal di pinggir laut, karena satu-satunya pekerjaan yang kami bisa hanya sebagai nelayan," ujar Mukhlisin.
Talud permanen
Sementara itu Kades Bajingmeduro M Musyawafak dalam laporannya menyatakan, selama bulan Maret hingga saat ini, sebanyak 44 rumah warganya rusak akibat diterjang ombak besar. Sebagai perangkat desa, dia selalu mengingatkan warga yang rumahnya di bibir pantai agar selalu waspada terhadap datangnya ombak besar.
Menurut dia, karena sebagian besar warga menolak direlokasi, jalan satu-satunya untuk mengantisipasi dan mengatasi kerusakan lebih parah di Pantai Sarang dibuatkan talud permanen seperti di Desa Kalipang.
"Menurut saya, satu-satunya cara harus dibuatkan talud permanen yang kuat. Jika tidak, korban rumah rusak akibat terjangan ombak akan terus terjadi. Sebab Pantai Sarang me-mang rawan terjadi gelombang besar," ujar M Musyawafak. K.14-ip
Perompak Marak, ABK Cantrang Resah Di Muara Batua dan Matasiri
KABUPATEN REMBANG - Anak buah kapal (ABK) cantrang Rembang yang melaut di perairan Pulau Muara Batua dan Matasiri Kalimantan Selatan mengaku resah.
Pasalnya dalam beberapa pekan terakhir ini, sejumlah kapal cantrang itu disatroni perompak. Kali terakhir yang menjadi korban adalah kapal motor (KM) Tiga Visi Sehati.
Saman (38), salah seorang ABK Tiga Visi Sehati mengutarakan, perompak yang beraksi di perairan Muara Batua dan Matasiri itu biasanya berjumlah puluhan orang. Dalam menjalankan aksinya, pelaku membawa senjata api rakitan.
”Mereka juga sering mengaku sebagai aparat. Dengan kondisi yang kurang menguntungkan ini, kami tidak berani melawan,” terangnya kemarin.
Saat kapalnya dirompak, lima drum berisi solar senilai Rp 5 juta untuk perbekalan melaut dirampas. ”Lebih baik kami kehilangan solar daripada harus menanggung risiko yang lebih besar lagi,” paparnya.
Rifai (32) ABK Baruna menambahkan, dirinya pernah menyaksikan perompak menembakkan senjata api ke arah lampu penerangan sebuah kapal Juwana yang berupaya melarikan diri.
”Tindakan yang dilakukan oleh perompak itu sangat keji. Meski kami sudah menurut dan memberikan solar atau harta, namun para perompak itu tak segan-segan untuk melakukan tindakan kekerasan pada ABK,” jelasnya.
Sembilan Kasus
Terpisah, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanlaut) Ir Wartono mengakui adanya aksi perompakan yang dialami oleh kapal cantrang asal Rembang. Aksi seperti itu, kali pertama dilaporkan akhir tahun 2007. Hingga akhir Februari lalu, berjumlah sembilan kasus.
Wartono mengutarakan, atas maraknya perompakan itu, pihaknya sudah berupaya berkoordinasi dengan pihak terkait. ”Beberapa kali kami melayangkan surat meminta perhatian ke Pemerintah Pusat agar ada langkah-langkah penanganannya,” jelasnya.
Dia juga khawatir apabila kasus ini tidak segera ditangani, dampaknya akan menjadi lebih besar lagi. ”Bisa saja karena kejadian ini kemudian berdampak pada penyerangan atau pembakaran kapal di laut. Kami sangat berharap perompakan ini bisa segera ditangani,” tegasnya. (H19-54)
Pasalnya dalam beberapa pekan terakhir ini, sejumlah kapal cantrang itu disatroni perompak. Kali terakhir yang menjadi korban adalah kapal motor (KM) Tiga Visi Sehati.
Saman (38), salah seorang ABK Tiga Visi Sehati mengutarakan, perompak yang beraksi di perairan Muara Batua dan Matasiri itu biasanya berjumlah puluhan orang. Dalam menjalankan aksinya, pelaku membawa senjata api rakitan.
”Mereka juga sering mengaku sebagai aparat. Dengan kondisi yang kurang menguntungkan ini, kami tidak berani melawan,” terangnya kemarin.
Saat kapalnya dirompak, lima drum berisi solar senilai Rp 5 juta untuk perbekalan melaut dirampas. ”Lebih baik kami kehilangan solar daripada harus menanggung risiko yang lebih besar lagi,” paparnya.
Rifai (32) ABK Baruna menambahkan, dirinya pernah menyaksikan perompak menembakkan senjata api ke arah lampu penerangan sebuah kapal Juwana yang berupaya melarikan diri.
”Tindakan yang dilakukan oleh perompak itu sangat keji. Meski kami sudah menurut dan memberikan solar atau harta, namun para perompak itu tak segan-segan untuk melakukan tindakan kekerasan pada ABK,” jelasnya.
Sembilan Kasus
Terpisah, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanlaut) Ir Wartono mengakui adanya aksi perompakan yang dialami oleh kapal cantrang asal Rembang. Aksi seperti itu, kali pertama dilaporkan akhir tahun 2007. Hingga akhir Februari lalu, berjumlah sembilan kasus.
Wartono mengutarakan, atas maraknya perompakan itu, pihaknya sudah berupaya berkoordinasi dengan pihak terkait. ”Beberapa kali kami melayangkan surat meminta perhatian ke Pemerintah Pusat agar ada langkah-langkah penanganannya,” jelasnya.
Dia juga khawatir apabila kasus ini tidak segera ditangani, dampaknya akan menjadi lebih besar lagi. ”Bisa saja karena kejadian ini kemudian berdampak pada penyerangan atau pembakaran kapal di laut. Kami sangat berharap perompakan ini bisa segera ditangani,” tegasnya. (H19-54)
Selasa, 15 April 2008
Truk Semen Dibobol Maling
KABUPATEN REMBANG - Nasib sial menimpa Sutikno, sopir truk pengangkut semen. Warga Desa Tajen, Kecamatan Pamotan itu kehilangan 42 sak, Sabtu kemarin. Dia pun kemudian melaporkan kejadian itu kepada aparat Polsek Persiapan Kota Rembang.
Menurut Sutikno, Jumat lalu menitipkan truknya di tempat parkir depan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) milik PT Rembang Bangkit Sejahtera Jaya (RBSJ) di Desa Tireman, Kecamatan Kota.
Dia mengatakan, terpaksa menitipkan truk di depan SPBU itu karena ada keperluan mendadak di rumahnya.
”Saat saya hendak mengambil truk, tali bagian belakang ternyata sudah dibongkar. Setelah saya cek, ternyata barang bawaan saya, yaitu 42 sak semen, telah amblas,” tuturnya di hadapan aparat.
Atas adanya laporan tersebut, aparat Polsek Persiapan Kota langsung mengusutnya. Beberapa orang satpam serta dua pegawai SPBU diperiksa sebagai saksi atas kasus itu.
Kapolsek Persiapan Kota Iptu Isnaeni, kemarin, mengemukakan, dari hasil penelusuran didapat informasi, 42 sak semen itu diangkut dengan menggunakan mobil pikap.
”Sebelum mencuri, pelaku mengaku kepada orang-orang di sekitarnya sebagai sopir truk semen itu. Dia dengan tenangnya mengambil 42 sak semen itu,” ucapnya.
Ditemukan
Dia menyebutkan, dari informasi dari para saksi itu, pihaknya berhasil menemukan 42 sak semen yang hilang itu.
Namun, pelaku yang mencuri saat ini masih terus dalam pengejaran. ”Kami sudah dapatkan nama pelaku yang saat ini masih dalam pengejaran.”
Iptu Isnaeni berharap, kejadian ini menjadi pelajaran bagi sopir yang lain.
