(Persembahan Untuk Para Sahabat)
Sahabat adalah dorongan ketika engkau hampir berhenti, petunjuk jalan ketika engkau tersesat, membiaskan senyuman sabar ketika engkau berduka, memapahmu saat engkau hampir tergelincir dan mengalungkan butir-butir mutiara doa pada dadamu...Ikhwan and akhwat...moga hati kita dipertautkan karena-Nya
Terimakasih Telah Menjadi Sahabat Dalam Hidup kami

rss

Senin, 26 November 2007

Satu Doa Ketika Gelisah Meruyak




“Hasbunallah wani’mal Wakil”
(Cukuplah Allah sebagai penolong kami,
dan Allah adalah sebaik-baik pelindung)
(QS. Ali Imron 3:173)


November kelabu di musim tak tentu. Bukankah panas yang terik dan hujan yang deras seringkali bertukar kulit di beberapa bulan terakhir ini? Pun kabar mala dan petaka di hidup keseharian kita. Semua kian akrab di telinga. Tapi November, segala ketidak menentuan itu kian berkelindan bagi beberapa persona yang dilanda musibah, yang dirundung gelisah. Dan sejumlah sahabat saya diantaranya.

Sahabat pertama; Aziz, begitu kerap saya memanggilnya, nampak begitu layu di pertengahan bulan. Air mukanya keruh. Matanya mengabarkan hampa. Ia tidak lagi tampil ekspresif seperti dulu. Ia tiba-tiba menjadi sosok yang rapuh. Kepada saya, Aziz menuturkan pangkal soal kegundahannya itu: “Inilah minggu terberat dalam hidupku. Aku shock! Tanpa pemberitahuan sedikitpun, aku dan beberapa teman di PHK secara tiba-tiba. Aku stres, stres bagai petir di siang bolong…” &nbs p; &nbs p;

Saat itu, suaranya seperti menghimpun amarah, resah dan lelah dalam satu wadah, yang kemudian dihempaskan ke saya. Maka saya pun bersetia hati menjadi ‘tong sampah’-nya. Sejak itulah, saya tahu, ia menimang-nimang kegelisahan dari hari ke hari.

Sahabat kedua; Dinda namanya. Cantik, solehah dan seorang mahasiswi S2 sebuah perguruan tinggi negeri yang tengah menanam rasa serupa; gelisah dan cemas yang tak berbeda. Di ujung telepon, saya mendengar isak tangisnya yang pilu seraya berkata: “A…a…ku tak sanggup lagi. Ha…tiku tak sanggup menampung penyesalan ini. Pa…dahal, pernikahan itu tinggal selangkah lagi. Tapi ia me..mutuskan komitmen karena hal se..pele…”

Kala itu, getaran sesak yang merasuki dadanya juga menghujam batin saya. Setiap kata yang emluncur di bibirnya seperti kidung nestapa yang sendu. Selanjutnya, saya menerima pesan-pesan pendek (sms) kekecewaan dan kegelisahan yang belum juga musnah.

Saya yakin, anda mahfum, kenapa Aziz dan Dinda akhirnya larut dalam kecamuk gelisah itu. Sebab setiap kata, mungkin, pernah mengecapnya di suatu masa. Terlebih bila gelisah itu sudah berkecambah di segala ranah. Ia, diam-diam, merasuki setiap lini kehidupan kita. Semua terasa buram dan muram. Kondisi inilah yang saya khawatirkan juga meruyak di ceruk-ceruk jiwa Aziz dan Dinda dan saudara-saudara seiman lainnya.

Saya jadi teringat lirik lagu bertajuk Kembali Pada Allah yang didendangkan Opick: Bila hati gelisah / Tak tenang, tak tentram / Bila hatimu goyah / Terluka, merana / Jauhkah hati ini dari Tuhan, dari Allah? / Hilangkah dalam hati zikirku, imanku? / Hanya dengan Allah, hatimu akan menjadi tenang / Dengan mengingat Allah / Hilanglah semua kegelisahan / Cukuplah hanya Allah / Hati bergantung, berserah diri / Hasbulallah wa ni’mal wakil, ni’mal maula wani’ma nashir…

Hmm. Saya tercekat di lengkingan merdu Opick tatkala ia melafalkan hasbulallah wa ni’mal wakil. Bukankah sebaris kalimat ini pernah dzikir-zikir Nabi Ibrahim ketika maut tengah mengintainya?