”Kami harapkan sopir tidak begitu saja meninggalkan truknya, apalagi yang masih ada muatannya. Sebab, hal itu bisa mengundang pencurian seperti kasus semen ini.” (H19-69)
Menurut Sutikno, Jumat lalu menitipkan truknya di tempat parkir depan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) milik PT Rembang Bangkit Sejahtera Jaya (RBSJ) di Desa Tireman, Kecamatan Kota.
Dia mengatakan, terpaksa menitipkan truk di depan SPBU itu karena ada keperluan mendadak di rumahnya.
”Saat saya hendak mengambil truk, tali bagian belakang ternyata sudah dibongkar. Setelah saya cek, ternyata barang bawaan saya, yaitu 42 sak semen, telah amblas,” tuturnya di hadapan aparat.
Atas adanya laporan tersebut, aparat Polsek Persiapan Kota langsung mengusutnya. Beberapa orang satpam serta dua pegawai SPBU diperiksa sebagai saksi atas kasus itu.
Kapolsek Persiapan Kota Iptu Isnaeni, kemarin, mengemukakan, dari hasil penelusuran didapat informasi, 42 sak semen itu diangkut dengan menggunakan mobil pikap.
”Sebelum mencuri, pelaku mengaku kepada orang-orang di sekitarnya sebagai sopir truk semen itu. Dia dengan tenangnya mengambil 42 sak semen itu,” ucapnya.
Ditemukan
Dia menyebutkan, dari informasi dari para saksi itu, pihaknya berhasil menemukan 42 sak semen yang hilang itu.
Namun, pelaku yang mencuri saat ini masih terus dalam pengejaran. ”Kami sudah dapatkan nama pelaku yang saat ini masih dalam pengejaran.”
Iptu Isnaeni berharap, kejadian ini menjadi pelajaran bagi sopir yang lain.
”Kami harapkan sopir tidak begitu saja meninggalkan truknya, apalagi yang masih ada muatannya. Sebab, hal itu bisa mengundang pencurian seperti kasus semen ini.” (H19-69)
Tiap anggota dapat jatah Rp 325 juta, Dana aspirasi DPRD rawan bermasalah
KABUPATEN REMBANG - Pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2008, anggota dan pimpinan DPRD Rembang mendapat alokasi dana yang dikemas dalam bentuk dana aspirasi sebesar Rp 17 miliar. Setiap anggota mendapat jatah sebesar Rp 325 juta dan tiga pimpinan dewan mendapat Rp 3,350 miliar.
Tetapi jatah dana itu tidak diterima oleh anggota legislatif dalam bentuk uang cash, melainkan berbentuk proyek fisik sesuai aspirasi yang diserap dari konstituennya masing-masing yang belum terakomodir oleh eksekutif (pemkab).
Pengalokasian angggaran yang sangat besar tersebut saat ini menjadi pembicaraan hangat masyarakat Rembang. Ada dua kelompok masyarakat dalam menyikapi masalah itu.
Kelompok pertama tidak mempermasalahkan, karena nyatanya dana itu akan diwujudkan dalam bentuk pembangunan fisik sesuai usulan dari konstiuen anggota dewan. Tetapi sebagian lagi, sangat menyayangkan keserakahan anggota dewan.
Dalam kondisi kehidupan masyarakat yang serba sulit seperti sekarang, justru anggota dewan minta anggaran sebesar itu. Pada hal gaji mereka sudah sangat tinggi.
Berhati-hati
Informasi yang diperoleh Wawasan kemarin menyebutkan, sejumlah anggota DPRD sangat berhati-hati dalam menyikapi "kucuran" dana aspirasi itu. Mereka agaknya berkaca kepada delapan rekan mereka anggota DPRD periode sebelumnya yang sekarang harus berurusan dengan penegak hukum di PN Rembang dengan tuduhan korupsi dana honorarium dan insentif APBD 2004 sebesar Rp 5,6 miliar.
Dalam pengelolaan jatah dana aspirasi diwujudkan dalam bentuk proyek fisik yang dikelola sesuai Kepres No 80 (proyek dikerjakan rekanan melalui mekanisme lelang).
Tetapi ada sebagian anggota dewan yang mengelola dana tersebut dalam bentuk bantuan kepada lembaga atau kelompok masyarakat tertentu. Bentuk pengelolaan seperti itulah yang dinilai oleh sementara pihak akan rawan bermasalah di kemudian hari.
Ketua Komisi D DPRD Rembang Henri Purwoko SPd ketika dimintai tanggapan disela-sela mengikuti musrenbangkab di gedung utama dewan kemarin mengutarakan, masyarakat jangan salah mengerti soal dana aspirasi tersebut.
"Dana itu tidak diterima berupa uang cash, melainkan berbentuk proyek fisik yang merupakan aspirasi konstituen dewan pada saat reses atau kunjungan mendadak. Dan pelaksanaan proyek dilakukan oleh rekanan sesuai mekanisme seperti yang diatur dalam Kepres 80," ujar Henri Purwoko. K-14/ar
Tetapi jatah dana itu tidak diterima oleh anggota legislatif dalam bentuk uang cash, melainkan berbentuk proyek fisik sesuai aspirasi yang diserap dari konstituennya masing-masing yang belum terakomodir oleh eksekutif (pemkab).
Pengalokasian angggaran yang sangat besar tersebut saat ini menjadi pembicaraan hangat masyarakat Rembang. Ada dua kelompok masyarakat dalam menyikapi masalah itu.
Kelompok pertama tidak mempermasalahkan, karena nyatanya dana itu akan diwujudkan dalam bentuk pembangunan fisik sesuai usulan dari konstiuen anggota dewan. Tetapi sebagian lagi, sangat menyayangkan keserakahan anggota dewan.
Dalam kondisi kehidupan masyarakat yang serba sulit seperti sekarang, justru anggota dewan minta anggaran sebesar itu. Pada hal gaji mereka sudah sangat tinggi.
Berhati-hati
Informasi yang diperoleh Wawasan kemarin menyebutkan, sejumlah anggota DPRD sangat berhati-hati dalam menyikapi "kucuran" dana aspirasi itu. Mereka agaknya berkaca kepada delapan rekan mereka anggota DPRD periode sebelumnya yang sekarang harus berurusan dengan penegak hukum di PN Rembang dengan tuduhan korupsi dana honorarium dan insentif APBD 2004 sebesar Rp 5,6 miliar.
Dalam pengelolaan jatah dana aspirasi diwujudkan dalam bentuk proyek fisik yang dikelola sesuai Kepres No 80 (proyek dikerjakan rekanan melalui mekanisme lelang).
Tetapi ada sebagian anggota dewan yang mengelola dana tersebut dalam bentuk bantuan kepada lembaga atau kelompok masyarakat tertentu. Bentuk pengelolaan seperti itulah yang dinilai oleh sementara pihak akan rawan bermasalah di kemudian hari.
Ketua Komisi D DPRD Rembang Henri Purwoko SPd ketika dimintai tanggapan disela-sela mengikuti musrenbangkab di gedung utama dewan kemarin mengutarakan, masyarakat jangan salah mengerti soal dana aspirasi tersebut.
"Dana itu tidak diterima berupa uang cash, melainkan berbentuk proyek fisik yang merupakan aspirasi konstituen dewan pada saat reses atau kunjungan mendadak. Dan pelaksanaan proyek dilakukan oleh rekanan sesuai mekanisme seperti yang diatur dalam Kepres 80," ujar Henri Purwoko. K-14/ar
Rembang-Blora masih buka-tutup, Tronton tak boleh lewat
REMBAG - SEMARANG - Hingga Senin (24/3) pagi ini, jalur Rembang-Blora yang putus sejauh kurang lebih 45 meter di satu titik, masih belum boleh dilalui angkutan berat jenis tronton. Kerusakan jalan yang cukup parah mengakibatkan kemacetan jika jenis angkutan truk tronton nekat melewati jalur ini. Namun, untuk angkutan lain diperbolehkan di antaranya, bus jenis tiga perempat dan kendaraan kecil lainnya.