Di negeri Babilonia hidup seorang raja yang sangat zalim. Namrud bin Kan’an bin Kusy, namanya. Seturut catatan sejarah, Namrud dan segenap rakyatnya adalah para penyembah patung. Konon, dalam lingkungan sosial seperti inilah Nabi Ibrahim as lahir dan tumbuh dewasa. Tak aneh bila ayahanda Ibrahim sendiri pun seorang penyembah berhala sejati. Kendati demikian, Ibrahim sendiri bukanlah sosok yang mudah manut dengan keadaan yang menyesatkan. Ia bukanlah tipikal anak yang takluk pada kehendak semena-mena orang tua. Di matanya, kebiasaan ayah dan rakyat Babilonia menjadikan benda mati sebagai Tuhan itu jelas-jelas sebuah kedunguan. Sesuatu yang tidak logis. Irasional, tak masuk akal. Maka ia pun berontak. Ia bertekad menghancurkan patung-patung sesembahan rakyat Babilonia tersebut. Dengan sebilah kapak tajam yang terhunus di tangannya, ia merangsek masuk ke tempat dimana berhala-berhala itu di pancangkan. Sejurus kemudian kapak Ibrahim telah berayun-ayun, melesat-lesat, menghantam patung-patung itu. Semua roboh, hancur berkeping-keping, kecuali satu patung yang paling besar. Di patung besar itulah, Ibrahim mengalungkan kapak sebagai sebuah taktik jitu menguji keyakinan rakyat Babilonia.

Keesokan harinya ketika rakyat Babilonia hendak beribadah, semua tiba-tiba histeris dan terperanjat bukan kepalang melihat tuhan-tuhan mereka telah roboh dan hancur. Mereka kalap, marah dan langsung menyelidiki siapa gerangan pelakunya. Setelah mengorek informasi ke sana sini, sosok Ibrahim pun terkuak sebagai tersangka. Ia pun disidang di pengadilan babilonia. Kepada para hakim Ibrahim berkilah. Ia tidak mengakui bahwa tindakan anarki itu perbuatannya. Ia berdalih bahwa patung yang paling besar itulah yang berbuat: “Bukankah kapak itu tergantung di lehernya? Tanyalah padanya!” mereka tercengang dan meradang atas jawaban Ibrahim. “Mana bisa patung itu bicara?” jawab mereka kesal. Akhirnya Ibrahim berkata kembali: “Tidak bisa? Lalu kenapa kalian menyembahnya? Setan telah memperdaya kalian. Kembalilah kepada Allah! Dialah Tuhan Yang Maha Esa.” Namun orang-orang yang sesat memang tidak mau mengakui kekalahannya. Akhirnya, para hakim tetap memutuskan vonis mati Ibrahim dengan cara membakarnya hidup-hidup. Kita tahu, akhirnya, Ibrahim pun tak bisa melawan. Ia rela raganya dijilati api, tapi ia tidak ridho jiwanya terlalap si jago merah. Maka Ibrahim pun berpasrah diri. Pada detik-detik genting inilah, mulutnya dan hatinya basah oleh lafal ‘hasbunallah wa ni’mal wakil’ (cukup Allah sebagai penolongku, dan Allah adalah sebaik-baik pelindung). Dan Allah mendengar doa lirih Ibrahim, hingga satu firman pun turun: “Hai api, jadilah dingin! Jadilah keselamatan bagi Ibrahim!” dan api itu akhirnya tak mampu melahap tubuh Ibrahim. Ia selamat. Ia menumpas segala kegundahannya bersama kekuatan Illahi yang bersemayam di qolbunya.

Ibrahim tak sendiri. Junjungan kita, Rasulullah saw, pun mendedahkan doa senada tatkala sebagian tentaranya bersikap setengah hati menghadapi pasukan musyrik yang senjata dan bekal perangnya lebih bayak. Ternyata kata hasbunallah wa ni’mal wakil yang ditutur Rasul Muhammad saw itu langsung menepis rasa takut pasukannya sehingga mereka mengucap hal yang serupa dan iman mereka pun kian berkembang.

Begitulah, Ibrahim dan Muhammad akhirnya mampu menggerus kecemasan jiwanya bersama energi Ilahi hasbunallah wa ni’mal wakil. Wajar bila keajaiban sukses pun berpihak di sisi mereka. Padahal kita tahu, rasa gelisah mereka adalah bahaya maha dahsyat bernama maut. Dan kita, umatnya, juga Aziz dan Dinda, kadangkala menggelepar sekarat bila sejumlah harapan duniawi kita punah sebelum waktunya. Kita tiba-tiba menjadi manusia yang paling malang . Sepi, sendiri dan hidup dalam jeri. Tidak hanya itu, kita -acapkali- menggugat Sang Kholiq: ‘Ya Allah, kenapa hal ini terjadi dalam hidupku?’ Pada titik inilah, saya pikir, lirik Opick di atas terasa menggedor-gedor nurani: Bila hati mulai goyah/ terluka, merana/ Jauhkah hati ni dari Tuhan, dari Allah?