Kepala Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Tengah, Ir Danang Admodjo ketika dihubungi Wawasan Senin pagi tadi membenarkan hal itu. ”Sementara, kondisi di lapangan saat ini cukup kondusif,” katanya.
Sejumlah petugas gabungan dari berbagai dinas seperti Satlantas, Bina Marga dan Dinas Perhubungan sejak pagi berupaya mengatasi kemacetan. Kesibukan ini telah terjadi sejak Sabtu (22/3) lalu.
Dikatakan Danang, jalur Rembang-Blora secara bertahap sudah bisa dilalui untuk angkutan-angkutan jenis tertentu. ”Hari Sabtu (22/3) sekitar pukul 08.30 WIB sudah bisa dilalui kendaraan kecil. Dan hari Minggu (23/3) kemarin boleh untuk angkutan besar tiga perempat. Sedangkan truk tronton sementara tak boleh lewat dulu,” kata Danang.
Secara efektif perbaikan telah dimulai. Ketika disinggung soal anggaran, Danang belum berani menyebut angka. ”Perbaikan secara teknis saat ini sudah mulai kita kerjakan,” ungkapnya.
Diakuinya, perbaikan itu masih sebatas penangganan secara darurat. Sedangkan penangganan secara permanen masih dalam tahap pembahasan. Namun demikian, pihaknya tidak berani memastikan kapan waktu yang tepat untuk hal tersebut.
Yang pasti, ia mengimbau kepada pengguna jalan untuk berhati-hati ketika melintasi jalur Rembang-Blora. Dia meminta kepada semua pihak termasuk masyarakat membantu untuk meminimalisasi terjadinya kecelakaan yang diakibatkan kerusakan jalan ini.
Buka-tutup
Secara terpisah, Bupati Blora RM Yudhi Sancoyo, minta agar Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Bina Marga segera membenahi jalan provinsi di wilayahnya yang mengalami kerusakan berat, karena faktor alam dan kelebihan tonase.
"Tidak hanya bencana alam yang membuat jalan provinsi di Blora menjadi rusak, kendaraan bertonase berat mengakibatkan jalur tengah memprihatinkan," ungkap dia, Senin (24/3) pagi tadi.
Diakuinya, banyak pihak yang mengeluhkan jalan pronvinsi yang rusak berat dan longsor (ambles) di banyak titik, kerusakan menjadi lebih serius sejak banjir pantura dan lalu lalangnnya kendaraan berat di jalur tengah.
Menurutnya, dampak rusaknya jalur tengah membuat perjalanan menjadi tidak nyaman, lambat dan banyak pengguna jalan yang sambat, karena kendaraannya rusak. Misalnya untuk menuju ke Semarang dan Solo saja, semula hanya ditempuh selama 2,5 jam, kini harus ditempuh empat jam lebih.
"Kami minta agar Bina Marga tidak hanya fokus pembenahan di pantura, jalan di wilayah kami juga perlu segera diperbaiki, " tandas Yudhi Sancoyo.
Sementara itu lokasi titik longsor (ambles) jalur Blora-Rembang di Desa Nampel, Kecamatan Blora Kota, langkah pengurugan oleh pihak Bina Marga belum terlihat signifikan. Lalu lintas kendaraan kecil diterapkan sistem buka tutup.
Semua kendaraan jenis truk, bus, kendaraan berat dan angkutan umum kini masih lumpuh. Penumpang dari dan ke arah Blora harus estafet berpindah kendaraan lain.
"Kendaraan kecil masih bisa lewat dengan sistem buka tutup, truk dan kendaraan besar dilarang lewat," tandas Kasat Lantas Polres Blora, AKP Yudhi Priantono, pagi tadi. rna/K-9-sn
Kepala Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Tengah, Ir Danang Admodjo ketika dihubungi Wawasan Senin pagi tadi membenarkan hal itu. ”Sementara, kondisi di lapangan saat ini cukup kondusif,” katanya.
Sejumlah petugas gabungan dari berbagai dinas seperti Satlantas, Bina Marga dan Dinas Perhubungan sejak pagi berupaya mengatasi kemacetan. Kesibukan ini telah terjadi sejak Sabtu (22/3) lalu.
Dikatakan Danang, jalur Rembang-Blora secara bertahap sudah bisa dilalui untuk angkutan-angkutan jenis tertentu. ”Hari Sabtu (22/3) sekitar pukul 08.30 WIB sudah bisa dilalui kendaraan kecil. Dan hari Minggu (23/3) kemarin boleh untuk angkutan besar tiga perempat. Sedangkan truk tronton sementara tak boleh lewat dulu,” kata Danang.
Secara efektif perbaikan telah dimulai. Ketika disinggung soal anggaran, Danang belum berani menyebut angka. ”Perbaikan secara teknis saat ini sudah mulai kita kerjakan,” ungkapnya.
Diakuinya, perbaikan itu masih sebatas penangganan secara darurat. Sedangkan penangganan secara permanen masih dalam tahap pembahasan. Namun demikian, pihaknya tidak berani memastikan kapan waktu yang tepat untuk hal tersebut.
Yang pasti, ia mengimbau kepada pengguna jalan untuk berhati-hati ketika melintasi jalur Rembang-Blora. Dia meminta kepada semua pihak termasuk masyarakat membantu untuk meminimalisasi terjadinya kecelakaan yang diakibatkan kerusakan jalan ini.
Buka-tutup
Secara terpisah, Bupati Blora RM Yudhi Sancoyo, minta agar Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Bina Marga segera membenahi jalan provinsi di wilayahnya yang mengalami kerusakan berat, karena faktor alam dan kelebihan tonase.
"Tidak hanya bencana alam yang membuat jalan provinsi di Blora menjadi rusak, kendaraan bertonase berat mengakibatkan jalur tengah memprihatinkan," ungkap dia, Senin (24/3) pagi tadi.
Diakuinya, banyak pihak yang mengeluhkan jalan pronvinsi yang rusak berat dan longsor (ambles) di banyak titik, kerusakan menjadi lebih serius sejak banjir pantura dan lalu lalangnnya kendaraan berat di jalur tengah.
Menurutnya, dampak rusaknya jalur tengah membuat perjalanan menjadi tidak nyaman, lambat dan banyak pengguna jalan yang sambat, karena kendaraannya rusak. Misalnya untuk menuju ke Semarang dan Solo saja, semula hanya ditempuh selama 2,5 jam, kini harus ditempuh empat jam lebih.
"Kami minta agar Bina Marga tidak hanya fokus pembenahan di pantura, jalan di wilayah kami juga perlu segera diperbaiki, " tandas Yudhi Sancoyo.
Sementara itu lokasi titik longsor (ambles) jalur Blora-Rembang di Desa Nampel, Kecamatan Blora Kota, langkah pengurugan oleh pihak Bina Marga belum terlihat signifikan. Lalu lintas kendaraan kecil diterapkan sistem buka tutup.
Semua kendaraan jenis truk, bus, kendaraan berat dan angkutan umum kini masih lumpuh. Penumpang dari dan ke arah Blora harus estafet berpindah kendaraan lain.
"Kendaraan kecil masih bisa lewat dengan sistem buka tutup, truk dan kendaraan besar dilarang lewat," tandas Kasat Lantas Polres Blora, AKP Yudhi Priantono, pagi tadi. rna/K-9-sn
Muatan truk dicuri saat parkir di SPBU
KABUPATEN REMBANG - Pencurian semen di truk tronton PT Siba Surya H 1475 KH yang tengah di parkir di halaman Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Tireman Rembang Kota, Minggu kemarin (23/3) berhasil diungkap jajaran Polsek Rembang Kota.
Petugas berhasil menemukan barang bukti 41 zak semen yang sudah dijual tersangka kepada salah seorang warga desa/Kecamatan Pamotan dengan harga Rp 22.000/zak. Sayangnya, tersangka pencuri semen keburu kabur dan hingga Minggu tadi malam, petugas masih melakukan pengejaran terhap tersangka.
Barang bukti 41 zak semen diamankan di Mapolsek Rembang Kota. Minggu kemarin Satpam SPBU Tireman Ahmad Maliki (33), warga Kelurahan Margersari Rembang Kota, yang dititipi mobil tronton oleh pemgemudi Sutikno (42) warga Dukuh Tajen, Pamotan, diperiksa petugas.
Keterangan yang berhasil diperoleh Wawasan menyebutkan, pengemudi truk tronton bermuatan semen Sutikno menitipkasn mobil kepada Satpam SPBU Tireman Admad Maliki pada Kamis (20/3) lalu. Sutikno membayar Ahmad Maliki Rp 15.000. Kemudian ketika Minggu pagi Sutikno akan mengambil truk, dia kaget karena muatan semen di truknya berkurang sekitar 40 an zak. Kemudian masalah itu dilaporkan ke petugas Polsek Rembang Kota. Begitu mendapat laporan, sejumlah petugas langsung melakukan olah TKP dan melakukan penelusuran.
Akhirnya petugas berhasil menemukan semen telah dijual kepada seseorang di Pamotan. Sayangnya, saat petugas datang ke rumah pembeli semen, tersangka sudah kabur dan pembelinya tidak kenal tersangka.
Kapolres Rembang AKBP Drs Teguh Pristiwanto melalui Kapolsek Rembang Kota Iptu Muh Isnaeni ketika dikonfirmasi Minggu sore membenarkan kasus tersebut. K-14/ar
Petugas berhasil menemukan barang bukti 41 zak semen yang sudah dijual tersangka kepada salah seorang warga desa/Kecamatan Pamotan dengan harga Rp 22.000/zak. Sayangnya, tersangka pencuri semen keburu kabur dan hingga Minggu tadi malam, petugas masih melakukan pengejaran terhap tersangka.
Barang bukti 41 zak semen diamankan di Mapolsek Rembang Kota. Minggu kemarin Satpam SPBU Tireman Ahmad Maliki (33), warga Kelurahan Margersari Rembang Kota, yang dititipi mobil tronton oleh pemgemudi Sutikno (42) warga Dukuh Tajen, Pamotan, diperiksa petugas.
Keterangan yang berhasil diperoleh Wawasan menyebutkan, pengemudi truk tronton bermuatan semen Sutikno menitipkasn mobil kepada Satpam SPBU Tireman Admad Maliki pada Kamis (20/3) lalu. Sutikno membayar Ahmad Maliki Rp 15.000. Kemudian ketika Minggu pagi Sutikno akan mengambil truk, dia kaget karena muatan semen di truknya berkurang sekitar 40 an zak. Kemudian masalah itu dilaporkan ke petugas Polsek Rembang Kota. Begitu mendapat laporan, sejumlah petugas langsung melakukan olah TKP dan melakukan penelusuran.
Akhirnya petugas berhasil menemukan semen telah dijual kepada seseorang di Pamotan. Sayangnya, saat petugas datang ke rumah pembeli semen, tersangka sudah kabur dan pembelinya tidak kenal tersangka.
Kapolres Rembang AKBP Drs Teguh Pristiwanto melalui Kapolsek Rembang Kota Iptu Muh Isnaeni ketika dikonfirmasi Minggu sore membenarkan kasus tersebut. K-14/ar
Tewas Tersengat Listrik
KABUPATEN REMBANG - Warga Desa Japeledok, Kecamatan Pancur, sekitar pukul 04.00 kemarin menemukan sesosok mayat dengan tangan kiri memegangi kabel listrik. Penemuan itu membuat warga desa gempar. Ratusan warga kemudian berduyun-duyun mendatangi lokasi tempat tewasnya pemuda itu. Samani (40), warga RT 4/I Desa Japeledok menuturkan, saat ditemukan posisi mayat telentang di pinggir jalan dekat sawah dengan tangan kiri memegangi kabel. ”Posisi kabel beserta tiangnya telah ambruk. Kabel listrik ini dipergunakan untuk dua rumah di selatan desa,” paparnya, kemarin.
Dia menambahkan, awalnya warga desa tidak ada yang mengenali sosok pemuda itu. Namun setelah ditelusuri, pemuda itu diketahui bernama Bambang (25), warga Dukuh Kalongan, Desa Tulungrejo, Kecamatan Pamotan. (H19-79)
Dia menambahkan, awalnya warga desa tidak ada yang mengenali sosok pemuda itu. Namun setelah ditelusuri, pemuda itu diketahui bernama Bambang (25), warga Dukuh Kalongan, Desa Tulungrejo, Kecamatan Pamotan. (H19-79)
Putusnya Jalan Rembang-Blora, Tarif Angkutan Naik
REMBANG - BLORA - Jalan di Dukuh Cakaran, Desa Ngampel, Kecamatan Blora yang ambles membuat penumpang mikrobus tujuan Rembang atau Blora mengeluarkan ongkos lebih tinggi daripada biasanya. Bahkan, penumpang yang membawa barang banyak dapat mengeluarkan ongkos dua kali lipat.
Suyani (26), warga Cepu, mengutarakan, biasanya hanya mengeluarkan Rp 7.000 saat hendak ke Rembang dari Blora. Namun karena kerusakan jalan itu, dia mengaku harus keluar ongkos Rp 9.000. ”Karena jalan terputus dan tidak bisa dilewati bus, penumpang dari Blora dihentikan dan harus oper kendaraan di Dukuh Cakaran. Dari Blora ke Dukuh Cakaran tadi saya ditarik ongkos Rp 4.000. Lalu dari Cakaran ke Rembang, saya ditarik Rp 5.000,” ungkap dia.
Sugiono (37), pedagang roti asal Ngadirjo, Plotot, Blora menuturkan, kemarin harus mengeluarkan ongkos Rp 40.000 untuk bisa sampai ke Rembang.
Perinciannya, Rp 20.000 untuk ongkos dari Blora hingga Dukuh Cakaran. ”Dari dukuh Cakaran hingga Rembang dengan membawa 50 keranjang roti saya kembali harus membayar Rp 20.000. Padahal, hari biasanya, dari Blora ke Rembang paling banter saya keluar Rp 25.000 saja,” paparnya.
Mengurangi Keuntungan
Dia mengungkapkan, dengan kenaikan ongkos itu sangat mengurangi keuntungannya sebagai penjual roti. ”Bagi pedagang kecil seperti saya, selisih ongkos Rp 15.000 ini sangat mengurangi keuntungan. Tapi bagaimana lagi? Terpaksa harus tetap saya tempuh seperti ini. Daripada tidak jualan,” ucap dia.
Kasmani (42), sopir mikrobus, menandaskan, terpaksa menaikkan ongkos Rp 1.000-Rp 2.000. Pasalnya, penumpang menjadi sangat turun karena kerusakan jalan di Dukuh Cakaran tersebut. Selain itu, dia juga menyebutkan, trip mikrobus juga berkurang. ”Biasanya dalam satu hari bisa pulang pergi Blora Rembang dalam tiga trip. Karena kerusakan jalan ini, kami hanya bisa narik dalam dua. Bahkan saat kali pertama rusak, kami hanya bisa narik satu trip,” katanya. Kenaikan ongkos itu untuk membantu awak angkutan untuk membeli solar. (H19-69)
Suyani (26), warga Cepu, mengutarakan, biasanya hanya mengeluarkan Rp 7.000 saat hendak ke Rembang dari Blora. Namun karena kerusakan jalan itu, dia mengaku harus keluar ongkos Rp 9.000. ”Karena jalan terputus dan tidak bisa dilewati bus, penumpang dari Blora dihentikan dan harus oper kendaraan di Dukuh Cakaran. Dari Blora ke Dukuh Cakaran tadi saya ditarik ongkos Rp 4.000. Lalu dari Cakaran ke Rembang, saya ditarik Rp 5.000,” ungkap dia.