Kegelisahan Negatif atau Kegelisahan Positif


Heidegger, seorang filsuf Jerman abad 20, suatu kali pernah menta’rifkan kegelisahan atau kecemasan (angst) sebagai berikut: suasana hati dasariah yang menyingkap ketakberumahan dan ketakberkampunghalaman manusia. Bila kondisi ini bermukim di dalam hati kita, maka itu sebuah proses tersingkapnya kesadaran diri kita dari ketakberumahannya kita di dunia ini.

Oleh karena itu, rasa ini sejatinya semakin meneguhkan ihwal kefanaan manusia, ketidakkekalan dirinya di jagad dunia ini. Tak aneh, bila Allah mencap ciptaan-Nya ini sebagai makhluk yang berselimut keluh kesah dan gelisah. “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah…” (QS. Al-Ma’aarij: 19)

Sayangnya, suasana gelisah ini seringkali menggiring manusia pada keyakinan bahwa rumah dan kampung halaman yang hakiki itu berada di dunia. Hal ini, bisa dilihat dari kenestapaan yang umumnya membuat kita larut dalam kecemasan dan kegelisahan yang parah. Saya menyebut kondisi ini dengan kegelisahan negatif, sejenis kegelisahan yang meringkus harapan dan semangat hidup seseorang untuk berani melangkah lagi. Pada titik ini, lazimnya orang akan cenderung tidak kreatif, mengeluh, marah-marah, dan bertindak impulsif. Jiwanya tidak tenang, dan hatinya rusuh oleh segenap peristiwa pahit yang menimpanya. Ia lupa bahwa kemalangan, kekecewaan dan kegelisahan ini adalah kesementaraan. Karena itulah, saya sepakat ketika filsuf Epictetus mengatakan bahwa manusia tidak diganggu oleh peristiwa-peristiwa, melainkan oleh pandangannya sendiri tentang peristiwa-peristiwa itu. Begitu pula dengan manusia yang mengelola kegelisahannya secara negatif. Ia melihat peristiwa yang tengah menyusahkannya itu semisal kutukan, selayak kelam yang berjelaga.

Sebaliknya, bila seseorang melihat kejadihan pahit yang melandanya itu sebagai sebuah berkah, seumpama anugerah tersembunyi yang suatu saat akan menyembul tiba-tiba, maka ialah sosok yang saya sebut sebagai manusia yang memiliki kegelisahan positif. Pada titik ini, seseorang berusaha mengoptimalkan energi kreatifnya semaksimal mungkin. Ia berpikir positif, tidak mengeluh, dan tidak larut dalam kecemasan, dalam keterpurukan. Ia, menurut sufi Hazrat Salahedin Ali Nader Angha, adalah karakter yang senantiasa menganggap peristiwa-peristiwa pahit sebagai sesuatu yang tidak “buruk”, melainkan lebih merupakan pengalaman-pengalaman yang darinya kita bisa belajar untuk lebih dewasa.

Ia percaya bahwa Sang Pemilik Maha, Allah azza wajalla, tengah menyingkap tabir mukjizat-Nya, ia yakin bahwa Allah sedang menyibak sendi-sendi rahasia-Nya hingga ia menemukan sebuah pintu keberkahan yang tidak disangka-sangkanya. Pada momen seperti inilah ia berusaha menjadi manusia yang mengaktualisasikan dirinya sebesar mungkin. Ia menggali potensi, bakat, dan kapasitas kemampuan yang selama ini dimilikinya. Bahkan seorang psikolog bernama Abraham Maslow dalam buku Motivation and Personality-nya menganggap orang-orang seperti inilah yang layak disebut orang-orang sukses.

Dan saya yakin, kegelisahan positif ini tidak tumbuh menyelubungi jiwa seseorang begitu saja. Ia bukan sesuatu yang taken for granted. Ia hadir ketika keyakinan hati seorang hamba menerbitkan Allah di sisinya. Ia tempatkan sang Rahman sebagai Sahabat dan Penolong sejatinya seraya terus melafal-lafal hasbunallah wa ni’mal wakil di hatinya.