Sugiono (37), pedagang roti asal Ngadirjo, Plotot, Blora menuturkan, kemarin harus mengeluarkan ongkos Rp 40.000 untuk bisa sampai ke Rembang.
Perinciannya, Rp 20.000 untuk ongkos dari Blora hingga Dukuh Cakaran. ”Dari dukuh Cakaran hingga Rembang dengan membawa 50 keranjang roti saya kembali harus membayar Rp 20.000. Padahal, hari biasanya, dari Blora ke Rembang paling banter saya keluar Rp 25.000 saja,” paparnya.
Mengurangi Keuntungan
Dia mengungkapkan, dengan kenaikan ongkos itu sangat mengurangi keuntungannya sebagai penjual roti. ”Bagi pedagang kecil seperti saya, selisih ongkos Rp 15.000 ini sangat mengurangi keuntungan. Tapi bagaimana lagi? Terpaksa harus tetap saya tempuh seperti ini. Daripada tidak jualan,” ucap dia.
Kasmani (42), sopir mikrobus, menandaskan, terpaksa menaikkan ongkos Rp 1.000-Rp 2.000. Pasalnya, penumpang menjadi sangat turun karena kerusakan jalan di Dukuh Cakaran tersebut. Selain itu, dia juga menyebutkan, trip mikrobus juga berkurang. ”Biasanya dalam satu hari bisa pulang pergi Blora Rembang dalam tiga trip. Karena kerusakan jalan ini, kami hanya bisa narik dalam dua. Bahkan saat kali pertama rusak, kami hanya bisa narik satu trip,” katanya. Kenaikan ongkos itu untuk membantu awak angkutan untuk membeli solar. (H19-69)
Keluarga Kartini Butuh Perhatian
KABUPATEN REMBANG- Keluarga pahlawan emansipasi perempuan Indonesia, RA Kartini, membutuhkan perhatian dari pemerintah. Rukmini (35), salah seorang cucu buyut Kartini, mengatakan hal itu saat hadir dalam resepsi Peringatan Ke-127 Hari Kartini di pendapa rumah dinas bupati, Sabtu (22/4). Rukmini merupakan anak ketiga dari lima bersaudara keturunan Budi Soesalit, cucu tunggal Kartini.
Dia mengaku selama ini hanya mendapatkan bantuan rutin dari Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional (IKPN). "Keluarga kami hanya menerima bantuan rutin dari IKPN Rp 50.000/bulan,'' ujarnya.
Uang itu digunakan untuk membayar SPP adik bungsunya, Rahmat Hariputra (30) yang menderita tunagrahita dan masuk SLB beberapa tahun lalu.
Semua buyut Kartini hidup dalam satu rumah yang cukup luas, warisan Budi Soesalit di Condet, Jakarta. "Semuanya nggak ada yang jadi," kata Rukmini sambil tersipu.
Meskipun memohon perhatian dari pemerintah, bukan berarti dia bermaksud meminta-minta.
Bantuan Dana
Rukmini datang bersama ibunya, Sri Biantini, atas undangan Panitia Peringatan Ke-127 Hari Kartini Kabupaten Rembang. Dia mengaku senang mendapatkan perhatian kembali. "Baru kali ini saya datang ke Rembang, setelah puluhan tahun yang lalu saat peringatan yang ke-100," tuturnya.
Bupati Rembang Moch Salim menyatakan Pemkab akan membantu keluarga Kartini berupa dana. "Besarnya kurang lebih sekitar Rp 15 juta," ungkapnya. (dit-65s)
Dia mengaku selama ini hanya mendapatkan bantuan rutin dari Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional (IKPN). "Keluarga kami hanya menerima bantuan rutin dari IKPN Rp 50.000/bulan,'' ujarnya.
Uang itu digunakan untuk membayar SPP adik bungsunya, Rahmat Hariputra (30) yang menderita tunagrahita dan masuk SLB beberapa tahun lalu.
Semua buyut Kartini hidup dalam satu rumah yang cukup luas, warisan Budi Soesalit di Condet, Jakarta. "Semuanya nggak ada yang jadi," kata Rukmini sambil tersipu.
Meskipun memohon perhatian dari pemerintah, bukan berarti dia bermaksud meminta-minta.
Bantuan Dana
Rukmini datang bersama ibunya, Sri Biantini, atas undangan Panitia Peringatan Ke-127 Hari Kartini Kabupaten Rembang. Dia mengaku senang mendapatkan perhatian kembali. "Baru kali ini saya datang ke Rembang, setelah puluhan tahun yang lalu saat peringatan yang ke-100," tuturnya.
Bupati Rembang Moch Salim menyatakan Pemkab akan membantu keluarga Kartini berupa dana. "Besarnya kurang lebih sekitar Rp 15 juta," ungkapnya. (dit-65s)
Seniman KABUPATEN REMBANG Dambakan DKR
KABUPATEN REMBANG - Setelah lama nonaktif, kini Dewan Kesenian Rembang (DKR) diharapkan muncul kembali. Beberapa seniman yang ditemui Suara Merdeka menyatakan keinginannya agar DKR bisa aktif kembali. "DKR punya peran penting bagi seniman Rembang," tutur Yoyok, Ketua Sanggar Pesisir Rembang, Jumat (21/4) malam lalu.
Dia mencontohkan kota-kota lain, seperti Semarang, yang keseniannya bisa lebih hidup setelah dewan kesenian setempat aktif. "Rembang punya beragam kesenian, terutama seni tradisi, yang sangat sayang kalau hilang begitu saja hanya karena tidak ada lembaga seperti DKR," ungkap pria, yang menekuni bidang lukis itu.
Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Cabang Rembang, FX Tridjoko Margono, juga menyatakan hal senada. Menurutnya, DKR bisa memayungi kegiatan seniman. Pria yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi itu juga mengatakan agar segera dibentuk kepengurusan yang baru. Kalaupun yang lama dinilai bermasalah, hendaknya diselesaikan dengan baik-baik.
Sementara itu, Ketua DKR yang lama, Dalang Gondrong Al Frustasi, saat dihubungi melalui telepon selulernya (ponsel), mengaku ikhlas jika ada yang bersedia menggantikannya.
"Siapa pun yang mau jadi ketua, silakan. Asalkan mau bekerja demi kemajuan kesenian," tegasnya. Dia menuturkan, dia sempat terpilih menjadi ketua dalam rapat yang dihadiri kurang lebih 275 seniman dua tahun lalu. "Sayangnya, kemudian saya dianggap condong ke salah satu kekuasaan, sehingga DKR tidak bisa berjalan dengan semestinya," terang dalang muda itu. (dit-29h)
Dia mencontohkan kota-kota lain, seperti Semarang, yang keseniannya bisa lebih hidup setelah dewan kesenian setempat aktif. "Rembang punya beragam kesenian, terutama seni tradisi, yang sangat sayang kalau hilang begitu saja hanya karena tidak ada lembaga seperti DKR," ungkap pria, yang menekuni bidang lukis itu.
Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Cabang Rembang, FX Tridjoko Margono, juga menyatakan hal senada. Menurutnya, DKR bisa memayungi kegiatan seniman. Pria yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi itu juga mengatakan agar segera dibentuk kepengurusan yang baru. Kalaupun yang lama dinilai bermasalah, hendaknya diselesaikan dengan baik-baik.
Sementara itu, Ketua DKR yang lama, Dalang Gondrong Al Frustasi, saat dihubungi melalui telepon selulernya (ponsel), mengaku ikhlas jika ada yang bersedia menggantikannya.
"Siapa pun yang mau jadi ketua, silakan. Asalkan mau bekerja demi kemajuan kesenian," tegasnya. Dia menuturkan, dia sempat terpilih menjadi ketua dalam rapat yang dihadiri kurang lebih 275 seniman dua tahun lalu. "Sayangnya, kemudian saya dianggap condong ke salah satu kekuasaan, sehingga DKR tidak bisa berjalan dengan semestinya," terang dalang muda itu. (dit-29h)
OP minyak goreng, Rembang dapat jatah 700.000 liter
KABUPATEN REMBANG - Dalam pekan ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rembang/Perindakop akan memfasilitasi operasi pasar (OP) minyak goreng bersubsidi di 14 kecamatan. OP akan digelar dalam dua tahap. Tahap I akan dijual sebanyak 160.000 liter dan sisanya 540.000 liter akan laksanakan pada OP tahap II.
Kasubdin Perdagangan Disperindakop Rembang, Arifin Murokan kepada wartawan, kemarin, mengatakan, dalam OP minyak goreng ini setiap keluarga akan mendapat subsidi dari pemerintah Rp 2.500/liter. Dan setiap keluarga hanya mendapat jatah dua liter.
"Dalam OP minyak goreng, pemkab hanya menjadi fasilitator. Agar tidak terjadi keributan di masyarakat. Sedang pelaksana OP adalah pengusaha lokal," ujar Arifin Murokan seraya menambahkan, setelah pengusaha selesai menjual minyak goreng sebanyak 160.000, pengusaha itu kemudian mencairkan dana talangan ke pemerintah provinsi.
Keluarga tak mampu
Dia menjelaskan, harga OP minyak goreng mengacu pada harga terakhir pasar. Misalnya harga pasar Rp 7.000, maka keluarga itu hanya membayar minyak goreng OP sebesar Rp 4.500/liter. "Sasaran OP minyak goreng diprioritaskan pada keluarga tidak mampu. Diharapkan dengan OP ini keluarga tidak mampu mendapat kemudahan mendapat minyak goreng yang harganya cukup murah. Menyangkut fomulasi OP minyak goreng, Senin pagi tadi sedang dirapatkan oleh sebuah tim di Kantor Dispirandakop.
"Kami mengimbau dan mengharapkan masyarakat tidak mampu yang menjadi sasaran OP minyak goreng tertib saat membeli minyak di wilayahnya masing-masing. Kami tidak ingin kejadian di luar daerah terjadi di Rembang. Tidak tertib dan tidak disiplin. Selain itu kami mengimbau juga kepada warga tidak mampu atasi pedagang agar tidak memanfaatkan OP untuk mencari keutungan dengan cara ikut-ikutan membeli minyak goreng OP," ujarnya. K.14-ip
Kasubdin Perdagangan Disperindakop Rembang, Arifin Murokan kepada wartawan, kemarin, mengatakan, dalam OP minyak goreng ini setiap keluarga akan mendapat subsidi dari pemerintah Rp 2.500/liter. Dan setiap keluarga hanya mendapat jatah dua liter.
"Dalam OP minyak goreng, pemkab hanya menjadi fasilitator. Agar tidak terjadi keributan di masyarakat. Sedang pelaksana OP adalah pengusaha lokal," ujar Arifin Murokan seraya menambahkan, setelah pengusaha selesai menjual minyak goreng sebanyak 160.000, pengusaha itu kemudian mencairkan dana talangan ke pemerintah provinsi.
Keluarga tak mampu
Dia menjelaskan, harga OP minyak goreng mengacu pada harga terakhir pasar. Misalnya harga pasar Rp 7.000, maka keluarga itu hanya membayar minyak goreng OP sebesar Rp 4.500/liter. "Sasaran OP minyak goreng diprioritaskan pada keluarga tidak mampu. Diharapkan dengan OP ini keluarga tidak mampu mendapat kemudahan mendapat minyak goreng yang harganya cukup murah. Menyangkut fomulasi OP minyak goreng, Senin pagi tadi sedang dirapatkan oleh sebuah tim di Kantor Dispirandakop.
"Kami mengimbau dan mengharapkan masyarakat tidak mampu yang menjadi sasaran OP minyak goreng tertib saat membeli minyak di wilayahnya masing-masing. Kami tidak ingin kejadian di luar daerah terjadi di Rembang. Tidak tertib dan tidak disiplin. Selain itu kami mengimbau juga kepada warga tidak mampu atasi pedagang agar tidak memanfaatkan OP untuk mencari keutungan dengan cara ikut-ikutan membeli minyak goreng OP," ujarnya. K.14-ip
Lima Rumah Roboh Diterjang Ombak, Puluhan Lainnya Rusak
KABUPATEN REMBANG - Lima rumah roboh serta puluhan lainnya rusak berat dan ringan karena diterjang ombak besar di Desa Karangmangu dan Bajingmeduro, Kecamatan Sarang, Rembang, dalam dua hari terakhir ini.
Kelima rumah yang roboh yaitu milik Suwarno, Trisno, Sunandar, Rundeng, dan Nyamplung Sumari, semuanya warga RT 1 RW 2 Desa Karangmangu Sarang.
Sedangkan di Desa Bajingmeduro, rumah yang rusak berat milik dari Sarom, Rosikan, Enang, Masruken, dan Azis.
Menurut Suwarno, ombak besar yang mulai datang sekitar pukul 09:00 hingga 11:00 terlihat sangat mendadak. Saat pertama datang, ombak memiliki ketinggian mencapai sekitar 2,5 meter.
”Kami sangat kaget dengan datangnya ombak besar itu karena sebelumnya laut sangat tenang. Begitu ombak datang, kami langsung menyelamatkan diri dan tidak sempat membawa barang-barang,” katanya kemarin.
Dia mengatakan, karena ombak besar itu, separo rumah beserta perabotan rumah tangga miliknya hanyut ke laut. ”Untuk sementara ini kami mengungsi di rumah kerabat karena rumah kami praktis sudah tidak bisa lagi ditempati,” paparnya.
Setelah ombak sedikit reda, kemarin siang warga yang rumahnya roboh mulai mengais sisa-sisa barang yang masih bisa digunakan. Selain itu, warga lainnya juga bergotong royong membuat talut sederhana untuk mengantisipasi kedatangan ombak besar susulan.
Tagih Janji
Tokoh masyarakat setempat Abdul Rouf mengatakan, warga menagih janji dari pemerintah yang beberapa waktu lalu menyatakan akan segera menanggulangi abrasi akibat ombak besar di Desa Karangmangu, Kecamatan Sarang. Selama ini warga hanya diberi janji-janji tanpa ada realisasi.
”Dalam berbagai forum di tingkat desa hingga kabupaten, warga selalu diminta bersabar dan menunggu. Sementara menunggu janji pemerintah, rumah-rumah di desa kami sudah hilang karena dihanyutkan ombak besar,” tegasnya.
Dia menjelaskan, dalam dua tahun belakangan daerah pesisir pantai Desa Karangamangu sudah bergeser ke selatan sepanjang 20 meter akibat digerus ombak. Puluhan rumah milik nelayan miskin di desa itu sudah menjadi korban.
”Apabila tidak secepatnya ditangani, kami khawatir dalam beberapa tahun mendatang desa nelayan di Karangmangu ini hilang karena tanahnya digerus ombak,” ujarnya. (H19-54)
Kelima rumah yang roboh yaitu milik Suwarno, Trisno, Sunandar, Rundeng, dan Nyamplung Sumari, semuanya warga RT 1 RW 2 Desa Karangmangu Sarang.
Sedangkan di Desa Bajingmeduro, rumah yang rusak berat milik dari Sarom, Rosikan, Enang, Masruken, dan Azis.
Menurut Suwarno, ombak besar yang mulai datang sekitar pukul 09:00 hingga 11:00 terlihat sangat mendadak. Saat pertama datang, ombak memiliki ketinggian mencapai sekitar 2,5 meter.
”Kami sangat kaget dengan datangnya ombak besar itu karena sebelumnya laut sangat tenang. Begitu ombak datang, kami langsung menyelamatkan diri dan tidak sempat membawa barang-barang,” katanya kemarin.