Barangkali, tak aneh bila Simone Weil, intelektual kiri yang berubah menjadi seorang mistikus abad 20, berkata begini, “Bagi manusia spiritual (beriman), kemalangan menimbulkan perasaan bahwa Tuhan telah meninggalkan anda. Tetapi, jika Anda bisa bangkit dari kegelapan, iman Anda akan jadi lebih dalam dan Anda akan merasakan salah satu misteri besar kehidupan.”

Semoga saja Aziz, Dinda, dan siapapun yang tengah dilanda gelisah tengah bersiap menyongsong datu misteri besar itu. Amin. (Firliana Putri)

SANG BUAH HATI



Apakah yang menjadi tujuan perkawinan Anda? Sekadar untuk melampiaskan dorongan biologis? Untuk membahagiakan pasangan yang Anda cintai? Untuk melahirkan generasi yang kuat, sejahtera dan bahagia di belakang kita? Atau, lebih jauh dari itu.

Semua itu akan mempengaruhi jalannya biduk rumah tangga yang sedang kita arungi. ‘Tujuan’ menentukan ‘cara’. Bahkan menentukan hasil. Tujuan yang salah dan tidak baik akan berpengaruh tidak baik pula pada hasil yang kita capai. Bahkan juga pada proses yang kita jalani.
Rumah tangga yang baik dan bahagia adalah rumah tangga yang sejak awal sudah diorientasikan untuk mencapai tujuan yang baik dan bahagia. Itulah rumah tangga yang dilandasi dengan tujuan ibadah.

Dari sekian banyak tujuan ibadah itu, salah satunya adalah menghasilkan keturunan yang salih dan salihah. Anak-anak yang meneruskan misi dan visi ibadah kepada Allah semata. Itulah yang diajarkan oleh nabi Ibrahim sejak awal. Sang Nabi Kesayangan Allah yang ditugasi untuk menyampaikan agama Islam kepada manusia, hingga diteruskan oleh nabi-nabi keturunan beliau - termasuk nabi Muhammad saw.

QS. Al Baqarah (2): 124
Dan, ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku". Allah berfirman: "Janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang yang zalim".

Keturunan yang berkualitas adalah salah satu tujuan ibadah dalam membangun rumah tangga. Dimulai dari suami dan istri yang berkualitas, bakal menghasilkan rumah tangga yang berkualitas pula. Rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rahmah.

Dan kemudian, hasil berikutnya, adalah keturunan yang berkualitas. Anak-anak yang salih dan salihah. Begitulah, Allah mengajarkan kepada setiap muslim agar menjaga diri dan keluarganya dari api neraka. Dan menjadikan rumah tangganya sebagai surga dunia...

QS. At Tahrim (66): 6
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

QS. Al Furqaan (25): 74
Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.

Keluarga yang penuh ketenteraman dan kebahagiaan. Dan anak-anak yang menyejukkan hati dengan segala tingkah laku mereka yang Islami. Bukan keluarga yang penuh dengan pertengkaran dan amarah, dikarenakan perbuatan anggota keluarga yang salah. Atau anak-anak yang bermasalah.

Anak-anak yang salih dan salihah bakal tumbuh dari keluarga yang salih dan salihah juga. Jiwa mereka diukir dengan contoh-contoh konkret dalam realitas kehidupan mereka. Oleh doa-doa tulus kedua orang tuanya. Oleh nasehat-nasehat bijak yang penuh kasih sayang.

Rasulullah saw memberikan nasehat kepada umatnya agar mendidik anak dengan sebaik-baiknya. Karena seorang anak terlahir bagaikan kertas putih tanpa cela. "Orang tuanyalah yang menjadikan dia itu muslim, nasrani, yahudi atau majusi."

Di sinilah kita jadi memahami kenapa Allah mengatakan, jaga dirimu dan keluargamu dari api neraka. Jika kita tidak bisa menjaga diri kita dari api neraka, maka keluarga kita pun akan terimbas karenanya. Maka keluarga dan rumah tangga kita pun menjadi neraka dunia. Sebaliknya jika kita bisa menjaga tingkah laku sesuai dengan perintah Allah dan rasulNya, maka kita pun merasakan bahagia. Rumah tangga bagaikan surga dunia. Anak-anak, istri dan suami menjadi penyejuk hati. Menyegarkan jiwa...

Anak-anak yang salih dan salihah adalah anak-anak yang cerdas secara intelektual, dewasa secara emosional dan matang secara spiritual. Maka keluarga Muslim harus berupaya menjadikan anak-anaknya memiliki kecerdasan yang paripurna. Gizinya tercukupi. Kemampuan analitis, rasionalitas, logika, dan skill-nya harus terlatih dengan baik. Karena di sinilah bertumpu kecerdasan intelektual sang anak.

Selain itu, sejak kecil anak-anak kita juga harus memperoleh latihan kematangan emosi. Melatih anak supaya sabar dan tidak tergesa-gesa dalam melakukan sesuatu. Mendorong anak-anak supaya bersikap rendah hati, tidak sombong dan mampu mengendalikan emosi.

Memotivasi anak agar memiliki empati dan rasa belas kasihan kepada sesama, dan lain sebagainya, yang akan menjadikan anak-anak kita memiliki kematangan emosi. Cerdas secara emosional.

Karena ternyata, banyak kasus menunjukkan kesuksesan seseorang itu sangat dipengaruhi oleh kematangan emosinya dibandingkan dengan intelektualnya. Intelektual yang tinggi saja, tanpa dibarengi dengan kematangan emosional seringkali memunculkan masalah dalam kelompok beraktivitasnya.

Cerdas, tapi pemarah misalnya. Pinter, tapi tak sabaran dalam mengambil keputusan. Atau punya skill bagus, tapi tak bisa bekerjasama dengan tim. Dan lain sebagainya. Maka, sejak kecil seorang anak mesti dilatih untuk memiliki kematangan emosi yang bagus.

Dan lebih dari semua itu, kematangan spiritual memegang peranan kunci dalam keberhasilan seseorang. Orang pintar, emosinya terkendali, sekaligus penuh keikhlasan dan kesabaran dalam bekerja, bakal mencapai suatu hasil yang sempurna.

Apalagi kalau semua itu diorientasikan untuk kemaslahatan orang banyak - atas nama Allah yang Rahman dan Rahim - maka hasilnya akan semakin sempurna. Itulah yang di agama kita disebut sebagai rahmatan lil ‘alamiin – menjadi rahmat bagi seluruh alam. Inilah tujuan puncak beragama.


QS. Al Anbiyaa' (21): 107
Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

Maka, sebuah rumah tangga muslim harus menghasilkan keturunan yang berkualitas untuk tujuan yang sangat mulia : bermanfaat buat dirinya, buat keluarganya, buat orang-orang di sekitarnya, dan buat seluruh makhluk yang berinteraksi dengannya.

Allah menciptakan manusia untuk membentuk tatanan kehidupan universal yang penuh kedamaian dan kebahagiaan. Sebab, sejak awal, manusia memang diciptakan sebagai manajer Bumi. Khalifah di muka Bumi.

Dan kita sebagai orang tua diberi amanah untuk menciptakan pemimpin-pemimpin yang berkualitas secara paripurna bagi kemaslahatan kehidupan di planet Bumi. Karena itu Allah sangat memuliakan orang tua. Mereka adalah wakil Allah di muka Bumi, dalam konteks ikut ‘menciptakan’ generasi-generasi yang Islami.

QS. Al Ahqaf (46): 15
Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguh-nya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.

Ayat di atas memberikan gambaran betapa mulia dan bahagianya rumah tangga muslim. Sebab, berumah tangga tidak hanya dikaitkan dengan kebutuhan biologis semata, melainkan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang luhur. Istimewanya, dengan budaya berkeluarga secara turun temurun.
Coba cermati ayat tersebut, Allah memerintahkan manusia untuk menghormati ibu bapaknya. Karena beliau berdualah kita menjadi ada di muka bumi. Dengan segala susah payah dan pengorbanannya, mereka membesarkan kita hingga dewasa.

Jasa mereka tidak bisa kita ukur dengan apa pun. Mereka bagaikan wakil Allah yang ditugasi khusus untuk mengawal kehadiran kita sebagai khalifatu fil ardhi. Calon pemimpin di muka bumi.

Karena itu sesudah dewasa, seorang anak yang salih akan ganti mendoakan orang tuanya agar mereka disayangi Allah sebagaimana orang tuanya menyayanginya sejak kecil. Tidak ada balasan yang setimpal yang bisa kita berikan kepada orang tua kita, kecuali kasih sayang Allah yang tiada terbatas.

Bahkan, bukan hanya berhenti di situ, ayat tersebut mengajarkan kepada kita, agar berdoa kepada Allah bagi anak keturunan kita. Anak cucu kita. Entah sampai berapa generasi ke depan, agar mereka menjadi pemimpin-pemimpin yang salih dan rahmatan lil alamin.