Dia mengatakan, karena ombak besar itu, separo rumah beserta perabotan rumah tangga miliknya hanyut ke laut. ”Untuk sementara ini kami mengungsi di rumah kerabat karena rumah kami praktis sudah tidak bisa lagi ditempati,” paparnya.
Setelah ombak sedikit reda, kemarin siang warga yang rumahnya roboh mulai mengais sisa-sisa barang yang masih bisa digunakan. Selain itu, warga lainnya juga bergotong royong membuat talut sederhana untuk mengantisipasi kedatangan ombak besar susulan.
Tagih Janji
Tokoh masyarakat setempat Abdul Rouf mengatakan, warga menagih janji dari pemerintah yang beberapa waktu lalu menyatakan akan segera menanggulangi abrasi akibat ombak besar di Desa Karangmangu, Kecamatan Sarang. Selama ini warga hanya diberi janji-janji tanpa ada realisasi.
”Dalam berbagai forum di tingkat desa hingga kabupaten, warga selalu diminta bersabar dan menunggu. Sementara menunggu janji pemerintah, rumah-rumah di desa kami sudah hilang karena dihanyutkan ombak besar,” tegasnya.
Dia menjelaskan, dalam dua tahun belakangan daerah pesisir pantai Desa Karangamangu sudah bergeser ke selatan sepanjang 20 meter akibat digerus ombak. Puluhan rumah milik nelayan miskin di desa itu sudah menjadi korban.
”Apabila tidak secepatnya ditangani, kami khawatir dalam beberapa tahun mendatang desa nelayan di Karangmangu ini hilang karena tanahnya digerus ombak,” ujarnya. (H19-54)
Sabtu, 12 April 2008
Siapkan 700 Ribu Liter Migor
KABUPATEN REMBANG - Kabupaten Rembang mendapatkan jatah tak kurang dari 700.000 liter minyak goreng (migor) subsidi untuk operasi pasar (OP). Kasubdin Perdagangan Dinas Perindustrian, Perdagangan Koperasi dan UKM (Disperindagkop) Arifin Murokan menjelaskan, jatah 700.000 liter itu akan disalurkan dalam dua tahap. ”Tahap pertama 160.000 liter. Sisanya, 540.000 liter akan disalurkan pada OP tahap selanjutnya. Tahap pertama kemungkinan sudah bisa disalurkan minggu depan,” jelas Arifin kemarin.
Dijelaskan Arifin, dalam OP itu, setiap keluarga akan mendapatkan subsidi Rp 2.500/liter. ”Seumpamanya harga terakhir di pasar mencapai Rp 7.000/liter, maka dalam OP itu warga cukup membayar Rp 4.500/liter. Kami menggunakan harga terakhir di pasar,” terangnya. (H19-54)
Dijelaskan Arifin, dalam OP itu, setiap keluarga akan mendapatkan subsidi Rp 2.500/liter. ”Seumpamanya harga terakhir di pasar mencapai Rp 7.000/liter, maka dalam OP itu warga cukup membayar Rp 4.500/liter. Kami menggunakan harga terakhir di pasar,” terangnya. (H19-54)
Perajin Tahu dan Tempe Didata
KABUPATEN REMBANG - Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM (Disperindagkop) saat ini sedang melakukan pendataan perajin tahu, tempe, dan keripik tempe.
Kabid Perindustrian Disperindagkop Sudijoso menjelaskan, pendataan tersebut dilakukan terkait dengan rencana pemberian subsidi Rp 1.000 untuk pembelian satu kilogram kedelai bagi perajin tahu, tempe, dan keripik kedelai. Data nama perajin yang didapatkan juga akan diverifikasi hingga valid, sehingga apabila subsidi pembelian kedelai diluncurkan, penerimanya perajin yang sangat membutuhkan. ‘’Selain itu dengan validasi ini, akan mempermudah kami dalam menyalurkan subsidi kepada para perajin,’’ jelasnya.
Data tahun 2007, jumlah perajin tahu, tempe dan keripik tempe yang terdaftar di Disperindagkop, 728 orang. Namun, dari jumlah itu diperkirakan hanya 530 orang yang masih bertahan. (H19-76)
Kabid Perindustrian Disperindagkop Sudijoso menjelaskan, pendataan tersebut dilakukan terkait dengan rencana pemberian subsidi Rp 1.000 untuk pembelian satu kilogram kedelai bagi perajin tahu, tempe, dan keripik kedelai. Data nama perajin yang didapatkan juga akan diverifikasi hingga valid, sehingga apabila subsidi pembelian kedelai diluncurkan, penerimanya perajin yang sangat membutuhkan. ‘’Selain itu dengan validasi ini, akan mempermudah kami dalam menyalurkan subsidi kepada para perajin,’’ jelasnya.
Data tahun 2007, jumlah perajin tahu, tempe dan keripik tempe yang terdaftar di Disperindagkop, 728 orang. Namun, dari jumlah itu diperkirakan hanya 530 orang yang masih bertahan. (H19-76)
Asyik Mancing, Pegawai RSUD Tenggelam
KABUPATEN REMBANG - Budianto (25), warga RT I RW I Desa Kabongan Lor, Kecamatan Kota, tewas tenggelam di jembatan jetty Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tasikagung, Kamis pukul 15.30. Jenazah pegawai Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr R Soetrasno itu baru ditemukan tim search and rescue (SAR) Jumat pukul 08.40.
Danang Aprilianto (17), salah satu saksi mata menuturkan, bapak dari Faiz (2) itu terlihat memancing di kawasan T - I jembatan jetty. Ketika hendak mengambil bangi (umpan-red) di sebelah kirinya, Anto - begitu sapaan akrab korban - kehilangan kesimbangan dan tercebur ke laut.
‘’Saya berusaha menolong korban dengan melemparkan tali, tapi korban tidak bisa meraih tali yang saya lemparkan ke laut,’’ terangnya.
Setelah itu, Danang dan Aji yang berangkat memancing bersama korban, berteriak minta tolong pada nelayan di sekitarnya. Namun, ketika sejumlah nelayan mendatangi lokasi kejadian, tubuh korban tidak kelihatan lagi.
Tim SAR gabungan Polair Polres Rembang, Marinir, dan Dinas Perhubungan yang datang ke jembatan jetty beberapa menit kemudian langsung menyelami tempat tenggelamnya suami dari Siti Nurohmah (24). Namun, penyelaman yang dilakukan hingga Jumat dini hari itu belum membuahkan hasil.
Isak Tangis
Sekitar pukul 00.00, karena keterbatasan anggota dan peralatan, tim SAR memutuskan menghentikan sementara pencarian terhadap Anto. Pencarian dilanjutkan kemarin pagi sekitar pukul 07.00. Sekitar dua jam pencarian, tim SAR akhirnya berhasil menemukan jenazah Budianto.
Meninggalnya pegawai bagian kebersihan RSUD yang akan mengikuti prajabatan pegawai negeri sipil (PNS) pada Senin (14/4) mendatang itu, menimbulkan duka yang mendalam bagi keluarga, kerabat, dan rekannya. Bahkan ibu korban, Temu (48), langsung pingsan ketika melihat jenazah putranya yang akan dikafani di kamar jenazah RSUD dr R Soetrasno.
Istrinya, Siti Nurohmah, juga tenggelam dalam derai isak tangis. Setelah disemayamkan di rumah duka, jenazah kemarin siang dimakamkan di tempat pemakaman umum Desa Kabongan Kidul.
Kapolres Rembang AKBP Wawan Ridwan didampingi Kasatpolair AKP Edy S yang memimpin evakuasi meminta agar warga lebih berhati-hati saat menyalurkan hobi memancing di laut. (H19-76)
Danang Aprilianto (17), salah satu saksi mata menuturkan, bapak dari Faiz (2) itu terlihat memancing di kawasan T - I jembatan jetty. Ketika hendak mengambil bangi (umpan-red) di sebelah kirinya, Anto - begitu sapaan akrab korban - kehilangan kesimbangan dan tercebur ke laut.