Karena itu Rasulullah saw mengajari agar kita mendoakan orang tua setiap selesai shalat: Allahummaghfirli waliwaalidayya warhamhumma kamaa rabbayaani shaghiira. "Ya Allah ampunilah dosa-dosa kedua orang tua kami, dan sayangilah mereka sebagaimana mereka telah mengasuhku sejak kecil,"

Islam mengajarkan keluhuran budi pekerti kepada kita semua. Dan tidak pernah melupakan jasa orang lain kepada kita. Apalagi orang tua kita yang tercinta. Sehingga dalam ayat berikut ini Allah menegaskan kepada kita agar, suatu saat nanti, ketika orang tua sudah berusia lanjut dan tidak berdaya, janganlah kita berbuat yang tidak pantas kepada mereka.

Ingatlah, bahwa merekalah yang melahirkan kita, membesarkan kita, mendidik kita, dan memberikan segala-galanya untuk kebahagiaan kita. Maka, jangan sekali-kali berkata kasar. Apalagi berbuat yang menyakitkan hati.

QS. Al Israa' (17): 23
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali jangan-lah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.

Coba lihat, Allah melarang kita berbicara dengan nada tinggi. Apalagi membentak kepada bapak ibu kita. Bahkan berkata ‘Ah’ dengan nada yang agak keras saja dilarang oleh Allah. Ucapkan kata-kata yang mulia kepada mereka berdua.

Kenapa Allah berfirman secara khusus tentang hal ini? Karena kejadian seperti ini banyak terjadi. Begitu banyaknya anak-anak yang sudah dewasa tidak bisa membalas budi kepada orang tuanya. Maka, setidak-tidaknya berkatalah lemah lembut kepada keduanya. Mereka tidak meminta balasan berupa harta benda dan hal-hal yang bersifat material. Cukup dengan memberikan ‘perhatian’ yang baik sebagaimana mereka telah mengasuh kita selama ini.

Kekuatan fisik mereka sudah berkurang seiring dengan usia. Kemampuan intelektual mereka pun sudah jauh menurun. Banyak hal yang mereka butuh bantuan. Betapa sedihnya kalau anak-anak mereka tidak mau lagi memperhatikan kondisi mereka. Siapa lagikah yang bisa dan mau memberikan bantuan itu?

Maka Allah memberikan perintah secara tegas lewat ayat di atas, dengan penekanan "Jika mereka sudah berumur lanjut, dan dalam pemeliharaanmu...," muliakanlah mereka.

Kita harus ingat, bahwa kita yang sekarang masih muda ini pun suatu ketika akan menjadi tua. Seperti orang tua kita. Jika kita tidak berbuat baik kepada orang tua, maka nanti kita akan dibalas oleh anak-anak kita. Diperlakukan seperti saat kita memperlakukan orang tua kita.

Sebaliknya, kalau kita memperlakukan dengan baik, apalagi memuliakan mereka, maka anak-anak kita bakal mencontoh apa yang kita lakukan itu. Pada waktu kita sudah tua renta, anak-anak kita bakal ganti memperlakukan kita dengan mulia. Persis seperti contoh yang kita berikan kepadanya, saat kita memuliakan ibu bapak kita.

Tentu, bukan hanya orang tua kandung dari pihak suami saja. Atau orang tua kandung dari pihak istri saja. Melainkan kedua-duanya. Orang tua kandung dan mertua sudah menjadi orang tua kita semua. Sebab, bagi anak-anak kita, mereka itu adalah sama saja: Eyang dan Kakek-Neneknya.

Kalau kita berlaku tidak baik kepada salah satu diantaranya, maka anak-anak kita pun akan meniru memperlakukan kita seperti itu kelak.

Ah, betapa indahnya berumah tangga di dalam ajaran Islam. Kita sedang diajari Allah untuk membangun budaya dan peradaban dalam skala yang kecil.

Jika rumah tangga kita menjadi rumah tangga yang bahagia, maka ini akan menular kepada lingkaran yang lebih besar. Orang tua kita ikut bahagia. Mertua kita pun ikut bahagia. Saudara-saudara juga ikut bahagia. Bahkan kalau kualitas rumah tangga ini demikian baiknya, kebaikan itu akan menular ke siapa saja yang berdekatan dengannya. Itulah yang disebut sebagai rahmatan lil alamin, merahmati siapa saja yang ada di sekitarnya.

Rumah tangga adalah unit terkecil dari masyarakat. Jika setiap rumah tangga muslim bisa menjadi contoh rumah tangga yang sakinah, mawaddah wa rahmah, maka masyarakat yang ada di sekitarnya pun bakal menjadi masyarakat yang sakinah mawaddah wa rahmah. Masyarakat yang tenteram, penuh cinta dan kasih sayang di dalam ridha Allah yang Maha Bijak lagi Maha Penyayang...(Firliana Putri)

KELUARGA SAKINAH


Perkawinan bertujuan untuk membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Keluarga yang tenteram, penuh cinta, dan kasih sayang. Itulah yang dikemukakan Allah dalam firmanNya di QS. 30:21.

Maka, kita harus mencermati lebih jauh, apakah yang dimaksudkan dengan keluarga yang tenteram, penuh cinta, dan kasih sayang itu.

1. Sakinah alias Tenteram.

Saya kira kita sudah tahu dan paham makna kata ‘tenteram’. Yaitu, tidak terjadi percekcokan, pertengkaran, atau apalagi perkelahian. Ada kedamaian tersirat di dalamnya. Boleh jadi masalah datang silih berganti, tetapi bisa diatasi dengan hati dan kepala dingin.

Ketenteraman hanya bisa muncul jika anggota keluarga itu memiliki persepsi yang sama tentang tujuan berkeluarga. Jika tidak, yang terjadi adalah perselisihan dan pertengkaran. Si suami ingin ke barat, sang istri ingin ke timur. Si suami mengira itu baik. Sang istri sebaliknya. Dan seterusnya. Bagaimana mungkin rumah tangga yang demikian bisa tenteram.

Maka ketenteraman hanya akan muncul jika suami, istri, dan anak memiliki persepsi yang sama tentang segala hal yang berkait dengan aktivitas keluarga. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Setidak-tidaknya lakukanlah hal-hal berikut ini.

a. Melakukan komunikasi
b. Menjaga kejujuran
c. Membangun toleransi
d. Berusaha saling memberi

Keempat hal di atas adalah kunci dari terjadinya ketenteraman. Pertengkaran seringkali dimulai dari buntunya komunikasi. Karena masing-masing pihak tidak mengerti yang dimaksudkan oleh pasangannya.

Sebaliknya, komunikasi yang lancar seringkali menjadi media efektif untuk menyelesaikan berbagai permasalahan. Boleh jadi kita berbeda pendapat tentang sesuatu hal, tetapi jika itu dikomunikasikan dengan baik, tidak akan terjadi salah persepsi. Kita jadi tahu persoalannya dengan segala alasan yang melatar belakangi.

Bahkan hal-hal yang sangat privat sekalipun sebaiknya dibangun lewat komunikasi yang baik. Barangkali ada suami atau istri yang malu-malu menyampaikan suatu hal yang dianggapnya tabu. Padahal kalau itu diterus-teruskan, bisa menyebabkan pertengkaran. Bahkan kadang sampai menjurus ke perceraian.

Ketentraman muncul karena rasa aman atas berbagai keperluan yang bisa terpenuhi. Atau setidak-tidaknya ada kesepahaman untuk memenuhi masing-masing kebutuhan suami dan istri. Ambil contoh urusan di kamar tidur.

Jika karena sesuatu hal, salah satu pasangan merasa tidak terpenuhi hasratnya, maka jangan sungkan-sungkan atau memendam perasaan. Sebab, tidak jarang pertengkaran hebat terjadi dikarenakan persoalan-persoalan yang tadinya dianggap sepele. Tetapi tidak terkomunikasikan dengan baik.

Ini hanyalah soal seni berkomunikasi. Bagaimana kita bisa menyampaikan keinginan secara indah dan elegan kepada pasangan, tanpa harus mengorbankan hal-hal yang bersifat mendasar. Justru di situlah letak seni berumah tangga, antara suami dan istri. Antara anggota-anggota keluarga.

Tetapi pada dasarnya, tetap saja komunikasi yang lancar adalah salah satu sendi terjadinya keharmonisan dalam berkeluarga. Tidak masalah apakah komunikasi itu dilakukan secara terbuka ataukah lewat cara yang lebih tersamar. Yang penting komunikasi antar suami istri harus berjalan lancar.
Akan tetapi, memang tidak semua pasangan suami istri bisa berlaku seperti itu. Terserah saja. Yang penting ada semacam kesepakatan dan kesepahaman antara keduanya. Insya Allah dengan komunikasi yang baik itu, suami dan istri akan merasakan ketenteraman, karena tidak ada yang tersembunyikan.

Yang ke dua, selain komunikasi yang lancar, kejujuran memainkan peranan yang sangat vital dalam membangun ketenteraman berumah tangga. Rumah tangga mana pun dan siapapun, ketika dijalani dengan penuh kebohongan dan khianat, tidak akan menghasilkan ketenteraman.

Selalu ada perasaan was-was, gelisah dan khawatir terhadap pasangannya. Bagaimana mungkin kita merasa tenteram jika setiap cerita dan pengalaman pasangan kita selalu berbau kecurigaan?