‘’Saya berusaha menolong korban dengan melemparkan tali, tapi korban tidak bisa meraih tali yang saya lemparkan ke laut,’’ terangnya.
Setelah itu, Danang dan Aji yang berangkat memancing bersama korban, berteriak minta tolong pada nelayan di sekitarnya. Namun, ketika sejumlah nelayan mendatangi lokasi kejadian, tubuh korban tidak kelihatan lagi.
Tim SAR gabungan Polair Polres Rembang, Marinir, dan Dinas Perhubungan yang datang ke jembatan jetty beberapa menit kemudian langsung menyelami tempat tenggelamnya suami dari Siti Nurohmah (24). Namun, penyelaman yang dilakukan hingga Jumat dini hari itu belum membuahkan hasil.
Isak Tangis
Sekitar pukul 00.00, karena keterbatasan anggota dan peralatan, tim SAR memutuskan menghentikan sementara pencarian terhadap Anto. Pencarian dilanjutkan kemarin pagi sekitar pukul 07.00. Sekitar dua jam pencarian, tim SAR akhirnya berhasil menemukan jenazah Budianto.
Meninggalnya pegawai bagian kebersihan RSUD yang akan mengikuti prajabatan pegawai negeri sipil (PNS) pada Senin (14/4) mendatang itu, menimbulkan duka yang mendalam bagi keluarga, kerabat, dan rekannya. Bahkan ibu korban, Temu (48), langsung pingsan ketika melihat jenazah putranya yang akan dikafani di kamar jenazah RSUD dr R Soetrasno.
Istrinya, Siti Nurohmah, juga tenggelam dalam derai isak tangis. Setelah disemayamkan di rumah duka, jenazah kemarin siang dimakamkan di tempat pemakaman umum Desa Kabongan Kidul.
Kapolres Rembang AKBP Wawan Ridwan didampingi Kasatpolair AKP Edy S yang memimpin evakuasi meminta agar warga lebih berhati-hati saat menyalurkan hobi memancing di laut. (H19-76)
Kamis, 10 April 2008
TKI Leran Tewas Dikeroyok di Malaysia
KABUPATEN REMBANG - Lembaran kelam kembali ditorehkan tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Kabupaten Rembang. Jamil (25), TKI asal RT 1 RW 1 Desa Leran, Kecamatan Sluke, tewas di wilayah Johor Malaysia, Sabtu lalu.
Kepala Desa Leran Munawir menuturkan, tewasnya putra Suhadi itu diduga karena penganiayaan yang dialami Jamil sebelumnya. Kabar yang diterima pihak desa ataupun keluarga menyebutkan, sekitar satu minggu lalu Jamil naik taksi ketika akan pulang ke kontrakannya di Johor.
Di tengah jalan, kata Munawir, taksi yang ditumpangi TKI yang sudah satu tahun di Malaysia itu dihentikan polisi yang sedang menggelar razia TKI ilegal. ‘’Entah karena tidak membawa surat atau bagaimana, Jamil berupaya kabur dan keluar dari taksi. Ketika kabur itu, ada yang meneriakinya sebagai maling. Jamil sempat dimassa warga sebelum diserahkan kepada aparat berwenang,’’ terangnya.
Akibat dimassa warga itu, tambah Munawir, kondisi Jamil terus memburuk dan harus mendapatkan perawatan dari tim medis. ‘’Pada hari Sabtu lalu Jamil dinyatakan meninggal dunia,’’ katanya.
Dia menyatakan, pihak keluarga dan kerabat sudah berupaya mengurus kepulangan jenazah Jamil. Dikatakan, pada Selasa pagi (kemarin, red) jenazah Jamil direncanakan diterbangkan ke Bandara Juanda Surabaya. ‘’Dari Juanda, jenazah dijemput pihak keluarga untuk dibawa ke Leran. Kalau tidak dini hari atau pagi besok (hari ini) jenazah Jamil sudah sampai di Leran untuk disemayamkan di rumah duka,’’ jelasnya.
Diduga Ilegal
Jamil diduga merupakan tenaga kerja ilegal. Pasalnya dia tidak masuk dalam daftar TKI yang dimiliki Dinas Tenaga Kerja, Sosial dan Transmigrasi (Disnakersostrans) Kabupaten Rembang.
Kasi Penempatan Tenaga Kerja dan Transmigrasi Bambang Prayoga mengutarakan, TKI asal daerah timur Rembang memang seringkali berangkat tanpa melalui biro jasa resmi.
Hal ini, katanya, disebabkan adanya salah informasi yang beredar di masyarakat. ‘’Informasi yang diterima masyarakat, kalau berangkat pakai biro resmi gajinya akan dipotong selama kurun waktu tertentu. Padahal yang terjadi tidak seperti itu,’’ tuturnya.
Agar tidak terjadi kejadian serupa, dia mengatakan telah menggencarkan sosialisasi kepada warga mengenai TKI legal di empat kecamatan. Untuk Jamil, dia juga mengatakan Disnakersostrans akan berupaya memfasilitasi kepulangannya. (H19-79)
Kepala Desa Leran Munawir menuturkan, tewasnya putra Suhadi itu diduga karena penganiayaan yang dialami Jamil sebelumnya. Kabar yang diterima pihak desa ataupun keluarga menyebutkan, sekitar satu minggu lalu Jamil naik taksi ketika akan pulang ke kontrakannya di Johor.
Di tengah jalan, kata Munawir, taksi yang ditumpangi TKI yang sudah satu tahun di Malaysia itu dihentikan polisi yang sedang menggelar razia TKI ilegal. ‘’Entah karena tidak membawa surat atau bagaimana, Jamil berupaya kabur dan keluar dari taksi. Ketika kabur itu, ada yang meneriakinya sebagai maling. Jamil sempat dimassa warga sebelum diserahkan kepada aparat berwenang,’’ terangnya.
Akibat dimassa warga itu, tambah Munawir, kondisi Jamil terus memburuk dan harus mendapatkan perawatan dari tim medis. ‘’Pada hari Sabtu lalu Jamil dinyatakan meninggal dunia,’’ katanya.
Dia menyatakan, pihak keluarga dan kerabat sudah berupaya mengurus kepulangan jenazah Jamil. Dikatakan, pada Selasa pagi (kemarin, red) jenazah Jamil direncanakan diterbangkan ke Bandara Juanda Surabaya. ‘’Dari Juanda, jenazah dijemput pihak keluarga untuk dibawa ke Leran. Kalau tidak dini hari atau pagi besok (hari ini) jenazah Jamil sudah sampai di Leran untuk disemayamkan di rumah duka,’’ jelasnya.
Diduga Ilegal
Jamil diduga merupakan tenaga kerja ilegal. Pasalnya dia tidak masuk dalam daftar TKI yang dimiliki Dinas Tenaga Kerja, Sosial dan Transmigrasi (Disnakersostrans) Kabupaten Rembang.
Kasi Penempatan Tenaga Kerja dan Transmigrasi Bambang Prayoga mengutarakan, TKI asal daerah timur Rembang memang seringkali berangkat tanpa melalui biro jasa resmi.
Hal ini, katanya, disebabkan adanya salah informasi yang beredar di masyarakat. ‘’Informasi yang diterima masyarakat, kalau berangkat pakai biro resmi gajinya akan dipotong selama kurun waktu tertentu. Padahal yang terjadi tidak seperti itu,’’ tuturnya.
Agar tidak terjadi kejadian serupa, dia mengatakan telah menggencarkan sosialisasi kepada warga mengenai TKI legal di empat kecamatan. Untuk Jamil, dia juga mengatakan Disnakersostrans akan berupaya memfasilitasi kepulangannya. (H19-79)
Langganan:
Postingan (Atom)