Kejujuran mutlak diperlukan dalam membina ketenteraman berumah tangga. Bahkan Rasulullah saw pernah mengatakan kepada seseorang yang baru masuk Islam, bahwa kejujuran adalah syarat untuk masuk Islam. Dan karena kejujurannya itulah orang tersebut lantas bisa beragama dengan baik. Bahkan tidak berani berbuat yang tidak-tidak, karena ia merasa tidak pernah bisa menyembunyikan perbuatan buruknya.

Karena itu, sejak awal berumah tangga kita harus sudah menanamkan komitmen dan kesepakatan untuk selalu jujur kepada pasangan kita. Itulah awal yang baik dari ketenteraman rumah tangga kita. Rumah tangga yang sakinah.

Yang ke tiga, syarat untuk mencapai keluarga sakinah adalah toleransi. Kenapa ini perlu? Sebab suami dan istri sebenarnya adalah dua individu yang berbeda, yang kini berusaha untuk bersatu dalam rumah tangga.

Karena adanya perbedaan itulah maka kita butuh beradaptasi satu sama lain. Di sinilah peranan toleransi. Jangan berharap pasangan kita menjadi sama persis seperti kita. Pasti memiliki perbedaan.
Mulai dari hal-hal kecil sampai mungkin yang mendasar. Misalnya soal selera makan. Ada yang suka makan sama kuah, sedangkan pasangannya lebih suka tanpa kuah. Soal suasana tidur, ada yang suka tidur dalam gelap, tapi ada juga yang lebih suka terang. Ada yang suka pakai AC, lainnya tidak suka. Ada yang suka berlama-lama foreplay, tapi ada juga yang langsung ‘tubruk’.

Pokoknya, suami dan istri adalah dua individu yang berbeda. Pasangan baru ini pasti butuh adaptasi. Dan itu sangat butuh toleransi. Jangan sampai masing-masing pasangan merasa dirinya yang paling benar dan paling berhak. Allah berfirman di dalam Al-Qur’an bahwa laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama dalam menikmati kebahagiaan rumah tangga.

QS. Al Baqarah (2): 228
Dan para istri mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya (terhadap suami) menurut cara yang baik...

Rasulullah juga bersabda:
ketahuilah sesungguhnya kamu mempunyai hak atas istrimu, dan istrimu pun mempunyai hak atasmu.
[HR. Tirmidzi]

Maka, toleransi bakal menyelesaikan banyak kendala dalam rumah tangga. Terutama yang masih baru. Marilah kita pahami pasangan kita apa adanya. Dan kemudian kita berikan ruang gerak untuk saling beradaptasi. Insya Allah dengan cara ini rumah tangga kita terjauhkan dari percekcokan dan pertengkaran. Suami menghargai istri, dan sang istri menghargai suami. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Dan yang ke empat, ketenteraman akan semakin sempurna kita dapatkan, jika kita bisa saling memberi. Bukan saling menuntut. Tuntutan selalu menciptakan ketegangan. Sedangkan pemberian selalu menghasilkan ketenteraman dan kebahagiaan. Apalagi jika pemberian itu sedang menjadi kebutuhan. Wah, betapa nikmatnya.

Maka suami dan istri mesti selalu 'saling intip' kebutuhan pasangannya. Jika istri sedang suntuk, dan ingin refreshing, maka suami yang baik akan berusaha menyempatkan waktu untuk sang istri. Mungkin perlu diajak keluar rumah menikmati suasana yang lebih segar.

Sebaliknya jika suami sedang stres banyak tugas di tempat kerja, si istri dengan tanggap memberikan ketenangan. Mungkin dimasakkan makanan kesukaannya. Atau barangkali melepaskan stres-nya dengan cara dipijit-pijit ringan, yang kalau perlu diteruskan pada hubungan yang lebih intim.

Saya kira kebanyakan suami suka cara itu, dan akan semakin sayang kepada istrinya. Apalagi yang masih pengantin baru. Kebanyakan suami akan terkurangi stres-nya dengan menyalurkan hasrat biologisnya dengan istri yang disayanginya.

‘Memberi’ tidak selalu berupa hal-hal yang besar. Seringkali memberikan perhatian sudah cukup efektif untuk menghasilkan kententeraman. Ada rasa aman, karena orang yang dicintainya selalu memperhatikan segala kebutuhannya. Baik yang bersifat fisik maupun psikis...(Firliana Putri)
 
Terimakasih Atas kunjungan Anda, Semoga Semuanya Dapat Memberikan Manfaat Bagi Kita Semua